NovelToon NovelToon
After Reunion

After Reunion

Status: sedang berlangsung
Genre:Teman lama bertemu kembali
Popularitas:231.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mak Nyak

Reuni, ajang bertemunya kembali dengan kawan lama. Tidak jarang, ajang ini dijadikan momen pamer kekayaan dan kekuasaan. Apakah mungkin, kisah cinta lama dapat bersemi kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Nyak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diusir

Pov : Tompi

Aku memilih bungkam dan fokus menyetir. Hatiku sakit jika mamah seperti ini. Tapi ini sudah keterlaluan. Kenapa tidak membiarkanku memilih sendiri jalan hidup ini?

Saat sampai di rumah, aku langsung turun mobil. Meninggalkan mamah seorang diri turun dari kendaraan roda empat itu. Dimana harga diriku? Aku ini laki-laki. Aku ditempa dalam pendidikanku untuk prihatin atas hidup.

Namun, kenapa justru mamah yang selalu memanjakanku? Kupilih mengunci diri di dalam kamar. Menenangkan pikiran yang sudah meledak karena orang tuaku sendiri. Aku mengingat jelas keadaan Mina. Separah itukah?

Di satu sisi aku kasihan dengan wanita itu. Masalah apa yang membuatnya sampai sakit seperti itu? Di sisi lain, mengingat nama Mina menjadikanku marah. Marahku karena mamah sudah keterlaluan.

Me : Lagi apa? Hibur aku dong.

Aku butuh orang yang akan mendengarkan kekesalanku. Kupilih menghubungi wanita yang kucintai. Ada panggilan video masuk. Segera kuangkat dan mengobrol dengannya.

"Kenapa, Mas?" tanya Widya sambil memangku dagunya.

"Lagi apa?"

Widya tersenyum, "Lagi nemenin calon suami yang katanya lagi kesel, nggak tahu sama siapa."

Kami tidak banyak bicara. Lebih banyak saling pandang untuk mengerti hati masing-masing. Widya memintaku untuk tidur dan melupakan kejadian yang mengesalkan itu.

"Tidurlah, Mas. Aku temankan dari sini." Widya tahu cara menenangkanku. Dia tidak akan bertanya sebelum aku sendiri yang akan menceritakan masalahku.

Aku memilih tidak mengatakannya karena malu. Aku menurutinya, kupilih tidur untuk menenangkan pikiranku.

Hari berganti tapi aku masih enggan untuk bicara dengan mamah. Inilah kemarahanku jika sikap mamah sudah keterlaluan. Waktu itu hari minggu. Kupilih hanya di rumah. Tiba-tiba tante Rus dan om Sus datang.

Aku menemui mereka dan bertegur sapa. Kutanyakan kabar Mina. Om Sus dan istrinya minta maaf ke aku dan mamah. Mereka hendak membatalkan rencana perjodohan itu.

Alhamdulillah jika mereka sadar. Mamah hanya bisa mematung mendengarnya. Setelah kepergian om Sus dan tante Rus, aku memilih kembali ke kamar.

"Tom, duduk. Mamah mau bicara," pinta Mamah halus.

Kuturutkan keinginannya itu. Entah apa yang akan dikatakannya. Aku berharap mamah minta maaf padaku. Berjanji akan berhenti ikut campur dalam urusanku.

"Mamah minta maaf," lontar Mamah terdengar tegas. "Maaf menjodohkanmu dengan wanita yg kurang waras."

Akhirnya, mamah sadar juga. Aku mengangguk, "Tompi maafkan, Mah. Tolong jangan diulangi lagi."

"Iya, Mamah akan mencarikanmu wanita yang pantas untuk menemanimu."

Aku berdecak. Apa ini? Bukankah mamah baru saja minta maaf? Heran aku.

"Stop, Mah! Tompi nggak mau! Tompi ini punya pilihan sendiri. Tompi cinta sama Widya, Mah. Tolong berikan restu pada kami."

Aku lelah mengikuti semua keinginan mamah. Orang tuaku semakin menjengkalkan, "Mamah tidak mau memiliki mantu Widya."

"Kenapa?"

