Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Suasana kampus pagi itu jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Motor keluar masuk area parkiran tanpa henti, berkejaran dengan suara obrolan bercampur tawa yang terdengar dari berbagai arah.
Di antara kerumunan itu, Alana berjalan lesu diapit Naira dan Damar. Wajahnya setengah frustrasi sambil terus menatap layar ponsel.
“Tugasnya beneran dikumpul hari ini, Nai?” tanyanya lagi untuk kesekian kali, berharap ada keajaiban.
“Iya, Alana,” jawab Naira santai.
Alana langsung memegang dadanya dramatis. “Ya Allah… hidup gue tuh kenapa nggak pernah tenang sih?”
“Karena lo sendiri sumber masalahnya,” sahut Damar ringan.
“Jahat banget!”
“Fakta,” balas Naira cepat.
Alana mendesah panjang sambil mempercepat langkah, sementara jarinya sibuk membuka file tugas di ponsel yang bahkan belum selesai setengah halaman.
“Kalau gue pura-pura hilang dari kampus sekarang, masuk akal nggak?”
“Masuk akal,” jawab Damar tenang. “Tapi tetap nggak bakal bikin tugas lo selesai.”
Alana langsung menoleh dan menatapnya kesal. “Kenapa sih kalian kompak banget nyakitin hati orang pagi-pagi?”
“Karena lo lucu kalau lagi panik,” ujar Naira tanpa dosa.
Alana menghela napas berat lagi. Rambutnya yang tadi sudah rapi sehabis mandi mulai sedikit berantakan karena terus ia acak-acak sendiri akibat stres.
Begitu mereka sampai di koridor gedung kuliah, suasananya sudah cukup ramai. Beberapa mahasiswa tampak duduk lesehan di lantai sambil membuka laptop. Sementara yang lain cuma nongkrong sambil tertawa keras.
Alana langsung melesat masuk ke dalam ruang kelas.
“Untung dosennya belum datang,” gumamnya lega sambil menjatuhkan tubuh ke kursi.
Naira mengambil posisi di sebelahnya lalu membuka tas, sedangkan Damar memilih kursi barisan belakang seperti biasa.
“Kumpulin tugasnya nanti aja pas Pak Dedi inget,” ujar Naira sambil mengeluarkan bindernya.
Alana cuma mengangguk lemas dengan mata yang masih melekat pada layar ponsel. Namun, ketenangan itu mendadak buyar saat pintu kelas terbuka cukup keras. Seorang mahasiswa masuk dengan napas terengah-engah tapi wajahnya terlihat terlalu bersemangat.
“WOI!” serunya lantang.
Satu kelas langsung menoleh malas. “Apaan sih, pagi-pagi udah heboh?”
“Pak Dedi nggak masuk!”
Suasana kelas langsung riuh rendah dalam sekejap.
“Hah, seriusan lo?”
“Terus kelas kosong, nih?”
“Alhamdulillah, doa orang teraniaya didengar!”
“Nggak kosong, woi!” mahasiswa itu cepat-cepat memotong euforia teman-temannya. “Katanya diganti dosen lain. Orangnya udah di ruang jurusan tadi.”
Wajah Alana langsung berubah waspada. “Ya Allah, semoga dosen penggantinya baik hati, tidak sombong, dan gemar menabung nilai,” gumamnya lirih.
Naira tertawa kecil mendengar itu. “Doa lo spesifik banget.”
“Iya, lah. Jiwa gue lagi rapuh.”
Dari barisan belakang, Damar ikut bersuara santai. “Biasanya dosen pengganti lebih santai, kok.”
“Amin paling serius!” ujar Alana cepat sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.
Namun, belum sempat suasana kelas kembali ribut merayakan absennya Pak Dedi, ruangan itu perlahan-lahan mendadak sunyi. Beberapa mahasiswa yang tadinya bersandar santai mulai duduk tegak. Tatapan mereka otomatis mengarah ke pintu depan.
