Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4 Tahun Kemudian
Semenjak masuk kelas XI SMA ia jadi terkenal. Dari seribu tiga ratus tujuh puluh empat siswa, hanya dirinya yang selalu dicari-cari, baik dipagi hari saat apel dimulai, maupun ketika pelajaran sedang berlangsung.
Ia memang sangat berbeda dengan siswa yang lain, oleh karena itulah dirinya jadi sorotan banyak orang. Hidupnya tak mau diatur oleh siapapun, bahkan Pak Rian, kepala sekolahnya pernah dibantah karena menetapkan peraturan yang sangat bertentangan dengan dirinya.
Baginya, itu adalah penataan yang semata-mata dibuat, demi menjaga keselarasan dengan siswa yang lain dan juga pandangan masyarakat sekitar, namun itu tidak sepadan dengan adat istiadat yang dianutnya. Hingga dirinya bersikeras menolak peraturan itu.
××××
“Selamat pagi!” sapa seorang Pemuda tampan dari luar ruangan kelas XI IPS 1, seraya berjalan menghampiri mereka.
Dia adalah Pak Sil, Guru baru mereka yang mengajarkan Sejarah. Dia menggantikan Ibu Menti yang saat ini lagi cuti.
“Pagi juga, Pak,” sahut mereka semua memandanginya penuh keheranan sebab baru pertama kalinya mereka melihatnya.
“Siapa itu, Indri?” tanya Nia, dengan raut wajah cemberut.
Nia merupakan teman seangkatan mereka ketika masih duduk dibangku SPM hingga sekarang mereka masih bersama-sama.
Ia menghela nafas panjang sebelum menatap pemuda itu dengan tajam, “Mana mungkin aku tahu, Na. Dia orang baru disini,”
“Siapa disini yang namanya Metallo?" tanya Pak Sil dengan raut wajah yang penuh keingin tahuan.
“Huh! Ada apa lagi dengan Metal? Jangan terlalu lebay, Pak,” bisik Nia kepada Intu
“Belum datang, Pak.” Jawab Festo teman sebangkunya.
Semua siswa pun tertuju menatapnya lantas yang ditanyakan ialah Metallo, Teman mereka yang menganggap sekolah sebagai tempat untuk bermain hingga datang dan pergi semaunya.
“Ada keperluan apa, Pak. Sehingga engkau menanyakan keberadaannya? Jikalau ada, beritahukan saja kepadaku, nanti akan aku sampaikan kepadanya," tanya Festo penuh keheranan dilain sisi ia sangat prihatin terhadap Metallo, 'Apakah belakangan ini Metal membuat keonaran disini atau dilain tempat, sehingga dia mencarinya?'
Pemudah itu mulai melangkah mengelilingi ruangan mereka dengan santai. Kedua tangannya dilipatkan di belakannya, "Oh, tidak ada sedikitpun harapan. Hanya saja, aku sebagai guru baru disini, diriku sangat mengkhawatirkan keberadaannya."
“Metal... Metal, ada apa dengan dirimu, hingga namamu begitu terkenal."
Begitulah tingkah yang ditunjukan setiap ada Guru baru yang akan mengajar di sekolah ini. Sebab bagi mereka tidak mengenali Metallo lebih dalam maka terus terjadi keonaran, lantas Metallo tidak bisa diatur.
Ia sendiri pernah mendapatkan surat perjanjian dengan kepala sekolah agar tidak membuat keonaran lagi, hanya saja bagi Guru-guru baru pasti akan mendapatkan sedikit tekanan darinya, jikalau ia tidak mengetahui bahwa yang berhadapan dengannya adalah seorang guru, oleh karena itu setiap ada guru baru yang masuk pasti diberitahukan oleh Pak Rian sebelum mengenalinya.
“Kamu ini gimana, Na. Dari tadi ngomongin Metal meluluh," geledek Indri.
Indri memang dulunya sangat mengejar-ngejar Metallo, tapi hanya kerena perasaannya tak dapat mengerti hingga semua usahanya bukam. Bedahalnya dengan Metallo, Ia selalu saja mengejar cinta dari Indri hanya sedikit ingatan tentang Mey selalu melintas dalam benaknya ketika mendekati Indri lebih dalam.
“Dia teman kita Indri. Ah... Aku akan mencoba nge-chat dia dulu," tatapan sinis mengarah pada Indri sedangkan tangan kanannya terus mijat-mijat keningnya, "Apa mungkin dia sakit hingga tak masuk hari ini?” dia kemudian mengambil handphone yang berada di dalam tasnya.
“Palingan cuman dibaca doang, Na... Belum tentu dibalas."
