Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Pindah Kelas
"Kamu takut dia?"
Pertanyaan Kevin membuat Sekar tidak bisa langsung berbohong.
Di gerbang sekolah, suara siswa yang bubar masih terdengar di belakang mereka. Satpam berbicara dengan Pak Arief. Yola menunggu tidak jauh, memegang tas Sekar dan ponsel berisi video. Tommy sudah pergi, tetapi bekas keberadaannya masih menempel di udara seperti bau asap yang sulit hilang.
Sekar menatap tangan Kevin yang menutupi tangannya.
Bekas gigitan di punggung tangan Kevin menyentuh kulitnya, hangat dan nyata.
"Aku takut pada hal yang bisa dia lakukan," jawab Sekar akhirnya.
Mata Kevin tidak bergerak dari wajahnya. "Ke lo?"
Sekar menelan.
"Ke Oma."
Jawaban itu benar, tetapi tidak lengkap. Ia takut pada Tommy karena Tommy adalah pintu menuju Om Budi. Ia takut pada Om Budi karena di kehidupan lalu tangan laki-laki itu pernah mendorongnya dari atap. Ia takut pada Tante Rina karena suara perempuan itu pernah menjadi suara terakhir yang ia dengar sebelum jatuh.
Semua itu tidak bisa ia katakan.
Belum.
Kevin seolah tahu ada bagian yang ia sembunyikan, tetapi ia tidak memaksa di depan gerbang. Ia hanya berkata, "Oke."
"Oke?"
"Gue mulai dari yang lo bisa kasih tahu."
Sekar hampir menangis karena kalimat sederhana itu.
Pak Arief mendekat. "Sekar, Kevin. Kita ke ruang guru dulu. Bu Wati sudah lihat videonya."
Yola menyerahkan tas pada Sekar. "Aku ikut?"
"Ikut sebentar," kata Pak Arief. "Kamu yang merekam, jadi jelaskan kronologinya."
Mereka berjalan ke ruang guru dengan langkah lebih pelan. Sekar merasa setiap siswa yang melihat mereka tahu sesuatu, tetapi Kevin berjalan di sampingnya, tidak terlalu dekat sampai membuatnya jadi tontonan, tidak terlalu jauh sampai ia merasa sendirian.
Di ruang guru, Bu Wati sudah menunggu.
Wajahnya serius. Ponselnya terbuka pada video Yola. Di meja ada buku catatan kecil dan selembar kertas laporan internal sekolah.
"Duduk," kata Bu Wati.
Sekar duduk. Kevin tetap berdiri sampai Pak Arief menunjuk kursi di sebelahnya. Kevin baru duduk.
Yola menjelaskan kronologi dengan rapi. Tommy datang ke gerbang. Mengaku keluarga. Menyebut Minggu. Mengatakan rumah Oma gampang dicari. Kevin datang bersama Pak Arief. Satpam mencatat motor.
Bu Wati menulis cepat.
"Sekar," katanya setelah Yola selesai, "apakah kamu merasa tidak aman jika pulang sendiri?"
Sekar memegang ujung rok. "Iya, Bu."
Kevin menoleh padanya.
Ini pertama kalinya Sekar mengaku takut dengan kalimat yang jelas.
Bu Wati tidak membuatnya merasa lemah. Ia hanya mengangguk. "Baik. Mulai hari ini, kamu tidak pulang sendiri. Kamu tunggu di dalam sekolah sampai penjemput atau Kevin siap mengantar. Tapi Kevin juga tidak boleh bergerak sendiri tanpa laporan kalau ada ancaman baru."
Kevin langsung menjawab, "Iya, Bu."
Pak Arief menatapnya. "Kamu paham maksudnya?"
"Tidak mukul duluan."
Yola menunduk menahan senyum.
Bu Wati menghela napas. "Itu salah satunya."
Kevin diam, lalu mengangguk lebih serius. "Saya paham, Bu. Simpan bukti. Kasih tahu guru. Jangan balas sendiri."
