"Belum ketemu juga!? Kalian akan mati jika tidak menemukannya!" Bentak Rafanda Airen, mengacaukan acara pertunangannya sendiri.
"Rafa, semua orang---" Kalimat Titania disela.
"Aiyue menghilang. Jadi jangan menggangguku dengan acara konyol ini." Pemuda yang melangkah hendak meninggalkan area ballroom.
"Dia hanya sekretaris! Asisten! Pembantu! Aku calon istri yang setara denganmu!" Teriak Titania, memegang jemari tangan Rafanda, bersamaan dengan beberapa pengawal yang menghalanginya pergi.
"Bukan! Aku yang memberinya nama Aiyue, sedangkan namaku Airen." Rafa tertawa dalam tangisannya mengeluarkan senjata api dari dalam jasnya.
Dor!
*
Bagaimana tentang seorang anak berusia 7 tahun, yang tersenyum dengan sengaja memilih bayi mungil untuk menemani hidupnya. Memberinya nama Giovani Aiyue, serupa dengan namanya Rafanda Airen.
Mengendalikan hidupnya bagaikan boneka, Aiyue adalah boneka kecil dalam kendalinya. Boneka yang pada akhirnya retak meninggalkannya,karena telah memiliki hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Rafa Istrimu Digoda!
Pakaiannya sudah terbuka, sang ibu kini tengah mengobati punggung putranya. Pemuda yang hanya menggunakan celana panjangnya saja.
"Farel benar-benar menghajarmu." Lagi-lagi sang ibu tertawa, berusaha memancing reaksi putranya. Tapi nihil, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya
"Rafa..." Panggil sang ibu. Kembali tidak ada jawaban bagaikan entah dimana putranya saat ini.
"Ayahmu menyayangimu. Dia orang yang paling mencemaskan setiap tindakan kalian. Dia akan mencarikan Aiyue untukmu." Lanjutnya.
"Tidak akan, ayah tidak akan mengubah keputusannya." Tangan pemuda itu gemetar, bagaikan ada sedikit harapan yang sejatinya tidak dipercayai olehnya.
"Kamu tau kenapa ayahmu membenci pernikahan bisnis?" tanya Jeny berusaha tersenyum. Sedangkan putranya kembali tetap diam tidak menjawab.
"Sebelum menikah dengan ayahmu, ibu pernah menikah dengan pria lain. Sebuah pernikahan yang diatur. Kami berakhir tidak bahagia. Ibu masih memikirkan ayahmu, cinta pertama ibu, sedangkan suami pertama ibu, berselingkuh dengan mantan kekasihnya." Kalimat dari sang ibu membuat Rafa membulatkan matanya.
"Tenang, tidak ada plot twist, kamu adalah anak kandung ayahmu." Jeny tertawa kecil.
"Intinya ayahmu membenci pernikahan bisnis. Dia tidak akan melakukannya padamu. Tapi mengatakan akan melakukannya. Kamu tau karena apa?" Tanya Jeny masih menyemprotkan obat cair pada bagian punggung putranya yang memar.
"Ingin mendidikku." Jawaban Rafa pada akhirnya.
Sang ibu hanya tersenyum tidak berkata atau menjawab lagi. Sedangkan Rafa merasa lebih baik, dirinya menatap ke arah jendela menyesalkan tindakannya."Kali ini aku salah..." Ucap sang anak lirih.
"Jika tidak dihajar seperti ini, kamu akan menggila, membunuh orang sembarangan. Menggunakan kekuasaan untuk menjemput Aiyue secara paksa." Pernyataan dari ibunya benar, mungkin itulah yang akan dilakukannya. Menggunakan kekuasaannya sewenang-wenang.
"Rafa, tenangkan dirimu. Seberapa kamu mencintai dan menghargainya mungkin akan terlihat saat kalian berpisah beberapa saat. Perpisahan agar kamu dapat menghargai apa yang kamu miliki." Sebuah nasehat lagi dari sang ibu menyodorkan kotak P3K."Aiyue tidak akan menyukai pria yang memiliki banyak luka memar di sekujur tubuhnya."
"Ibu....A....aku bersalah..." Ucap pemuda itu menitikkan air mata di hadapan ibunya. Entah dimana pemuda arogan yang selalu merasa benar dapat melakukan apapun. Sosoknya bagaikan menghilang, merindukan Aiyue, kehilangan salah satu bagian tubuhnya yang terpenting. Jantung dan hatinya bagaikan dicabik ada bagian berat dan kosong didalamnya.
Jeny mengangguk."Aku harap ayahmu memerlukan waktu yang lama untuk menemukan Aiyue. Hingga saat kalian bertemu beberapa tahun lagi Aiyue sudah menikah dan memiliki sepasang anak kembar dengan pria lain."
"Tidak apa-apa, aku dapat membunuh suaminya. Agar dia terus bersamaku." Ucap Rafa pada sang ibu. Anak pertama yang bagaikan perwujudan sisi gelap ayahnya. Sedangkan sang adik, bagaikan perwujudan sisi cerah sang ayah.
"Rafa sayang, bukan itu intinya. Intinya bagaimana kamu menginginkan kebahagiaannya. Apa dia bahagia saat denganmu?" Tanya sang ibu. Dijawab dengan anggukan oleh Rafa.
"Aiyue selalu tersenyum." Jawaban darinya.
"Burung dapat selalu berkicau saat diberi makan dalam kandang. Karena burung itu berhutang budi, pada majikannya. Tapi apa burung itu bahagia. Tidak dapat mengepakkan sayapnya sama sekali? Hanya melihat majikannya bermain dengan hewan-hewan lainnya?" Wanita itu kembali bertanya.