"Dia tidak pantas dan tidak akan bisa mendampingimu dalam jenjang karirmu."

Aku memperjelas lagi kalimat yang baru saja terlontar dari mulut mamah. "Tidak pantas dan tidak bisa? Maksud Mamah, Widya itu tidak memiliki kuasa untuk membawaku naik pangkat?"

"Itulah maksud Mamah! Mamah hanya tidak ingin kamu kesulitan. Wanita ini hanya ingin melihat anak-anaknya bahagia!"

Kutatap mata Mamah tajam. "Tompi ini sudah besar. Tahu cara untuk meraih pangkat yang lebih tinggi. Jangan suka ikut campur, Mah."

"Putuskan hubunganmu dengan janda itu. Mamah tidak sudi menerimanya sebagai menantu! Kamu pilih dia atau Mamah?"

Ingin rasanya aku membanting sesuatu. Kemarahanku semakin memuncak. Aku tidak mau memilih antara mamah dan Widya. Aku sangat menyayangi mereka. Rasa cintaku sama besarnya terhadap kedua orang itu.

"Kalau kamu sayang sama Mamah, tinggalkan dia. Tapi, kalau kamu memilihnya, silahkan tinggalkan rumah ini."

Deg! Apakah mamah baru saja mengusirku? Mamah hendak pergi dan mengakhiri obrolan kami.

"Tompi pilih Widya, Mah. Maaf membuat Mamah kecewa. Tompi akan segera pergi."

Aku melenggangkan kaki menuju bilik kamarku. Meninnggalkan mamah yang masih mematung disana. Kukemasi barang-barangku ke dalam koper besar milikku. Segera keluar kamar setelah beres semua.

Aku mencari keberadaan Mamah, tapi nihil. Ya sudahlah, toh ini yang mamah inginkan. Aku pergi dari rumah menuju perumahan yang sudah lama aku beli, tapi jarang ku tempati.

Aku menghubungi Widya dan mengirimkan alamat rumahku. Memintanya membawa orang untuk membantuku membersihkan rumah itu. Ternyata yang datang Gandi bersama seorang wanita setengah baya.

"Mamah nggak ikut?" tanyaku saat anak itu menyalami tanganku.

"Nanti mamah kesini. Ada pasien mau lahiran, Om." Gandi meletakkan makanan di meja.

Aku sedikit menyunggingkan senyumku. Kuajak dia pergi berbelanja untuk membeli peralatan mandi dan kebutuhan rumah. Layaknya seorang anak dan ayah, kami memilih barang-barang itu.

Aku senang, Gandi semakin dekat denganku. Jika kemarin ekspresinya masih datar, kini anak itu sudah bisa menyuguhkanku senyuman manisnya. Rumahku lebih segar setelah dibereskan. Gandi masih membantuku menata pakaian di lemari.

"Om kenapa pindah kesini?" tanyanya.

"Tidak apa-apa. Om beli rumah ini dulu, tapi jarang ditempati karena harus menjaga mamahnya Om."

Gandi hanya manggut-manggut. Setelah selesai mereka pamit pulang. Aku memilih untuk rebahan sebentar di ranjang. Tidak lama ada yang mengetuk pintu rumahku.

Widya datang membawa makanan lagi di kanan kirinya. Dia segera menatanya di dalam kulkas. Kubiarkan ia melakukan itu. Memilih rebahan di kursi dan bermain ponsel wanitaku.

Ini lagi satu hal yang membuatku kesal. Widya masih saja menjalin komunikasi dengan Han. Meskipun balasannya hanya ya dan tidak, aku tetap tidak suka.

Panggilan masuk dari Han. Aku memilih mengabaikannya. "Wid, telepon dari ayang bebmu tuh!"

Dia malah tersenyum melihatku kebakaran jenggot karena api cemburu. Widya duduk dan memilih menolak panggilan itu. Kurebahkan kepalaku di pangkuannya. Tangan lembut itu mulai menyusuri rambut cepakku.

"Aku diusir sama mamah," ucapku cepat.

"Sabar, kamu buat kesalahan apa?" Wanita itu kini memijat kepalaku. Ah, enaknya.

