Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 19
Setelah menempuh perjalanan panjang, kini Arras dan Hazi tiba di pesantren Darunnajah, Arras melihat ke samping, dimana sang istri kini terlelap karena terlalu lelah menangis.
Arras melihat sekitar, di depan ndalem tenda masih di pasang dan para tamu masih berdatangan, Arras juga melihat ayah dan bundanya yang sudah ada di teras ndalem untuk menyambut tamu.
Yah... Arras memberi tahu Ayah Bram dan Bunda Sofia, mereka yang memang sedang berada di jogja segera meluncur ke Magelang, setelah mendapatkan kabar jika besan mereka meninggal dunia.
Arras menatap ke arah sebelah, ia tidak berani mengganggu tidur sang istri, ia melihat wajah pucat sang istri dan tubuh yang begitu kurus.
" Mas janji, setelah ini hanya ada kebahagian yang bertubi- tubi yang akan datang ke kamu " ujar Arras menatap ke arah Hazi.
Tak terasa Arras ikut memejamkan matanya, sepuluh menit lamanya Arras ikut memejamnkan matanya, hingga seseorang mengetuk kaca pintu mobil milik Arras.
Arras kemudian perlahan membuka matanya,ia memfokuskan netranya dan melihat ke arah samping, Hanzzah dan Ayah Bram lah..... yang mengetuk kaca mobilnya.
Arras menurukan kaca mobilnya dan mengusap wajahnya kasar, " Kenapa enggak langsung turun Ras?" tanya Ayah Bram.
" Yah... dek" sapa Arras.
" Hazi tidur yah, aku enggak mau ganggu, kasian dia pasti capek nangis terus tadi di jalan, jadinya biar dia tidur dulu " jawab Arras.
" Apa aku angkat aja mas?" ucap Hanzzah.
" enggak usah dek, biarin aja dulu, apa masih banyak tamunya?" balas Arras.
" enggak, tinggal kerabat dekat " jawab Ayah bram.
" adik kamu ?" tanya Ayah Bram saat tidak melihat anak bungsunya di belakang.
" Dia enggak mau ikut, ngambek sama Arras paling " jawab Arras.
"kenapa lagi?" tanya Ayah Bram kembali.
" nanti saja Arras ceritakan " jawab Arras.
Tidak lama, Hazi terusik dengan suara- suara yang berada di sampingnya, perlahan Hazi membuka matanya.
" Awwww" pekik Hazi memegang kepalanya, karena merasa begitu pusing.
" ehhh, kenapa ?" tanya Arras.
" agak pusing" jawab Hazi yang belum sadar jika mereka sudah sampai di pesantren.
" ajak istri mu istirahat Ras, kasian capek pasti" ujar Ayah Bram.
Hazi melihat ke arah sekitar dan ia baru sadar, jika mereka sudah sampai di pesantren, ia melihat ke arah mertuanya dan adiknya.
" Dek... om" sapa Hazi
Hazi kemudian keluar dan menghampiri sang adik, Hazi memeluk adiknya begitu erat begitu pula dengan Hanzzah yang membalas erat pelukan sang kakak.
Mereka saling menguatkan satu sama lain, mereka hanya punya satu sama lain yang merasakan betapa sakitnya mereka dalam waktu kurang dua minggu, mereka di tinggal oleh kedua orang tua meraka secara berdekatan.
" Mbakk.... umiii mbak" pekik Hanzzah yang tangisnya pecah di dalam pelukan sang kakak.
Sedari tadi ia berusaha untuk kuat dan menerima kenyataan, namun kini tangisnya pecah di pelukan sang kakak.
Hazi yang tadi rapuh, kini berusaha untuk kuat di depan sang adik, padahal ia juga rapuh, Arras melihat itu juga ikut terharu begitu pula dengan Ayah Bram.
" ini semua gara - gara mbak mila" pekik Hanzza di sela tangisnya.
" Dek... enggak boleh begitu, ini sudah takdir yang ditetapkan oleh Allah" jawab Hazi mengusap kepala sang adik yang kini tingginya melebihi tinggi Hazi.
Arras membiarkan sang istri dan adik iparnya menumpahkam segala emosinya,ia juga meminta untuk sang ayah istirahat dan Arras yang akan mengurusi semua ini.
" Yah... Ayah istirahat aja, mau aku pesenin hotel?" ucap Arras.
" enggak, ayah tidur di kamar tamu, Bunda juga lagi istirahat di sana kok, kamu juga enggak usah begadang pasti capek kan " balas Ayah bram.
" Iya... yah" jawab Arras.
" Ya sudah, ayah masuk dulu ya... ajak istri mu istirahat, tahlilannya di pindah ke aula pesantren, udah ada yang ngurusin, soalnya tadi tamunya lumayan banyak" .
" Iya yah.... makasih ya, yahh udah bantu Han dan Hazi di sini " sahut Arras.
Ayah Bram tersenyum dan menepuk pundak "Ayah bangga, mereka berdua sekarang tanggung jawab kamu, kalau kamu perlu bantuan bilang sama Ayah, mungkin nanti keluarga dari istri kamu akan membahas soal pesantren ini, bilang sama mereka jika ada perlu sesuatu dan kurang sampaikan pada ayah, akan ayah bantu".
