NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bolos?

Kini seluruh keluarga Hardian tengah sarapan bersama. Keana yang duduk bersebelahan dengan Gavin dan Elvan berada di seberang meja tepat di depan Gavin, sementara sang Mama berada di depan Keana dan Papa di ujung meja.

Aroma gurih mentega dan manisnya kayu manis menguar di meja makan. Menu kali adalah tumpukan pancake hangat yang lembut, lengkap dengan siraman sirup mapel, potongan buah stroberi segar, dan beberapa lembar beef bacon garing di piring saji tengah.

Suasana di meja makan terasa agak tenang, cenderung formal sejak kehadiran anak sulung mereka. Keana duduk diam di sebelah Gavin, sesekali memotong pancake-nya dengan pelan. Papa Arland berada di ujung meja kepalanya, memimpin sarapan. Di depan Gavin, Elvan duduk tegap, memotong makanannya dengan gerakan yang sangat rapi.

Setelah hening beberapa suapan, Papa Arland membuka obrolan dengan putra sulungnya.

"Jadi, El, kapan kamu mulai aktif masuk di rumah sakit?" tanya Papa Arland, menatap Elvan.

Elvan menyeka sudut bibirnya dengan tisu sebelum menjawab, "Dua hari lagi, Pa. Pihak manajemen rumah sakit sudah menyelesaikan semua administrasi perpindahan komite medik El dari rumah sakit yang di luar negeri. Besok El tinggal orientasi alur ruang operasi dan visit perdana saja."

Papa Arland mengangguk-angguk paham. "Baguslah kalau begitu. Kebetulan kepala komite medik di sana teman lama Papa, dia sempat bilang kalau jadwal operasi bedah saraf bulan ini memang lagi padat-padatnya. Kamu sudah siap?"

"Siap, Pa. Libur dua hari ini sudah lebih dari cukup untuk menyesuaikan jetlag" jawab Elvan mantap, suaranya terdengar berwibawa.

"Jadwal residensi dan spesialisasi El kemarin jauh lebih padat dari ini, jadi perpindahan ini harusnya gak akan menghambat kinerja El."

Gavin yang mendengar pembicaraan serius itu hanya bisa melirik Keana, lalu berbisik sangat pelan, "Tuh dengar, robot aja butuh istirahat, Bang El malah bilang libur dua hari kebanyakan."

Keana menahan senyumnya agar tidak pecah, buru-buru menyuapkan potongan stroberi ke dalam mulutnya. Namun, gerakan kecil mereka ternyata tidak luput dari pandangan mata tajam Elvan di seberang meja.

"Sekarang, kami semester berapa, Gav?" tanya Elvan.

"Semester dua, bang. Tiga hari lagi aku akan UAS dan naik semester tiga"

"Apa kegiatan pameran seni kamarin termasuk syarat untuk UAS kamu, Gav?" tanya Mama Soraya.

"Kalau kegiatan itu memang tugas UAS. Ada tiga Mata kuliah yang mengambil nilai dari hasil kegiatan kemarin. Makanya pameran diadakan lebih cepat sebelum minggu UAS yang sebenarnya, supaya kami gak keteteran dan jadwalnya gak bentrok." jelas Gavin

Elvan mengangguk-angguk mendengar penjelasan adiknya. Matanya yang tajam menatap Gavin dengan dahi sedikit berkerut, khas seorang kakak tertua yang sedang menimbang-nimbang kapasitas adiknya.

"Bagus kalau begitu. Jadi sekarang kamu tidak ada jadwal kuliah lagi kan? kamu bisa fokus belajar" sahut Elvan, nada suaranya terdengar menuntut namun logis.

"Jangan sampai karena kemarin sibuk pameran, nilai ujian teori kamu malah anjlok. Anak DKV biasanya sering menyepelekan ujian tertulis."

Gavin mendengus pelan. Baru juga tenang sarapan, aura dosen penguji dari abangnya sudah keluar lagi. "Aman, Bang. Teori juga gue pelajarin kok, gak cuma praktik."

Papa Arland yang sejak tadi mendengarkan tersenyum tipis, lalu menimpali, "Papa pegang omongan kamu ya, Gav. Kemarin Papa dengar, dosen pembimbingmu bilang instalasi tim kamu dapet respons bagus dari pengunjung. Papa bangga. Tapi ingat, tanggung jawab akademik tetap nomor satu."

"Iya, Pa. Siap," jawab Gavin mantap, merasa sedikit lega karena usahanya dihargai oleh sang Papa.

"Semester dua, Bang. Tiga hari lagi aku akan UAS dan naik semester tiga," jawab Gavin dengan santai sembari mengunyah potongan

"Kalau kamu gimana, Kea? Kapan ujian akhir untuk kenaikan kelas tiga nanti?" Papa Arland kini mengalihkan pandangan pada Keana.

