Abizar dan Annisa menikah atas dasar perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya. Ayah Abizar sengaja menikahkan Abi dengan wanita pilihannya agar Abizar bisa berubah.
Setelah menikah, Abizar diminta sang ayah untuk mandiri. Bahkan orang tuanya memutus semua fasilitas yang pernah mereka berikan agar Abi tidak bermalas-malasan lagi. Annisa menerima pernikahan tersebut dengan ikhlas, walau suaminya jatuh miskin.
Bagaimana cara Abi untuk bertahan hidup bersama istrinya? Akankah tumbuh perasaan cinta di antara Abi dan Nisa seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keguguran
Hari ini Annisa dan Abi sengaja makan di luar. "Sekali-kali kembali menikmati kehidupan kita yang dulu," kata Abi.
"Iya, Mas. Semoga perekonomian kita kita meningkat. Kalau kafe kita yang itu sudah sukses aku mau buka cabang. Bagaimana menurut kamu, Mas?" tanya Annisa.
"Boleh, nanti kita atur bersama," jawab Abizar.
Ketika mereka sedang menunggu makanan datang, seorang wanita yang berpakaian seksi menghampiri Abizar. "Abi, long time no see." Wanita itu langsung mencium pipi kanan dan kiri Abizar. Tentu saja Annisa merasa cemburu. Dia sudah memberikan tatapan tajam pada suaminya.
Abi mendorong wanita itu. "Jangan sentuh aku!" sarkas Abizar.
"Abi, kamu sekarang sombong sekali. Bukankah dulu kita sering menghabiskan malam bersama?" ucap wanita itu seraya melirik ke arah Annisa.
Annisa semakin terbakar emosi. Dia memilih pergi dari pada mendengar ucapan tak berfaedah dari wanita itu. Abizar pun menyusul istrinya. "Sayang, tunggu!" Abi meraih tangan Annisa tapi wanita itu menepisnya.
"Annisa, dengarkan penjelasan aku dulu!" Abi setengah memohon. Annisa menoleh, dia menunggu Abizar berbicara.
"Aku pernah cerita bukan kalau aku punya masa lalu kelam?" Annisa mengangguk.
"Aku pernah memakai jasa mereka untuk menemaniku."
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Abizar. "Hatiku sakit ketika kamu mengakui dirimu kotor, Mas. Aku lebih baik tidak mendengar atau berpura-pura tidak tahu dari pada menyaksikan langsung seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan suamiku adalah seorang player."
Annisa berjalan lebih dulu. Namun, ketika dia menuruni tangga, kakinya tersandung. Annisa merasa kesakitan di bagian perutnya. "Annisa!" teriak Abizar.
"Annisa kamu kenapa?" tanya Abizar.
"Perutku sakit, Mas." Abizar tak sengaja melihat darah keluar dari kaki Annisa.
Laki-laki itu langsung menggendong istrinya. Lalu menghentikan taksi. Dia akan membawa Annisa ke rumah sakit. "Bertahan Annisa," ujar Abizar yang merasa ketakutan. Dia tidak mengerti kenapa Annisa mengeluarkan darah.
Annisa meremat perutnya. Dia menangis karena sakit yang dia rasakan sangat luar biasa. "Pak cepat sedikit!" desak Abi pada sopir taksi tersebut.
Ketika sampai di depan rumah sakit, Abi menggendong Annisa. Dia memanggil perawat agar segera memberikan pertolongan pada istrinya. "Apa pasien sedang hamil?" tanya perawat itu memastikan.
Deg
Abizar mematung di tempat. Bagaimana bisa dia tidak menyadari kalau Annisa hamil. "Saya tidak tahu. Tolong selamatkan istri saya!"
Abizar duduk di bangku yang disediakan. Kemudian dia mengabari ibunya. "Ma, tolong ke sini! Annisa ada di rumah sakit."
"Apa? Apa yang terjadi pada menantu mama?" tanya Safa melalui sambungan telepon.
"Nanti akan aku ceritakan ketika mama sampai di sini." Abi pun menutup teleponnya.
"Maaf, apa Anda kelurga pasien?" tanya seorang dokter yang habis memeriksa Annisa.
"Saya suaminya, Dok," jawab Abizar.
"Istri Anda mengalami keguguran. Kami akan melakukan kuretase," ungkap Dokter tersebut.
Abizar mengusap wajahnya kasar. Dia merasa bersalah pada Annisa. "Lakukan apa saja asal bisa menyelamatkan istri saya."
Tak lama kemudian Safa dan putrinya Willa sampai di rumah sakit. "Bagaimana keadaan Annisa?" tanya Safa pada Abizar.
"Annisa keguguran, Ma." Mata Abi berkaca-kaca. Dia bisa membayangkan betapa sedihnya Annisa jika mengetahui dirinya kehilangan bayi yang dia kandung.
