Ini kisah lanjutan #LuckyDaisy yang bercerita keluarga Buwono setelah kelahiran Kenzie. Bagaimana dokter Lucky dan istrinya dokter Daisy menikmati kehidupan rumah tangganya bersama dengan pebinor nya, Winston. Belum kasus dengan divisi kasus dingin termasuk dokter Lucky masih saja takut dengan tim arwahngers. Kemungkinan sampai kehamilan Elina dan kelahirannya yang penuh warna.
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Nareswari
RS Bhayangkara Jakarta
"Ruang bedah," sapa Suster Mini saat menerima telepon di mejanya.
"Suster Mini atau Lia?" tanya seseorang di seberang.
"Mini, dok Daisy. Cari dok Lucky?" jawab Suster Mini ramah. Tim bedah sangat suka dengan Daisy meskipun awalnya judes dan jutek, tapi setelah mengenalnya lebih dalam, orangnya menyenangkan. Apalagi setelah ada Kenzie yang menjadi keponakan berjamaah tim bedah dan IGD.
"Iya. Apa masih di OR?"
"Iya dok. Kata dok Juno yang tadi sempat ngintip OR, operasinya rusit, rumit dan sulit."
"Operasi apa ya? Mas Lucky tidak cerita."
"Cancer resection di appendix ( usus buntu )." Suster Mini melihat data di komputernya. "Yang sudah menjalar di colon ( usus besar )."
"Duh, rumit itu. Kolektomi partial atau kolektomi subtotal?"
"Kurang tahu aku Dok. Eh, Dok ... Kenzie sudah baikan?" tanya Suster Mini yang tahu Kenzie memilih imunisasi di RS Bhayangkara.
"Alhamdulillah. Oh, Sus, tolong titip pesan ke Mas Lucky supaya telepon aku usai operasi ya. Ponsel dia mati soalnya."
"Baik Dok. Dok Daisy, apa Dok Daisy tahu, Dok Lucky tadi jadi dokter forensik dadakan lho!"
"Eeehhhh? Kok bisa?"
***
Dokter Lucky dan Dokter Rahmat keluar dari ruang operasi dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka tidak menduga harus melakukan kolektomi subtotal ke pasien. Kolektomi Subtotal adalah pengangkatan hampir seluruh usus besar.
Karena sebagian besar usus besar diangkat, tinja akan menjadi lebih encer dan frekuensi BAB meningkat ( diare ). Kondisi ini biasanya membaik seiring penyesuaian tubuh, namun memerlukan manajemen diet.
"Ini ... brutal!" gumam Dokter Lucky. "Nyaris total ke Proktokolektomi!"
"Setidaknya kita berikan yang terbaik, Dok. Tadi sudah tidak ada sel kankernya dan pasien ini harus brutal merubah pola makannya, tidak merokok, tidak minum alkohol dan banyak minum air putih!" ujar Dokter Rahmat. "Tadi aku bertemu dengan istrinya, katanya cuma mau minum air bewarna dan berasa."
"Haddeehhhhh!" Dokter Lucky menggeleng gemas. "Masih bagus macam Kenzie, mik ASI!"
"Beda lah Dok!" kekeh Dokter Rahmat sambil berjalan ke ruang kerja mereka.
"Dok Lucky!" panggil Suster Mini.
"Ada apa?"
"Dok Daisy telepon kemari. Katanya ponsel Dok Lucky off."
Dokter Lucky terkejut. "Ndak iya?" Lekas-lekas dia ke ruangannya guna mencari ponselnya.
"Tumben Daisy telpon kemari," ucap Dokter Rahmat. "Dia kan paling jarang telepon ke bedah."
"Pasti ada yang urgent Dok."
Sementara itu di dalam ruang kerjanya, Dokter Lucky mengecek ponselnya dan merutuki kecerobohannya yang lupa charge ponselnya. Dia pun segera mencari kabel charger yang ada di dalam laci meja kerjanya dan mengisi daya ponselnya. Dokter Lucky segera menyalakan ponselnya dan menghubungi Daisy.
"Ya Jeng Daisy sayang. Maafkan aku ... Lupa nge-charge. Kan aku tadi pagi keburu-buru. Ada apa cintaku, manisku, pujaan hatiku," senyum Dokter Lucky via panggilan video.
"Lihat Kenzie mas!" Daisy memperlihatkan gigi Kenzie yang tumbuh lagi di bagian atas.
"Lha? Kok jadi gigi kelinci? Hilang dong gigi cakil miniku," protes Dokter Lucky membuat Daisy menatap sebal.
"Mas Lucky!"
"Eh iya ... Maaf Mama badass. Nanti aku jangan tidur di luar sama Winston yaaaa?" pinta Dokter Lucky dengan wajah memelas.
"Kamu tidak tahu saja kalau yang namanya ibu, auto protektif sama anaknya!" ujar Daisy.
