NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Di sisi lain kota, Raka berjalan di jalan yang sepi.

Ia tidak tahu Ki Sabrang sudah mendekati Luo Cheng.

Ia juga belum tahu bahwa Sekte Awan Langit sedang panik karena tanda hidup murid intinya meredup.

Namun ia bisa merasakan sesuatu.

Pandangan dari jauh.

Bukan mata manusia biasa.

Bukan juga tatapan Hei Yan.

Lebih tinggi.

Lebih tua.

Seperti banyak pintu mulai terbuka di tempat yang tidak terlihat.

Sistem berbicara.

[Tindakan Tuan terhadap Luo Cheng telah mengguncang Dunia Immortal.]

Raka tidak berhenti berjalan.

“Bagus.”

[Itu akan mempercepat kedatangan pihak lain.]

“Lebih bagus.”

Sistem diam sesaat.

[Tuan sengaja menarik mereka?]

Raka menatap langit malam Pontianak.

“Kalau mereka datang satu per satu, aku bisa melihat siapa yang cukup bodoh untuk menjadi musuh.”

[Dan jika mereka datang banyak?]

Raka berhenti di bawah lampu jalan.

Cahaya lampu berkedip pelan di atasnya.

“Kalau mereka datang banyak…”

Matanya memantulkan cahaya emas.

“…Pontianak akan punya banyak kuburan baru.”

Sistem terdiam.

Lalu suaranya terdengar lebih lembut, tetapi tetap dingin.

[Watak Tuan semakin dekat dengan takhta.]

Raka melanjutkan langkahnya.

“Aku bukan orang baik.”

Angin malam bergerak di antara gedung dan jalanan.

Raka menatap kota yang masih hidup di kejauhan.

“Tapi aku tahu siapa yang tidak boleh disentuh.”

Di atas Sungai Kapuas, kabut tipis bergerak.

Di Dunia Immortal, lonceng kuno masih bergetar pelan.

Di rumah Mahendra, Hei Yan menatap luka emas di telapak tangannya yang belum juga sembuh.

Dan di bawah Jembatan Kapuas, Luo Cheng akhirnya memahami bahwa ada tempat di dunia fana yang tidak boleh diinjak dengan kesombongan.

Tempat itu bernama Pontianak.

Dan penguasanya baru saja mulai membuka mata.

Rumah besar keluarga Mahendra malam itu terasa lebih sunyi daripada biasanya.

Lampu-lampu kristal tetap menyala. Lantai marmer tetap mengilap. Udara dingin dari pendingin ruangan tetap memenuhi setiap sudut ruangan. Namun kemewahan itu tidak mampu menutupi tekanan aneh yang menggantung di ruang tengah.

Surya Mahendra duduk di kursi utama dengan wajah tenang.

Terlalu tenang.

Di hadapannya, Reza Mahendra berdiri dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal, matanya menyimpan amarah yang belum menemukan tempat untuk dilampiaskan.

Bram Gunawan berdiri agak jauh di sisi ruangan. Wajahnya pucat. Sejak beberapa waktu lalu, ia lebih banyak menunduk daripada bicara. Setiap kali nama Raka disebut, dadanya terasa seperti ditekan batu besar.

Namun malam itu, yang paling menarik perhatian bukan Reza.

Bukan Surya.

Bukan juga Bram.

Melainkan Hei Yan.

Makhluk asing berjubah hitam itu berdiri di dekat jendela besar, menatap telapak tangannya sendiri.

Di sana, ada luka tipis berwarna emas.

Luka itu kecil, tidak lebih panjang dari satu ruas jari. Namun cahaya emas gelap yang berdenyut di dalamnya membuat seluruh udara di sekitar Hei Yan terasa tidak stabil. Kabut hitam tipis berusaha menutup luka tersebut, tetapi setiap kali menyentuh cahaya emas itu, kabutnya langsung terbakar.

Hei Yan tidak berteriak.

Tidak mengeluh.

Namun wajah pucatnya terlihat lebih dingin dari biasa.

Bram menelan ludah.

Ia pernah melihat Hei Yan membuat orang dewasa tidak bisa bernapas hanya dengan satu tatapan. Ia pernah melihat makhluk itu menghidupkan bunga mati, lalu membuatnya membusuk dalam sekejap. Ia tahu Hei Yan bukan manusia biasa.

Tapi sekarang, makhluk seperti itu terluka.

Dan luka itu berasal dari Raka.

Reza akhirnya tidak tahan.

“Jadi makhluk yang kau lepaskan benar-benar mati?”

Hei Yan tidak menoleh.

“Sudah kubilang, mati.”

Nada suaranya tenang, tetapi ada sesuatu yang tajam di baliknya.

Reza menggertakkan gigi.

“Kalau begitu kenapa kau tampak santai? Kita kehilangan alat untuk menangkap Raka. Orang-orang Bram juga pulang seperti anjing ketakutan. Luo Cheng belum bergerak sesuai rencana. Dan sekarang kau terluka.”

Bram langsung menunduk lebih dalam.

