NovelToon NovelToon
Finding True Love

Finding True Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Pembantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aldiantt

Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.

Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.

Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Sakit Perut

Pagi menjelang, masih di apartemen yang sama.

"Selamat pagi, Tuan," sapa seorang ART panggilan yang sudah berada di dapur apartemen itu.

"Pagi, Bi," jawab Vincent yang masih menggunakan kimono tidur itu.

"Mau saya buatkan kopi, Tuan?"

"Em, boleh," jawabnya lagi. Laki-laki itu kemudian mengedarkan pandangannya.

"Alina belum bangun, Bi?" tanyanya.

"Oh, sepertinya di kamar, Tuan. Nona sudah bangun dari tadi," jawab Bi Siti.

Vincent hanya mengangguk. Ia lantas berjalan menuju pintu kamar tamu dan mengetuknya.

Tok... tok... tok...

Pintu terbuka.

"Ada apa, Bi..." Alina keluar dari kamar tidurnya. Sebuah handuk kecil berada di tangannya. Ia gunakan untuk mengeringkan rambut panjangnya yang masih basah. Air dari rambut itu bahkan nampak sedikit membasahi kaos oblong oversize berwarna abu-abu yang ia kenakan.

"Oh, Vincent. Maaf, aku kira Bi Siti," ucapnya seraya menurunkan tangannya. Lalu menggunakan handuk kecil itu untuk menutupi kaos yang basah di bagian dadanya.

Vincent mengamati penampilan Alina dari atas sampai bawah. Sama seperti semalam. Wajahnya terlihat segar dan cerah.

"Kau sudah mandi?" tanya pria itu.

Alina mengangguk. "Ya," jawabnya.

"Aku ingin mengajakmu turun. Kita jalan-jalan sebentar," jawabnya.

"Oh, ok. Tunggu sebentar," jawabnya dengan wajah yang terlihat antusias. Vincent hanya mengangguk seraya menampilkan sebuah senyuman tipis. Vincent membuka mulutnya hendak berucap sesuatu. Namun belum sempat ia berucap, pintu sudah ditutup. Saking semangatnya ingin jalan-jalan. Vincent berdecih melihat tingkah Alina. Ia mengulum senyum, lalu pergi menuju kamarnya untuk berganti pakaian.

....

Udara perkotaan yang terlalu segar menyambut kedua anak manusia itu. Alina dan Vincent berjalan beriringan menyusuri trotoar menuju taman terdekat. Alina terlihat bahagia. Sesekali ia merentangkan tangannya seolah mengucapkan selamat pagi pada dunia yang tidak peduli padanya.

Vincent menggelengkan kepalanya melihat gadis manis itu. Sesekali ia terkekeh. Sampai sampai ia lupa sejak tadi tak melakukan peregangan sama sekali. Ia hanya berjalan, memperhatikan Alina, sambil melipat kedua tangan nya di depan dada. Bahkan hanya sekedar jalan-jalan di trotoar saja sudah bisa membuat Alina seceria itu.

"Alina, perhatikan jalanmu!" tegur Vincent pada gadis itu namun tak digubris. Wanita itu berjalan dengan riang. Vincent mengulum senyum. Beberapa kali ia nampak merekam keceriaan itu menggunakan ponsel genggam miliknya.

Keduanya tiba di taman. Alina duduk di bawah pohon rindang sembari meluruskan kakinya. Sedangkan Vincent nampak membeli minum tak jauh dari tempat Alina.

"Yeeey, kita udah sampai di sini lagi, Nak," ucapnya seraya mengusap usap lembut perut rata itu. Tak lama, Vincent datang dengan dua botol minum, serta sepotong kue yang ia beli dari seorang penjual di sana.

"Makanlah. Kau mungkin suka," ucap laki-laki itu.

Alina tersenyum manis. "Makasih!" Jawabnya. Alina membuka botol minumnya, menenggaknya. Ia lantas membuka sepotong kue dalam wadah mika bening berbentuk segitiga itu.

"Wow! Milecrepes! Kamu suka, Nak?" ucapnya seolah bertanya pada sang buah hati. Vincent mengernyitkan keningnya, lalu berdecih melihat tingkah gadis kampung itu. Garing dan receh. Tak lucu. Tapi nyatanya bisa membuat Vincent selalu menoleh tiap kali Alina berceloteh.

Alina menggigit sepotong kue itu dengan lahapnya. Sesekali ia nampak menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri pertanda cocok dengan rasanya.

Vincent memperhatikan Alina sambil menenggak minumannya. Seutas senyuman samar terbentuk. Ia suka melihat wanita itu makan. Terlihat sangat antusias.

"Enak?" tanya Vincent.

Alina mengangguk. "Padahal aku dulu nggak terlalu suka kue dan makanan manis. Tapi akhir-akhir ini jadi suka. Mungkin bawaan bayi."

Vincent berdecih. "Alasan! Bilang saja kau rakus," ucapnya.

"Terserah katamu. Yang penting sekarang aku suka. Kalau dulu aku sukanya yang pedas pedas. Tapi sekarang aku mulai mengurangi pedas semenjak hamil," tambah Alina.

