Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Seminggu telah berlalu sejak pertarungan di hutan.
Tubuh Raka masih nyeri. Tulang-tulangnya berderit setiap kali ia bergerak. Tangan kanannya masih dibalut perban tebal, jari-jarinya kaku dan sulit digerakkan sepenuhnya. Tapi dia hidup. Dan itu sudah cukup.
[!] Status Host: Pemulihan 45%. Fungsi motorik tangan kanan: Terbatas.
[!] Saran: Hindari aktivitas fisik berat.
"Aku tidak punya pilihan," gumam Raka.
Dia berdiri di depan gubuknya. Angin pagi membawa udara dingin dari pegunungan. Di sampingnya, Laras sedang mengikat tali sandal buatannya sendiri. Wajahnya lebih segar dari seminggu lalu, tapi matanya masih menyimpan kecemasan.
"Siap?" tanya Raka.
Laras mengangguk. "Siap."
Mereka tidak berbicara banyak. Kata-kata sudah habis di minggu-minggu sebelumnya. Sekarang hanya ada tindakan.
Mereka berjalan menuju Gunung Tidar.
Gunung itu menjulang tinggi, puncaknya tertutup kabut abadi. Bagi penduduk desa, itu tempat terlarang. Bagi Raka, itu satu-satunya harapan.
[!] Analisis medan: Gunung Tidar.
[!] Tingkat Bahaya: Tinggi.
[!] Catatan: Habitat alami Monster Tahap 3-4. Jalur curam. Risiko jatuh fatal.
"Terima kasih infonya," kata Raka datar.
Tidak ada balasan dari Sistem. Hanya keheningan data.
Pendakian dimulai dengan tanjakan landai. Hutan lebat menghalangi pandangan. Suara burung-burung aneh bergema di antara pepohonan.
Dua jam pertama relatif aman. Hanya beberapa kadal batu kecil yang mencoba menyerang. Raka menendangnya pergi dengan kaki kirinya. Mudah.
Tapi semakin tinggi mereka naik, udara semakin tipis. Tanah menjadi licin oleh lumut basah.
Di ketinggian seribu meter, jalur berubah menjadi tebing vertikal.
"Hati-hati," bisik Raka.
Laras mengangguk. Tangannya gemetar saat memegang tonjolan batu. Kakinya mencari pijakan.
Raka mendahului. Dia menggunakan tangan kirinya untuk menarik tubuh ke atas. Tangan kanannya dibiarkan tergantung, sakit setiap kali terbentur batu.
Setengah jalan memanjat, sesuatu terjadi.
Kaki Laras terpeleset.
"Ah!"
Tubuhnya melayang ke udara. Hanya ujung jarinya yang masih mencengkeram akar pohon kecil yang tumbuh di celah batu.
"Laras!" teriak Raka.
Dia tidak berpikir. Dengan satu tangan kiri, dia meraih pergelangan tangan Laras. Cengkeramannya kuat. Tapi beban tubuh Laras menarik bahu Raka yang masih lemah.
RASA SAKIT MELEDAK DI TANGAN KANANNYA.
Raka meringis. Giginya terkunci. Otot-otot di lengan kanannya yang cedera berkedut liar, seolah ingin putus. Darah merembes keluar dari balik perban.
[!] Peringatan: Cedera lama kambuh. Risiko kerusakan permanen meningkat.
"Diam," desis Raka pada tubuhnya sendiri.
Dengan tenaga terakhir, dia menarik Laras ke atas. Gadis itu tersentak, kakinya menemukan pijakan baru. Napasnya tersengal-sengal. Wajahnya pucat pasi.
"Maaf..." bisik Laras. Suaranya gemetar.
"Tidak apa-apa," kata Raka. Napasnya berat. "Jangan lihat ke bawah. Lihat kakiku. Ikuti langkahku."
Mereka melanjutkan. Setiap gerakan adalah perjuangan. Setiap tarikan napas membakar paru-paru.
Di puncak tebing, sebelum mencapai dataran tinggi, bayangan besar melintas di atas mereka.
Seekor Elang Batu. Sayapnya lebar tiga meter. Paruhnya tajam seperti tombak. Mata kuningnya menatap mereka dengan lapar.
Itu monster Tahap 3. Predator udara.
Raka membeku. Dia tidak bisa bertarung. Tangannya lumpuh. Energinya hampir habis karena memanjat.
Elang itu menukik.
Cepat. Sunyi. Mematikan.
Raka mendorong Laras ke belakang batu besar. Dia sendiri berguling ke samping.
CRAKK!
Paruh elang itu menghantam tanah tempat Raka berdiri tadi. Batu pecah. Debu berterbangan.
Elang itu mengangkat kepala. Mengepakkan sayap. Bersiap menyerang lagi.
Raka tidak punya senjata. Tidak punya energi untuk teknik.
Dia hanya punya satu hal: Batu kerikil di tangannya.
Dan satu kesempatan.
Saat elang itu membuka paruhnya untuk meraung, Raka melempar batu itu. Bukan ke mata. Tapi ke tenggorokan terbuka itu.
THUK!
Batu itu masuk. Elang itu tersedak. Raungannya tercekat. Ia mengepakkan sayap panik, kehilangan keseimbangan, dan jatuh mundur ke jurang di sebelahnya.
Suara jatuhnya hilang ditelan angin.
