⚠️⚠️
Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.
⚠️⚠️
~•~
Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -
Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Disty mendekat sambil membawa dasi di tangannya, memakaikan kepada Javeno yang diam menatap dirinya.
Selesai itu, Disty juga menatap dalam mata Javeno yang masih memperhatikan dirinya.
"Maaf," cicit Disty.
Javeno menangkup wajah cantik Disty lalu mulai melumat bibir sexy itu. Penuh kelembutan tanpa tuntutan, dan Disty juga membalas dengan kelembutan.
Hanya sekedar ciuman sebentar, sebelum Javeno meninggalkan jejak merah keunguan di leher jenjang Disty.
Selesai itu keduanya berpelukan. "Mulai hari ini, aku nggak akan larang kamu berteman sama siapa pun. Zayna, Aurel, atau siapa pun itu, terserah kamu, asal bukan cowok," ucap Javeno dingin.
Disty melepas pelukan, menatap Javeno lagi. "Kenapa?" tanyanya bingung.
"Kebebasan untukmu," jawab Javeno dingin.
Javeno pergi dan keluar dari kamar setelah menyambar ranselnya.
"Enggak, dia beda. Kenapa," pikir Disty segera mengejar langkah kaki Javeno yang ternyata sudah meninggalkan dirinya dengan motor besar pemuda itu.
Disty segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya tanpa supir. Mengejar motor Javeno yang berpacu cepat.
Keduanya sama-sama sampai di sekolah, dan Javeno sadar kalau Disty mengemudikan mobil sendiri tanpa supir, tapi ia diam.
Disty keluar dari mobil hendak menghampiri Javeno yang mulai melangkah ke kelas. Tetapi langkahnya memelan saat Aurel berada di samping Javeno tiba-tiba.
"Aku udah nungguin kamu semalam sampai jam sepuluh tapi kamu nggak datang," kata Aurel yang masih bisa di dengar oleh Disty di belakang mereka tanpa di sadari oleh Aurel.
Gadis itu memang menunggu Javeno, jadi saat melihat Javeno, Aurel segera menghampiri tanpa melihat sekitar lagi.
"Kalau di ganti malam ini aja dinner nya gimana?" tawar Aurel tersenyum lebar.
"Hm," dehem Javeno dingin.
"Beneran ya? Kamu datang ya? Nggak akan biarin aku nunggu sendiri lagi kan?" tanya Aurel senang, antusias.
"Gue jemput," kata Javeno.
Mata Aurel langsung berbinar mendengar itu. "Beneran? Kamu jemput aku? Iya?"
"Hm."
Disty di belakang yang masih mengikuti dengan langkah pelan perlahan berhenti, menatap nanar punggung keduanya.
"Kamu bebasin aku karena udah mulai terima perjodohan kamu sama Aurel ya? Gapapa, aku senang kalau kamu nggak bantah apa yang jadi keputusan Ayah kamu," batin Disty tersenyum tipis dengan air mata yang jatuh tanpa di minta.
Disty menghapusnya dengan cepat, lalu terkejut saat Zayna merangkul bahunya.
"Lo nangis?" tanya Zayna memicing.
Disty melepas rangkulan Zayna, dan kembali melanjutkan langkah.
"Enggak."
Zayna tidak mau membuat Disty merasakan tidak nyaman, jadi ia tidak ingin membahas mata Disty yang basah itu.
"Kalau gue tanya sesuatu_ boleh?" tanya Zayna hati-hati.
"Apa?" tanya Disty tidak keberatan.
Sudah di perbolehkan oleh Javeno, jadi ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berteman dengan Zayna lagi.
Zayna tidak langsung bertanya sampai mereka tiba di kelas dan duduk.
"Lo, pacaran sama Javen?" tanya Zayna masih hati-hati takut Disty akan marah dan hubungan persahabatan mereka yang bisa renggang lagi.
Disty menoleh menatap Zayna. "Kenapa?" tanyanya.
Zayna tersenyum tipis. "Javen selalu posesif sama lo sejak awal, dan semua tau itu. Lo juga nggak pernah bantah dia kalau di perhatiin lagi. Sikap lo sama Javen beda kayak lo ke Zaffar dulu yang juga suka sama lo," ucapnya memiliki alasan berpikir kalau Javeno dan Disty memiliki hubungan.
Tangan Zayna terangkat, menyentuh leher Disty yang memiliki bekas kepemilikan Javeno di sana. Tanda yang di buat 20 menit lalu saat mereka masih berada di rumah.
"Ini mungkin sebagai bukti," kata Zayna tersenyum lebar.
Disty menepis tangan Zayna kasar, lalu segera merapikan letak tata rambutnya untuk menutupi bekas itu.
"Hubungan kalian private?" bisik Zayna saat kelas sudah mulai ramai dengan murid lain.
Disty diam tanpa memberikan jawaban apapun hingga guru masuk untuk mengajar.