Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
"Jika kamu bersedia maka aku akan menghubungi calon suamiku sekarang." Tutur Georgina saat melihat Reka masih diam saja, seperti sedang berpikir.
"Baiklah. Akan aku coba, semoga nantinya kinerjaku tidak sampai mengecewakan calon suami kamu." Setelah cukup lama berpikir, Reka akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan dari Georgina. Mungkin ini jalan Tuhan untuk mengembalikan jati dirinya yang seperti sebelumnya, begitu pikir Reka.
Georgina tersenyum senang. Wanita itu lantas merogoh tasnya untuk mencari keberadaan ponselnya.
Tak butuh waktu lama, panggilan Georgina pun tersambung pada seseorang.
"Sayang...." Seruan Georgina mampu memancing kerutan halus di dahi seorang pria yang berada di seberang telepon.
"Ada apa, Geo?."
"Bukankah saat ini ada beberapa posisi yang masih kosong di divisi pemasaran. Aku berniat merekomendasikan temanku untuk menempati posisi itu, kamu tidak keberatan kan?."
"Temanku sangat berkompeten di bidang itu. Aku jamin, kamu pasti tidak akan kecewa, Sayang."
"Terserah kamu saja!." Tak butuh waktu lama bagi Georgina untuk mendapat persetujuan dari calon suaminya.
Georgina tersenyum senang.
"Kamu diterima, Reka. Selamat ya...." Georgina menggenggam tangan Reka yang berada di atas meja.
"Terima kasih banyak, Geo. Mungkin sampai kapanpun aku tidak akan sanggup membalas kebaikan kamu padaku, tapi aku akan selalu berdoa semoga Tuhan membalas kebaikanmu ini.
"Aamiin...." Ibnu ikut mengaminkan doa tulus yang terucap dari mulut Reka untuk Georgina.
Kurang lebih satu jam kemudian, Reka meninggalkan restoran dengan perasaan lega. Akhirnya besok ia tak perlu mengelilingi kota jakarta untuk mencari pekerjaan baru, karena mulai besok ia akan bekerja di perusahaan LF Group.
Sebelum kembali ke kontrakannya, Reka mampir dulu ke suatu tempat.
Kedatangan Reka disambut oleh tatapan berbinar dari seorang bayi laki-laki berusia satu tahun dua bulan yang saat ini tengah berada di gendongan salah seorang pengasuh di sebuah yayasan penitipan anak.
"Mom-my....." Seruan itu selalu menjadi pelipur hati serta penghilang rasa penat dihati Reka setelah seharian bekerja.
"Sayang...." Reka mengambil alih bayinya dari gendongan pengasuh yayasan.
"Apa hari ini Richard rewel, Bu?." Pertanyaan yang hampir setiap hari ditanyakan oleh Reka kembali dilontarkan wanita itu pada pemilik yayasan.
"Seperti biasa, Richard selalu anteng. Dia seolah paham bahwa ibunya harus menanggung beban hidup yang cukup berat, sehingga tidak ingin menambahkannya lagi dengan sikap rewelnya." Sudah saling kenal sejak setahun lalu membuat hubungan pemilik yayasan dan Reka cukup dekat, hingga wanita berusia paruh baya itu tak sungkan mengucapkan kalimat pelipur pada Reka.
Reka merespon nya dengan senyuman kecil.
"Terima kasih banyak untuk semua kebaikan ibu selama ini kepada saya dan juga Richard." Balas Reka. Jika ia terlambat gajian, ibu yayasan pasti akan mengerti dan memberi kelonggaran waktu pada Reka untuk membayar biaya penitipan sehingga Reka tak harus kelimpungan mencari pinjaman kesana-kemari.
"Sama-sama, Reka. Ibu hanya bisa membantu seadanya, nak." Balas ibu yayasan.
Mengingat ia harus mempersiapkan segala keperluan untuk mulai bekerja di tempat baru besok, Reka lantas berpamitan pada pemilik yayasan.
Dengan menumpangi ojek online, Reka dan putranya menuju kontrakan.
Selama dua tahun ia hidup tanpa arah, hanya putranya lah satu-satunya tujuan hidup Reka. Walaupun menurutnya hingga detik ini ia belum sanggup memberikan kehidupan yang layak bagi putranya, namun Reka tidak pernah putus asa untuk terus berjuang demi memberi kehidupan yang layak bagi putranya.
*
Keesokan Paginya.
Reka sudah siap dengan pakaian kerjanya. Untuk hari ini sedikit berbeda, Reka mengenakkan pakaian semi formal karena pekerjaannya saat ini menuntutnya untuk berpenampilan seperti itu. Setelah mengantarkan putranya ke tempat penitipan anak, Reka lanjut menuju gedung LF Group dengan menumpangi ojek online. Ya, menurut Reka dengan menggunakan ojek online ia bisa sedikit mengirit pengeluaran ketimbang menggunakan taksi online.