Hening.
Raka terduduk di tanah. Dadanya naik turun drastis. Tangan kanannya berdarah deras. Perbannya merah semua.
Laras mendekat. Matanya berkaca-kaca. Dia ingin menangis, tapi tahu itu tidak akan membantu. Dia sobek kain dari bajunya, membalut tangan Raka lagi dengan cepat.
"Kita harus lanjut," kata Raka. Suaranya parau. "Sebelum yang lain datang."
Laras mengangguk. Dia membantu Raka berdiri.
Mereka berjalan sisa perjalanan dalam diam. Rasa sakit di tangan Raka menjadi pengingat konstan: Kamu lemah. Kamu belum siap.
Akhirnya, mereka sampai di puncak.
Sebuah dataran batu luas. Di tengahnya, sebuah gubuk bambu sederhana. Asap tipis keluar dari cerobongnya.
Di depan gubuk, seorang pria tua duduk bersila. Matanya tertutup. Wajahnya keriput. Rambutnya putih perak.
Dia tidak bergerak. Bahkan saat Raka dan Laras mendekat.
Raka berhenti sepuluh langkah darinya. Dia membungkuk hormat. Dalam-dalam.
"Guru," katanya. Suaranya lelah, tapi penuh respek.
Pria tua itu tidak membuka mata.
"Duduk," katanya. Satu kata. Ringan. Tapi terasa berat di telinga.
Raka duduk bersila. Laras duduk di belakangnya.
Mereka menunggu.
Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit.
Angin berhembus. Daun kering berguguran.
Raka tidak bergerak. Dia menahan rasa sakit di tangannya. Dia menahan lapar. Dia menahan kelelahan.
[!] Deteksi detak jantung stabil. Kontrol emosi: Baik.
Setelah satu jam, pria tua itu membuka mata.
Matanya jernih. Tajam. Seperti elang yang baru saja terbangun.
Dia menatap Raka. Menilai. Bukan dari pakaiannya. Bukan dari kekuatannya. Tapi dari ketenangannya.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya pria tua itu.
Raka menatapnya lurus. "Untuk belajar."
"Banyak orang datang untuk belajar. Mereka ingin kuat. Ingin kaya. Ingin balas dendam." Pria tua itu tersenyum tipis. "Kamu ingin apa?"
"Aku ingin hidup," jawab Raka jujur. "Dan aku ingin melindungi orang yang ada di belakangku."
Pria tua itu menoleh sekilas ke arah Laras. Lalu kembali ke Raka.
"Jawaban yang biasa."
Dia berdiri. Berjalan ke sudut gubuk. Mengambil dua ember kayu kosong.
Meletakkannya di depan Raka.
"Ambil ini," perintahnya.
Raka mengambil ember itu. Ringan. Kosong.
"Turun ke mata air di bawah tebing sebelah timur. Jaraknya lima ratus meter turun, lima ratus meter naik."
Pria tua itu menunjuk ke arah jurang curam di sisi lain puncak.
"Isi ember ini dengan air. Jangan tumpah setetes pun."
Raka mengangkat alis. "Hanya itu?"
"Pergilah."
Raka berdiri. Tubuhnya protes. Tangannya berdenyut-denyut. Tapi dia mengambil ember itu.
Dia menuruni tebing. Licin. Curam. Angin kencang menerpa wajahnya.
Di dasar, ada kolam air jernih. Dia mengisi ember. Hati-hati. Perlahan.
Lalu dia mulai naik.
Langkah pertama aman.
Langkah kedua, kakinya terpeleset sedikit. Air bergoyang. Hampir tumpah.
Raka menahan napasnya. Mengatur keseimbangan. Fokus total.
Setiap langkah adalah ujian. Angin mencoba menggoyangkan ember. Otot-ototnya berteriak minta ampun. Tangan kanannya yang terluka harus menahan beban tambahan, membuat rasa sakit menjalar ke seluruh lengan.
Dia hampir jatuh dua kali.
Tapi dia tidak menyerah.
Satu jam kemudian, Raka sampai kembali di depan gubuk.
Keringat membasahi dahinya. Napasnya tersengal. Tapi ember di tangannya masih penuh. Airnya tenang. Tidak ada yang tumpah.
Dia meletakkan ember itu di depan pria tua.
Pria tua itu menatap ember. Menatap air yang masih jernih.
Lalu dia menatap Raka.
Senyumnya muncul lagi. Kali ini, lebih hangat. Sedikit.
"Kamu lulus tes pertama," katanya.
Raka menghela napas. Lega.
"Tapi," tambah pria tua itu, suaranya tiba-tiba dingin lagi, "ini baru permulaan. Besok, kita mulai latihan sesungguhnya. Dan aku tidak akan lembut."
Raka membungkuk lagi.
"Terima kasih, Guru."
Pria tua itu berbalik masuk ke gubuk. Pintu bambu tertutup.
Raka duduk kembali di tanah. Laras mendekat, menyodorkan botol air.
Raka meminumnya. Rasanya manis.
[!] Misi Selesai: Mendapatkan Pengakuan Awal.
[!] Status Baru: Murid Calon.
Raka tersenyum tipis. Melihat tangannya yang masih berdarah.
Masih sakit. Masih lemah.
Tapi untuk pertama kalinya, dia punya arah.
Dan itu cukup untuk malam ini.
Bersambung.