Tiba-tiba Stecy jadi incaran seorang pria gila? Siapa sangka ternyata sosok pria baik nan lugu adalah seorang Gengster brutal?
Mr. Stewardzario, seorang Gengster misterius yang menduduki posisi paling atas karna kebrutalannya. Tapi tidak ada yang tau sosok pria misterius itu karna dirinya yang tidak mau terlihat mencolok.
Lalu bagaimana Stewardzario bisa terobsesi pada seorang mahasiswi? Siapa Stewardzario sebenarnya?
Penasaran? Yuk baca, dan jangan lupa beri like dan dukungan kalian yaa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Davies peterson
"T-tidakk! Bukan itu maksudku, dasar kau mesum!" Stecy memekik kesal, sementara Zheren tertawa nakal.
"Aku ada urusan hari ini, mungkin besok aku akan menginap lagi."
"Oke.."
"Tidurlah kembali Sty, selamat malam."
"Oke.."
Panggilan singkat itu berakhir, suara Stecy yang terus mendayu lembut dalam benak Zheren kini terhenti, sedikit kecewa tapi ia memang harus membiarkan gadis itu tertidur.
Setelahnya Zheren kembali beranjak dari duduknya, berjalan keluar ruangan lalu menemui beberapa anak buahnya yang kini sedang bersantai di ruangan terpisah.
"B-bos?" Mereka seketika berdiri menyambut kedatangan Zheren yang tiba-tiba.
"Aku ada urusan, saat Stive kembali beritahukan padanya untuk segera menjemput Mikro dirumah sakit."
"Baik bos, mau saya antar bos?"
"Tidak, kalian hari ini istirahat saja."
"Baik bos! Berhati-hatilah di perjalanan!"
Zheren lalu meninggalkan wilayahnya, mengemudi seorang diri dengan style yang tidak berubah.
Ia sampai di sebuah mansion, dengan halaman dan gerbang yang amat besar. Saat ia sampai di depan gerbang, beberapa pria berjas membukakan pintu gerbang dan membiarkan Zheren masuk.
Mereka menunduk kala melihat sosok dalam mobil tersebut, lalu dengan sigap membukakan pintu mobilnya.
"Tuan muda Zarachy, selamat datang."
Zheren turun sambil mendongak sombong, ia lalu merapihkan mantelnya, menarik kerah berbulu untuk mengencangkan penampilannya.
Ia membusungkan dada sambil berjalan masuk ke dalam mansion bangsawan. Tidak ada satupun sudut yang tidak gagah dalam dirinya.
"Dimana Davies?" Ia bertanya pada salah satu pelayan yang tengah menunduk di samping lorong.
"Di ruang tamu, tuan."
Zheren kembali melangkah menuju ruang tamu, lantai marmer kini dihiasi suara hentakan berirama dari sepatu kulit buaya Zheren.
Ia lalu sampai di ruang tamu, dan terlihat seorang pria tengah asik menonton televisi, sambil dihidangi teh hangat.
"Davies."
Seketika pria itu menoleh, dan ia membola. "Zarachy?" Ia sontak bangun dari duduknya, lalu datang mendekat.
"Ugh.. Nama konyol itu, tolong ganti sebutanmu padaku." Kesal Zheren.
"Baiklah adik kecil, apa yang kamu butuhkan selarut ini?" Davies kembali bertanya, ia lalu memegang pundak Zheren dan membawanya menuju sofa.
"Aku butuh bantuanmu." Zheren duduk lalu dengan santainya ia meminum teh yang dihidangkan khusus untuk Davies.
"Apa itu?"
"Aku ingin pergi ke munchen." Jawab Zheren sambil menatap Davies, tatapannya kali ini penuh keseriusan.
Seketika Davies terdiam, ia bingung. Hanya untuk pergi ke munchen, Zheren sampai meminta bantuan darinya?
"Apa kau.. Mau mengajakku berlibur di Munchen?" Tanya Davies sambil mengangkat ujung alisnya.
"Tidak," Zheren menghela napas berat sesaat. "Bisakah kau membantuku masuk ke dalam perusahaan pengembang senjata milik temanmu yang di munchen itu?"
Davies merengut, "Maksudmu Caesar? Dia mengerikan. Aku tidak mau kau terlibat dengannya." Ia lalu memalingkan wajahnya dari Zheren, tidak mau luluh dengan permintaan adiknya.
"Aku hanya butuh beberapa senjata baru untuk pemberontakan." Ucap Zheren. Ia benar-benar berharap sang kakak bisa membantunya kali ini.
"Kenapa kau terus menjadi teroris Zarachy? Berhentilah menjadi pria gila!" Bentak Davies, ia benar-benar sudah muak dengan kelakuan Zheren.
Dari dulu Davies memang tidak begitu menyetujui Zheren yang menjadi Stewardzario. Ia hanya ingin adiknya bahagia hidup bersamanya di mansion bangsawan, tanpa harus bekerja.
Tapi Zheren, ia memang memiliki sesuatu yang harus ia selesaikan dan Davies tahu tentang itu. Tapi ia tidak bisa tenang setiap Zheren melakukan pemberontakan atau bahkan sampai meneror.
"Aku mohon kak, kali ini sangat penting." Ia memohon sambil menunduk dalam.
"Berhentilah menjadi Stwardzario, masalah Blisterz biar aku yang urus. Aku akan memanggil polisi untuk menangkapnya." Tutur Davies. Ia lalu memegang pundak Zheren, berharap kali ini Zheren bisa mendengarkannya.
"Tidak. Aku yang akan mengurus Blisterz, dia harus di bu-nuh dengan caraku. "