"Bagus."
Pak Arief mengambil kertas lain dari map. "Ada satu hal lagi. Kevin, selama ini kamu beberapa kali ikut kelas gabungan, remedial, dan sesi materi di kelas Bu Wati. Tapi secara administrasi, kamu masih kelas sebelah."
Sekar mengangkat mata.
Kevin juga.
"Dengan kondisi belajar kamu yang mulai diperbaiki, dan situasi keamanan Sekar," lanjut Pak Arief, "saya akan mendukung kalau Bu Wati mengajukan pindah kelas internal. Kamu masuk kelas Sekar secara resmi."
Ruangan sunyi sebentar.
Yola membuka mulut, lalu menutup lagi.
Sekar menatap Bu Wati. "Bu?"
Bu Wati melipat tangan di atas meja. "Ibu sudah pikirkan sejak nilai kuis susulanmu keluar, Kevin. Di kelas Ibu, kamu bisa lebih mudah dipantau untuk materi. Sekar dan Yola juga sudah terbiasa membantu. Tapi ini bukan berarti kamu pindah kelas untuk pacaran."
Kevin langsung duduk lebih tegak. "Iya, Bu."
"Kalau kamu mengganggu kelas, tidur, atau menjadikan alasan ini untuk menempel terus pada Sekar, Ibu pindahkan kembali."
"Iya, Bu."
"Dan Sekar," Bu Wati menatapnya, "kamu tidak boleh merasa harus bertanggung jawab atas semua nilai Kevin. Dia pindah kelas untuk belajar, bukan untuk kamu selamatkan."
Sekar mengangguk. "Iya, Bu."
Kevin meliriknya sedikit. Di bawah meja, tangan kirinya menyentuh bekas gigitan. Sekar melihat gerakan itu dan tahu ia sedang mengingat hal yang sama.
Tidak kabur.
Mulai dari satu soal.
Pak Arief berkata, "Saya akan bicara dengan wali kelas Kevin sebelumnya dan kepala sekolah. Kalau disetujui, mulai Senin kamu pindah."
Kevin menatap kertas di meja.
"Pak."
"Ya?"
"Kalau saya pindah, Bryan..."
Pak Arief mengangkat alis. "Bryan bukan paket bundling."
Yola langsung tertawa kecil.
Kevin batuk, telinganya merah. "Maksud saya, dia biasanya bareng saya."
"Bryan tetap di kelasnya. Dia bisa bertemu saat istirahat. Kamu perlu belajar berdiri sendiri juga."
Kevin tidak membantah.
Sekar melihat wajahnya. Ada tegang di sana, tetapi bukan penolakan. Lebih mirip orang yang tiba-tiba diberi pintu dan belum tahu cara masuk tanpa menabrak kusen.
Bu Wati menutup buku catatan. "Baik. Hari ini pulang dulu. Sekar, kabari Oma. Yola, kirim video asli ke Ibu lewat chat pribadi. Kevin, besok pagi datang lebih awal. Kita cek buku catatan birumu."
"Iya, Bu."
Ketika mereka keluar dari ruang guru, matahari sudah turun lebih rendah.
Di koridor, Sekar berhenti.
"Kev."
Kevin menoleh. "Hmm?"
"Kamu tidak keberatan?"
"Pindah kelas?"
Sekar mengangguk.
Kevin melihat ke arah halaman, lalu kembali padanya. "Gue takut."
Sekar tidak menyangka ia akan menjawab sejujur itu.
"Tapi gue lebih takut kalau gue terus di tempat lama dan pura-pura berubah sendirian." Ia mengangkat buku catatan biru dari tasnya. "Kalau pintu dibuka, gue masuk."
Sekar tersenyum pelan.
Dari dalam ruang guru, suara Bu Wati terdengar memanggil Pak Arief untuk menandatangani lembar pengajuan.
Kevin menatap pintu itu, lalu berbisik, seperti bicara pada dirinya sendiri, "Mulai Senin, resmi."