"Ini hidupku.Hidup yang perjuangin mati-matian. Hidup ini milikku. Kalian gak berhak ikut campur di dalamnya."
"Kembali kamu Ganesha!"
~~~~~~~~~~~~~
"Aku..hh..gak peduli. Uhuk..meski harus mati sekalipun. Aku cuma mau pulang!"
~~~~~~~~~~~~~
Ganesha Aldean Tirtayasa. Remaja 16 tahun yang mencintai rumahnya lebih dari apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon deelyure, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22.Cok Cibuk Huuu
Ganesha, si bayi gembul yang tengil itu tengah berguling-guling di atas kasur yang ada di kamar Roy sekarang. Sementara si pemilik kamar tengah mandi saat ini.
Kerutan berlapis di kening bocah itu terlihat jelas. Tampaknya ia tengah berpikir keras. Dia kepikiran dengan kedua babunya yang udah dua hari gak nampak batang hidungnya di rumah. Mereka mati juga apa gimana?
Bruk!
"GANESHA!"
"HUWAAAAAA LOYYYY!"
........
"Hiks, enjol." (Hiks, benjol.)
Roy menghela nafas pelan dan mengambil tangan anak itu yang sedari tadi menekan-nekan kepala belakangnya yang katanya benjol.
"Mau daddy kompres?"
Ganesha menggeleng pelan dengan bibir melengkung ke bawah. Badannya encok gegara jatuh dari ranjang Roy yang tinggi gak ngotak.
Bukan ranjangnya yang tinggi, tapi Ganesha aja yang kelewat pendek. Lagian itu ranjang juga gak salah apa-apa. Salahnya bocah itu yang guling-guling gak jelas sampe gak nyadar kalau posisinya udah ke pinggir banget.
Jantung Roy mau copot rasanya ketika baru keluar kamar mandi ia justru melihat anaknya yang terjun bebas dari tempat tidur. Untung lantai di bawahnya dilapisi karpet yang lumayan tebal. Kalau tidak, Roy tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi kalau anaknya terjatuh ke atas lantai keramik yang keras itu.
"Mau abang...." Lirih anak itu pelan sambil menyandarkan tubuhnya di dada Roy.
"Abang-abang mu lagi ikut kemah. Besok baru balik. Sama daddy aja dulu, ya?"
Ganesha mencebik dengan bibir bergetar, "Daddy dah ati." (Tl: Daddy udah mati.)
Roy memejamkan matanya sesaat. Sabar, dia harus banyak-banyak sabar. Lagipula ini terjadi juga karena salahnya, "Iya. Sama Roy, bukan daddy."
Ganesha menggeleng, "Cam, aja." (Tl: Sam, aja.)
Roy mengusap pelan punggung anaknya yang masih sesenggukan itu, "Sam libur dulu hari ini. Dia lagi pulang kampung."
Ganesha mendongak dengan mata memicing, "Pucing, Loy."
Roy mengulas senyum. Tangannya beralih mengusap kepala belakang anaknya itu.
"Mau cucu...."
"Kalau begitu daddy buatkan sebentar."
"Ndak jadi."
Roy tidak jadi berdiri dan kembali mengusap-usap punggung anaknya itu dengan sayang. Diamat-amatinya wajah si bungsu yang makin kesini makin mirip istrinya. Hatinya sakit bila teringat mendiang wanita yang amat ia cintai itu. Namun entah mengapa wajah polos anak ini seakan bisa mengobati sakit hatinya dengan mudah.
"Kamu tau Ganesh?"
Ganesha yang mulanya mau memejamkan mata, mendongak menatap ayahnya itu yang barusan bicara.
"Kamu adalah harta paling berharga yang kami miliki di rumah ini. Harta berharga daddy dan mommy yang nilainya tak tergantikan melebihi apapun di dunia ini."
Ganesha terpaku untuk beberapa saat. Ia menenggelamkan wajahnya di dada sang ayah. Dengan tangis tertahan ia lalu berbisik pelan.
"Maacih. Nesh, cayang daddy, mommy, dan abang cemuana." (Makasih. Ganesh sayang daddy, mommy, dan abang semuanya.)
Roy tersenyum dengan mata memanas. Ia menunduk, mengecup lama puncak kepala anaknya itu.
"Daddy juga, boy. Daddy sayang kamu. Kamu harus tau bahwa kamu amat dicintai di keluarga ini. Kami semua menyayangimu, malaikat kecil kami yang amat berharga."
