NovelToon NovelToon
Moonlight Over The Mafia Empire

Moonlight Over The Mafia Empire

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:35.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alistia Haka

Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.

Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.

Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.

Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 22

Aurora menahan napas. Matanya bergerak gelisah menatap baris-baris kalimat hukum yang tampak begitu mengikat.

“Pasal satu,” lanjut Hank tanpa jeda. “Selama masa kontrak berlangsung, Anda wajib tinggal di kediaman utama Tuan Aragon.”

“Apa?” Aurora langsung mengangkat kepala.

“Pasal dua,” sambung Hank seolah tidak mendengar protes itu. “Anda tidak diperbolehkan meninggalkan kediaman tanpa izin dari Tuan Aragon atau perwakilan yang ditunjuk olehnya.”

Aurora menatap Hank seperti sedang melihat orang gila.

“Ini gila.”

“Masih ada dua puluh tujuh halaman lagi, Nona. Atau, Anda bisa mengganti kontrak ini dengan uang ganti rugi,” jawab Hank tenang.

Aurora memejamkan mata sesaat dengan wajah kesal.

“Pasal tiga. Anda tidak diperkenankan memiliki hubungan romantis dengan siapa pun selama masa kontrak berlangsung.”

“APA?!”

Mobil yang melaju stabil itu mendadak terasa terlalu sempit. Aurora menoleh tajam ke arah Aragon.

“Kenapa aturan itu ada?!”

Aragon bahkan tidak mengangkat kepala. Pria itu sedang memeriksa beberapa pekerjaan dari layar ponselnya, duduk santai sambil menyilangkan kaki dan menyandarkan punggung.

“Aku tidak suka komplikasi.”

“Komp— Apa?!”

“Orang jatuh cinta menjadi bodoh,” potong Aragon datar. “Dan aku tidak membayar seseorang untuk menjadi bodoh.”

“Aku bukan barang yang bisa dibeli! Jadi, apa maksudnya ini? Inikah yang anda maksud akan… Mengambil kebebasanku?! Ini bukan sekedar mengambil kebebasanku tapi kemerdekaanku!”

“Benarkah? Kurasa itu kata yang sama artinya.” Aragon akhirnya menatap Aurora.

“Kalau begitu, turun dari mobil sekarang juga dan kembalikan uangnya padaku. Hank akan menghitung semuanya.” Kini Aragon menatap lekat-lekat kedua mata Aurora.

Aurora langsung terdiam.

Aragon kembali mengalihkan pandangan.

“Lanjutkan, Hank.”

Hank mengangguk kecil. “Pasal empat. Seluruh kebutuhan hidup Anda, termasuk tempat tinggal, makanan, pakaian, pendidikan, serta kebutuhan panti asuhan akan ditanggung sepenuhnya oleh Tuan Aragon.”

Aurora mengerutkan kening.

“Bagaimana? Aku benar-benar dermawan, bukan?”

Hank membuka slide berikutnya. “Pasal lima. Nona Aurora wajib memenuhi setiap permintaan dan instruksi Tuan Aragon, selama tidak melanggar hukum negara.”

“Tidak melanggar hukum?” ulang Aurora.

“Benar.”

Aurora menatap Aragon curiga. “Apa sebenarnya tujuan Anda?”

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Aragon terdiam cukup lama. Tatapannya beralih ke luar jendela. Lampu-lampu kota berpendar di kaca, menciptakan bayangan gelap di wajahnya.

”Aku membutuhkan seseorang.”

Jawaban itu justru membuat Aurora semakin bingung. “Seseorang untuk apa?”

“Untuk tetap hidup.”

Keheningan langsung memenuhi mobil. Aurora bahkan tidak yakin dirinya mendengar dengan benar. Hank yang duduk di depan tampak menegang.

Sedetik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu Aragon tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah mencapai matanya.

“Anggap saja aku sedang mencari hiburan.”

Aurora tidak memercayai satu kata pun. Ada sesuatu yang disembunyikan pria itu. Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar panti asuhan, ganti rugi, atau kontrak aneh ini.

“Pasal enam,” kata Hank cepat, seolah sengaja mengalihkan topik. “Kontrak berlaku selama tiga tahun.”

“TIGA TAHUN?!”

“Dengan kemungkinan perpanjangan. Dan Anda tidak berhak untuk menolak.”

Aurora hampir tersedak ludahnya sendiri. “Tiga tahun hidupku? Dan kemungkinan diperpanjang?”

“Benar,” kata Aragon singkat.

“Itu gila!”

“Tidak,” sahut Aragon santai. “Ini bisnis.”

Aurora mengepalkan tangan di atas pangkuannya.

Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Tiga tahun berarti seluruh masa mudanya. Tiga tahun berarti kebebasannya. Tiga tahun berarti menyerahkan kendali hidup kepada seorang pria yang bahkan tidak percaya pada Tuhan.

Namun kemudian, bayangan wajah anak-anak panti muncul dalam benaknya. Atap yang runtuh. Tangisan para suster. Ancaman Bulldog. Dan kenyataan bahwa tanpa bantuan Aragon, mereka semua tidak memiliki masa depan.