“Iya, Indri. Walupun tak dibalas, aku tetap mencobanya."
“Oh, ya, anak-anak. Namaku Silautus Dramapasha, sapaan akrabnya Sil. Disini, Aku sebagai guru baru kalian yang akan mengajarkan sejarah, menggantikan Ibu Menti yang saat ini lagi cuti,” dia memperkenalkan dirinya sembari memaparkan materi yang akan mereka pelajari.
“Dia Guru sejarah kita, ya,” cetus Nia sembari mengirimkan pesan kepada Rifael.
[Hay, Rifael. Apa kabarmu hari ini? Kamu masuk gak?]
“Nyimak, Na. Melamun mulu... Buat apa kamu memikirkan Metal," raut wajah Indri seketika berubah menjadi sangat cemberut mengingat cintanya yang tulus tak pernah Metallo hargai dan sekarang ditambah lagi dengan sahabatnya yang ingin mengejar Metallo, dia menggelengkan kepalanya pelan, 'Metal... Metal, kenapa gadis-gadis bidoh ini selalu saja ingin mendapatkanmu.'
“Indri, sudah dibaca. Tapi kenapa tak dibalas,” keluh Nia sembari memberikan gadgetnya. Sedikit rasa sesal menjanggali dirinya ketika melihat chatingannya hanya dibaca oleh Metallo tanpa ada balasan.
“Na, kamu tidak mengetahui betul watak Metal seperti apa. Percuma Nia, jangan-jangan kamu rindu dengannya," geledek Indri.
“Sudahlah Indri, Nia. Perhatikanlah materi yang diajarkan!” tegas Festo yang berada di belakang mereka agar keduanya dapat mengalihkan perhatian mereka kepada Pak Sil sebelum mendapat teguran darinya.
Metalli yang lagi menikmati manisnya kopi, terus menatap Gad-get yang berada di genggamnya. Rupanya ia sedang mempelajari materi sejarah, “Ah, belum saatnya aku berangkat,” gumannya, ketika melihat pesan dari Nia.
Hampir setengah jam ia terus menimbah ilmu dari media sosial barulah ia mempersiapkan seluruh peralatannya, dan bergegas ke sekolah.
Sesampainya disana ia kaget melihat Pak Sil yang berada di depan ruangan kelasnya.
“Siapa itu?” tanyanya, seraya meloncat dari pagar yang berada di belakang gedungan sekolah mereka.
Tanpa terpikirkan olehnya bahwa yang berada di depan ruangan itu ialah guru barunya, hingga membuat dirinya begitu agkuh masuk tanpa sapa dan tidak ada sedikitpun beban yang menjanggalinya.
Semua sorotan mata tertuju menatapnya yang melangkah ke belakang ruangan . Sedangkan Pak Sil, terpaku penuh keheranam, 'Inikah, Metallo? Selamat pagi,” sapa Pak Sil seraya berjalan menghampirinya.
Ia yang baru saja duduk tertegun menatap Pak Sil, ”Ini siapa, sih?” bisiknya dengan raut wajah cemberut.
“Apakah, Anda murid dari sekolah ini?” tanya Pak Sil.
“Jikalau aku bukanlah seorang siswa, maka tak mungkin kuhadir di sini!” jawabnya dengan tegas.
“Hey! Diam kamu!” bentak Pak Sil penuh kegeraman.
“Terima kasih, Pak. Sebenarnya kudiam tetapi kuhargai perbuatanmu."
Sementara itu, kelas XI Ipa2 dan Ips3, yang tadinya sangat gaduh, seketika menjadi bisu. Seluruh pandangan mereka tertuju ke ruangan kelas XI Ips1, yang berdekatan dengan ruang guru atau kantor, karena mendengar lantangnya suara Pak Sil.
“Siapa, itu?” tanya Pak Ferdi kepada anak didiknya kelas XI Ips3.
“Itu, guru baru Pak,” jawab Kastelo sembari memberikan isyarat dengan menujuk ke arah suara itu berasal.
“Andaikata Anda merupakan salah satu bagian dari lembaga ini, maka belajarlah beretitut yang baik... Lihatlah dirimu! Apakah pantas seorang siswa berpenampilan seperti ini. Mukamu hitam kaya tempurung yang habis dibakar, apalagi ditambah dengan keritingnya rambutmu,” ejeknya.
Mendengar perkataan itu amarahnya pun tak bisa dibendung lagi. “Anda siapa, hingga dirimu sebegitunya bertingkah terhadap aku!” tanyanya dengan tegas.
“Metallo... Metallo, tingkahmu membuat diriku malu, diam!” tegas Pak Ferdi dari luar ruangan seraya berjalan menuju ke dalam.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??