Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|22| Klien Penting
Barisan bangunan megah dikota Skyline dapat dilihat dengan jelas dari dalam maybach Devara. Aruna hanya memandang keluar kaca mobil tanpa ingin melihat kearah pria dingin itu, Devara yang sedari tadi fokus dengan iPad nya menjadi penasaran karena Aruna tak beralih dari pandangannya.
Sesekali Devara melirik Aruna yang nampak terus diam, suasana pagi yang berbeda dari sebelumnya dimana Marisa memaksa Devara supaya Aruna ikut pergi dengannya keluar kota untuk pertemuan bisnis dengan klien penting.
1 jam sebelum perjalanan...
Aruna yang baru keluar kamar pagi itu sedang berada didapur membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Dengan cekatan Aruna mengolesi roti dengan selai coklat. Tangannya berhenti mengoles selai saat mendengar langkah kaki seseorang datang.
'Apa macan itu sudah bangun sepagi ini'-batin Aruna.
" Pagi banget bikin sarapannya" Marisa menghampiri Aruna, lalu duduk di kursi menatap Aruna yang sedang membuat sarapan.
Aruna meletakan selai ke tempat semula, Ia tersenyum ketika melihat Marisa datang. "Mau aku bikinin sarapan juga tan?"
Marisa tersenyum lalu beranjak dari kursinya. "Apa Devara gak pernah ngasih kamu makan Run?" bisik Marisa.
Roti yang sudah masuk didalam mulut Aruna sampai ingin meloncat keluar saat mendengar pertanyaan dari Marisa.
Ia langsung mengambilkan minum untuk Aruna dan menepuk-nepuk punggungnya. Aruna hampir mati tersedak karena pertanyaan konyol tersebut.
"Tega banget ya, Devara emang mau bikin kamu m*ti sampai tega gak ngasih makan" Ucap Marisa dengan wajah khawatir.
Namun Aruna melihatnya dengan tatapan aneh, sikap aneh Marisa yang tidak terlalu Aruna pahami, sejak berada di sini Marisa selalu membuat Aruna penasaran. "Tante tau semuanya?" Aruna menatap Marisa dengan rasa penasaran.
Marisa tertawa pelan, lalu matanya menatap manik Aruna yang nampak serius. "Kamu mau tau gimana caranya bebas?" ujar Marisa sambil memegang kedua bahu Aruna.
"Dekati dia, buat dia jatuh cinta sama kamu, lalu tinggalkan dia setelahnya" bisik Marisa tepat ditelinga Aruna, bahkan gadis itu merinding setelah mendengar bisikan kalimat itu dari mulut Marisa.
Aruna tersenyum getir. "Mana mungkin iblis kaya dia punya hati tan"
"Dia masih lelaki normal Run, kalau dia iblis udah dari kemarin kamu m*ti sama dia" Ucap Marisa kembali, suaranya lirih namun Aruna mendengar dengan jelas. Tanpa menunggu jawaban dari Aruna, Marisa berjalan pergi meninggalkan Aruna yang masih terdiam mencerna setiap ucapan Marisa.
Jam 07.00 suara ketukan dari luar pintu kamar Aruna terdengar jelas. Aruna membuka pintu kamarnya, Marisa berdiri didepan pintu kamar dengan senyuman yang biasa Aruna lihat.
Tangan kanan Marisa memegang dua buah baju yang langsung disodorkan kepada Aruna. "Pakai baju ini cepat, dia sebenatar lagi akan naik lift" Ucap Marisa dengan tergesa-gesa.
Aruna menatap Marisa bingung, lalu dilihatnya baju yang menurutnya sangat terbuka. "Kemana tan?"
"Pakai, saya tunggu di ruang tengah secepatnya" Ujar Marisa setelah itu menutup kembali pintu kamar Aruna.
Beberapa saat kemudian, Aruna sudah memakai baju yang diberi oleh Marisa, Ia datang menghampiri Marisa di ruang tengah, langkah Aruna terhenti saat melihat Devara duduk disana. Jas lengkap dengan dasi, ramput disisir rapi, aroma sandal wood yang tercium dari kejauhan. Devara duduk dengan santai, matanya fokus dengan iPad nya.
"Dev, ajak dia" Ucapan Marisa yang hanya direspon tatapan terkejut dari Devara.
"Ajak kemana.?" Aruna mendekat yang disambut dengan tatapan tajam dari pria tersebut.
Devara mendesah kasar, Ia menaruh iPad nya dimeja dengan pelan tanpa suara, lalu tersenyum singkat kepada Marisa. "Mam sejak kapan aku diatur seperti ini?"