Vincent tak menjawab. Ia hanya mengangguk angguk mendengar ocehan Alina yang sibuk dengan kuenya.

Vincent melirik lagi ke arah gadis itu. Sepertinya ia cukup tertarik ketika melihat Alina makan. Seperti semalam, pria itu sesekali mengulum senyum tipis. Wanita itu terlihat sangat menikmati. Cukup lucu. Hingga membuatnya lambat laun tergoda dan ingin ikut menikmati kuenya.

Makanan manis itu tinggal sedikit. Mulut Alina sudah terbuka hendak melahap gigitan terakhir kue itu. Namun tiba-tiba...

Sett...

Vincent merampasnya. Memasukkannya ke dalam mulut, mengunyahnya, lalu menelannya. Alina mengerucutkan bibirnya. Itu suapan terakhirnya. Harusnya itu menjadi hak nya. Namun Vincent merampasnya tanpa izin. Laki-laki itu bahkan tak merasa bersalah sedikitpun.

"Apa?" tanya Vincent bak menantang. Alina tam berani menjawab. Ia hanya cemberut lalu membuang nafas kasar.

Vincent mengangkat satu sudut bibirnya. "Mau lagi?" tanyanya.

Alina menoleh. "Boleh?"

Vincent tersenyum tipis, lalu mengangguk.

"Ayo kita beli!" ajak Vincent yang kemudian bangkit dari duduknya disusul Alina. Keduanya menuju sebuah stand yang menjual aneka kue dan desert. Alina nampak memilih beberapa potong kue. Sedangkan Vincent hanya berdiri di samping wanita itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Silahkan yang mana, Kak. Semua enak, manis seperti kakaknya," ujar si penjual. Laki-laki yang berusia kurang lebih sama dengan Alina.

Mendengar ucapan itu Alina hanya tersenyum manis. Hal seperti itu lumrah diucapkan oleh pedagang. Sekedar berbasa-basi atau untuk mencairkan suasana antara pedagang dan pembeli. Ia paham akan hal itu.

Namun sepertinya tidak demikian dengan pria tampan di sampingnya itu. Laki-laki itu menajamkan pandangannya ke arah si penjual kue. Terlihat sangat tidak suka pada pria muda yang hingga kini masih saja melontarkan rayuan rayuan receh untuk wanita hamil itu.

"Ngomong-ngomong kakaknya tinggal sekitar sini juga?" tanya penjual kue itu.

"Iya," jawab Alina ramah.

"Kuliah? Atau kerja?" tanya laki-laki itu lagi.

"Saya....."

"Dia sudah menikah dan sekarang sedang hamil!" Suara yang terdengar tegas itu membuat Alina dan si penjual kue menoleh. Wanita itu nampak terkejut mendengar ucapan Vincent. Sedangkan si penjual kue terlihat canggung. Sepertinya ia menyadari gelagat tak mengenakan dari pria berkulit putih itu.

"Oh, maaf, Tuan. Saya nggak tahu," ucap si penjual kue.

Vincent sama sekali tak menjawab. Dengan cepat ia merampas kantong plastik berisi kue kue pilihan Alina lalu melemparkan uangnya dengan cukup kasar. Vincent menarik lengan putih itu, lalu membawa Alina pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Vincent, sakit! Lepasin!" ucap Alina sembari mengimbangi langkah Vincent yang lebar dan panjang.

"Kemarin tukang ojek. Sekarang penjual kue. Banyak sekali kenalan mu di sini," ucap Vincent mengomel sambil menarik lengan Alina masuk menuju lobby apartemen.

"Apasih? Aku nggak kenal!" ucap wanita itu menyangkal. Keduanya lantas masuk ke dalam lift. Di sana, hanya ada mereka berdua di dalamnya.

"Alasan! Aku tidak suka kau dekat-dekat dengan orang asing yang tidak jelas asal usulnya itu!"

"Kami cuma ngobrol!"

"Harus banget ngobrol sama laki-laki seakrab itu?!"

Alina mengernyitkan keningnya. Kemarahan Vincent rasanya tak beralasan. "Apasih?"

"Apasih...apasih! Kau terlalu ganjen, Alina. Gatal! Sebagai orang kampung, kau terlalu genit dan banyak tebar pesona!"

Alina menatap tajam pria itu. Ia menghempaskan lengannya dari genggaman tangan Vincent.

"Jaga, ya, bicara kamu!"

"Aku tahu kita punya perjanjian. Aku tahu aku nggak boleh kemana-mana tanpa izin dari kamu. Aku tahu aku ngga boleh dekat-dekat dengan orang yang menurut kamu asing. Aku tahu aku harus menjaga anak ini sesuai kesepakatan kita. Iya...aku tahu! Aku tahu aku numpang sama kamu. Kalau nggak ada kamu aku nggak akan punya tempat tinggal. Aku mungkin jadi gelandangan. Atau bahkan mungkin aku udah mati bareng sama anak kamu! Iya...tahu!!"

"Kamu memang bertanggung jawab atas kesalahanmu. Tapi bukan berarti kamu bisa ngekang aku sampai seperti ini!"

