NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Perbedaan Hubungan Ibu dan Anak

Ray melangkah masuk ke dalam butik dengan wajah kusut dan aura yang gelap. Para pegawai yang berjaga di sana segera berdiri tegak, menyapa dengan ramah, namun Ray tak sedikit pun menoleh. Langkah kakinya yang berat membawanya lurus menuju sebuah ruangan di bagian belakang. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu kantor itu dengan kasar.

​"Mama...!" seru Ray, suaranya terdengar seperti aduan seorang anak kecil.

​Bu Desi tersentak, hampir menjatuhkan pena yang tengah ia pegang. Susi, sang sekretaris yang sedang memberikan laporan, ikut terperanjat melihat kedatangan putra majikannya yang tiba-tiba.

​"Ray, ketuk pintu dulu kenapa, sih?" keluh Bu Desi sambil mengelus dada.

​"Ray lagi sedih, Ma...!" Ray langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa, bibirnya mengerucut dengan wajah cemberut yang tidak bisa disembunyikan.

​"Saya keluar dulu, Bu," pamit Susi sadar diri. Bu Desi hanya mengangguk pelan, membiarkan Susi menutup pintu rapat-rapat.

​Bu Desi bangkit dari kursinya, mendekati putra kesayangannya. "Ada apa, Mon Chèrie?"

​"Ma... Ray tombé amoureux," gumam Ray lesu. (Ma... Ray jatuh cinta).

​Bu Desi tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman bangga terukir di wajahnya. "Itu bagus, Sayang. Siapa namanya?"

​"Namanya Yasmin. Dia cantik banget, Ma. Cantik sekali."

​"Oh ya? Terus kenapa jagoan Mama malah kelihatan sedih begini?"

​"Ayahnya marah besar... gara-gara Ray peluk Yasmin."

​Mata Bu Desi membelalak. "Memeluk dia? Di depan ayahnya?"

​"Habisnya tadi... tadi Ray hampir keserempet motor di pasar. Untung Yasmin cepat tarik tangan Ray. Ray kaget, jantung Ray mau copot, dan Ray terharu banget sampai refleks peluk dia," urai Ray dengan nada frustrasi.

​"Ya ampun, Ray! Di mana kejadiannya? Gila benar pengendara motor itu, berani-beraninya mau mencelakai anak Mama yang ganteng ini. Kalau Mama ada di sana, sudah Mama tuntut orang itu!" seru Bu Desi dengan naluri protektif yang meluap.

​"Ma, bukan itu masalah utamanya. Masalahnya sekarang Pak Danang jadi benci Ray."

​Bu Desi menatap mata anaknya, mencoba menyalurkan ketenangan. "Tenang, Sayang. Itu reaksi wajar seorang ayah. Kalau nanti mereka tahu kamu sebenarnya anak yang baik dan tulus, Ayahnya Yasmin pasti akan percaya dan memaafkanmu."

​"Apa iya, Ma?"

​Bu Desi mengangguk mantap sambil tersenyum. "Tentu saja. Apalagi kalau Yasmin juga menyukaimu..."

​Seketika wajah Ray kembali layu. "Ray belum tahu, Ma. Apalagi... Vyan juga mulai mendekati Yasmin."

​"Apa?" Wajah Bu Desi seketika menegang. "Kalau bisa... cari gadis lain saja, Ray."

​Ray langsung merengut tidak setuju. "Kenapa, Ma? Apa dalam masalah ini Ray juga harus selalu mengalah dari Vyan? Tahu nggak, Ma, di pasar tadi gosip tentang kita sudah menyebar luas. Mereka bilang Mama itu cuma karyawati Papa yang sengaja mengusir Vyan dari rumah!"

​Bu Desi menahan napas sejenak, dadanya terasa sesak mendengar kenyataan pahit itu, namun ia segera menghembuskannya perlahan. "Sabar, Ray. Sabar..."

​"Sampai kapan?" potong Ray tajam.

​"Sampai Vyan mengerti."

​"Mengerti apa? Vyan malah makin menginjak-injak kita, Ma!"

​Bu Desi terdiam, ia termenung menatap lantai, memikirkan segala tekanan yang dihadapi putranya di sekolah. Ia menghela napas panjang, kali ini dengan gurat ketegasan yang baru.

​"Kamu benar. Mama pikir, mulai sekarang kamu tidak perlu mengalah lagi." Bu Desi menangkup wajah Ray. "Maksud Mama, bukannya menyuruhmu mencari masalah dengan Vyan. Tapi kalau kamu mau bersaing dalam hal apa pun dengannya, lakukan saja. Berjuanglah. Selama kamu tidak memulai masalah lebih dulu, Mama percaya padamu."

​Mata Ray berbinar, seolah baru saja mendapatkan energi baru. "Maksud Mama... tentang Yasmin, Ray tidak perlu mengalah, kan?"

​"Iya, Sayang. Terserah kamu. Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Kapan-kapan, bawa Yasmin ke mari, ya?"

​Ray tersenyum lebar, beban di bahunya seolah luruh seketika. Ia mengangguk penuh semangat, siap kembali ke medan tempur.

...****************...

Minggu pagi di kediaman Vyan terasa begitu tenang, sampai tawa kecil Yasmin pecah di ruang tengah. Bu Dinda, yang sejak tadi serius menerangkan deretan rumus, menghentikan penjelasannya. Wajahnya tampak kesal; Yasmin benar-benar sulit berkonsentrasi hari ini.