Keana yang baru saja hendak meneguk airnya langsung meletakkan gelasnya dengan hati-hati. "Kalau jadwal dari sekolah, ujian kenaikan kelasnya mulai dua minggu lagi, Pa. Minggu depan Kea udah mulai minggu tenang, jadi cuma masuk buat pendalaman materi aja."

"Sudah siap?" tanya Papa Arland lagi, memastikan.

"Siap, Pa! Kea belajar kok" jawab Keana dengan senyum ceria, mencoba menunjukkan bahwa dia juga tidak kalah rajin dari kedua abangnya.

Pembicaraan mereka pun kini berakhir. Papa Arland dan Mama Soraya bersiap pergi ke rumah sakit bersama, begitupun juga dengan Keana yang akan berangkat sekolah di antar oleh Gavin, sementara Elvan hanya diam di rumah.

...----------------...

Suasana kelas Keana setelah jam istirahat pertama terasa sangat menjemukan. Karena minggu depan sudah memasuki minggu tenang, sebagian besar guru mata pelajaran hanya memberikan tugas mandiri atau bahkan membiarkan kelas kosong. Jam pelajaran matematika yang seharusnya berlangsung saat ini pun digantikan dengan tugas karena gurunya sedang menghadiri rapat komite.

Keana menopang dagunya, menatap bosan ke arah papan tulis bersih yang hanya berisi tulisan tanggal hari ini. Rasa malas yang luar biasa tiba-tiba menggelayuti benaknya. Ia sangat malas melihat rumus yang harus ia kerjakan saat ini. .

“Ah, pusing. Sekali-sekali refreshing gak apa-apa kali, ya?” batin Keana.

Ia melirik Tari dan Tania yang sedang asyik mengerjakan tugas mereka.

"Guys," bisik Keana pelan, membuat kedua sahabatnya menoleh.

"Gue cabut duluan ya. Males banget di kelas, hawanya bikin ngantuk."

Tania membelalakkan matanya. "Hah? Lo mau bolos, Kea? Tumben banget! Kita ada tugas ini, harus di kumpul nanti. Lo mau ke mana sih?"

"Ke belakang mading aja, tempat biasa yang sepi. Pokoknya gue mau tidur atau nyari angin. Kalau ada guru, bilang aja gue ke toilet ya," pinta Keana sambil menyengir tanpa dosa, bersiap merapikan tas ranselnya secara sembunyi-sembunyi di bawah meja.

"Gila, nekat banget lo. Inget ya dua minggu lagi ujian!" peringat Tari setengah berbisik.

"Ntar kalau ketahuan abang-abang lo gimana?" lanjutnya

"Nggak bakal ketahuan, aman. Asal kalian gak ember!" sahut Keana percaya diri.

Dengan gerakan lincah dan memanfaatkan situasi koridor sekolah yang sedang sepi, Keana berhasil menyelinap keluar. Ia berjalan mengendap-endap menuju area belakang gedung sekolah, dekat laboratorium tua yang sudah jarang dilewati siswa, tempat pelarian paling sempurna untuk membolos dengan tenang.

Sementara Arlo yang sejak tadi fokus mengerjakan tugasnya di barisan belakang, telinganya dapat menangkap setiap bisikan Keana dengan kedua sahabatnya. Ketika melihat gadis itu berhasil keluar, Arlo hanya mendengus pelan. Ia sangat tahu kemana gadia itu pergi. Ia menutup buku cetak dan juga buku tulisannya.

Menunggu sekitar lima menit agar tidak menimbulkan kecurigaan, Arlo bangkit berdiri. Tanpa pamit pada siapa pun, ia melangkah keluar kelas dengan santai, mengabaikan tatapan heran dari beberapa teman sekelasnya.

Ia melangkahkan kakinya menuju area belakang laboratorium tua yang sepi. Benar saja, di sana Keana sedang duduk santai di atas undakan semen, menyandarkan punggungnya ke dinding sambil memejamkan mata menikmati semilir angin.

Brak

Sebuah buku cetak tebal Matematika diletakkan dengan sentakan kasar tepat di samping paha Keana, membuat gadis itu berjingkat kaget dan langsung membuka matanya.

"Arlo?! Apa-apa sih lo? Ngapain lo di sini? ganggu aja" sembur Keana kesal sambil mengelus dadanya.

Arlo tidak menjawab. Ia malah ikut duduk di undakan semen itu, lalu menyodorkan sebuah pulpen ke depan wajah Keana.

"Kerjain tugas lo. Sekarang!!."

Keana melotot tidak percaya. "Hah?! Apa-apaan sih lo, gak usah sok ngatur. Gue lagi males ngerjainnya. Lagian lo ngapain sih ngintilin gue mulu?"

