Hasrat adalah sebuah keinginan. Keinginan dalam apapun. Tapi kata "hasrat" biasanya berkonotasi sedikit negatif. Kata itu selalu disandingkan dengan keinginan untuk bercinta.
Sedangkan bagi Abra Ishan Abinawa dia tidak mengenal kata itu. Dia tidak memiliki keinginan untuk berhubungan dengan wanita di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 32 tahun. Menurutnya wanita itu sungguh ribet dan menyusahkan. Terlebih sebuah alergi muncul saat dia bersentuhan dengan wanita. Hingga dia bertemu oleh seorang gadis yang memanggilnya "Om".
Gadis cantik berusia 25 tahun bernama Ciara Kamila Prasojo itu selalu membuat Abra naik darah. Ada saja ulah Ciara yang membuat Abra kehabisan akal.
Apakah akan muncul hasrat dari Abra kepada Ciara?
Lalu kira-kira hasrat seperti apa itu?
Dan, bagaimana dengan alergi Abra?
Cerita ini pol ringan ya guys. Nggak akan ada konflik yang berat. So nikmati aja oke.
HAPPY READING
pict. by pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Presdir Ketus 22
Ciara bekerja seperti biasa, dia tidak melihat adanya Abra di perusahaan tapi dia pun juga tidak akan bertanya mengenai pria tersebut. Perkataan sang papa menjadi acuan dirinya dalam bersikap.
Rencana satu minggu ini untuk menyelesaikan pekerjaannya ternyata malah selesai lebih cepat. 3 hari Ciara bisa menyelesaikan semuanya. Ia lalu menemui AKhza untuk melaporkan pekerjaannya.
" Apakah Pak Akhza mau melihat hasilnya?"
" Saya percaya dengan Anda Nona Ciara. Anda pasti akan mewujudkan keinginan Abra. Sekali lagi terimakasih. Sisa Pembayaran sudah kami transfer. Senang bekerja sama dengan Anda Nona Ciara. Jika kami masih menginginkan Anda untuk membuat design, kami akan menghubung Anda."
" Biaik Pak, dengan senang hati."
Ciara menerima uluran tangan Akhza untuk berjabat tangan. Dia sungguh puas dengan hasil yang di dapat. Ciara kembali ke ruangannya dan mengambil beberapa barangnya. Ia juga sekali lagi melihat ruang yang ia kerjakan. Sebuah senyuman mengembang menandakan bahwa dia puas atas hasil kerjanya sendiri.
Perlahan Ciara masuk ke dalam ruang istirahat. Seketika bayangan saat ia berciuman dengan Abra terlintas. Ia kembali mengingat hal itu, namun secepat mungkin menggelengkan kepalanya.
" Tidak, itu hanya sebuah kesalahan. Itu kecelakaan saja. Tidak ada rasa di sana. Sudahlah, waktunya untuk pergi dari sini."
Ciara membawa kembali semua peralatan yang ia pakai. Ia melihat sekali lagi ruangan tersebut lalu berjalanan menjauh. Ciara tidak lagi menengok ke belakang. Saat hendak akan masuk ke dalam lift, Wanti datang menghampiri.
" Lho Mbak Ciara mau kemana?" Wanti jelas terkejut saat Ciara membawa barang-barangnya.
" Eh Mbak Wanti, itu mbak saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya. Dan sudah waktunya saya pergi, terimakasih Mbak Wanti sudah baik dengan saya. Semoga Mbak Wanti dan Pak Abra suka dengan ruangan yang saya design. Sampai jumpa Mbak Wanti."
Wanti mengangguk dan tersenyum kaku. Ada sesuatu yang hilang, tapi apa dia tidak tahu. Dan tiba-tiba dia merasakan firasat yang buruk.
Tapi kepergian Ciara tentu membuat seseorang senang. Siapa lagi kalau bukan Belinda. Wanita itu tersenyum lebar mengetahui pekerjaan Ciara sudah selesai.
" Bagus, dia pergi lebih cepat jadi dia tidak akan lagi menjadi penghambat bagi diriku mendekati Abra," desis Belinda pelan. Ia sangat bahagia, jelas sekali terpancar dari raut wajah dan sorot matanya.
Di Kota K, Abra tengah berkutat dengan pekerjaan yang belum juga selsai. Kali ini bukan maslaah tikus kantor, tapi memnag ada kesalahan dalam proses pengiriman barang. Human Eror, yakni yang seharusnya dikirim ke negara K tapi dikirim ke negara J, Padahal jumlah permintaan briket mereka berbeda, maka dari itu permasalahan tersebut tidak bisa diselesaikan dalam waktu satu hari.
