Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]
Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?
Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Kecil
☕🍜Meski jarakmu tak terjangkau lagi oleh tanganku, meski tak dapat ku lihat lagi senyum itu terbit di wajahmu. Tapi, keberadaanmu masih yang terdalam di hatiku🍜☕
"Kamu pasti sudah tidak mengenaliku," ujar pria itu.
Maira hanya meliriknya sebentar.
"Aku ... Jaka Darmawan." Tanpa diminta, pria yang membuat Maira kesal itu menyebutkan namanya.
"Tapi, monyet-monyet di kampung menyebutku Jaka Kenthir," terangnya. Jaka menatap lurus ke depan. Dia masih mengunyah rumput liar di mulutnya.
"Monyet-monyet di kampung?!" Maira terheran.
Jaka mengangkat sudut bibirnya. Lalu berkata, "Kamu mungkin tidak tahu, dan sekarang kamu akan tahu. Orang-orang menyebutku kenthir, hanya karena …." Jaka melirik Maira.
"Kenapa?"
"Apa kamu tidak masalah mengobrol dengan orang kenthir sepertiku?" Jaka bertanya, meyakinkan Maira tak masalah berbicara dengannya.
Maira terdiam. Ia berpikir sejenak. Dari awal Jaka menyapanya memang membuat ia kesal. Tapi, itu tidaklah cukup untuk serta merta menyebut seseorang itu kenthir.
"Aku belum menemukan sesuatu yang membuatku mengatai kamu kenthir. Tapi, kalau gesrek dan sok kenal, memang iya. Kamu begitu!" ungkap Maira.
Jaka tertawa pendek mendengar pengakuan Maira.
"Memang sudah lama sekali. Wajar saja kamu lupa. Tapi, aku tak pernah lupa …." Jaka melirik Maira lagi.
Dilihatnya Maira tampak sedang berusaha mengingat-ingat, tapi ia belum kunjung ingat tentang Jaka. Ada banyak kenangan saat kecil yang melintas di kepalanya.
"Apa kamu benar-benar tidak ingat, pada bocah laki-laki yang kau bela dulu? Saat bocah laki-laki itu dikucilkan, dijauhi oleh teman-teman sebayanya hanya karena bocah itu mengidap penyakit sawan celeng? Entah dari mana, tiba-tiba kamu datang bak pahlawan. Mengatakan kepada mereka bahwa berteman tidak boleh membedakan. Kamu orang pertama yang mau bermain dengan bocah itu, lalu teman-teman lain takut-takut alias terpaksa mau berteman dengannya juga. Tapi, hanya ketika ada kamu, saat kamu tidak ada mereka kembali mengucilkannya. Mereka bersikap baik pada bocah itu hanya ketika ada kamu. Kemudian kamu sudah tak pernah datang lagi, lamaaa sekali. Sejak nenekmu meninggal. Lalu, bocah itu pindah ke desa neneknya selama beberapa tahun, namun, kembali lagi ke desa ini karena suatu hal …." Jaka mengatur ulang napasnya, matanya basah mengingat kenangan buruk dulu.
Maira diam, terus mengingat-ingat kenangan dulu yang sedang Jaka ceritakan.
"Bocah itu, sepanjang hidupnya kesepian. Tidak punya teman. Dia dikucilkan. Dia tak punya kisah menyenangkan sebagaimana anak-anak kecil pada umumnya. Satu-satunya orang yang mau mendekatinya tak pernah datang lagi, tapi, bocah itu terus mengharapkan kehadirannya. Sampai kapan pun dia selalu menunggu. Dia ingin bermain bersama lagi. Dia ingin merasakan punya teman lagi. Karena hanya perempuan itu yang mau berteman dengannya. Walau dia beda, walau seluruh penduduk desa mengucilkan. Tapi, perempuan itu tidak begitu. Dia sungguh baik …."
Jaka menunduk. Mencegah Maira agar tak melihat butiran air mata yang tak sanggup dia tahan lagi.
"Perempuan itu, kini ada di hadapanku …." Suara Jaka terdengar lirih. Hampir tenggelam oleh isakannya.
Mata Maira basah. Dia sudah berhasil mengingat siapa pria itu. Si bocah laki-laki yang dulu terkucilkan. Yang sering menjadi bahan tontonan saat penyakitnya kambuh.
Maira bahkan ingat, ia pernah nekad mau mendekati bocah laki-laki itu ketika sedang kambuh. Maira ingin menolong bocah itu yang kejang-kejang, bibirnya tak henti mengerang, meronta-ronta, merusak apa saja di luar kesadarannya, membuat banyak orang takut—tapi senang menjadikannya bahan tontonan.
Maira ingin menolong bocah itu, dia melihat bocah laki-laki itu kesakitan. Orang-orang ramai mencekalnya agar tidak menerkam warga. Saat kambuh, matanya merah, seperti orang kesurupan. Apa saja diterkam, dirusak, kadang-kadang teriakannya melengking. Tidak berlangsung lama, namun, cukup sering. Dalam waktu berkala.