" Terima kasih yah... " .
" Enggak perlu Hazi juga anak ayah, ayah masuk dulu mau mandi " pamit Ayah Bram.
Arras kembali ke sang istri dan adik ipar, Arras melihat sang istri yang tadinya rapuh, seketika menjadi orang kuat yang kini sedang menguatkan sang adik.
" Gapapa ya.... masih ada mbak, jangan salahin mbak Mila, ini sudah takdir keluarga kita " ucap Hazi.
" Aku memang enggak salah, mungkin jika akan menolak, aku enggak akan punya istri sebaik kamu, bahkan kakak mu yang sudah buat kamu terjebak di situasi ini, kamu masih bisa membelanya, luas sekali hatimu Hazi" gumam Arras.
" Ayo kita masuk dulu aja ya... istirahat " ujar Arras yang tau jika sang istri begitu lelah.
" boleh gak, kalau aku ziarah ke makam umi sekarang?" tanya Hazi.
" besok saja ya.... kita istirahat, aku janji besok setelah shubuh, mas yang akan antar kamu " jawab Arras.
Hazi hanya mengangukan kepalanya, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menerima segalanya termasuk suaminya dan juga kepergian kedua orang tuanya.
Hazi di gandeng oleh Hanzzah dan Arras menjaganya dari belakang, mereka mulai masuk ke ndalem, di ndalem Hazi di sambut oleh ibu mertuanya yang tengah, membereskan piring kotor dengan di bantu oleh buliknya dan juga mbak ndalem.
" Haziii" sapa Bunda Sofia.
Hazi mencium tangan ibu mertuanya dan juga buliknya secara bergantian, Bunda Sofia memeluk erat Hazi, beliau paham apa yang di rasakan Hazi, beliau juga dulu mengalami hal yang sama, Bahkan kedua orang tuanya meninggal di waktu yang sama ,akibat kecelakaan mobil.
" sabar ya... nak, masih ada bunda, suami dan yang lainnya di sini " ujar Bunda Sofia mengusap pundak menantunya.
" Terima kasih tante, terima kasih juga sudah repot- repot membantu di sini, maaf sifat Hazi waktu itu" jawab Hazi yang berusaha untuk tegar.
" Iya, gapapa, itu salah Atthaya kok, Bunda kalau di posisi kamu juga akan emosi, manggilnya jangan tante lagi dong, Bunda, kan sekarang kamu anak bunda " jawab Bunda Sofia.
Hazi menoleh ke arah Suaminya, Sedangkan Arras tersenyum lalu mengangukan kepalanya, ia seakan sang istri meminta pendapat dan persetujuannya.
" Bu- Bunda " ucap Hazi.
Bunda Sofia kembali memeluk Hazi dan memberikan kekuatan,ia juga mengajak Hanzzah untuk saling berpelukan.
" Terima kasih mbak" gumam bulik Hazi pada Bunda Sofia.
Bunda Sofia hanya mengangukan kepala dan tersenyum ke arah Bunda Sofia, Bunda Sofia mengusap sisa air mata Hazi dan mencium sang menantu.
"Bun... Arras antar Hazi istirahat dulu ya...., kita juga tadi ke rumah sakit langsung kesini belom sempat pulang ke apartemen tadi " ujar Arras.
" Ya.... bawa istri mu istirahat dulu le...., bersih- bersih dulu ya..." Ucap bulik Hazi.
" bulik terima kasih ya..." Ucap Hazi menggengam erat tangan buliknya.
" Udah istirahat dulu sana ya..., kalian pasti belum makan kan? bulik buatkan nasi goreng kesukaan kamu ya..." ujar Bulik Ayu.
Hazi mengangukan kepalanya, " Terima kasih bulik, Hazi ke atas dulu ya..." Pamit Hazi.
Hazi kemudian menuju kamarnya di temani oleh suaminya, Arras dan Hazi sama sekalin tidak membawa barang apapun, bahkan mereka tadi tid sempat untuk pulang ke apartemen.
Sesampainya di kamar Arras merasa sang istri ingin menyampaikan sesuatu, namun masih tampak ragu, bahkan ia bisa melihat tangan sang istri yang di mainkan, tampak sekali jika sang istri sedang bingung.
" ada sesuatu?" tanya Arras yang inisiatif bertanya lebih dulu.
" Apa boleh aku peluk ma- mas Arras?" tanya Hazi sedikit ragu.
Arras tersenyum, ia fikir istrinya keberatan dengan keberadaan dia di sini, pasalnya kemarin - kemarin ia tidak pernah masuk ke dalam kamar sang istri.
" boleh dong, kamu boleh peluk mas sepuasnya " jawab Arras merentangkan tanganya .
Hazi memeluk Suaminya, air matanya kembali turun di sini, Arras mengusap dan mencium kepala sang istri berulang kali.
" Masih ada mas, Bunda, ayah, Han, dan yang lainnya di sini, kamu enggak sendirian, sedih boleh tapi jangan berlarut ya..."