Kisah seorang anak perempuan yang selalu mendapatkan ketidakadilan dari sang ibu. gadis itu sering di bandingkan dengan saudara saudara nya sendiri. karena tuntutan ibunya, Lusiana harus terjun menjadi wanita malam, di sebuah club ternama di kota.
bagaimana car gadis itu bertahan dari keras nya dunia. apakah gadis itu mampu bahagia, atau malah sebaliknya?? ikuti kisah Lusiana sekarang juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.22
Lusi saat ini berada di salah satu kontrakan Kecil yang hanya sepetak saja. mata nya melihat ke Kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa tempat ini benar benar nyaman untuk di tinggali.
"Lumayan juga, setidaknya aku tidak kepanasan maupun ke kehujanan." gumam nya dalam hati.
"Bagaimana neng, tertarik tidak dengan kontrakan nya?" tanya Bu haji dengan wajah yang bersemangat saat ada orang yang ingin menempati salah satu kontrakan nya itu.
"Bagus Bu haji, tapi berapa ya kira kira perbulan nya?" tanya Lusi yang merasa cemas kalau uang yang dimiliki tidak cukup. ataupun harga sewa nya terlalu mahal. sebab setelah ini, dia akan mencari pekerjaan yang baru.
"Oh itu, murah neng, sama neng mah sebulan nya 1 juta aja."
Mendengar harga sewa nya sejuta, Lusi tampak berpikir keras. "Cukup mahal,tapi kalau pindah lagi terlalu malam. Apa ambil aja ya?" gumam nya sambil berpikir keras.
"Tenang aja neng, sejuta ini ada tempat tidur nya kok. Saya berikan fasilitas nya lemari sama kasur. Jadi itu udah termasuk murah."
"Baiklah Bu, saya ambil ya. ini uang nya untuk satu bulan ya Bu." ucap lusi yang memberikan sejumlah uang untuk pemilik kontrakan itu.
"Wah, makasih banyak neng. Ini kunci nya, selamat datang ya neng. Kalau ada perlu apa apa panggil aja ibu, atau hubungi saja ibu ya."
Setelah berbasa-basi, Lusi membersihkan kontrakan nya terlebih dahulu, agar terlihat nyaman saat ditinggalkan. Waktu untuk membersihkan tempat itu, sekitar 2 jam lebih. gadis itu tampak sangat kelelahan.
"Huft..... Cape." gumam nya sambil beristirahat dan merebahkan dirinya ke kasur.
"Semoga betah disini. Aku harus mencari pekerjaan agar bisa melanjutkan hidup."
Sedangkan di kampung, Marni Tampak termenung di teras setelah kepergian Lusi dari tempat nya itu. rasa bersalah telah menyergap d hati nya, tetapi ego nya terlalu tinggi.
"Dimas, Dimas." ucap nya yang kaget saat melihat Dimas yang terkapar tak berdaya di seberang jalan. Dimas diantarkan oleh sebuah mobil Jeep, dan di turunkan tepat di jalan depan rumah Marni. Hal itu membuat wanita paru baya itu kaget.
Apalagi saat melihat kondisi Dimas yang cukup parah. Sepertinya dia habis dipukul oleh para preman itu.
"Dimas, bangun nak."
Marni yang panik, langsung meminta bantuan para tetangga membawa putra nya ke rumah sakit terdekat. apalagi kondisi Dimas cukup banyak luka lembab di wajah nya itu.
"Bu Marni, tenang lah. Biarkan Dimas di periksa terlebih dahulu."
"Tapi pak, putra ku terluka."
"Sebaiknya ibu tenang, biarkan petugas nya memeriksa kondisi Dimas."
Ketakutan terbesar dalam hidup nya, adalah kehilangan putra kesayangannya itu. suami nya telah tiada, dan sekarang anak kesayangannya terluka seperti ini. Marni benar benar dalam keadaan kalut sekarang.
"Kaki nya patah, dan butuh penanganan ektra Bu. Sebaiknya dibawa ke rumah sakit di kota. Sebab di desa ini, rumah sakit nya terbatas, jadi fasilitas nya tak selengkap di kota."
"Deg... Perasaan Marni benar benar kaget, saat mendengar ucapan dokter di sana. Hatinya benar bener hancur mendengar pernyataan yang dokter ucapkan.
"Drtttt....ini informasi lengkap nya tuan." ucap rendi yang telah menyelidiki nona Lusi secara lengkap.
"Jadi dia diusir oleh ibunya. Lalu di mana dia sekarang?" tanya ken dengan tatapan datar nya.
"Ada di salah satu kota x, nona Lusi baru saja tinggal di sebuah kontrakan yang berada di sana tuan."
"Baiklah, atur jadwal ku hari ini, kita temui gadis itu!"
"Baik tuan."
Apa mgkin Lusi putri konglomerat yg di culik waktu bayi..