Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*33
Namun, tiba-tiba mobilnya dia hentikan saat tiba di depan gerbang apartemen. Irza mengusap kasar wajahnya berulang kali. Berusaha menguasai hati agar bisa sedikit lebih tenang. Sayangnya, bukannya lebih tenang, tapi malah sebaliknya. Malah semakin berkecamuk lagi dan lagi.
Kata-kata itu benar-benar mengusik.
"Dia tidak normal. Aku jadi Asha, aku akan cari pria di luar sana."
"Orang normal setelah menikah pasti punya pikiran urusan ranjang. Dan Asha normal."
"Dia punya mantan pacar yang putus secara baik-baik."
"Mungkin mereka akan bersama saat waktunya tiba."
"Iya. Gugat cerai suami yang gak normal kan gampang."
Lagi dan lagi. Potongan-potongan kata-kata yang telah dia dengar terus bermain di benaknya. Menghantui Irza dengan sangat brutal. Satu persatu terus saja berulang tanpa henti, membuat Irza kehilangan garis kesabarannya yang sangat besar.
Pisau, jika terus di asah, setumpul apapun ia akan tetap jadi tajam. Dan karang, sekuat apapun ia jika diterjang ombak tanpa henti juga akan terkikis. Apalagi Irza yang hanya seorang manusia biasa. Sebesar apapun kesabaran yang ia miliki selama ini, juga akan hancur kesabaran itu gara-gara omongan-omongan yang datang tanpa henti padanya.
"Aku normal," ucapnya sambil menahan isak tangis.
"Aku normal! Aku gak belok. Aku normal." Lagi, tapi kali ini dengan nada yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
"Aku normal .... Hu hu hu." Kali ini, pria itu langsung tergugu karena tak kuat lagi menahan gejolak batin yang sedang ia hadapi.
Butuh beberapa waktu untuk Irza untuk bisa menguasai diri, akhirnya, setelah berhasil, barulah ia keluar dari mobil. Berjalan dengan langkah besar menuju rumahnya. Rumah dengan nomor dua puluh sembilan lantai empat itu ternyata sangat jauh bagi Irza. Rumah yang biasanya bisa membuatnya keluar masuk, bolak-balik dengan waktu singkat, tapi sekarang terasa seperti berkilo-kilo meter jauhnya. Sungguh, penentu segalanya adalah hati. Jika hati bahagia, semuanya akan baik-baik saja. Tapi jika hati tidak bahagia, segalanya terasa sangat berat.
Setelah perjalanan yang ia rasa sangat panjang, akhirnya ia sampai ke rumah mereka. Saat pintu terbuka, hal yang ia pikir sudah berhasil ia singkirkan, ternyata tidak sama sekali.
Omongan itu kembali datang. Ingatan itu kembali muncul dalam benak Irza. Bahkan, gejolaknya jauh lebih parah dari pada sebelumnya. Puncaknya, saat matanya melihat Asha yang baru saja keluar dari kamar untuk menyambut ke datangannya.
"Za. Sudah pulang?"
Irza tidak menjawab sapaan Asha. Sebaliknya, tatapan teduh yang biasanya terlihat telah berubah tajam. Hal itu membuat Asha sedikit terganggu.
"Za .... " Asha memanggil lagi dengan hati-hati. "Kamu ... baik-baik saja kan?"
Masih hening. Tapi tidak lama. Karena beberapa detik setelah pertanyaan tersebut berlalu, Irza menjawab dengan nada yang jauh lebih berbeda dari biasanya. "Enggak. Aku gak baik-baik saja, Sha. Enggak."
"Maksudnya? Za ... kamu kenapa?"
Irza yang ada di ruang tamu langsung berjalan mendekat. "Asha. Aku normal, Sha. Aku normal."
Deg. Jantung Sha tiba-tiba berdetak tak karuan. Tatapan mata Irza memang sangat jauh berbeda dari yang biasanya. Tapi kali ini, ucapannya juga terlalu jauh berubah. Hal tersebut tentu saja menimbulkan perasaan cemas dalam hati Asha.
