Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GALAK TAPI PERHATIAN
"Bawa mayat-mayat ini! Dan kau, gadis desa," ucap Pangeran Arkan menunjuk Elena dengan ujung pedangnya.
"Besok pagi Ibu Ratu akan memanggilmu, jelaskan detail pria berjubah itu padanya, jika kamu berbohong, nasibmu akan lebih buruk dari mayat-mayat ini," lanjut Pangeran Arkan, angkuh.
Setelah para pengawal membawa pergi mayat-mayat itu dan meninggalkan paviliun, suasana kembali sunyi.
Pintu yang rusak dibiarkan begitu saja, meninggalkan angin malam yang dingin menusuk tulang.
Elena tetap diam di posisinya sampai dia yakin langkah kaki para pengawal sudah benar-benar menjauh.
"Mereka sudah pergi," bisik Elena datar.
Detik itu juga, Arlon membuka matanya, tidak ada lagi raut kesakitan, pria itu tampak sangat menikmati sentuhan tangan Elena.
Dengan perlahan, Pangeran Arlon mendudukkan tubuhnya dengan santai di atas lantai yang masih menyisakan noda darah, menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aktingmu lumayan juga, Istriku. Air mata buatan itu hampir membuatku tertawa kalau saja aku tidak sedang berpura-pura pingsan," ucap Pangeran Arlon sambil menyeringai tipis.
Elena langsung melepaskan genggaman tangannya dengan kasar, lalu dia berdiri, menepuk-nepuk gaun pengantinnya yang sudah hancur berantakan karena robek dan terkena debu.
"Jangan panggil aku seperti itu dengan nada menjijikkan begitu, aku hanya melakukan pekerjaanku agar klan ku tidak diratakan dengan tanah oleh pria berjubah gila yang mengirim ku ke sini," jawab Elena ketus.
Begitu kontak fisik mereka terputus, Elena bisa melihat wajah Arlon kembali memucat, pria itu sedikit meringis, sambil memegang dada nya, namun dia berusaha tetap terlihat tegap.
"Kamu lihat sendiri, kan? Begitu tanganmu lepas, rasanya jantungku seperti diremas-remas," gumam Pangeran Arlon, suaranya mulai terdengar berat lagi.
Elena melirik suaminya dengan tatapan yang sulit terbaca, dia melihat Pangeran Arlon yang mencoba menyembunyikan rasa sakitnya, namun keringat dingin yang mulai membanjiri dahi pria itu tidak bisa berbohong.
"Berhentilah mengeluh, kamu adalah seorang Pangeran, bukan bocah yang baru saja kehilangan mainannya," ucap Elena ketus, meskipun tangannya secara perlahan bergerak kembali menyentuh bahu Pangeran Arlon.
Begitu jemari Elena menyentuh tangan Pangeran Arlon, bahkan hanya lewat perantara kain, napas Pangeran Arlon yang tadinya berat mulai berangsur tenang.
Pangeran Arlon mendongak, menatap Elena dengan senyuman tipis yang terlihat sangat menyebalkan di mata Elena.
"Terima kasih atas istriku, setidaknya malam ini aku bisa tidur tanpa merasa paru-paruku terbakar," gumam Arlon sambil menyandarkan kepalanya di kaki ranjang yang sudah miring.
Elena menarik napas panjang, mencoba meredam kekesalannya.
"Jangan senang dulu, besok pagi aku harus berhadapan dengan wanita ular itu, jika aku salah bicara sedikit saja, kita berdua akan habis di bakar hidup-hidup," ucap Elena, kesal.
Arlon terkekeh pelan, dia merasa beruntung karena takdir mengirimkan wanita seperti Elena ke sisinya.
"Jangan khawatir, Selena mungkin pintar bermain racun, tapi dia terlalu sombong untuk menyadari bahwa racun paling mematikan justru sedang duduk tepat di hadapanku saat ini," ucap Pangeran Arlon, tersenyum kecil.
Elena tidak membalas, dia hanya menatap pintu paviliun yang terbuka lebar dengan tatapan kosong, di kepalanya, dia mulai menyusun rencana cadangan jika sewaktu-waktu sandiwara mereka terbongkar.