Ganesha menangis memeluk erat ayahnya itu. Cukup beberapa kalimat dari Roy menjadi penawar dari rasa sakit yang Ganesha bawa dari kehidupannya dulu. Setidaknya dia sekarang tau, bahwa tidak ada seorangpun yang pernah menyesalkan lahirnya dia ke dunia ini. Dia diterima dengan cinta besar yang keluarganya miliki untuknya. Yang tak akan pernah berubah walau berapa kali pun Ganesha harus mengulang kembali hidupnya.
.
.
.
"Meleka Capa?" (Tl: Mereka siapa?)
Telunjuk Ganesha mengacung pada dua pemuda yang menatapnya dengan memelas. Ia menatap Roy yang duduk memangku laptop di sebelahnya meminta jawaban.
Roy mengedikkan bahu acuh, "Gak tau."
"Dad...." Cakra menatap hina ayahnya itu. Bukannya ngebantuin malah memperkeruh suasana bapak ini. Seneng apa anak-anaknya pada terpecah belah?
"Ganesh, maaf abang perginya gak bilang-bilang. Sebagai permintaan maaf, nanti abang beliin es krim mau?" Bujuk Leo berusaha menawarkan sogokan.
Yang sayangnya langsung ditolak mentah-mentah oleh Ganesha, "Ndak mau."
"Trus kamu maunya apa? Biar abang beliin," Cakra mendekat pada adiknya itu dengan binar mata penuh harap.
Ganesha berfikir sebentar sambil tangannya menepuk-nepuk iseng sofa yang didudukinya, "Ndak tau." Katanya kemudian membuat Cakra dan Leo mendesah kecewa.
"Adeeekk maafin abang, ya, ya, ya?" Bujuk Cakra masih tak menyerah. Ia yang duduk di lantai, memeluk adiknya yang duduk di sofa. Menatap anak itu dengan wajah memelas minta dikasihani.
Lain halnya dengan Leo yang nyelonong pergi gitu aja. Ganesha pikir abangnya itu sudah bosan dan menyerah membujuknya. Tapi taunya lelaki itu muncul lagi sembari mengangkat tinggi bahan sogokan di tangannya.
"Dek, mau ini gak?"
Ganesha spontan berdiri di sofa, "Cucuuu? Mauuuuu...." Ia menghambur ke pelukan Leo dengan suka rela, "Cayang Yoyooo hehe...." (Tl: Susuuu? Mauuuuu.... Sayang Yoyo, hehe)
"Sayang adek juga," Balas Leo mengecupi wajah adiknya yang langsung sibuk mengisap dot itu. Terserahlah anak itu mau manggil dia gimana, yang penting adiknya gak marah lagi aja Leo udah legowo.
Cakra menoel-noel lengan adiknya yang kini berada di pangkuan Leo itu, "Kalau abang Cakra, disayang juga gak dek?"
Ganesha melepas dotnya sebentar, "Ndak. Lu jeyek." (Tl: Gak. Lu jelek.)
Cakra mencengkram dadanya dengan dramatis, "Nyelekit banget omongan mu dek. Lagian belajar bahasa gaul dari siapa kamu, hm?" Tanyanya sembari mengunyel-unyel pipi Ganesha yang bergerak seperti tupai saat menyedot susu di dotnya.
Si bayi ketawa aja digituin abangnya, "Dwali Cwam," Jawabnya lagi-lagi menfitnah manusia tak bersalah itu dengan mulut tak lepas dari dot favoritnya. (Tl: Dari Sam.)
Roy yang semula sedang mengetik langsung berhenti dengan kening berkerut. Ia menatap anak-anaknya itu, lebih tepatnya pada Ganesha yang anteng di pangkuan Leo, "Kayaknya daddy harus menjauhkan kamu dari Sam mulai sekarang."
Ganesha menggeleng heboh, "Ndak boyeh! Oyang jaat nii...." Serunya menabok lengan Roy. (Tl: Gak boleh! Orang jahat nii..."
"Emang Sam kamu itu gak jahat?"
"Cam baik! Ndak tayak daddy dan abang-abang yang cok cibuk, huu!" (Tl: Sam baik! Gak kayak daddy dan abang-abang yang sok sibuk, huu!)
Roy kicep. Leo cuman cengangas-cengenges. Sementara Cakra menarik pipi berlemak si bungsu yang tengil itu.
"Bukan sok sibuk, tapi emang beneran sibuk."
"Blicik, Cakla!" (Tl: Berisik, Cakra!)
Dan Cakra pun menjadi bungkam. Dalam hati mbatin. Adeknya kecil aja udah begini, gedenya bakal ngelunjak pasti.
....
Berkat usaha Ganesha yang meski sedikit kurang ajar mengatai ayahnya mati padahal pria itu masih sehat bugar dan gak sekarat, ia berhasil menarik perhatian Roy dan membuat bapak-bapak satu itu menjadi pengikut setianya. Dan untuk sedikit membumbui, Ganesha mau biki bapaknya itu mengiri sejenak biar nanti dia pikir-pikir lagi kalau mau nelantarin anak.
