NovelToon NovelToon
Obsession Of Jayden

Obsession Of Jayden

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Alyssa Kim

Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.

​Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.

​Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Rencana yang Tersusun di Balik Hujan

​Bunyi bel istirahat pertama menggema membelah koridor Loren’z High School. Bersamaan dengan itu, rintik hujan yang sejak pagi bersembunyi di balik awan mendung akhirnya tumpah, membasahi kaca jendela besar di samping meja nomor tiga. Butiran air yang mengalir turun menciptakan bayangan semu di wajah tegas Jayden yang masih setia menopang dagu.

​Elleanor langsung berdiri dari duduknya, menyambar dompet kecilnya tanpa berniat melirik ke arah samping. Ia butuh oksigen. Berada di satu radius dengan Jayden selama dua jam penuh terasa seperti dikurung di ruangan hampa udara.

​Namun, baru saja Elle melangkah satu kaki menjauhi mejanya, pergelangan tangan kanannya kembali ditahan. Sentuhan itu tidak kasar, namun cengkeraman jemari panjang Jayden selalu memiliki daya ikat yang mutlak.

​"Mau ke mana?" tanya Jayden rendah, matanya tetap menatap lurus ke depan, seolah-olah menahan tangan Elle adalah sebuah refleks insting yang tidak perlu dipikirkan.

​Elle menyentak tangannya kasar hingga terlepas. "Ke kantin! Mau makan! Lo mau ngelarang gua makan juga? Mau bikin gua mati kelaparan di sini, hah?!" semprot Elle barbar, membuat beberapa anak cowok Vultures yang masih tersisa di kelas langsung menoleh dengan pandangan takjub. Cuma Elleanor Smith yang berani membentak Jayden dengan nada seperti itu.

​Jayden menurunkan tangannya ke atas meja, lalu menegakkan tubuhnya. Netra hitamnya yang pekat beralih menatap Elle, mengunci manik mata gadis itu dengan intensitas yang dalam. "Gua gak melarang lo makan. Erlan," panggil Jayden tanpa mengalihkan pandangannya.

​Erlan yang sedang asyik memutar-mutar kunci motornya di barisan tengah langsung menoleh. "Yo, Bos? Ada perintah?"

​"Beliin nasi goreng ayam di kantin lantai bawah dua porsi, sama jus stroberi satu. Bawa ke sini," perintah Jayden datar.

​"Jayden! Gua mau makan di kantin, bukan di kelas!" potong Elle emosi, dadanya naik turun menahan kekesalan. "Gua mau ketemu Soraya sama Keysha!"

​"Di luar hujan, Elle. Kantin bawah pasti penuh dan berisik," balas Jayden tenang, suaranya mengalun lambat namun sarat akan keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Ia berdiri, mengikis jarak di antara mereka hingga Elle terpaksa mundur satu langkah menabrak pinggiran mejanya sendiri. "Dan gua... gak suka lo berkeliaran di tempat ramai di mana mata cowok-cowok lain bisa bebas ngeliat lo."

​"Lo bener-bener gila, ya!" desis Elle, giginya bergemertak. "Gua bukan barang pajangan lo, Jayden!"

​"Gua tahu lo bukan barang," bisik Jayden rendah, menunduk sedikit hingga aroma mint dari napasnya menerpa permukaan kulit wajah Elle yang mulai memerah. "Kalau lo cuma seonggok barang, gua gak bakal se-frustrasi ini tiap kali liat lo berusaha lari dari gua. Duduk, Elle. Erlan bakal balik sebentar lagi."

​Erlan yang melihat ketegangan itu hanya bisa bersiul pelan sambil menyenggol lengan Haikal. "Cabut yuk, Kal. Pawang macan lagi ngasih makan peliharaannya. Salah-salah kita kena cakar." Kedua cowok itu segera ngacir keluar kelas, meninggalkan Shaka yang hanya menggelengkan kepala pelan dari sudut ruangan sebelum ikut melangkah keluar untuk memberikan ruang privasi bagi ketuanya.

​Elleanor menghentakkan kakinya kesal, lalu kembali menghempaskan tubuhnya ke atas kursi dengan kasar. Ditumpukannya kedua tangannya di atas meja, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lengan untuk menghalau pandangan posesif Jayden yang masih terus menguliti punggungnya. Sifat barbarnya merutuki segala keterbatasan yang ia miliki saat ini. Di sekolah ini, ia benar-benar lumpuh.

​Sementara itu, di bawah guyuran hujan deras yang membasahi kawasan Jakarta Barat, sebuah mobil jeep militer tua berwarna hijau lumut berhenti di depan bengkel markas WOLFANGS.

​Alkana turun dari mobil tanpa memedulikan air hujan yang langsung membasahi jaket kulit serigalanya. Wajah tampannya tampak begitu kusut, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang menandakan bahwa ia sama sekali tidak tidur pasca kejadian amuk di sirkuit Jaksel semalam.

​Brak!

​Alka mendorong pintu bengkel dengan kasar. Di dalam, Nalendra sedang duduk di atas meja biliar sambil menyetem senar biolanya, sementara Matthew masih sibuk dengan jajaran monitor komputer yang menampilkan barisan kode enkripsi hijau.

​"Gimana, Matt? Ada celah?!" tanya Alka langsung tanpa basa-basi, suaranya serak dan sarat akan keputusasaan yang tertahan.

