NovelToon NovelToon
Brine Dan Marine Garis Takdir

Brine Dan Marine Garis Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa yang terusik

Kabar penculikan Clara sampai ke Amsterdam dalam waktu kurang dari enam puluh menit. Di sebuah kantor serba kaca yang menghadap ke kanal-kanal dingin Belanda, Silas Marine berdiri mematung. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan rekaman CCTV buram dari lorong hotel di Jakarta. Ia melihat adiknya diseret oleh anak buah Nikolai Brine.

Silas tidak berteriak. Ia tidak membanting barang. Kemarahannya jauh lebih berbahaya dari itu: dingin dan terhitung.

"Hubungi tim ayah," suara Silas parau namun tajam. "Katakan pada mereka, sekutu lama ayah di Rusia baru saja menggali kuburan mereka sendiri."

"Tuan Silas, Tuan Nikolai meminta tebusan berupa akses jalur logistik kita di Selat Malaka," lapor sekretarisnya dengan gemetar.

Silas membalikkan badan. Matanya yang identik dengan mata Clara, namun tanpa binar kelembutan, menatap lurus. "Dia tidak menginginkan jalur logistik. Dia menginginkan perang. Berikan dia perang. Siapkan jet pribadi. Kita berangkat ke Jakarta malam ini."

Lokasi Rahasia: Kepulauan Seribu

Clara didorong masuk ke dalam sebuah villa mewah yang berdiri isolasi di tengah pulau pribadi. Tidak ada akses keluar kecuali dengan helikopter atau speedboat yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata.

Nikolai melepas jasnya, menyisakan kemeja hitam dengan lengan digulung hingga siku. Ia duduk di kursi kebesarannya, menatap Clara yang masih mengenakan gaun sutra—namun kini gaun itu tampak seperti rantai yang mengikatnya.

"Duduk, Clara. Kau terlihat lelah setelah sandiwara panjangmu di perpustakaan itu," kata Nikolai sambil menuang wiski.

Clara tidak duduk. Ia berdiri tegak, dagunya terangkat. "Ayahku tidak pernah berhutang pada orang sepertimu, Nikolai. Jika ada hutang, itu pasti karena kecurangan yang kau buat."

Nikolai tertawa pendek. "Ayahmu, Arthur, terlalu bersih untuk bisnis ini. Dia pikir dia bisa menjalankan imperium tanpa mengotori tangan. Ayah tiriku memberikan modal awal saat perusahaan Marine hampir bangkrut dua puluh tahun lalu. Sekarang, aku datang untuk menagih bunganya. Dan bunga itu adalah kau."

"Aku bukan barang dagangan," desis Clara.

"Di mataku, semua ada harganya," Nikolai berdiri dan melangkah mendekat. Ia mencengkeram rahang Clara, tidak cukup keras untuk menyakiti, tapi cukup kuat untuk menunjukkan dominasi. "Kau tahu apa yang menarik? Kakakmu, Silas, sudah mendarat di Jakarta. Dia membawa pasukan kecil. Dia pikir dia bisa menyerbu tempat ini."

Clara terdiam. Ia tahu Silas sangat protektif, tapi ia juga tahu Nikolai telah menyiapkan jebakan.

"Jangan lukai dia," bisik Clara.

"Tergantung padamu," Nikolai melepaskan cengkeramannya. "Jika kau bekerja sama, Silas akan pulang dengan selamat. Jika kau mencoba lari atau melawan... aku tidak menjamin kakak kembar kesayanganmu itu akan kembali ke Belanda dalam keadaan utuh."

Jakarta: Markas Operasi Marine

Silas Marine melangkah keluar dari mobil lapis baja di sebuah gudang kargo miliknya di pinggiran Jakarta. Di sana sudah menunggu Julian Tide yang berhasil lolos dengan luka tembak di bahu.

"Maafkan saya, Tuan Silas. Mereka terlalu banyak," ucap Julian sambil menahan sakit.

Silas menatap luka Julian tanpa ekspresi. "Nikolai meremehkan satu hal, Julian. Dia pikir ini hanya soal bisnis. Dia lupa bahwa Clara adalah separuh dari nyawaku."

Silas membuka sebuah koper logam. Di dalamnya terdapat denah digital pulau pribadi milik keluarga Brine. Ia tidak akan menggunakan negosiasi diplomatik. Sebagai pengusaha berpengaruh di Belanda, ia memiliki akses ke tentara bayaran elit yang bahkan pemerintah pun tidak tahu keberadaannya.

"Siapkan unit Delta," perintah Silas pada asistennya. "Kita akan menghancurkan pulau itu sebelum matahari terbit."

Tepat saat itu, ponsel Silas berdering. Nomor tidak dikenal. Ia mengangkatnya.

"Halo, Silas," suara berat Nikolai terdengar dari seberang sana. "Adikmu sangat cantik malam ini. Dia baru saja mencicipi makan malam terbaiknya. Kau ingin bicara padanya sebelum aku mematikan sinyal satelit ini?"

Silas mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. "Jika ada satu lecet saja di tubuhnya, Nikolai... aku akan memastikan nama Brine dihapus dari sejarah."

"Kita lihat siapa yang akan terhapus lebih dulu, Marine."

Sambungan terputus. Silas melempar ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Mega Maharani
lanjut thor ditunggu update bab selanjutnya
olyv
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!