"Aku manusia. Aku punya kehidupan. Ngobrol sama ojol nggak boleh. Ngobrol sama orang lain nggak boleh. Keluar apartemen nggak boleh. Dan tadi apa kamu bilang? Gatal? Bisa, ya, kamu ngomong gitu? Kamu pikir kamu siapa?! Kamu juga cuma orang asing yang bukan sekedar ngajak aku ngobrol. Kamu justru udah ngancurin masa depan aku. Kamu itu asing! Kamu juga orang asing!"

"Aku ada disini adalah karena permintaan kamu. Aku datang ke kota ini, aku nggak pernah bilang aku minta bantuan kamu. Aku nggak pernah bilang aku minta tanggung jawab kamu. Kamu yang nawarin ini. Kalau memang menurut kamu aku nggak bisa menepati kesepakatan kita, ya udah... perjanjian kita batal! Aku keluar dari apartemen kamu sekarang juga!"

Alina berlalu pergi meninggalkan Vincent tepat saat pintu lift itu terbuka. Vincent memanggil nama Alina sambil mengejarnya. Namun Alina yang tengah hamil itu tak peduli. Ia berlari menuju unit apartment Vincent.

Alina masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka lemari, lalu mengeluarkan sebuah tas ransel sederhana berisi pakaian pakaian nya dari kampung yang masih utuh di dalam tas itu.

"Al, kamu mau kemana?" tanya Vincent berusaha menghalang-halangi pergerakan Alina. Namun Alina tak peduli. Kemarahannya sudah memuncak. Ia berjalan menuju nakas, mengambil ponsel dan dompet, lalu bergegas pergi dari tempat itu.

"Al, kamu jangan macam-macam! Kamu mau kemana? Kamu nggak punya kelurga!"

"Alina! Aku melarangmu pergi! Kamu dengar aku?! Ada anakku di perutmu, Al! Alina...!!"

Alina tak peduli. Ia terlanjur marah. Marahnya bahkan meledak ledak. Lebih baik ia pergi dari tempat ini namun bebas. Daripada tinggal bersama orang yang selalu memandangnya salah. Perkara foto salah. Perkara hp salah. Ngobrol sama orang lain salah. Bersih-bersih salah. Semua serba salah. Alina tak peduli lagi dengan Vincent yang terus mencoba melarangnya. Hingga...

"Aww...!" Alina menghentikan langkahnya tepat di depan pintu apartemen. Ia meremas perutnya. Sakit. Nyeri. Ia menggigit bibir bawahnya. Meringis merasakan sakit yang luar biasa.

"Kamu kenapa?" tanya Vincent seraya mencoba memapah pundak Alina namun wanita itu menolak. Wanita itu terlihat kesakitan.

"Perut kamu sakit? Kita ke dokter, ya!"

"Enggak! Aku bisa sendiri!"

"Jangan bodoh kamu! Nggak usah aneh-aneh! Kita ke rumah sakit sekarang!"

"Nggak mau!"

"Ngeyelan!!" Vincent menarik ransel di punggung Alina lalu melemparkannya sembarangan. Ia mengangkat tubuh itu, lalu membopongnya menuju lift untuk dibawa ke rumah sakit.

1
Don't Call Me Mbak💅
lanjuttt
Don't Call Me Mbak💅
lah🤦🤦
Don't Call Me Mbak💅
🤣🤣🤣
Don't Call Me Mbak💅
najisss🤮
Don't Call Me Mbak💅
kebanyakan makan camilan sih😹
Radya Arynda
sabar Alina💪💪💪💪
Radya Arynda
kok ngak punya pendirian sih kamu cen vincen,,,,kasihan,,,alina ,,,mau di apakan dia,,,kenapa ngak nikah diam2 dulu,,,
Desyi Alawiyah
Cucu???

Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Desyi Alawiyah
Dan pacarnya Alicia adalah Dion.. sahabatmu sendiri Vincent.. 😭
Desyi Alawiyah
Putramu itu hatinya sedang berbunga-bunga, mama Theresa 🤭
Georgia🤑
bener bener lu ya🙄
Desyi Alawiyah: Bener-bener anak durhakim tuh si Vincent 🤭🤣
total 1 replies
whiteblack✴️
pake kata itu..biar semakin jatuh cinta/Proud/
Don't Call Me Mbak💅
lanjut
Don't Call Me Mbak💅
waduh.aku ketinggalan banyak😱
Georgia🤑
entah kenapa aku terbayang bayang ibu ibu rambut mongkrok yang jualan rumah yang hanya dengam satu milyar saja....ituloh🤣🤣🤣🤣
Georgia🤑
istr jdman😊suport kerjaan suami🤗
Desyi Alawiyah
Tenang Kak, aku nggak akan kabur kok.. 🤣

Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/
Desyi Alawiyah
Semoga mamanya Vincent baik yah.. Nggak seperti orang kaya yang kebanyakkan.. 🤭
whiteblack✴️
kalau gitu nikahin lah...sampai kapan di simpan terus..dia itu bukan pajangan😒...
Radya Arynda
ternyata ke banggan vincen tidak lebih seperti pelacur,,,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!