NovelToon NovelToon
DENDAM ISTRI PERTAMA

DENDAM ISTRI PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Motjaaa

⚠️ Harap mengatur emosi selama membaca ⚠️
"JANGAN PIKIR KARENA AKU LEMAH, AKU BAKALAN DIAM YA, MAS!"

10 tahun menikah, Hanum tidak pernah merasakan arti keluarga yang "Sakinah, Mawadah, Warahmah" seperti yang pernah diucapkan saat ijab kabul pernikahannya dulu.

Puncaknya, gara-gara kelakuan bejat suaminya itu, dia harus menanggung derita yang lebih berat dibandingkan sebelumnya.

"VANYA... KAU BOLEH SAJA MEREBUT SUAMI KU. AKU BERIKAN DIA, TAPI KAN KU REBUT SELURUH HIDUP KALIAN BERDUA!" — Hanum Arsyila Putri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motjaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Perlawanan Hanum

Mengandung adegan baku hantam!! Harap bijak membaca!!

Ponsel Hanum berdering berkali-kali. Sementara dia tertidur lelap. Makin lama terdengar hingga akhirnya Hanum terbangun sekalian mengumpulkan kesadarannya. Menatap jam di dinding, lalu mengambil ponselnya.

"Siapa sih yang nelpon jam segini?" Hanum heran karena ini pukul dua malam. Sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama sekali tidak dia kenali.

Tiba-tiba nomor itu kembali menelponnya, ragu-ragu Hanum pun mengangkatnya.

"Halo? Ada apa malam-malam gini nelpon?" ucap Hanum yang sebenarnya agak kesal tapi mau bagaimana lagi.

"LO BAKALAN MATI DI TANGAN GUE, HANUM!" Ucap suara yang membalasnya itu. Terdengar jelas kalau itu suara perempuan.

"Maksudnya?" Hanum memastikan lagi.

"Gue udah keluar dari penjara dan sekarang gue nunggu lo di depan gerbang. Kalo lo gak nemuin gue sekarang juga, gue pastikan penghuni rumah yang lo tinggali gue abisin!"

Hanum mendadak jadi tidak mengantuk. Kini dirinya merasakan situasi yang tegang dan juga was-was karena diancam.

"Kamu, Vanya?! Kenapa bisa kamu lolos dari penjara?" Hanum tak percaya.

"Haha, udah gue bilang. Gue gak bodoh kayak Lo! Gue tunggu lo di depan sekarang atau gue-"

Hanum segera memutuskan panggilan itu. Tampak dirinya yang menjadi bimbang sendiri.

"Bagaimana mungkin dia bisa lolos?" ucap Hanum pelan.

"Nggak, aku nggak bisa begini terus. Harus aku laporkan sekarang juga," Hanum segera bangun dan dia mencuci mukanya. Mengecek ponselnya yang mana Vanya mengiriminya sebuah foto rumah Devan. Wanita itu benar-benar serius sekali kelihatannya.

"Devan!" Hanum mengetuk pintu kamar pria itu. "Tolong buka pintunya..," kata Hanum sambil terus mengetuk pintu.

Pintu pun dibuka oleh pria itu. Tampak Devan yang hanya memakai celana pendek dan telanjang dada mengusap matanya.

"Ada apa? Malam-malam begini..," ucapnya pelan sebelum akhirnya dia menyadari dirinya berpenampilan yang membahayakan.

"Aku..,"

"Tunggu sebentar!" Devan menutup pintu kembali. Dua menit kemudian dia keluar dengan memakai kaus oblong dan celana panjangnya. Segera Hanum memberitahukan apa yang terjadi sembari menunjukkan pesan ancaman dari Vanya.

"Kita lapor sekarang saja," ucap Devan kemudian.

"Tapi.., biarkan aku keluar untuk ketemu sama Vanya, Van," kata Hanum lagi.

Mendadak pria itu terkejut. "Kamu jangan bercanda! Itu bukan ide yang bagus, Hanum. Kamu tunggu di sini sampai polisi itu menangkap Vanya, ya?" kata Devan lagi.

"Ada yang mau aku bicarakan sebentar saja.., kamu boleh kok ikut aku di belakang," kata Hanum. Kini dia berjalan menuju luar rumah.

Devan mengacak rambutnya, bingung dengan sikap perempuan itu.

"Kamu yakin? Jangan gegabah, Hanum!" Kini Devan keluar mengikuti Hanum. Hari di luar gelap, hanya diterangi oleh lampu jalanan saja.

"Van, kamu tunggu di sini," kata Hanum. Sorot matanya terlihat serius. Devan belum pernah melihat sisi Hanum yang seperti ini.

"Halo, Hanum! Selamat malam!" Tampak Vanya yang kini tersenyum dingin dengan baju tahanan yang masih dia pakai. Di tangan kanannya ada sebilah pisau kecil.

"Halo..," ucap Hanum lagi. "Mau apa kamu kemari?" Hanum tak mau banyak basa-basi.

"Mau apa ya.., aku mau kamu mati. Boleh?" kata Vanya sambil berjalan selangkah ke arahnya. Kini jarak mereka hanyalah tiga langkah saja. "Ada permintaan sebelum kamu mati, Hanum?" ucap Vanya lagi.

"Kamu gak malu ya?" Hanum menatap Vanya dengan tatapan penuh dendam. Sorot matanya tajam.

"Malu? FOR WHAT? Seorang Vanya lo bilang malu, gak bakalan!"

Kata Vanya angkuh. "Harusnya lo yang malu, karena gak punya apa-apa lagi lo jadi ngemis ke rumah orang lain, kan?"