Sementara itu, di sisi lain istana, di kamar yang sangat megah, suasana sama sekali tidak setenang di Paviliun Bintang.
PRANG
PYARRR
Sebuah vas bunga yang sangat mahal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan ke dinding marmer.
Ratu Selena berdiri dengan napas memburu, wajah cantiknya kini tampak menyeramkan karena amarah yang meluap-luap.
"Gagal?! Apa kau bilang? Gagal?!" teriak Ratu Selena, membuat para pelayan di ruangan itu bersujud gemetar di lantai.
Sementara Pangeran Arkan berdiri tidak jauh dari ibunya, wajahnya tampak kaku dan sedikit pucat, dia baru saja selesai memberikan laporan tentang kejadian di paviliun tadi.
"Ibu, waktu Saya ke sana tadi, Saya menemukan puluhan mayat pembunuh yang kita sewa, semuanya tewas, ada yang lehernya patah, tulangnya hancur, seolah mereka dihantam oleh monster," lapor Arkan dengan nada yang masih tidak percaya.
Arkan saja rasanya masih tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat tadi, mungkin kalau dirinya tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri, dirinya tidak akan percaya, kalau para pembunuh bayaran yang dia sewa itu gagal.
"Tidak mungkin! Arlon itu sampah yang sudah sekarat! Jangankan membunuh orang, berdiri saja dia tidak bisa!" bentak Ratu Selena mencengkeram pinggiran meja, dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih
"Gadis itu, gadis desa yang Ibu pilihkan untuknya, dia bilang ada seorang pria berjubah hitam yang datang menyelamatkan mereka," tambah Arkan, mencoba memberikan penjelasan yang dia dapatkan dari Elena.
Ratu Selena terdiam sejenak, matanya yang tajam menyipit penuh kecurigaan, dia mulai berjalan mondar-mandir di ruangannya yang luas, membuat suara sepatu hak tingginya menggema di seluruh ruangan.
"Pria berjubah hitam? Di dalam istanaku sendiri? Berani sekali, penyusup rendahan berkeliaran di wilayah ku sendiri!" geram Ratu Selena sambil menendang pecahan keramik di depannya.
PYARRR
Ratu Serena kemudian berbalik menatap Arkan dengan tatapan dingin nya.
"Arkan, aku tidak peduli siapa pria berjubah itu, tapi gadis itu, Elena... ada sesuatu yang tidak beres dengannya, tidak mungkin pembunuh profesional gagal menghabisi target yang begitu lemah kecuali ada pengkhianat di dalamnya," ucap Ratu Selena, dingin.
Arkan mengerutkan keningnya, mencoba mencerna maksud ibunya.
"Maksud Ibu, Elena itu yang membawa pria berjubah itu masuk? Itu tidak mungkinlah," tanya Arkan, tidak setuju dengan pemikiran ibunya kali ini.
"Kenapa tidak? Gadis itu terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru saja melihat pembantaian. Besok pagi, saat dia datang kemari, aku sendiri yang akan mengulitinya sampai dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi malam ini," Ucap Ratu Selena, dingin.
Pangeran Arkan mengangguk, dia sendiri juga merasa ada yang aneh dengan tatapan Elena tadi, tapi mungkin hanya perasaan nya saj, pikir Pangeran Arlon.
"Dan bagaimana dengan Arlon, Ibu? Dia masih bernapas," tanya Pangeran Arkan.
Ratu Selena menyeringai dingin, sebuah senyum yang penuh dengan kebencian.
"Biarkan dia bernapas untuk malam ini, jika racun tidak bisa membunuhnya, dan pembunuh bayaran juga gagal, maka aku akan pastikan dia mati perlahan di depan matanya sendiri setelah aku menghancurkan satu-satunya hal yang melindunginya," ucap Ratu Selena, tersenyum licik.
"Bawa gadis desa itu besok pagi. Aku ingin melihat seberapa kuat nyalinya di depanku," lanjut Ratu Selena dengan suara rendah yang penuh ancaman.
Glek
Pangeran Arkan hanya bisa menelan ludah nya kasar, dia tahu jika ibunya sudah menunjukkan sisi seperti ini, maka esok hari akan menjadi hari yang sangat berdarah bagi siapa pun yang berani menghalangi jalan mereka.