Tok. Tok.
Suara ketukan langkah sepatu yang tegas terdengar memasuki ruangan. Aura di dalam kelas mendadak berubah drastis, terasa dingin dan menekan. Alana yang masih sibuk menggigit ujung pulpennya ikut menoleh asal ke depan.
Detik berikutnya, gerakan Alana langsung terkunci.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap masuk ke dalam kelas dengan langkah tenang namun berwibawa.
Kemeja hitam yang dikenakannya terlihat sangat rapi tanpa lipatan sedikit pun, kontras dengan jam tangan silver yang melingkar mewah di pergelangan tangannya.
Wajahnya tampan—terlalu tampan malah untuk ukuran dosen kampus mereka—tapi ekspresinya sedingin es dengan tatapan mata yang tajam mencabik nyali.
Hanya dengan cara pria itu berdiri di depan kelas, seluruh mahasiswa otomatis langsung tertib tanpa perlu diperintah. Beberapa mahasiswi di barisan samping Alana mulai saling sikut pelan sambil berbisik heboh.
“Ya ampun… ganteng banget sumpah!”
“Itu dosen baru? Kok kayak model, ya?”
Sedangkan Alana justru mengernyitkan dahi dalam-dalam.
“Kenapa auranya mirip debt collector yang mau nagih utang, ya?” gumamnya sangat pelan.
Naira langsung menyenggol lengannya kencang. “Ssst! Jaga mulut lo!”
Pria itu berjalan menuju meja dosen, meletakkan map hitam tipis di atasnya dengan gerakan yang presisi dan tenang. Tatapan matanya yang elang menyapu seluruh isi kelas satu per satu, membuat siapa pun yang beradu pandang langsung salah tingkah.
“Selamat pagi,” ujarnya datar. Suaranya rendah, berat, dan langsung membungkam sisa-sisa bisikan di ruangan itu.
“Pagi, Pak…” jawab mahasiswa serempak, terdengar agak mencicit.
“Perkenalkan saya Arsen Laurent Wijaya,” lanjutnya singkat tanpa basa-basi terkesan formal. “Mulai hari ini saya yang akan menggantikan Pak Dedi untuk sementara waktu.”
Kasak-kusuk kembali terdengar di barisan belakang.
“Nama doang udah kelihatan mahal.”
“Fix, ini mah crazy rich gabut.”
“Vibes-nya kayak CEO di novel-novel, cuy.”
Arsen kembali bersuara, masih dengan nada tenang yang mutlak. “Saya tidak suka kelas yang berisik. Jadi, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik.”
Seketika itu juga, kelas langsung sunyi total. Bahkan suara kecapan bibir pun rasanya bisa terdengar.
Naira menelan ludah dengan susah payah. “Galak banget, Na,” bisiknya super lirih.
Alana mengangguk setuju dengan sangat lambat.
“Aura ancaman pidananya kuat banget.”
Damar hanya bisa menahan senyum geli dari kursinya di belakang melihat kedua temannya ketakutan.
Sementara di depan, Arsen mulai membuka daftar absensi di tangannya.
“Sebelum kita mulai materi, saya absen terlebih dahulu.”
Satu per satu nama mulai dipanggil. Mahasiswa menjawab dengan cepat dan tegas tanpa ada yang berani melontar lelucon seperti biasanya.
“Naira Azalea.”
“Hadir, Pak.”
“Damar Prakoso.”
“Hadir.”
Arsen mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
“Alana Kirana Putri.”
Alana yang sempat melamun memikirkan tugas nya langsung tersentak kaget.
“Hadir!” serunya sedikit terlalu kencang.
Arsen mengangkat kepalanya pelan. Tatapan tajam pria itu jatuh tepat pada Alana. Detik itu juga, firasat Alana langsung berteriak kalau hari ini akan berjalan buruk.