Aurora menggigit bibirnya kuat-kuat, sampai rasa logam darah memenuhi lidahnya.

Aragon memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah gadis itu. Dan seperti predator yang tahu mangsanya sudah berada di ujung jurang, ia berkata pelan.

“Sekadar menggigit dan melukai bibirmu sendiri pun, kau butuh izin dariku.” Mata Aragon menatap tajam bibir Aurora yang sedikit berdarah.

Aurora mengangkat kepala. Aragon menatapnya lurus.

“Silakan berpikir mana yang akan kau ambil. Kontrak ini, atau bayar semua kerugian beserta bunganya. Tapi, ingat satu hal.” Nada suara Aragon merendah. “Semakin lama kau berpikir, semakin lama pula anak-anak di panti itu menunggu keajaiban yang tidak akan datang.”

Kalimat itu menghantam tepat sasaran. Aurora menutup mata, dadanya terasa sesak.

Lalu perlahan, sangat perlahan, ia kembali membuka layar kontrak itu. Jarinya gemetar saat menyentuh kolom tanda tangan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Aragon benar-benar tersenyum. Karena ia tahu, Aurora sudah kalah bahkan sebelum negosiasi dimulai.

Namun, tepat sebelum ujung jarinya menyentuh kolom tanda tangan digital, Aurora menarik tangannya kembali. Aragon yang sedari tadi terlihat santai langsung memperhatikan gerakan kecil itu.

“Kenapa?” tanyanya.

Aurora mengangkat dagu. “Karena saya tidak mau menandatangani sesuatu yang bahkan belum saya baca sampai selesai.”

Sudut bibir Aragon terangkat tipis. Untuk pertama kalinya malam itu, Aurora melihat ekspresi yang menyerupai apresiasi di wajah pria tersebut.

“Bagus,” gumamnya.

“Hah?”

“Aku benci orang bodoh yang menandatangani kontrak tanpa membaca isinya.”

Aurora mendelik. “Bukankah dari tadi Anda memaksa saya menandatanganinya?”

“Aku memberimu pilihan.”

“Itu bukan pilihan. Itu ancaman.”

“Ancaman tetaplah sebuah pilihan.”

Aurora benar-benar ingin melempar iPad itu ke wajah Aragon. Di depan, Hank bahkan harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa. Sudah lama sekali ia tidak melihat seseorang berani membantah Aragon terus-menerus seperti ini.

“Lanjutkan penjelasannya,” kata Aurora kepada Hank.

“Baik, Nona.” Hank sedikit menjulurkan lengan dari tempat duduknya, menggeser layar iPad yang dipegang Aurora.

“Pasal tujuh. Selama masa kontrak, Nona Aurora wajib mendampingi Tuan Aragon dalam berbagai acara sosial, bisnis, maupun kegiatan tertentu yang dianggap perlu.”

Aurora berkedip. “Sebentar.”

“Ya?”

“Maksudnya mendampingi?”

“Menemani.”

“Menemani?”

“Ya.”

“Ke mana?”

“Ke mana pun Tuan Aragon membutuhkan kehadiran Anda.”

Aurora menoleh perlahan ke arah Aragon. Tatapannya penuh kecurigaan. “Apakah saya sedang direkrut menjadi asisten pribadi?”

“Tidak.” Jawab Hank menggelengkan kepala santai.

“Sekretaris?”

“Tidak juga.” Hank menjawab sangat santai.

“Pengawal?”

“Apalagi itu.” Lanjut Hank menatap jalanan depan.

Aragon kemudian menatap tubuh Aurora dari ujung kepala hingga kaki. “Dengan badan sekurus itu?”

Aurora langsung mengepalkan tinju. “Lalu apa?”

Aragon menyedekapkan tangannya di dadanya. “Partner kontrak.”

Aurora semakin bingung. “Partner untuk apa?”

Aragon terdiam beberapa saat, kemudian ia menjawab dengan santai, “Untuk membuat orang lain berhenti menggangguku.”

Bersambung

1
Rainn G.
Calon istri ga tuh 🗿
Rainn G.
Mau kasian tapi lebih kasian diriku 😭
Rainn G.
What? Sakit banget
Rainn G.
Psikotes banget tapi suka 🔥💅🏻
Rainn G.
Manly guys
Rainn G.
Asikk ributtt 🔥
Rainn G.
Merajuk ke? 😂
Rainn G.
Marahin aja marahin 😏
Rainn G.
Iyalah orang jodohnya wkwk
Rainn G.
Makanya jaga jarak 😑
Rainn G.
Padahal omongin aja langsung ra siapa tau bisa sampein
Anggitadama
Aku tungguin lho kok blm up kak?
Anggitadama
belum up ua kak
Anggitadama
keren sekali up lagi
Anggitadama
up lagi
Arumi Hanza
seru lanjut lagi novelnya
Arumi Hanza
lanjutkan update
Luna.aluna
aku sudah tebar koin untuk kakak semoga kakak senang jadi kakak semangat untuk update selanjutnya karena novel kakak bagus sekali
Luna.aluna
Kak apakah kakak tahu novel kakak sangat aku tunggu-tunggu sekali
Bangun Hanjaya
tolong jangan lama-lama up again
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!