NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Anak Itu Telah Tumbuh

Pagi itu terasa sangat berbeda.

Bukan karena cuaca.

Bukan juga karena keadaan kota yang tiba-tiba telah membaik.

Dan bukan karena perang yang sedang berlangsung mendadak berhenti.

Justru sebaliknya.

Perang masih ada.

Musuh masih mengintai.

Pengkhianat masih belum ditemukan.

Namun ada sesuatu yang berubah.

Seseorang telah berubah.

Arda Valdarez.

Sudah hampir tiga minggu berlalu sejak malam ketika ia membaca surat terakhir Leon.

Tiga minggu sejak ia menerima kenyataan bahwa masa kecilnya benar-benar telah berakhir.

Dan selama tiga minggu itu...

Banyak hal terjadi.

Namun perubahan terbesar terjadi pada dirinya sendiri.

Pukul enam pagi.

Area latihan belakang rumah yang masih kosong lalu ketika Arda sudah berdiri di tengah lapangan.

Udara pagi terasa dingin.

Embun masih menempel di rumput.

Namun Arda sudah berkeringat.

Ia telah berlatih hampir satu jam.

Sendirian tidak ada yang menemani seperti biasanya dia latihan sebelumnya.

Tidak ada Darius.

Tidak ada instruktur.

Tidak ada yang memaksanya berlatih lebih keras.

Ia melakukannya karena kemauannya sendiri.

Pukulan demi pukulan yang menghantam samsak tua itu.

BRAK!

BRAK!

BRAK!

Setiap pukulan terasa lebih kuat dibanding beberapa minggu lalu.

Tubuhnya mulai berubah.

Bahu lebih tegap.

Gerakan lebih cepat.

Refleks lebih tajam.

Darius yang baru datang berdiri beberapa meter jauhnya.

Memperhatikan tanpa bicara.

Biasanya Arda akan menyadari kehadirannya.

Hari ini tidak.

Karena fokusnya terlalu tinggi.

Atau mungkin...

Karena pikirannya sedang berada di tempat lain.

Beberapa menit kemudian Arda akhirnya berhenti.

Napasnya memburu.

Keringat membasahi kaus hitam yang dikenakannya.

Darius melangkah mendekat.

"Kau datang lebih awal."

ucapnya.

Arda mengambil botol air.

"Sudah terbiasa."

jawabnya.

Darius menatapnya beberapa saat.

Kemudian berkata pelan.

"Kau berubah."

Arda tertawa kecil.

"Semua orang mengatakan itu."

"Karena memang benar."

jawab Darius.

Tidak ada nada bercanda dalam suaranya.

Karena ia memang serius.

Sangat serius.

Dulu Arda berlatih karena ingin bertahan hidup.

Sekarang ia berlatih karena memiliki tujuan lain.

Dan tujuan selalu membuat seseorang jauh lebih berbahaya dan menjadi lebih kuat.

Di dalam rumah.

Kael sedang membaca laporan pagi.

Sudah menjadi rutinitasnya selama bertahun-tahun.

Namun beberapa bulan terakhir laporan yang ia baca adalah hampir selalu berisi tentang kabar buruk.

Hari ini berbeda sangat berbeda tidak ada berita yg iya baca sebelumnya.

Tidak ada serangan besar.

Tidak ada gudang yang terbakar.

Tidak ada anggota yang ditemukan tewas.

Meski begitu...

Kael justru semakin waspada.

Karena ketenangan dalam dunia mereka hampir selalu berarti sesuatu sedang dipersiapkan atau sesuatu yang akan terjadi atau bahkan lebih buruk dari yang di bayangkan.

"Masih tidak ada pergerakan?"

tanya Ravian.

Kael menggeleng.

"Justru itu masalahnya."

Ravian memahami maksudnya.

Musuh yang diam sering kali lebih berbahaya daripada musuh yang menyerang.

Karena saat diam...

Mereka sedang menghitung.

Dan saat menghitung...

Biasanya mereka sedang menyiapkan sesuatu yang besar.

Pintu ruang kerja terbuka.

Arda masuk.

Kael mengangkat kepala.

Sesaat ia terdiam.

Bukan karena terkejut.

Melainkan karena tanpa sadar ia mulai melihat sosok Leon dalam diri anak itu.

Tidak banyak.

Namun cukup untuk membuatnya menyadari sesuatu.

Waktu terus berjalan.

Dan Arda tidak lagi sama.

"Ada rapat pagi."

ucap Kael.

"Aku tahu."

jawab Arda.

"Aku akan ikut."

Ravian dan Kael saling berpandangan.

Kalimat itu sederhana.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Dulu Arda akan bertanya apakah dirinya boleh ikut.

Sekarang tidak.

Ia hanya mengatakan akan ikut.

Seolah itu memang tempatnya.

Dan mungkin memang begitu.

Satu jam kemudian.

Rapat internal Valdarez dimulai.

Beberapa anggota senior hadir.

Sebagian besar adalah orang-orang yang telah bekerja untuk Leon selama bertahun-tahun.

Sebagian dari mereka masih melihat Arda sebagai anak kecil.

Setidaknya sampai hari itu.

Pembahasan awal berjalan normal.

Laporan keuangan.

Jalur distribusi.

Wilayah yang masih aman.