"Aiyue tidak bahagia?" tanya Rafa tidak mengerti mengingat berapa saldo rekening gadis itu.
Jeny mengangguk."Aiyue tidak pernah tersenyum tulus padamu. Hanya senyuman palsu. Menghargai sebagai seseorang yang memberinya makan."
Rafa masih menunduk bagaikan daun kering musim gugur.
"Setelah ini kamu akan belajar untuk bersikap lebih dewasa." Hanya itulah kalimat dari ibunya meninggalkan kamar putranya.
Rafa melanjutkan mengobati dirinya sendiri. Menyakinkan dirinya sendiri semua akan baik-baik saja. Apa yang disukai Aiyue? Apa benar Aiyue tidak menyukai pemuda dengan sekujur tubuh yang memar?
"A...aku tidak tau..." Gumamnya, merasakan dadanya lebih sesak lagi.
Apa makanan yang disukainya? Musik seperti apa yang sering didengarkannya? Bahkan film jenis apa yang ditontonnya? Rafa kini menyadari dirinya tidak tahu apapun tentang orang yang memiliki hatinya.
Apa gunanya status dan uang jika sudah seperti ini?
"A...Aku salah...aku benar-benar salah..." Lagi-lagi pernyataan dari seseorang yang selalu percaya diri. Pernyataan yang benar-benar aneh.
"A...aku memerlukanmu. Bukan untuk melayaniku, hanya untuk berdiri di sisiku. Aku mencintaimu... maaf..." Gumamnya pada fatamorgana seseorang yang berdiri di hadapannya. Tersenyum bagaikan boneka porselin. Sebuah senyuman tanpa kebahagiaan di dalamnya.
*
Di tempat lain.
Seorang pria yang tidak tidur sama sekali. Dirinya menyangka ini akan mudah. Beberapa orang yang terbaring entah masih bernyawa atau tidak telah dibawa ke dalam ambulance.
Air keras yang ada di tangan mereka. Entah sempat membakar kulit gadis itu atau tidak. Segalanya samar, karena ada satu botol yang telah tumpah. Sedangkan tiga botol lainnya masih tersegel.
Tapi yang pasti, Aiyue tidak ada bersama mereka. Tubuh mereka tertembak tapi tidak mengenai titik vital sama sekali. Hal yang dilakukan oleh orang-orang profesional.
"Ini sulit..." Ucap Farel, di tangannya terdapat biodata lengkap Hidan. Tempat tinggal dan nama perusahaan, serta kapal feri yang akan mereka tumpangi untuk pergi. Tapi tidak ada jejak sama sekali.
Hanya untuk menangkap seorang gadis tanpa perlindungan, Farel fikir ini akan mudah. Namun, ada seseorang yang entah memiliki kepentingan apa, ikut campur dalam hal ini.
"Cari selongsong pelurunya. Mungkin tipe senjatanya akan terlihat. Kepemilikan senjata, keluar masuknya senjata legal, mungkin akan sulit tapi setidaknya akan ada petunjuk, siapa yang sedang bermain-main denganku..." Perintah Farel tersenyum pada pengawal yang mengikuti penyelidikannya.
"Baik tuan!" Ucap mereka, hampir bersamaan.
Bergerak tenang dan efisien, itulah ayah dari Rafanda Airen dan Rury Aito. Tapi, mungkin dirinya harus kembali menghajar putranya hari ini.
Bagaimana Aiyue dapat memiliki koneksi untuk melarikan diri? Ini tidak masuk akal, kecuali putranya masih menyembunyikan sesuatu tentang gadis yang tinggal hampir 24 jam dengannya.
*
"Kakak apa kita akan dibunuh?" tanya Aiyue hampir menangis. Dirinya hanya mengikuti mereka tanpa tahu apapun. Tidak ingin kehilangan nyawa akibat menjadi sasaran timah panas.
"Ka... kalian boleh membunuhku. Tapi jangan apa-apa adikku. Menjual organku juga tidak apa-apa, tapi tolong jangan jual tubuh adikku. Dia masih perawan, pasti akan mati jika digiliri banyak pria..." Ucap Hidan ikut-ikutan menangis dalam mobil yang melaju.
"Apa yang anda katakan? Kami hanya memerlukan sedikit sampel darah. Nona muda, anda terlihat benar-benar cantik..." Pemuda berpakaian rapi itu menoleh dari kursi penumpang bagian depan. Menatap sepasang kakak beradik yang masih gemetaran.
"Saya akan melayani anda sepenuhnya. Pertama-tama apa makanan yang anda sukai?" Tanya pemuda itu mengambil buku kecilnya.
"A...aku menyukai roti bakar dengan selai nanas di dalamnya." Jawab Aiyue, menelan ludah kasar.
Pemuda itu tersenyum, mengajari segala hal pada nona muda adalah tugasnya."Saya rasa cepat atau lambat saya akan mencintai anda."
masa tamat begitu aja🙄😭😭😭
but
aku puas banget,Rafa ketulah sama omongannya sendiri ya ttg bapaknya
nice ending
beautiful story'
love full buat othorrrrr
aku makin padamu
malah jadi takut kita
aku suka keributan ini
kuaci udah abis Ama othor,CK
bentar lagi farell Dateng
makin serruuuu
tapi kalau mang dr sana nya kau setia
ada 1001 alesan buat kau setia
hidup itu pilihan bukan,sekali lagi?
biasa pada celap celup sama bini orang apa
kok kyk gitu di normalisasi kan