"Aku menolak dijodohkan dan lebih memilih kamu."

Dia tidak berkomentar apapun. Kupejamkan mata dan menikmati pijatan itu. "Maaf membuatmu seperti ini," lirihnya suara itu sampai aku hampir tidak mendengarnya.

Kubuka mata dan beradu pandang dengannya. Aku tidak butuh maafnya. Yang aku perlukan adalah dia mendampingiku dan mendukung keputusanku.

"Aku tidak butuh maafmu. Bukan kamu yang salah atas hal ini. Aku butuh semangat dan dukungan darimu, Widya."

Dia melemparkan senyum ke arahku. Lalu mengangguk. "Mau makan? Aku siapkan ya?"

Aku menggeleng. Bukan perutku yang lapar, tapi hawa yang ada dalam diriku yang sedari tadi meraung-raung minta diberi makan. Sentuhan tangan lembut wanita ini mampu memberikan sengatan di aliran darahku.

"Aku ingin memakanmu, boleh?" tanyaku menggoda. Widya malah tertawa cekikan. Aku bangkit dari pangkuannya lalu mendorong tubuhnya ke punggung kursi. Dia mulai ketakutan.

"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Widya mulai panik.

"Yang lapar bukan perutku, Yang. Hawa panas di dalam tubuhku ingin sesuatu darimu."

Widya mencoba mendorong tubuhku, tapi gagal. Kucengkeram erat tangan wanitaku. Mulai kudekatkan bibir ke arahnya. Dia menutup matanya. Semakin kutepis jarak antara kami berdua.

Cup. Kulayangkan ciumanku ke dahinya. Aku masih mencoba mengendalikan diriku. Lalu aku melepaskan cengkramanku. Duduk bersebelahan dengannya.

Kudengar helaan napasnya. Lalu dia memeluk tubuhku. "Lebih banyak bersabar, ingat umur. Mamah belum bisa menerimaku, bukan? Sama, abahpun belum mampu menerimamu, Mas."

"Iya, Sayang. Blokir nomor Han. Aku tidak suka kamu masih menjalin komunikasi dengannya."

Widya mengambil ponselnya dan memberikan padaku. Kublokir nomor lelaki itu agar tidak mengganggu calon istriku.

"Boleh cium tidak?" pintaku.

Widya malah mencubit perutku dengan keras. Inilah pilihanku, aku akan memperjuangkannya, dan menjaga apa yang seharusnya aku jaga.

1
Ari Utami Ningsih
Luar biasa
Ari Utami Ningsih
Lumayan
Sri Lestari
andai anakku ketemu jodoh sprti tompi...
alhamdulillah...
Mukmini Salasiyanti
klrga cemara??
pinus kaliiikkkkk

wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
lahhh
ini mmg abangnya yg gimanaaaa gituh
bikes!!
bikin kesel!!!
Mukmini Salasiyanti
eng ing eng......
fighting!!!!!


wkwkwk
Mukmini Salasiyanti
wowwwwww
kereeeen!!!!?
martina melati
versi laki2 widya y
martina melati
bikanny pusing krn soal matematika???
martina melati
saling tekan menekan nih...
martina melati
kalo dkota sdh hilang tuh sepeda dan motor
martina melati
cara gentelment y pria vs remaja lelaki (man vs boy)
martina melati
hahaha...
martina melati
kan grouo cerdas band.../Grin/
martina melati
acara reuni pas smp ato smu bahkan kuliah sdh tidak ku ikuti lagi... artiny jika gk celutuk y dsentil bahkan dbully gt.. bikin emosi bergejolak... blm lg jika ada cinta tumbuh bersemi lagiii...
martina melati
hahaha. polisi mah siap tangkap badan y
martina melati
emang sih apa pun alasanny... buntut2ny jd bersitegang malah berantem, pi yere??
martina melati
betulkn reuni maut tuh... bukan berharap jelek lho, nti pas karma pasangan april yg selingkuh bgm???
martina melati
emang ada apa y thor???
martina melati
shrsny terbuka aja, ceritakn ayahmu selingkuh...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!