Takut? Jelas. Karena ini kali pertamanya Asha melihat tampilan yang berbeda dari sosok Irza yang gemulai ini. Tapi, Asha berusaha untuk menepis rasa takut yang muncul dalam hatinya. Dia tetap diam di tempat sebelumnya ia berdiri. Walau saat ini, Irza sudah ada di depan matanya.
Sentuhan lembut ia berikan ke lengan Irza.
"Za .... " Panggil Asha dengan lembut.
Namun, Irza yang tidak bisa menahan gejolak malah mencengkram tangan itu jauh lebih keras dari yang biasanya. "Aku normal, Sha. Kau tau, aku ini normal."
Seketika, Irza menarik Asha ke dalam pelukan. Menguncinya dengan erat, lalu membawanya ke arah tembok. Asha panik bukan kepalang. Suami gemulai yang biasanya sangat lembut, sekarang berubah jadi pria kasar yang menakutkan.
Namun, belum sempat ia berpikir akan apa yang baru saja Irza lakukan padanya. Pria itu malah menyerang bibirnya. Menc*ium, melumat bibirnya dengan penuh naf*su. Hasrat untuk memiliki terasa dengan sangat nyata.
Asha berusaha menolak, memberikan perlawanan agar segera terbebas dari apa yang sedang Irza lakukan saat ini. Sayangnya, tenaga Irza ternyata jauh lebih besar dari pada yang ia bayangkan sebelumnya. Pria itu menahan tubuhnya dengan sangat baik. Menekan perlawanan Asha dengan mudah. Bahkan, saat Asha berusaha menolak, Irza mengigit bibirnya.
"Irza ...! "
Plak! Satu tamparan mendarat dengan mulus ke pipi Irza yang mulus nan putih ketika ciuman itu Irza lepaskan. Namun, tamparan itu tidak membunuh hasrat Irza untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebaliknya, tatapan Irza malah semakin tajam. Semakin menusuk. Bahkan semakin membara pulalah hasrat yang ada dalam hati si pria yang selama ini semua orang bilang adalah pria yang tidak mampu. Pria gemulai yang belok.
"Kau milikku. Aku mampu melayani kamu."
"Irza!"
Sayangnya, yang sudah terbakar api hasrat tidak akan mundur. Irza malah menarik Asha ke kamar. Dia dorong Asha ke atas ranjang hingga gadis itu terbaring di sana. Tentu saja tidak akan memberikan jeda untuk Asha kabur, Irza langsung menguncinya lagi dalam pelukan.
Menind*ihnya dari atas, memaksanya untuk melu*mati lagi bibir indah milik si gadis.
Tangan lentik gemulai itu ternyata jauh lebih agresif dari yang Asha bayangkan. Tangan itu lincah menyusuri setiap inci dari tempat-tempat terlarang yang sebelumnya tak pernah tersentuh.
Sungguh, dia bukan pria gemulai seperti yang orang lain bayangkan. Dia bukan pria yang tidak normal. Dia nyata, sangat-sangat jelas kalau dirinya adalah pria normal seperti pada umumnya. Bahkan, bisa jauh lebih brutal dari sebagian pria pada umumnya.
Merasa cukup menyusuri tempat yang tidak pernah tersentuh, tangan itu malah melepas kancing yang tertutup dengan sangat baik. Ciuman dia lepaskan. Asha bisa bernapas dengan lega untuk sesaat sambil terengah-engah akibat ulah Irza yang sangat diluar dugaan.
"Za sadarlah," ucap Asha sambil mengatur napas. "Jangan lakukan itu sekarang kamu sedang-- "
Irza malah menciumnya lagi. "Kamu milikku, Sha. Milikku."
"Za."
Lagi, ciuman berikutnya menyerang Asha. Tangan Irza lincah melepas satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan sebelumnya. Sekarang, tubuh putih nan mulus miliknya bisa Asha lihat dengan sangat jelas.
Kali ini, Asha benar-benar putus asa. Dia menangis, berusaha mengiba agar suaminya sadar akan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
"Za."
Sayangnya, Irza tidak bisa ia sadarkan dengan semudah itu. Bahkan mungkin, lelaki gemulai ini tidak akan sadar sebelum mendapatkan apa yang ia mau.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