Hanum diam saja. "Terus?"

"Gue kesini cuma mau pastiin lo mati dulu, Hanum. Habis itu gue balik lagi kok ke tahanan, jangan khawatir..," ucap Vanya lagi sambil tersenyum lebar mengerikan.

"Oh.., itu doang ya?" Hanum menjawab santai.

Vanya menjadi geram. Semakin dia mendengar ucapan Hanum semakin pula dia membencinya.

"MATI LO SEKARANG JUGA!" Vanya melompat hendak menghunuskan pisau itu ke perut Hanum. Di luar dugaan dengan cepat Hanum menghindar dan tepat saat dia berada di belakang Vanya, dia melayangkan tendangan ke punggung Vanya.

Vanya meringis, cukup perih. Tetapi pisau itu masih ada di genggaman nya. Tampak goresan pergelangan tangan Vanya yang berdarah.

"Haha.., lo bikin gue muak!" Vanya melemparkan pisau itu ke arah wajah Hanum.

Dengan cepat Hanum menunduk, sasaran tidak kena. Dia mengambil pisau yang kini terletak di bawahnya. Segera dia pungut dan mengangkat pisau itu ke arah Vanya yang kini terlihat gemetaran.

"Hanya ini? Makasih udah datang kesini dasar wanita brengsek!" Hanum melayangkan tendangan ke arah pipi Vanya. Membuat wanita itu kini tersungkur lemah.

"Lo-Lo.., gila.., haha biarlah.., gue mati juga dah ga guna," kata Vanya lagi.

Hanum membuang pisau itu ke got. Lalu berjalan mendekati Vanya.

"Kamu pikir aku sebodoh itu, Vanya? GUE juga gak selemah yang LO kira," Hanum tiba-tiba mengucapkannya dengan penekanan yang membuat Vanya gentar.

"Gue gak akan biarin lo hidup tenang, Hanum!" ucap Vanya kini bangkit. Lalu melayangkan tinju ke arahnya. Tetapi lagi lagi itu melesat dan Hanum balas menarik rambut Vanya. Menjambaknya.

"Aku peringatkan sekali lagi, Vanya! Aku sudah muak dengan kelakuanmu! Hidupku menderita tahu gak.., tapi sekali lagi selamat ya karena sudah merebut suami ku. Kalian berdua sama-sama cocok," kata Hanum mengeratkan genggamannya.

"Lepasin gue!"

"Aku pengen lihat kamu meringis dulu, Vanya. Sampai apa ya.., aku puas?" kata Hanum tertawa.

"ARGH! LEPASIN!" Vanya kini memekik kesakitan. Kedua perempuan itu sama-sama menarik rambut satu sama lain sekarang. Hanum sendiri bahkan lupa memakai jilbabnya.

"SAKIT TAU!"

"Lebih sakit aku sih," kata Hanum lagi.

"GUE SUMPAHIN HIDUP LO MENDERITA!"

"Udah kayak gini, masih aja kamu ungkit. Mending kamu diam-"

BBUK!

Hanum terkulai lemas. Tubuhnya mendarat begitu saja. Cairan kental hangat tampak menetes dari pelipisnya, pandangannya tiba-tiba kabur.

"MAS BRAM!" ucap Vanya senang. "Akhirnya kamu datang juga, sayang!" Vanya tampak kegirangan.

Bramasta yang baru saja melayangkan pukulan dengan ba**k kayu itu pun segera mengangkat tubuh Hanum yang pingsan. Membawanya masuk ke dalam mobil nya.

"Mas, aku ikut yaa.., hehe," ucap Vanya seperti orang gila. Bramasta tidak menanggapi, tidak pula melarang.

Sementara itu, Devan yang masih menunggu di teras rumah kini merasa tidak enak. Dengan cepat dia berlari ke luar, sejenak dia melihat wanita berbaju oranye dan pria berjas hitam masuk sambil membawa tubuh perempuan.

"YA TUHAN!" Devan tampak panik. Mobil hitam itu pergi begitu saja meninggalkan tempat dimana Hanum pergi tadi.

Seribu langkah Devan berlari menuju mobilnya. Saat dia keluar dari gerbang rumah, tampak mobil polisi yang baru saja tiba.

"KEJAR MOBIL HITAM ITU, PAK! ADA DI DEPAN! SEKARANG JUGA!" Devan berteriak pada dua orang polisi itu. Sedikit kesal karena datang telat.

"Baik, Pak!"

"Mau kita apain dia, Mas?" ucap Vanya yang duduk di sebelah Bramasta.

Mobil itu pun berhenti.

"Turun sekarang juga."

Vanya menatap tak percaya. "Maksudnya??"

"Saya bilang turun sekarang juga, dasar pembuat onar!"

Vanya terkejut bukan main. "Kamu ngusir aku, Mas?! Aku hanya mau bantu kamu habisin dia!"

Bramasta menghela napasnya dengan kasar.

"Saya akan membawa dia pergi jauh, membangun ulang rumah tangga saya dan dia yang dulu kamu rusak!" ucap Bramasta kemudian.

Vanya tertawa terbahak-bahak seperti kuntilanak di tengah jalan.

"Hahaha, rupanya kamu masih jatuh cinta sama dia ya, Mas! Dasar idiot! Kamu duluan yang ngedeketin aku tau?! Dan sekarang kamu nyuruh aku pergi?! Gak akan, Mas!" Vanya hendak masuk ke dalam mobil. Akak tetapi, terlambat. Kini mereka dikepung oleh polisi dan juga Devan.

"SIAL!"

1
silainge01
Kasih komen ya beb 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!