"Iya sayang. Maaf. Maaf ya Kenzie," jawab Dokter Lucky sambil menatap gemas ke putranya yang asyik merangkak di lantai.
"Mas, kata Suster Mini, kamu jadi pengganti aku di TKP?" tanya Daisy sambil mengawasi Kenzie.
"Gara-gara Piktor tuh! Aku jadi harus korbanin sepatu Prada aku! Lha gimana Jeng, TKP nya di gang, becek bekas hujan semalam, mana dia ditusuk di perut sampai colon nya keluar. Bayangkan saja!" adu Dokter Lucky.
"Mas, sepatu kamu sudah hampir enam tahun lho. Solnya juga sudah agak tipis."
"Memang waktunya lembiru, lempar beli baru."
"Sudah dibuang?" tanya Daisy.
"Ini sudah aku masukan ke dalam double kresek. Mau aku buang nanti. Eh? Jeeenggg! Kenzie!" seru Dokter Lucky membuat Daisy menoleh.
"Lho? Kok sudah bisa berdiri?" Daisy tampak gemas dengan Kenzie yang belajar berjalan sambil merayap di kaca jendela rumah.
"Anakku jadi Spiderman!" celetuk Dokter Lucky.
"Mas!"
Ken, kata bokapmu, kamu macam Spiderman.
***
Nareswari datang sore harinya karena kangen Kenzie. Meskipun sudah punya Sheva, putri Shea, putrinya sendiri, tapi Nareswari tetap suka berkeliling menemui cucu-cucunya yang memang menggemaskan. Namun kali ini berbeda, karena Nareswari menawarkan asisten untuk membantu Daisy di rumah.
Daisy pun menerima kedatangan Tantenya dengan wajah sumringah. Apalagi Nareswari melihat Kenzie sedang ditetah Daisy dengan wajah tersenyum lebar.
"Tetah" ( lebih umum ditulis tatih ) adalah aktivitas menuntun atau memegangi tangan bayi yang sedang belajar berjalan. Kegiatan ini bertujuan membantu bayi melangkah, namun disarankan dilakukan dengan hati-hati agar tidak mengganggu perkembangan motorik alami, seperti merangkak dan merambat.
"Waaahhh Kenzie udah bisa jalan!" puji Nareswari yang sudah cuci tangan seperti kebiasaannya.
"Sudah Oma ... Pintar kan aku," kekeh Daisy.
"Ish sama deh sama Sheva. Usia segini sudah jalan. Siap-siap saja Dash, bakalan heboh keliling rumah nanti apalagi kalau sudah bisa lari," ucap Nareswari.
"Iya Tante. Aku sudah beli pelindung sudut perabotan supaya Kenzie aman. Kata mas Lucky, Kenzie kasih helm aja kalau aku khawatir," jawab Daisy sambil manyun.
Nareswari cekikikan. "Suami kamu tuh ya! Asbunnya ngaco. Eh, tapi Steven ya sama sih ... Apa semua bapak-bapak gitu ya? Soalnya Oom L santuy saja."
"Beda generasi sepertinya Tante. Ohya, Tante kemari dalam rangka?"
"Oh iya. Gini, salah satu anak buah Tante kan mau resign dari PRC Hospital. Dia anak gizi dan kemarin bilang jenuh di rumah sakit. Malah pengen jadi pengasuh anak. Namanya Gita dan janda mati tanpa anak. Selama Tante jadi bossnya, dia tidak pernah neko-neko."
"Umur berapa?" tanya Daisy sambil mengajak Nareswari duduk lesehan sementara Kenzie merangkak ke arah Winston. "Ken, gentle ya sama Winston."
Anjing Belgian Malinois itu hanya tiduran dan Kenzie memilih bersandar di perut pebinor Dokter Lucky.
"Kenzie nggak alergi bulu kan?" tanya Nareswari.
"Alhamdulillah nggak Tante. Kalau Kenzie begitu, berarti tandanya ngantuk. Winston juga sangat gentle ke Kenzie. Ohya, si Gita umur berapa Tante?"
"Umur lima puluh, sebaya sama Tante lah."
"Coba aku rundingan sama mas Lucky dulu ya Tante. Jujur, aku dan mas Lucky suka tidak enak kalau menitipkan Kenzie ke para Tante atau ke Daycare di PRC Hospital maupun RS Bhayangkara."
"Ish, padahal Tante suka lho dititipi Kenzie. Gemesin."
Daisy tersenyum. "Kenzie kan sachet mininya mas Lucky."
***
Yuhuuu up Pagi Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kasihan banget flint, padahal dia nggak tau apa-apa
ayahnya itu ampun deh...
ibunya juga kurang aware😓😓😓
lgian,spa jg yg bkln sbar kl ktmu orng ga wrs ky gt....bgus bgt idenya dok gabut yg mau bkin dia gatal2,biar kapok....
yang dikhawatirkan sama kan.... pispot🤣🤣🤣🤣