Melihat bocah itu, Maira terenyuh. Berbeda dari yang lain. Maira justru ingin sekali berteman dengan dia, agar tidak kesepian.
Maira ingat. Dulu, setiap kali ia datang ke rumah neneknya—rumah Abdullah saat ini. Dia selalu pergi ke rumah Jaka. Bermain masak-masakan di sana. Walau Jaka laki-laki, dia mau bermain masak-masakan bersama Maira. Bahkan orang tua Jaka sampai membelikan banyak mainan masak-masakan untuk mereka.
Ketika ia sedang bermain di teras rumah Jaka. Jaka kecil berkata, "Aku juga ingin sembuh. Ingin seperti anak-anak lain. Do'akan aku, ya, dan berjanjilah kamu akan selalu menjadi temanku."
Jaka kecil dan Maira kecil menautkan kelingkingnya. Mengikat janji pertemanan. Mereka terus bermain bersama. Tapi, dari waktu ke waktu, Maira semakin jarang datang ke rumah neneknya. Terlebih lagi setelah neneknya meninggal.
Tepat setelah mereka mengikat janji. Jaka tiba-tiba kambuh. Berteriak keras, melempar mainan masak-masakannya. Orang tua Jaka lantas keluar, selalu sigap dengan teriakan Jaka.
Ibu Jaka lantas menjauhkan Maira. Sedangkan Ayah Jaka berusaha mencekal putranya dan menenangkannya. Setiap Jaka kambuh, tetangga pun datang. Ada yang menolong tanpa diminta, segera membuat ramuan herbal untuk Jaka—ramuan setiap kali Jaka kambuh.
Bocah-bocah sebayanya pun ramai datang, mereka mengintip-intip di balik dinding rumah, ada juga yang terang-terangan menonton.
Maira pilu melihat kondisi temannya yang seperti itu. Saat Jaka sedang tidak kambuh, bocah sebayanya tak ada yang mau berteman, mereka semua menjauh. Tapi, saat Jaka kambuh mereka datang hanya untuk menonton, menyaksikan penderitaan Jaka.
Maira kecil tak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa menjadi temannya Jaka. Agar Jaka tidak kesepian. Agar Jaka merasakan bagaimana rasanya punya teman.
"Jaka putra Bapak Mirun?" celetuk Maira, tiba-tiba.
Dia mendekat ke arah Jaka yang masih menunduk dan menyandarkan punggungnya ke lereng. Maira menyodorkan jari kelingkingnya. Mengingatkan sebuah janji yang dulu pernah mereka ikat saat kecil.
Jaka mendongak, ia menatap nanar tangan Maira yang menunjukkan jari kelingkingnya. Ia tak percaya, Maira tak berubah. Dia masih teman kecilnya yang dulu. Dia bahkan tak lupa dengan janji yang pernah mereka buat.
Jaka mengalihkan pandangannya ke wajah Maira. Gadis itu tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Tangannya masih menggantung, menanti Jaka menyambut jari kelingkingnya.
Pria itu menggeleng pelan, dia menatap Maira dari ujung kaki hingga kepala. Lalu ia tersenyum.
"Kita sudah dewasa, penampilanmu pun sudah sholehah. Maaf, aku tak bisa menautkan jari kelingking kita … tapi, aku sangat senang karena kamu mengingatku." Jaka tersenyum. Matanya juga basah. Butiran air sudah bertengger di pelupuk mata.
Maira mengulum senyum, menarik kembali tangannya yang menggantung. Menyembunyikannya ke belakang. Gadis itu menunduk.
"Hanya penampilannya saja yang sholehah, Jak." ucapnya, lirih.
Jaka tersenyum lebar. Menyeka cepat butiran air yang terjatuh.
Di bawah terik matahari, yang tak begitu terik karena hilang timbul di balik awan. Mereka berdua berbincang. Maira ikut menyandarkan punggungnya ke lereng, menyejajari Jaka.
Mereka bernostalgia. Maira menceritakan kisah hidupnya di Jakarta. Menceritakan tentang usaha jahitnya, menceritakan tentang sahabat baiknya, Salwa dan Rizky. Juga seseorang yang menyebalkan yang baru-baru ini datang ke kehidupannya.
Jaka juga menceritakan tentang kesehariannya, yang lebih banyak digunakan untuk menanti teman kecilnya datang kembali. Juga menceritakan pengobatan yang dia jalani. Menceritakan betapa hebatnya ayah dan ibunya, yang begitu sabar memiliki anak yang dianggap kenthir oleh orang-orang.
Jaka bilang, bahwa sekarang keadaannya jauh lebih baik. Dia sudah jarang sekali kambuh. Namun, sebutan Jaka Kenthir sulit dihilangkan oleh warga. Sebutan Jaka Kenthir sudah terlanjur melekat di kalangan masyarakat.
***
_____________________________
*Sawan Celeng (Jawa) Atau dikenal dengan penyakit Ayan. Istilah medisnya Epilepsi.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
malah curcol
calon author famous
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺
kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.
ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