​"Maaf, Bu ... ini ... si Pepi ekornya menggelitik kakiku terus," ucap Yasmin sambil menunjuk kucing gembul yang sedang bermanja di bawah meja.

​"Lain kali jangan bawa kucing ke meja belajar, Yasmin. Keluarkan dulu dia," tegur Bu Dinda ketus.

​Vyan muncul dari arah dapur sambil membawa nampan berisi gelas minuman. "Ada apa?" tanyanya sambil meletakkan gelas-gelas itu di meja.

​"Vyan, bawa Pepi keluar. Dia mengganggu terus," keluh Bu Dinda.

​Vyan tersenyum maklum. Ia membungkuk, menggendong Pepi yang mengeong protes. "Kalau Pepi udah keluar, belajarnya yang konsentrasi ya, Bun!"

​"Lu ngomongnya ke Yasmin, dong! Jangan ke gue!" sahut Bu Dinda cepat.

​Vyan hanya tertawa renyah, lalu melangkah menuju halaman belakang bersama Pepi. Yasmin menatap punggung Vyan, lalu kembali menatap Bu Dinda.

​"Sampai mana tadi?" tanya Bu Dinda, mencoba kembali ke mode guru.

​"Kenapa kalau lagi di rumah, Bu Dinda beda sekali sama di sekolah?" tanya Yasmin tiba-tiba.

​Bu Dinda tersentak. Pertanyaan polos itu seperti anak panah yang melesat tepat sasaran. Ia baru sadar, karena terlalu asyik mengomel, ia lupa menjaga jarak profesional di depan Yasmin.

​"Ehm, maksud kamu apa?" Bu Dinda mencoba mengatur nada suaranya agar kembali berwibawa.

​"Bu Dinda sama Kak Vyan nggak seperti ibu dan anak, tapi kayan teman. Bu Dinda selalu bilang lu-gue atau aku, bukan menyebut sendiri Bunda."

​Bibir Bu Dinda terasa kelu. Ia tidak menyangka Yasmin—gadis yang dianggap semua orang lamban—ternyata bisa menangkap detail kecil itu. Memang benar, hubungannya dengan Vyan tidak selayaknya hubungan ibu dan anak. Dia gagap kalau harus mengambil peran ibu pada diri Vyan yang telah mandiri tanpa asuhannya.

Vyan sebenarnya tidak pernah protes, atau menuntutnya menjadi seorang ibu. Namun, ucapan Yasmin barusan terasa seperti tamparan halus di pipinya.

​Tiba-tiba, Yasmin kembali tertawa kecil. "Sepertinya menyenangkan ya, bisa berteman sama ibu sendiri seperti Kak Vyan dan Bu Dinda."

​Bu Dinda tertegun. Ia menatap mata jernih Yasmin, mencari apakah ada nada sindiran di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah kekaguman tulus. 'Aku bukan ibu yang baik, Yasmin,' batin Bu Dinda getir. Ada rasa sesak yang ingin ia tumpahkan, tapi ia segera menepisnya. Ia tak ingin membiarkan orang asing masuk terlalu dalam ke rahasia hidupnya.

​"Jangan mengalihkan topik, Yasmin. Ayo kembali ke buku pelajaran!" perintahnya tegas, menutupi kegamangan hatinya.

​"Baik, Bu. Sekarang yang mana?"

​"Mana yang belum mengerti?"

​"Yang awal aja, Bu..."

​Bu Dinda menghela napas panjang, mencoba bersabar. "Baik, Ibu terangkan sekali lagi... perhatikan!"

​Ia menerangkan dengan penuh ketelitian, mengulang setiap poin berkali-kali sampai akhirnya Yasmin mengangguk paham. Ada rasa lega yang luar biasa di dada Bu Dinda saat melihat Yasmin mulai mengerjakan soal. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.

​"Bu... ini...!" Yasmin mengangkat wajah, tampak bingung menatap kertasnya.

​"Vyaaaannn! Giliran kamu!" seru Bu Dinda tiba-tiba. Ia langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya, meninggalkan Yasmin yang terpaku kaget dan cemas.

​Vyan melongok dari jendela belakang yang terbuka. "Ada apa?"

​Ia terkejut saat melihat Yasmin menoleh padanya dengan mata yang berkaca-kaca, seolah air mata akan tumpah detik itu juga.

​"Bu Dinda marah ya, Kak? Padahal aku cuma mau tanya... kenapa soal yang dikasih beda sama yang baru diterangkan tadi," bisik Yasmin gemetar.

​Vyan tertawa kecil, suara tawa yang menenangkan. Ia melompat masuk lewat jendela dan menghampiri meja.

"Mungkin Bunda cuma lupa, Yas. Nggak usah dipikirkan. Bunda memang suka begitu kalau sudah lelah mengajar."

​"Terus gimana? Tugasnya belum selesai."

​Vyan menutup buku pelajaran Yasmin dengan pelan, lalu menatapnya sambil tersenyum nakal. "Kita main saja, yuk? Biar otakmu nggak berasap."

​Melihat senyum Vyan, mendadak rasa cemas Yasmin luruh. Ia ikut tersenyum dan mengangguk penuh semangat.

1
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
berubah menjadi panas karena terbakar api cemburu🤭
PrettyDuck
ooo dia mikirin keselamatn yasmin yaa
PrettyDuck
dih ngatur2, emamg situ sapa? /Facepalm/
PrettyDuck
dah, rebutan sana lu sama vyan
PrettyDuck
terlalu jujur mas 🤣
🐄 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Dhini dan Tegar langsung bertindak baik ya /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!