​Matthew menghela napas panjang, memutar kursi rodanya menghadap Alka. Ia melepas headphone yang melingkar di lehernya, lalu menggelengkan kepala pelan. "Sistem pertahanan penthouse Jayden yang dibuat Haikal itu dinamis, Al. Tiap tiga jam sekali, algoritma kuncinya berubah secara acak. Gua bisa aja nembus paksa, tapi itu bakal memicu alarm sistem di ponsel Jayden, dan dia bakal langsung tahu kalau kita lagi ngelacak lokasinya."

​"Sialan!" umpat Alka, memukul tiang besi bengkel hingga menimbulkan suara dentangan yang nyaring. "Terus kita harus diam aja?! Semalam lo liat sendiri kan gimana gilanya si Jayden?! Dia bawa Elle paksa kayak bawa barang jarahan! Gua gak bisa diem aja liat Elle dikurung sama psikopat kayak dia, Len!" Alka beralih menatap Nalen dengan pandangan berapi-api.

​Nalendra meletakkan biolanya dengan perlahan, lalu turun dari meja. Sorot mata cowok tenang itu kali ini tampak jauh lebih serius dari biasanya. "Al, main kasar di jalanan udah gak mempan buat ngehadapi Vultures kalau urusannya udah melibatkan Elle. Jayden punya seluruh akses hukum dan finansial Frederick Group buat nutup kesalahan dia. Kalau lo mau narik Elle keluar dari sangkar Jayden, kita harus pakai umpan yang bikin Jayden sendiri yang ngelepasin sangkarnya."

​Alka mengerutkan dahi. "Maksud lo apa?"

​Nalen berjalan mendekati meja Matthew, lalu mengetuk layar monitor yang menampilkan data profil sekolah Loren’z High School. "Bulan depan ada kompetisi balap motor tahunan antar SMA se-DKI Jakarta, Inter-School Championship. LHS selalu ngirim perwakilan dari anak-anak Vultures, dan tebak siapa yang bakal turun jadi pembalap utamanya?"

​"Jayden," desis Alka, rahangnya mengeras. Sebagai sesama pembalap jalanan, ia tahu betul kalau Jayden memiliki rekor tak terkalahkan di sirkuit resmi maupun ilegal.

​"Tepat," angguk Nalen dengan senyum tipis yang sarat akan taktik. "Kita tantang Vultures di sirkuit resmi itu. Taruhannya bukan lagi sekadar piala atau nama baik geng... tapi kebebasan Elleanor. Kita bikin perjanjian tertulis di depan seluruh faksi geng motor Jakarta. Kalau Wolfangs menang, Jayden harus mengembalikan Elle ke kelas asalnya dan menghapus semua sistem pembatasan di ponselnya. Jayden itu punya ego yang kelewat tinggi; dia gak bakal pernah nolak tantangan balapan, apalagi kalau di depan anak-anaknya."

​Alka terdiam, mencerna kata-kata Nalen. Perlahan, kilat keputusasaan di matanya padam, digantikan oleh binar amarah yang terfokus dan dingin. Darah pembalapnya bergejolak hebat. "Oke. Kita mainkan game ini. Matt, kirim undangan tantangan resmi ke nomor Shaka siang ini juga. Pastikan seluruh anak Vultures tahu kalau Wolfangs siap taruhan nyawa di aspal bulan depan."

​Kembali ke kelas XI-IPA 3, Erlan baru saja kembali dengan membawa dua kotak sterofoam nasi goreng hangat dan segelas jus stroberi dingin. Aroma gurih bumbu nasi goreng seketika menyeruak di antara keheningan pojok kelas.

​Jayden mengambil kotak makanan itu, membukanya perlahan, lalu menggesernya tepat ke depan lipatan tangan Elle yang masih menyembunyikan wajahnya.

​"Makan, Elle. Jangan kayak anak kecil," ujar Jayden, suaranya melunak satu tingkat, meletakkan sepasang sendok plastik di atas nasi hangat tersebut.

​Elleanor mengangkat kepalanya perlahan. Rambut panjangnya yang sedikit berantakan membingkai wajah cantiknya yang masih cemberut. Ditatapnya nasi goreng itu dengan perut yang jujur saja sudah berbunyi keroncongan, lalu beralih menatap Jayden yang kini sedang membuka kotak makanannya sendiri dengan tenang.

​"Gua makan ini bukan karena gua nurut sama lo ya, Muka Tembok," ketus Elle sambil menyambar sendok plastik itu dengan kasar. "Gua makan karena gua butuh tenaga buat mikir gimana cara ngancurin muka lo besok-besok."

​Jayden tidak membalas cibiran itu dengan kemarahan. Sudut bibirnya justru kembali terangkat, membentuk seulas seringai tipis yang sarat akan kepuasan tersembunyi dari balik ketenangannya. Disuapnya nasi gorengnya sendiri perlahan, menikmati eksistensi gadis barbar di sampingnya yang kini terpaksa mengunyah makanannya dengan lahap di dalam area kekuasaan mutlaknya.

​Di luar, hujan semakin deras mengguyur bumi, seolah ikut mengunci rona buruan itu agar tetap tinggal lebih lama di dalam pelukan sang predator jalanan.

1
Davina Aurora
lanjutt ka ceritanya seruu🤩🩷
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!