inilah kisah cinta perjalanan rumah tanggaku. yang awalnya begitu sangat indah dan sempurna di mataku kini berubah menjadi malapetaka. kehadiran mertuaku yang mendambakan sosok seorang cucu membuatku harus menerima cacian dan makian tiap harinya.
Hingga pada saat titik di mana mertuaku terus mendesak suamiku harus menikah lagi demi mendapatkan seorang keturunan. Hancur sudah hati yang selama ini aku jaga, hancur sudah rumah tangga yang di bangun kokoh dengan cinta karena kehadiran seorang wanita yang akan menjadi istri dari suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Hingga beberapa bulan berlalu, Agam masih tak kunjung mendapatkan perkerjaan. Kini tabungannya semakin menipis. Dan kerjanya tiap hari hanya merawat Agra. Karena Arini selalu sibuk dengan beralasan bekerja namun tidak ada hasil sama sekali. Tiap hari di rumah yang dahuluannya selalu adem saat Agam masih bersama Maharani kini suasana telag berubah. Selalu saja ada pertengkaran antara Agam dan juga Arini. Belum lagi Ramayani terus juga bertengkar mempertanyakan janji Arini yang dahulunya ingin membuat perusahaan untuk Agam. Namun nyatanya hingga sampai detik ini, janji itu hanya tidak janji semata.
Ramayani murkah, karena Arini tidak menepati janjinya. Setiap hari pertengkaran terus saja terjadi. Belum lagi Agra selalu saja rewel, menangis melihat orang-orang di sekitar yang selalu saja berdebat.
Bayi yang harusnya mendapat kasih sayang dari seorang ibu hanya bisa melihat ibunya tanpa tahu bagaimana rasa kasih sayang. Karena walau Arini pulang, ia sangat jarang melihat atau menggendong Agra. Arini selalu beralasan jika dirinya telalu sibuk dan pulang dalam ke adaan capek.
Seperti malam ini. Saat Arini pulang, Agra sudah tertidur pulas, namun Agam masih tetap setia membuka mata, menunggu kehadiran Arini.
"Sudah pulang?" Tanya Agam yang berdiri dari duduknya. "Sampai kapan kau akan hidup seperti ini Arini?"
"Mas."
"Kau itu seorang istri Arini, dan juga seorang ibu. Harusnya kau berada di rumah bukan di luar rumah. Lihat jam berapa sekarang?"
"Mas, ingat aku bekerja untuk kau dan juga Agra. Jadi mas jangan sok mengaturku. Aku tahu aku ini istri tapi mas lupa, jika sekarang aku ini tulang punggung keluarga. Ingat itu mas."
"Arini." Sentak Agam yang tidak sudak dengan perkataan Arini. Tulang punggung, bukan! Arini memang bekerja di luar sana, tapi tentang hasil dari pekerjaannya Agam tidak tahu, karena selama Agam tidak bekerja yang ada hanya tabungannya yang terkuras, dan Arini pun juga masih mendapatkan nafkah dari Agam.
"Aku capek mas. Aku mau tidur." Kata Arini lalu keluar dari kamar. Sama seperti malam sebelumnya, jika mereka bertengkar maka Arini memilih tidur di kamar tamu. Kamar yang dahulu pernah menjadi kamarnya sebelum menggeser posisi Maharani.
Dan saat Arini hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba tangannya di pengang oleh Ramayani.
"Baru pulang jam segini?"
"Bu, jangan memulai pertengkaran, aku capek bu." Kata Arini mencoba memutar hendel pintu namun di cegah oleh Ramayani.
"Arini, kamu lelah bekerja bukan? Kalau begitu penuhi janjimu. Buatkan perusahaan untuk Agam, agar kau tidak perlu capek-capek bekerja lagi. Ayo penuhi janjimu." Arini menghempaskan tangan Ramayani dengan kasar.
"Ibu pikir membuat perusahaan tidak butuh dana? Ibu pikir bisa? Kalau ibu rasa itu muda maka ibu saja yang mendirikan perusahaan." Kata Arini hingga membuat Ramayani murkah dan menampar pipi Arini.
PLAK... Tamparan mendarat secara sempurna di pipi kiri Arini.
"Kau itu wanita ular. Aku sudah mengikuti perintahmu untuk memisahkan anakku dengan Maharani tapi apa? Kau tidak memenuhi janjimu."
"Kau yang ular. Tega melakukan apa saja demi uang." Kata Arini lalu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar mengunci pintu agar Ramayani tidak masuk ke dalam kamar. Arini langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, sedangkan Ramayani di luar sana terus saja mengetuk pintu dan terus memanggil Arini untuk segerah membuka pintu.
"Arini. Buka, ayo bukan pintunya."
"Arini.. Dasar kau yah. Wanita tidak tahu terima kasih."
••••
Perur Maharani sudah nampak besar. Selama Maharani tinggal dirumah ibunya, dia memutuskan untuk bekerja dari rumah menerima jahitan baju yang di bawah oleh para tetangga. Dan juga menerima pesanan makanan. Kesibukan Maharani membuatnya perlahan lupa akan kesedihannya, belum lagi selama beberapa bulan ini Bastian selalu saja datang memberikan bantuan pada Maharani dan juga sesekali membawa Maharani berlibur agar Maharani tidak merasa bosan. Begitu pun dengan Sukma, sesekali dia memutuskan untuk berkunjung karena ingin tahu kondisi Maharani dan bayi yang Maharani kandung.
Seperti hari ini. Mereka berempat memilih berlibur di sebuah taman. Sukma dan Halisah sudah menyiapkan makanan, sedangkan Bastian mengajak Maharani untuk berjalan keliling menghirup udara segar.
"Terima kasih Bastian, karena kau selalu ada." Kata Maharani sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit. Bastian tersenyum lalu melihat Maharani yang mengusap perutnya, hingga Bastian menghentikan langkahnya. "Ada apa?" Tanya Maharani.
"Apa aku boleh menyentuhnya?" Bastian bertanya dengan nada yang lembut agar tidak membuat Maharani tersinggung. Namun Maharani hanya diam saja, sehingga membuat Bastian tersenyum. "Lain kali saja,." Kata Bastian lalu melanjutkan langkahnya. Baru saja beberapa langkah, kini Maharani memanggil namanya.
"Bastian."
Bastian yang mendengar langsung menoleh ke arah Maharani. Dan Bastian melihat Maharani menganggukkan kepalanya. Bastian kembali berjalan menuju Maharani.
"Kau boleh mengusapnya." Kata Maharani sambil menarik perlahan tangan Bastian dan di letakkan di atas perutnya.
Sungguh Bastian di buat takjub, apa lagi saat bayi yang berada di dalam perut Maharani terus saja bergoyang. Maharani pun di buat bingung, karena biasanya bayinya hanya sesekali menunjukkan reaksi menendang namun kali ini, begitu sangat aktif.
"Bagaimana kabarmu sayang? Kau baik-baik saja di dalam sana?" Kata Bastian membuat Maharani menitihkan air matanya. Lalu Maharani menepis tangan Bastian dan meninggalkan Bastian seorang diri.
aduh...
tolong perbaiki lagi dan cari info lagi jangan asal nulis GK tau hukum bisa juga ntar orang pada meniru saat hamil di nikahi
kecuali author GK usah pakai ijab Kabul
mungkin beda tanggapan ku