Marisa bangkit dari duduknya menghampiri Aruna, tangannya membenarkan rambut Aruna yang nampak sedikit berantakan. Lalu mengambil lipstik dari dalam tas nya untuk dipakaikan ke bibir Aruna yang nampak pucat karena hanya memakai lip balm, terakhir Marisa menyemprotkan parfum mahalnya ke arah Aruna.
"Dia cantik, gak bakal malu-maluin klien kamu nanti Dev" Ujar Marisa sambil menarik tangan Aruna mendekati Devara.
Setelah kejadian itu, Devara terpaksa membawa Aruna untuk ikut keluar kota, setelah dua jam perjalanan yang cukup penat, Mereka keluar dari mobil. Berhenti didepan hotel mewah di luar kota Skyline. Hotel megah yang menjulang tinggi, Devara merapikan jas nya.
"Pak, klien sudah menunggu di lantai 46 vip room" Ucap andre menunjukkan bukti pesan dari sang klien.
Devara tak menjawab, Ia langsung memasuki hotel tanpa berkata apapun, bahkan tanpa melihat kebelakang untuk memastikan Aruna sudah turun dari mobil.
Aruna berjalan dibelakang Devara, Andre masih mengambil barang yang tertinggal di mobil, sekarang hanya tersisa Devara dan Aruna didalam lift tersebut.
"Senyum, saya gak mau klien mandang kamu seperti orang menderita" Ucap Devara tanpa menoleh kebelakang, tempat Aruna berdiri.
Aruna hanya diam sampai pintu lift terbuka, Devara kembali berjalan namun tiba-tiba menghentikan langkahnya yang membuat Aruna menabrak punggung pria dingin tersebut.
"Aduh.." Reflek Aruna, memegangi dahi nya yang menabrak punggung Devara.
"Jalan disamping saya" Titah Devara.
Aruna mendekat, namun matanya tidak bisa beralih dari dasi Devara yang terlihat miring. "Sebentar" ucapnya sambil menahan tangan Devara.
Gadis itu membenarkan dasi itu, lalu tersenyum sekilas saat dasi-nya sudah simetris. "Sudah rapi" ujarnya sambil menatap dasi tersebut.
Devara menelan ludah, diam satu setik. Lalu menyingkirkan Aruna dari hadapannya dan kembali berjalan menuju ruangan yang di beri tahu Andre tadi.
"Dasar aneh, tapi lumayan jinak sih dari biasanya" gumam Aruna sambil berjalan cepat mengikuti langkah Devara.
Klik.. Pintu ruangan vip terbuka. Di ujung sudah ada satu dua lelaki yang nampak dari belakang sedang asik mengobrol. Pakaian jas formal, Aruna dibelakang Devara segera ditarik sejajar dengan langkahnya.
"Selamat siang Pak.." Sapa Devara sambil tersenyum seraya berjalan mendekati kedua orang tersebut.
Kedua orang itu berbalik dan berdiri menyambut Devara, kaki Devara seperti ditimpa benda berat hingga berhenti melangkah. Tangan yang sudah menjulur menjadi mengepal, senyuman yang dilayangkan pudar dari wajahnya.
Aruna pun begitu terkejut saat melihat siapa yang Ia temui. Dihadapannya salah satu pria itu adalah Bayu, tersenyum lebar menyambut Devara.
Devara langsung beralih keluar dari ruangan, terlihat dia menahan emosinya yang hendak memuncak saat melihat wajah Bayu.
"Pak Devara, apakah anda tidak jadi bekerja sama dengan perusahaan saya?" Ucap pria disebelah Bayu.
Devara makin keras mengepalkan tangannya, langkahnya terhenti di ambang pintu saat mendengar ucapan dari orang tersebut.
"Saya dengar perusahaan anda mulai krisis" Ucap orang itu kembali.
Aruna segera mendekati Devara, menahan lengannya untuk tidak berbuat hal yang tidak diinginkan, dilihat dari wajah Devara yang mulai merah padam bahkan lengannya terasa kencang, pria itu sudah ingin melampiaskan emosinya.
" Saya dengar dia bukan istri sah anda ya..?" Orang itu kembali berucap dan tertawa kecil kemudian.
Devara langsung berbalik dan ingin menghajarnya, namun Bayu langsung maju. "Saya ambil dia, dan anda akan selamat atau anda dipenjara" Ucap Bayu saat itu juga, tangannya sudah memegang ponsel yang tertera kontak seorang polisi yang sudah siap Ia tekan tombol panggil.