"Lo harus selesaikan tugas ini, Keana! Ini nilai tugas akhir. Kau mau nilai lo jelek?"

"Nggak bakal. Baru satu tugas ini yang gue lewatin, gak bakal berpengaruh banget ke nilai gue"

"Ohhh.... begitu. Bagaimana kalau gue beritahu kakak lo kalau lo bolos dan tidak mau mengerjakan tugas" ancam Arlo.

"Arlo! Lo egois banget sih, hobi banget mengancam!" pekik Keana frustrasi.

Wajahnya memerah padam karena menahan sebal, sementara matanya menatap tajam ke arah cowok di hadapannya itu.

"Gue gak main-main, Kea. Pilih kerjain sekarang, atau gue telepon Kak Gavin detik ini juga?" tanya Arlo datar. Jarinya sengaja menari-nari di atas layar ponselnya, bersiap mencari kontak Gavin.

"Emang gue bakal percaya? Enggak. Mana mungkin lo punya nomor kak Gavin. Berbicara aja gak perna"

Arlo tertawa kecil. "Lo yang gak tahu. Gue pernah berbicara langsung dengannya dan meminta gua buat awasin lo di sekolah. Liat ini!" Arlo memperlihatkan nomor Gavin di ponselnya.

Mata Keana membulat. Benar, itu nomor kakanya. "Kau...."

"Benarkan? Gue gak bohong. Jadi kerjakan sekarang!!"

Keana mendengus kencang, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhbya. Bayangan wajah santai Gavin yang bisa berubah menjadi mode interogasi super cerewet atau lebih buruk lagi, jika Gavin sampai mengadu pada orang tuanya langsung membuat nyali Keana menciut drastis. Liburan tenangnya pasca-ujian bisa dipastikan bakal berubah menjadi simulasi neraka belajar di rumah.

"Iya! Iya! Gue kerjain! Puas lo?!" sentak Keana akhirnya kalah telak.

Dengan gerakan kasar yang disengaja, ia merebut pulpen dari tangan Arlo hingga ujungnya hampir saja menggores telapak tangan cowok itu. Keana menarik buku cetak tebal Matematika itu ke atas pangkuannya, lalu membuka halaman tugas bab akhir dengan hentakan lembaran yang berisik.

"Dasar cowok kulkas, tukang ngancem, sok tahu, nyebelin!" cerocos Keana tanpa henti dalam satu napas, meluapkan seluruh kekesalannya sambil mulai mencoretkan rumus di buku tulis.

Arlo yang melihat reaksi menggemaskan sekaligus penuh emosi dari gadis di sebelahnya itu sama sekali tidak merasa terganggu. Ia justru menggeser posisi duduknya sedikit lebih dekat, menyandarkan punggungnya ke dinding laboratorium tua, lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

"Jangan cuma ngedumel. Nomor empat itu rumusnya pakai yang di halaman enam puluh dua, bukan yang itu," potong Arlo santai saat melihat jemari Keana mulai salah menuliskan variabel penentu.

"Arlo, diem atau pulpen ini pindah ke mata lo?!" ancam Keana balik dengan melotot galak, walau tangannya perlahan membalik halaman buku cetak untuk mencari rumus yang dimaksud Arlo.

Di bawah semilir angin, suasana canggung itu perlahan mencair menjadi keheningan yang produktif. Keana tetap fokus mengerjakan tugasnya dengan bibir yang masih mengerucut maju, sementara Arlo diam-diam terus mengawasinya, memastikan gadis itu benar-benar menyelesaikan tanggung jawabnya sebelum bel pulang sekolah berbunyi.

"Nihh.... selesai kan!" Keana menunjukkan hasil pekerjaan. Arlo pun mengangguk pelan. Semua pekerjaan Keana bagus dan sesuai dengan rumus.

"Bagus, ayo kembali ke kelas. Sebentar lagi jam pulang" Arlo bangkit berdiri di ikuti Keana.

Keana yang masih memiliki rasa kesal berjalan lebih dulu ke kelas dan di susul Arlo dengan senyum puas. Tari dan Tania melihat kedatangan Keana langsung mendekatinya.

"Tugas lo?" tanya Tari.

"Sudah selesai" jawab Keana cepat.

"Kok bisa?" Tania masih heran, tapi melihat kedatangan Arlo, ia langsung menyimpulkan.

"Arlo yang bantuin lo?"

"Hmm... sudahlah gue mau balik" Keana sungguh malas membahasnya. Ia mengambil tasnya dan melangkah keluar kelas.

"Belum waktunya pulang, Kea!" teriak Tari.

"Sisa lima menit doang" sahut Keana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!