Berani sekali Reza bicara seperti itu kepada Hei Yan.

Surya tidak menegur anaknya. Ia hanya memperhatikan reaksi Hei Yan dengan mata tajam.

Hei Yan perlahan menoleh.

Ruangan menjadi lebih dingin.

Reza yang tadi penuh amarah tiba-tiba merasakan napasnya tertahan. Tubuhnya kaku. Ia ingin mempertahankan sikap sombong, tetapi instingnya sebagai manusia menyadari bahwa makhluk di depannya tidak sedang dalam suasana hati yang baik.

Hei Yan tersenyum tipis.

“Kau marah karena rencanamu gagal?”

Reza menahan napas.

Hei Yan melangkah pelan mendekatinya.

“Atau kau marah karena seorang pemuda yatim piatu dari pinggiran kota membuat namamu terdengar tidak berguna?”

Wajah Reza memerah.

“Dia mempermalukan Mahendra.”

“Tidak,” jawab Hei Yan lembut. “Kalian mempermalukan diri sendiri ketika mengirim orang bodoh untuk menyentuh sesuatu yang belum kalian pahami.”

Reza hendak membalas, tetapi Surya mengangkat tangan.

“Cukup.”

Satu kata dari Surya membuat Reza menelan kembali amarahnya.

Surya menatap Hei Yan.

“Kami bekerja sama denganmu karena kau bilang Raka bisa ditangkap.”

Hei Yan menoleh ke arahnya.

“Bisa.”

“Tapi?”

“Tapi tidak dengan cara murahan.”

Ruangan hening.

Hei Yan mengangkat telapak tangannya yang terluka. Cahaya emas itu berdenyut sekali lagi. Kabut hitam di sekitar jarinya menggeliat, seolah ingin melawan, tetapi tetap tidak mampu memadamkannya.

“Ini bukan energi spiritual biasa. Bukan kekuatan dukun lokal. Bukan pusaka kecil yang jatuh ke dunia fana.”

Surya menyipitkan mata.

“Lalu apa?”

Hei Yan menatap luka itu lebih lama.

“Cap takhta.”

Bram merasa tubuhnya semakin dingin.

Reza mengerutkan kening.

“Cap takhta? Apa maksudnya?”

Hei Yan tersenyum, tetapi senyumnya kali ini tidak meremehkan.

“Dulu, ada penguasa yang tidak perlu mengejar musuhnya. Ia cukup meninggalkan tanda, dan tanda itu akan mengingatkan seluruh jiwa target bahwa mereka telah dihukum.”

Surya bersandar perlahan di kursinya.

“Kau bicara seolah Raka adalah orang itu.”

“Aku tidak mengatakan dia sudah menjadi orang itu.”

Hei Yan menutup tangannya, tetapi cahaya emas tetap menembus sela jari.

“Aku mengatakan sesuatu di dalam dirinya mulai mengingat cara orang itu menghukum.”

Bram teringat para anak buahnya yang pulang dengan tubuh gemetar. Ia teringat Joni yang tidak berhenti menangis karena setiap menutup mata melihat takhta dan pedang. Ia teringat dirinya sendiri yang masih merasa lututnya lemas setiap kali membayangkan mata emas Raka.

Ia menelan ludah.

“Jadi… Bang Raka itu bukan manusia?”

Reza langsung menoleh marah.

“Bang Raka?”

Bram baru sadar ucapannya.

Wajahnya pucat.

“Maaf, Bang Reza. Maksud saya…”

Reza melangkah mendekat dan mencengkeram kerah Bram.

“Kau mulai memanggil dia Bang?”

Bram tidak berani melawan.

Namun sebelum Reza sempat memukulnya, Hei Yan tertawa kecil.

“Biarkan.”

Reza menoleh dengan kesal.

Hei Yan menatap Bram dengan mata gelap.

“Ketakutan adalah bentuk pengakuan paling jujur. Tubuhnya sudah tahu siapa yang lebih pantas ditakuti.”

Kalimat itu membuat wajah Reza semakin buruk.

Surya akhirnya berkata, “Bram.”

Bram langsung menunduk.

“Ya, Pak.”

“Ceritakan lagi semua yang kau lihat sejak awal. Jangan ada yang disembunyikan.”

Bram menarik napas berat.

Ia menceritakan semuanya.

Tentang Raka yang hampir mati di tepi Sungai Kapuas.

Tentang cahaya aneh.

Tentang dirinya dan anak buahnya berlutut.

Tentang bayangan takhta.

Tentang pedang hitam keemasan.

Tentang anak buahnya yang ditandai.

Tentang makhluk asing yang dihancurkan.

Tentang pesan Raka kepada Bram dan Reza.

Semakin lama Bram bicara, semakin berat suasana ruangan itu.

Reza yang awalnya ingin menyangkal mulai kehilangan sebagian kesombongannya. Ia masih marah, tetapi kemarahannya kini bercampur dengan rasa tidak nyaman yang tidak ingin ia akui.

Surya diam mendengar sampai akhir.

Hei Yan justru terlihat semakin tertarik.

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!