Di dukung oleh pengalaman yang cukup mumpuni membuat Reka tidak mendapat kesulitan berarti di hari pertamanya bekerja. Bahkan semua rekan kerja setimnya pun terbilang baik padanya dan hal itu membuat Reka merasa nyaman di tempat kerja barunya.
*
Tanpa terasa sudah tiga hari Reka bekerja di perusahaan LF Group dan pagi ini kabarnya pimpinan perusahaan telah kembali ke tanah air.
"Reka...." Ibnu baru saja memasuki ruangan divisi pemasaran. Selaku atasan Reka, Ibnu hendak menyampaikan pesan dari pimpinan serta calon istrinya yang meminta Reka menghadap ke ruangannya.
"Iya, pak." Di lingkungan kerja Reka memanggil Ibnu dengan sebutan bapak. Semua itu dilakukan oleh Reka demi menjunjung tinggi formalitas kerja.
"Hari ini pimpinan sudah kembali dan beliau meminta kamu untuk menghadap ke ruangannya. Kebetulan di ruangan pimpinan ada nona Georgina juga." Kalimat kedua Ibnu bertujuan agar Reka tidak terlalu tegang, mengingat selama bekerja di sana Reka sempat mendengar informasi dari beberapa pegawai bahwa bos mereka terkenal dengan sikapnya yang dingin.
"Baik, pak." Reka menyiapkan diri sebelum bangkit dari kursi kerjanya. Tidak dapat dipungkiri, Reka sedikit nervous, khawatir pimpinan perusahaan tidak puas dengan kinerja nya selama beberapa hari ini.
Dengan irama jantung yang berdetak lebih cepat, Reka mulai melangkah keluar dari ruangannya, menyusuri koridor gedung hendak menuju ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lantai eksekutif.
Reka berdiri mematung di depan pintu ruangan pimpinan perusahaan, menghela napas panjang kemudian menghembusnya perlahan demi mengurangi perasaan nervous yang kini dirasakannya. Setelah merasa lebih relaks, Reka lantas mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Tok....Tok....Tok...."
"Masuk...." Dari balik pintu, Reka mendengar suara Georgina berseru dari dalam ruangan.
"Syukurlah ada Georgina di dalam sana." Batin Reka seraya mengusap dadanya, sebelum sesaat kemudian memutar handle pintu.
Ceklek....
Deg.
Kelegaan yang sempat dirasakan oleh Reka langsung lenyap tak berbekas saat menyaksikan sosok pria tampan yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu nampak sibuk dengan berkas di meja kerjanya. Sungguh, Reka tiba-tiba merasa kedua kakinya tak sanggup menahan beban tubuhnya. Namun begitu, Reka berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Jadi calon suami Georgina adalah mas Leon." Batin Reka.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Reka?." Georgina mendekat dan memeluk Reka barang sejenak.
"Alhamdulillah, kabar baik." Reka mengusahakan agar tidak sampai terbata saat menjawab pertanyaan Georgina.
"Leon, ini temanku yang pernah aku ceritakan padamu tempo hari. Sudah tiga hari terakhir, Reka bergabung di perusahaan LF Group." Kata Georgina mengenalkan Reka pada Leon selaku pimpinan perusahaan.
"Selamat pagi, tuan." Dengan perasaan yang sulit dideskripsikan, Reka membungkuk singkat pada Leon. Seandainya saja ia belum menandatangani kontrak kerja dengan pihak LF Group, mungkin Reka sudah meninggalkan gedung itu sejak tadi. Ya, di dalam kontak kerja tertera, apabila ia berhenti atau mengundurkan diri sebelum kontak kerja selesai maka Reka akan dikenakan biaya ganti rugi dan nominalnya tidaklah sedikit.
Tak ada respon berlebihan dari mantan suaminya itu. Leon hanya melirik sejenak padanya kemudian mengangguk singkat atas ucapan calon istrinya, Georgina. Tatapan hangat penuh cinta yang dahulu untuknya, kini seolah lenyap tak berbekas. Bibir ranum yang dahulu kerap kali mengutarakan cinta, kini seakan tak sudi untuk sekedar menyapa dirinya. Sungguh, sikap Leon saat ini seolah menunjukkan bahwa mereka tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
"Kenapa hatimu kecewa, Reka? Bukankah dulu kamu sendiri yang berpesan pada mas Leon untuk bersikap seolah kalian tak pernah saling mengenal satu sama lain, jika suatu hari bertemu kembali." Batin Reka. Wanita itu diam mematung dengan tatapan kosong.
"Saya berharap selama menjadi pegawai LF Group, anda bisa mendedikasikan diri dengan sepenuh hati!." Setelah lama hanya diam saja, akhirnya kalimat tersebut terucap dari mulut seorang Leonardo Fernandez selaku pimpinan sekaligus pemilik perusahaan LF Group.
"Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk berpartisipasi memajukan perusahaan ini, tuan." Reka menjawab sesuai dengan kebutuhan atas perkataan Leon selaku bosnya.
Ibnu lebih gila lagi...
ngakak aku nya...