"Bagaimana bisa?" tanya Willa pada adiknya.
"Dia jatuh ketika menuruni tangga," jawab Abizar. Dia tidak menceritakan apa yang menyebabkan Annisa berlari ketika menuruni tangga. Ibu dan kakaknya pasti akan menyalahkan dirinya.
"Malang sekali nasibmu, Annisa," ucap Safa. Dia merasa sedih pada keadaan Annisa dan juga karena kehilangan calon cucunya.
"Kamu yang sabar, Bi. Saat ini Annisa butuh support kamu. Kalau bisa jangan dulu bahas soal anak. Sebaiknya kamu bahagiakan dia dan bantu dia melupakan kesedihannya." Willa memberikan nasehat panjang lebar.
"Aku menyesal karena tidak bisa menjaga Annisa." Abi memejamkan mata sejenak.
Setelah lama menunggu perawat mendorong brankar yang ditumpangi Annisa. Mereka akan memindahkan Annisa ke ruang rawat inap usai dilakukan kuretase. Abizar, Safa dan Willa mengikuti perawat tersebut.
"Kondisi Bu Annisa belum stabil jadi biarkan dia beristirahat," pesan salah seorang perawat.
"Abi, mama dan kakakmu akan pulang dulu. Nanti kami akan ke sini lagi. Kabari mama jika ada apa-apa. Oh iya, semua biaya rumah sakit biarkan mama yang bayar. Kalau kamu mau kita bisa pindahkan ke rumah sakit milik kita." Safa memberikan penawaran.
"Tidak usah, Ma. Biar Annisa dirawat di sini saja," tolak Abizar.
"Kami pergi," pamit Willa. Abizar mengangguk.
Abi masuk ke ruangan istrinya. Dia membiarkan Annisa beristirahat. Abizar duduk sambil memainkan handphonenya. Dia memblokir semua kontak teman-temannya. Abizar ingin fokus pada rumah tangga yang dia bangun bersama Annisa. Dia tidak mau kejadian tadi terulang lagi.
"Andai saja aku tidak bertemu dengan masa laluku yang kelam, mungkin saat ini aku tidak akan kehilangan calon anakku," gumam Abi dengan penuh penyesalan.
Abizar menghubungi pegawainya. "Mbak, istri saya sedang sakit. Besok ajak Arman untuk buka kafe," perintah Abizar.
"Baik, Mas," jawab Rosmala. Dia tidak berani bertanya apa yang sedang dialami Annisa. Tapi Rosmala senantiasa mendoakan yabg terbaik untuk orang yang telah berjasa dalam hidupnya.
Abizar merebahkan diri di sofa panjang yang tersedia di ruangan itu. Dia menutup matanya dengan satu lengan.
Annisa mulai siuman. Abizar saat itu masih tertidur. Tenggorokan Annisa terasa sangat haus. Jadi dia ingin meraih gelas air minum yang ada di meja. Tapi karena tangannya tak sampai gelas itu pun terjatuh.
Suara pecahan gelas itu membuat Abizar terbangun. "Annisa, kamu tidak apa-apa?" tanya Abi yang berjalan mendekat.
"Aku haus," jawab Annisa. Abizar pun mengambil gelas sedotan lalu memasukkan ke dalam botol air mineral. Abizar memberikan botol itu pada istrinya.
"Cukup!" kata Annisa usai meminum air putih kemasan itu. Abi meletakkan botol tersebut.
"Mas, apa yang terjadi padaku? Kenapa perutku sakit sekali?" tanya Annisa.
Abizar menangis sambil menggenggam tangan sang istri. "Maafkan aku karena lalai dalam menjagamu."
"Mas, aku tidak mengerti," balas Annisa.
Abizar ingat pesan kakaknya untuk tidak membuat istrinya bersedih. "Sebaiknya kamu fokus untuk kesembuhan kamu. Maafkan kesalahan aku yang kemaren. Aku harap lain kali aku bisa menjaga perasaan kamu." Annisa mengangguk. Dia melihat Abizar bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Aku menerima Mas Abi apa adanya," ucap Annisa yang masih lemah. Abizar mencium kening istrinya agak lama.
"Terima kasih, Annisa. Kamu wanita yang sangat baik. Aku tidak akan menyia-nyiakan wanita seperti kamu." Annisa menjadi terharu akan ucapan suaminya.
Annisa tersenyum. "Aku hanya ingin bukti, Mas! Bukan hanya terucap di bibirmu," tantang Annisa.
sampe sini aku gk tela klo bsi annisanya berakhir nikah sm laki² lain,,gk tau knpa tp gk suka aj,,klo suaminya baik trus meninggal dn istri nikah lg atau sebaliknya 😁😁