NovelToon NovelToon
Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Overload: Sang Penghancur Rumah Tangga Orang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Komedi
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

⚠️ Disclaimer⚠️
Untuk yang punya humor tingkat tinggi di atas ranah Bahalil Sovereign Immortal Mythic Glory Realm yang bisa menangkap esensi dari perjalanan Slamet dan Faksi-faksi di Overlord.

━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

#Fantasi
#Komedi
#Petualangan
#Respawn
#SalahPahamMassal
#KalongMania62
#BukanKonspirasi
#TapiSemuaPanik


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pagi hari. Langit masih kelabu. Salju tipis masih turun, tapi tidak selebat kemarin.

Neia baru saja selesai menghitung stok logistik ketika seorang kurir dari pos selatan datang. Bukan Slamet. Kurir lain—pemuda dengan rambut cokelat yang terlihat lebih muda dan lebih gesit.

"Neia. Ada surat dari komandan pos selatan."

Neia menerima surat itu, membukanya, lalu membacanya. Wajahnya berubah.

"Pengiriman obat terlambat dua jam. Luka-luka menunggu. Jika terjadi lagi, akan kami laporkan ke komandan utama."

Dia menggigit bibir bawahnya. Tangannya menggenggam surat itu erat-erat.

Slamet. Dia bilang jalannya tertutup salju. Ada pohon tumbang.

Tapi komandan pos selatan tetap marah.

Aku sudah menjelaskan kondisi jalur dalam laporanku. Ternyata tidak cukup.

"Neia." Pria botak itu menghampiri. "Ada apa?"

"Komplain dari pos selatan."

Pria botak itu membaca surat itu, lalu mendengus.

"Kurir baru kau? Yang kemarin?"

"Iya."

"Dia bilang jalannya tertutup?"

"Iya. Aku sudah masukkan itu dalam laporanku."

Pria botak itu diam sebentar. Matanya menatap ke arah tenda logistik—tempat Slamet biasanya tidur.

"Panggil dia."

Slamet masuk ke tenda komandan dengan wajah biasa saja. Dia baru saja bangun. Rambutnya masih kusut. Matanya masih sayu. Kaki kirinya sedikit tertinggal saat berjalan—hampir tidak terlihat, tapi ada.

Neia berdiri di samping, tangan masih menggenggam surat komplain. Pria botak itu duduk di belakang meja kayu, tangan menyilang di dada.

"Kemarin," kata pria botak itu, "kau antar obat ke pos selatan."

"Iya."

"Terlambat dua jam."

"Iya."

"Jalannya tertutup salju."

"Iya. Ada pohon tumbang juga."

"Kenapa kau tidak bilang?"

Slamet menggaruk kepalanya. "Bilang ke siapa?"

"Ke Neia. Ke aku. Siapa pun."

"Bilang apa? Jalannya tertutup? Ya sudah. Gue tetap jalan. Gue sampai. Obatnya sampai. Ada yang meninggal?"

Pria botak itu terdiam.

"Tidak," katanya akhirnya.

"Ya udah."

Slamet tidak marah. Tidak membela diri. Hanya berdiri di sana, dengan tangan di saku celana, menunggu apakah masih ada yang perlu dibicarakan.

Pria botak itu menghela napas. Jarinya mengetuk meja.

"Lain kali, berangkat lebih pagi."

"Oke."

"Kau boleh pergi."

Slamet berbalik. Sandal jepitnya mulai berbunyi.

Plak. Plok. Plak. Plok.

Di luar tenda, Neia menyusulnya.

"Komandan tidak seharusnya menyalahkanmu," katanya. Matanya tidak berani menatap langsung. "Jalannya memang tertutup. Aku sudah menjelaskan itu dalam laporanku."

Slamet mengangkat bahu. "Ya udah."

Neia menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang ingin dia katakan—mungkin tentang rasa bersalahnya, mungkin tentang tanggung jawabnya. Tapi dia tidak mengatakannya. Hanya membiarkan kata-kata itu mati di ujung lidahnya.

Jari-jarinya menggenggam ujung jaketnya.

"Kau... tidak apa-apa?"

"Kenapa?"

"Jalannya jauh. Salju tebal."

"Ya. Tapi gue sampai. Obatnya sampai. Itu yang penting."

Neia terdiam.

Slamet menunggu beberapa detik. Lalu berbalik.

"Gue mau sarapan dulu. Perut keroncongan."

Dia berjalan ke tenda logistik. Sandal jepitnya masih berbunyi.

Neia berdiri di tempatnya, menatap punggung Slamet.

Dia tidak marah. Tidak menyalahkanku. Tidak meminta apa pun.

Hanya... melanjutkan hidup.

Orang aneh.

Tapi kenapa aku merasa...

Dia tidak menyelesaikan pikirannya. Dia berbalik dan kembali ke tenda komandan.

Di dalam tenda logistik, Slamet mengambil sepotong roti keras. Dia menggigitnya kecil-kecil, mengunyah dengan malas.

Kaki kirinya terasa sedikit sakit—mungkin karena kemarin berjalan di salju terlalu lama. Tapi dia tidak bilang ke siapa pun.

Besok antar paket lagi. Semoga gak ada komplain.

Tapi kayaknya sih bakal ada.

Nasib sial.

Ya udah.

Dia mengambil selimut tipis, merebahkan diri di atas karung goni, dan memejamkan mata. Tidak tidur. Hanya istirahat.

Kakinya masih sakit. Tapi dia tidak bergerak. Tidak mengeluh. Hanya membiarkan rasa sakit itu menjadi bagian dari rutinitas.

Di kejauhan, di luar pos selatan, seorang pria dengan rambut hitam pendek sedang menulis catatan.

"Slamet. Kurir dari kelompok relawan. Berpakaian lusuh. Satu sandal. Tanda segitiga hitam di jidat. Tidak banyak bicara. Tidak menunjukkan emosi. Tidak marah meskipun komplain."

"Perlu penyelidikan lebih lanjut."

Dia melipat catatan itu, memasukkannya ke dalam saku jubah, lalu menghilang ke dalam bayang-bayang.

1
🏵YI FENG🐲
Anjay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!