Kemudian salah satu anggota senior membuka topik baru.

"Kita harus menyerahkan distrik selatan."

ucapnya.

Ruangan langsung hening.

Kael menatap pria itu.

"Kenapa?"

"Karena kita tidak punya cukup orang untuk mempertahankannya."

Pria itu membuka beberapa dokumen.

"Kalau kita memaksakan diri..."

"...kita akan kehilangan lebih banyak."

Beberapa orang terlihat setuju.

Sebagian lainnya tidak.

Perdebatan mulai muncul.

Suasana ruangan perlahan memanas.

Dan di tengah semua itu...

Arda hanya mendengarkan.

Diam.

Mengamati.

Mempelajari.

Sampai akhirnya ia berbicara.

"Ada berapa bisnis aktif di distrik selatan?"

Semua orang langsung menoleh.

Karena selama ini Arda hampir tidak pernah ikut dalam diskusi besar.

Pria yang tadi berbicara membuka data.

"Dua puluh tiga."

"Berapa yang masih menghasilkan keuntungan?"

"Lima belas."

"Dan berapa yang bekerja sama dengan kita karena perlindungan?"

Pria itu berpikir sebentar.

"Sekitar sebelas."

Arda mengangguk pelan.

Lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Kalau kita pergi..."

ucapnya tenang.

"...mereka akan berpindah pihak."

Tidak ada yang menyela.

Karena itu benar.

"Kalau mereka berpindah pihak..."

lanjut Arda.

"...musuh tidak hanya mendapat wilayah."

"Mereka mendapat uang."

"Mereka mendapat informasi."

"Dan mereka mendapat legitimasi."

Ruangan mulai sunyi.

Semua orang mendengarkan.

Bahkan Kael.

Bahkan Ravian.

Arda menunjuk peta di atas meja.

"Kalau kita menyerahkan distrik selatan..."

"...mereka akan menguasai akses menuju tiga wilayah lain."

Pria senior itu mulai terlihat ragu.

Karena Arda benar.

Sangat benar.

Dan semakin lama ia menjelaskan...

Semakin jelas bahwa anak muda itu benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakan.

Bukan mengulang kata-kata orang lain.

Bukan menebak.

Melainkan berpikir.

Menganalisis.

Dan mengambil kesimpulan.

Pada akhirnya Kael menutup rapat.

Keputusan dibuat.

Distrik selatan tidak akan dilepas.

Sebaliknya.

Mereka akan memperkuat pertahanan di sana.

Dan ide itu berasal dari Arda.

Ketika rapat selesai.

Beberapa anggota senior masih duduk diam.

Salah satu dari mereka menatap pintu yang baru saja dilewati Arda.

Kemudian berkata pelan.

"Aku baru sadar sesuatu."

"Apa?"

tanya anggota lain.

Pria itu menghela napas.

"Kita terus memanggilnya anak kecil."

Tatapannya masih tertuju ke pintu.

"Tapi anak itu sudah tidak ada."

Di koridor luar.

Arda berjalan menuju halaman belakang.

Ia tidak mendengar komentar mereka.

Dan mungkin tidak akan peduli jika mendengarnya.

Karena pikirannya sedang dipenuhi hal lain.

Orang kelima.

Pengkhianat.

Leon.

Dan perang yang belum selesai.

Saat melewati ruang arsip lama.

Ia berhenti.

Perlahan menoleh.

Pintu ruangan itu sedikit terbuka.

Dan tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Foto lama.

Orang kelima.

Arsip yang hilang.

Mungkin...

Jawabannya ada di sana.

Arda membuka pintu.

Debu langsung tercium.

Ruangan itu jarang digunakan.

Rak-rak tua memenuhi dinding.

Puluhan kotak arsip tersimpan rapi.

Sebagian sudah sangat tua.

Sebagian bahkan berasal dari masa sebelum Leon memimpin Valdarez.

Arda berjalan masuk.

Perlahan.

Matanya menyapu setiap rak.

Kemudian berhenti pada satu kotak.

Kotak bertuliskan tahun yang sama dengan foto misterius itu.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Instingnya mengatakan sesuatu.

Sesuatu yang penting.

Sangat penting.

Ia menarik kotak itu keluar.

Membukanya perlahan.

Lalu mulai memeriksa isinya.

Dokumen.

Foto.

Laporan lama.

Dan di bagian paling bawah...

Ia menemukan sesuatu.

Sebuah map hitam.

Tanpa nama.

Tanpa label.

Tanpa tanda apa pun.

Arda membuka map itu.

Dan saat melihat halaman pertama...

Wajahnya langsung berubah.

Karena di sana terdapat sebuah foto lama.

Foto yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Foto Leon.

Isabella.

Marcus.

Kael.

Dan...

Orang kelima itu.

Kali ini wajahnya terlihat lebih jelas.

Meski belum sepenuhnya.

Namun cukup untuk membuat Arda menyadari satu hal.

Ia pernah melihat pria itu sebelumnya.

Atau setidaknya...

Melihat seseorang yang sangat mirip dengannya.

Di suatu tempat.

Pada suatu waktu.

Dan kesadaran itu membuat bulu kuduknya meremang.

Karena jika firasatnya benar...

Maka orang kelima mungkin jauh lebih dekat daripada yang selama ini mereka bayangkan.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!