Bahkan Abra harus berkunjung ke dua negara itu untuk langsung meminta permohonan maaf, tapi beruntung mereka memaklumi dan tidak mempermasalahkan hal tersebut. Hanya saja Abra harus memberikan kompensasi karena salah pengiriman ini.
" Huuuh, 3 hari yang melelahkan," keluh Abra.
" Tenang bos, dua hari lagi pasti selesai kok. Mau pijat refleksi?"
" Cowok apa cewek yang mijet?"
" Cowok lah bos, kan saya tahu bos nggak suka disentuh-sentuh oleh cewek."
" Siip Boleh."
Abra langsung mengiyakan tawaran Billy saat tahu bahwa yang melakukan pijet refleksi adalah seorang pria. Di hotel yang mereka tempati ternyata ada spa dan pijat refleksi, sungguh lumayan membuat tubuh merasa lebih nyaman.
Abra sudah mengganti pakaiannya dengan kimono, ia hanya mengenakan celana pendek saja, dan dia juga sudah bersiap tidur tengkurap di atas tempat tidur.
Aroma terapi menyeruak membuat otak dan tubuh terasa begitu rileks. Bahkan Abra mulai memejamkan matanya karena larut dengan aroma terapi yang ia hirup. Tapi seketika dia terkejut saat tubuhnya mulai disentuh oleh sebuah tangan.
" Kok perutku mual, ini pasti ada yang salah. Yang menyentuhku bukan laki-laki. pasti yang menyentuhku adlah seorang perempuan."
Abra langsung membalikkan tubuhnya. Benar saja, yang melakukan pijatan adalah seorang wanita. Dan wanita itu adalah wanita yang ia temui saat pesta perjamuan makan malam bisnis waktu itu.
" Kau, Apa yang kamu lakukan di sini!" teriak Abra. Ia beringsut mundur. Wajahnya menjadi pucat pasi karena perutnya semakin mual saat melihat Liana. Wanita itu hanya mengenakan bikini, hal tersebutlah yang membuat dirinya mual dan seketika itu ingin memuntahkan isi dalam perutnya.
" Abra, aku sungguh menyukaimu. Aku bahkan rela memberikan tubuhku padamu sekarang juga," pinta Liana. Wanita itu matanya sudah berkabut gairah.
Abra membelalakkan matanya, bukannya berhasrat melihat Liana tapi perutnya semakin bertambah mual.
" Badjingan! Kau sungguh menjijikan. Sumpah kau adalah wanita yang paling menjijikan yang pernah aku temui. Hoeeek ... hoek ...!"
Liana terpaku saat melihat Abra yang muntah-muntah parah. Ia juga terkejut saat Abra mengatakan kalimat cacian.
" BILLY! KEMARI SEKARANG JUGA!!!!"
Di sebrang sana Billy langsung berlari. Dari nada suara sang bos bisa Billy simpulkan bahwa Abra tengah dalam kondisi yang tidak baik.
" Bos!!!"
Billy berlari masuk ke dalam. Betapa terkejutnya dia saat melihat Abra terduduk lemas. Bukan hanya itu, dia semakin terkejut dengan wanita yang nyaris telanjang itu di sana.
" Nona Liana Sudibyo, sungguh moral Anda tidak ada. Bagaimana bisa seorang putri dari keluarga terhormat bersikap seperti ini. Dan saya akan menuntut hotel ini. Lihat saja nanti."
Beberapa petugas refleksi ikut masuk saat Billy berteriak. Mereka tentu bingung dengan apa yang terjadi kecuali satu orang. Orang utu bergetar ketakutan. Ia hanya menunduk dalam tidak berani melihat Billy yang tampak begitu murka.
" Bos, aku bawa ke kamar dulu. Setelah ini aku akan mengurusi orang-orang yang tidak becus bekerja!"
Tidak ada yang tahu, seorang Billy ternyata bisa menyeramkan itu. Liana bahkan sampai menjatuhkan dirinya ke lantai. Dia sengaja mengikuti Abra, dia tahu Abra pergi ke kota K dan mengikutinya sampai ke hotel tersebut. Dia juga menunggu momen yang pas, yakni saat Abra ingin melakukan pijat refleksi.
" Habis, aku pasti akan habis kali ini," gumam Liana lirih.
TBC
Terima kasih utk karyanya Kak, sehat2 slalu 🙏🏼💐💪🏼