Dan benar saja.
Setelah absen selesai—
Arsen menutup map di tangannya.
“Silakan keluarkan dan kumpulkan tugas pak dedi minggu lalu ke depan,” ujar Arsen datar.
Hening. Alana langsung membatu di tempat duduknya.
Pelan-pelan, mahasiswa lain mulai mengeluarkan lembar tugas dari tas mereka. Sementara Alana cuma bisa duduk kaku menatap permukaan mejanya yang kosong melompong.
“Nai…” panggilnya dengan suara bergetar lirih.
Naira langsung memalingkan wajah dan menutupinya dengan buku binder besar. “Gue nggak kenal lo.”
“Pengkhianat lo, Nai.”
Damar di belakang sampai harus menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan tawa bahunya yang berguncang.
Satu per satu mahasiswa maju dan menumpuk kertas tugas mereka di meja depan. Setelah semua selesai, Alana masih bergeming di kursinya.
“Kok lo nggak pura-pura maju aja?” bisik Naira dari balik bindernya.
“Karena gue lagi mikir cara lenyap dari bumi lewat jalur gaib.”
Arsen kembali mendongak setelah merapikan tumpukan kertas tugas di mejanya.
“Yang belum mengumpulkan tugas,” ujarnya dengan nada yang sangat tenang tapi dingin, “silakan berdiri.”
Deg.
Alana memejamkan mata pasrah. Pelan-pelan, dia bangkit berdiri bersama tiga mahasiswa lainnya. Arsen memperhatikan mereka satu per satu, dan pandangannya berhenti cukup lama pada Alana yang berdiri paling depan sambil memamerkan senyum canggung terbaiknya.
“Alasannya?” tanya Arsen singkat pada mahasiswa di sebelah Alana.
“Laptop saya mendadak rusak semalam, Pak.”
“Saya salah simpan filenya di komputer rumah, Pak.”
“Ada urusan keluarga darurat, Pak.”
Sampai akhirnya, giliran Alana yang diinterogasi. Arsen menatapnya lurus tanpa ekspresi. “Kamu?”
Alana menelan ludah, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya. “Ketiduran, Pak,” jawabnya jujur, tidak mau menambah dosa dengan berbohong.
Suasana langsung sunyi senyap, sebelum akhirnya beberapa mahasiswa di belakang menunduk menahan tawa. Sementara Arsen masih menatap Alana tanpa berkedip.
“Ketiduran?” ulangnya, nadanya datar tapi terasa menyindir.
Alana mengangguk kecil dengan pasrah. “Iya, Pak.”
“Menarik,” sahut Arsen tenang. “Saya baru tahu kalau tidur bisa dijadikan alasan akademik yang sah di kampus ini.”
Wajah Alana langsung terasa panas bukan main karena malu. “Maaf, Pak.”
“Kalau memang kamu tidak sanggup mengikuti ritme kelas saya,” lanjut Arsen tanpa ampun, “Silakan keluar sekarang.”
Ketegangan di dalam kelas langsung meningkat drastis. Naira melotot panik ke arah Alana, sementara Alana buru-buru menggelengkan kepala.
“Nggak gitu juga, Pak…”
“Lalu bagaimana?” tanya Arsen singkat, mengunci argumen Alana.
Alana langsung bungkam. Cara pria itu bicara benar-benar membuat lidahnya mendadak kelu dan gugup.
Arsen kembali mengalihkan pandangannya pada map di meja.
“Lain kali, gunakan waktu tidur kamu dengan lebih bertanggung jawab.”
Alana mengembuskan napas pelan saat dipersilakan duduk kembali. Dalam hati, dia sudah mengomel habis-habisan.
"Ganteng-ganteng kok mulutnya kayak cabai rawit jualan gue sih… galak banget."
Dan pagi itu...
untuk pertama kalinya, Alana benar-benar berharap jam kuliah cepat selesai.