"Caaaammmmmm!!!"
Kaki pendek Ganesha berlari di lobi kantor sang ayah begitu matanya melihat sosok Sam yang sedang plonga-plongo.
"Tuan mudaaaa....."
Ganesha ketawa iblis dalam hati. Sam emang peka, enak diajak kerja sama. Pria itu bahkan sudah bejongkok merentangkan tangan dengan senyum lebar bersiap menyambut pelukan Ganesha dengan dramatis.
Tapi, begitu mendapat tatapan mematikan dari Roy yang berjalan di belakang Ganesha, Sam buru-buru berdiri. Hingga berakhir Ganesha menduburk kaki jenjang pria itu dan terpental ke belakang.
Bruk!
"Aduh! Cialan!" (Tl: Aduh! Sialan!)
Sam melotot mendengar umpatan yang keluar dari mulut bayi gemoy itu. Hei! Dari mana anak dua tahun ini belajar kata-kata kasar itu? Sementara itu selagi Sam bertanya-tanya, Roy yang sudah sering menapat laporan kalau bungsunya belajar kata-kata kasar dari asistennya itu menatap tajam Sam seakan siap membunuhnya saat itu juga.
Berani sekali bajingan tengik ini mengotori putra kecilnya yang bak malaikat, pikirnya. Gak tau aja dia tanpa anaknya disesatin pun bocah itu udah sesat dari sononya.
"Menjauh dari putraku dalam radius sepuluh meter!" titah Roy setelah mengangkat anaknya yang duduk mengelus-elus pantat di latai.
Sam yang mendapati tatapan tak mengenakkan dari bosnya itu spontan saja melangkah mundur dengan teratur. Dalam hati ia menangis, memikirkan dimana letak salahnya sehingga membuat si bos begitu murka.
Poor Sam.
Sementara Ganesha yang berada dalam gendongan ayahnya melambai-lambai pada Sam yang berjalan jauh di belakang mereka, "Hm, daddy?"
Roy memencet tombol lift menuju ruangannya, "Kenapa nak?" sahutnya.
"Cam ditindal? Cacian," ujar anak itu ketika melihat pintu lift tertutup tapi Sam hanya berdiri di luar tidak ikut masuk bersama mereka. (Tl: Sam ditinggal? Kasian)
"Biar aja. Dia lagi daddy hukum," ujar Roy setelah mengirim pesan pada Sam yang isinya kira-kira begini; 'LEWAT TANGGA! JANGAN BERANI-BERANINYA NAIK LIFT!'.
Ganesha mendongak menatap ayahnya itu, "Cam buwat calah?" (Tl: Sam buat salah?)
Roy mengangguk, "Iya." sahutnya singkat.
"Hm...." Ganesha bergumam random sembari menyandarkan sebelah pipinya di pundak sang ayah. Ia menatap dinding lift yang menantulkan bayangannya. Tangan kecilnya menepuk-nepuk pelan dinding itu, "Danten, hehe...." pujinya pada bayangannya sendiri. (Tl: Ganteng, hehe...)
Roy yang kurang paham maksud omongan anaknya mau bertanya. Tapi urung begitu pintu lift terbuka. Kaki panjangnya yang berbalut celana bahan melangkah keluar segera menuju ke ruangannya. Saat ia meraih gagang pintu Sam muncul dengan ngos-ngosan.
Roy agak takjub sih asistennya itu bisa sampai secepat ini dengan lewat tangga. Tapi dia sudah gak heran lagi mengingat dulunya Sam adalah seorang atlet lari. Ia mengedikkan bahu acuh dan masuk diikuti oleh Sam yang masih terengah-engah.
"Apa jadwal untuk hari ini?" tanya Roy duduk di kursi kebesarannya dengan si bungsu di pangkuannya.
"Jam sepuluh--haahh, ada rapat bulanan, lalu...." jelas Sam cepat menyebutkan jadwal yang sudah dihapalnya di luar kepala. Sam itu memang bawahan Roy yang punya otak yang brilian, namun nasibnya sering sial makanya hidupnya agak sengsara begitu.
Roy melirik jam dipergelangan tangannya, "Masih ada waktu sebelum rapat. Siapkan kudapan untuk Ganesha---"
"Cucu uga!" serobot Ganesha yang tadi asik memencet-mencet keyboard di meja kerja ayahnya. (Tl: Susu juga!)
Roy mengangguk mengecup singkat pipi gembul anak itu, "Iya, susu juga."
Sam mengangguk kemudian segera melaksanakan titah bosnya.
................
aku jadi kangen sama bokem ku yang ini