Quirinus pikir, setelah menikah bersama wanita yang dicintai dan mencintainya akan mendapatkan kehidupan bahagia, damai, dan tidak pernah menemui masalah apa pun. Tapi ternyata, ia keliru. Masalah memang tidak pernah muncul dari hubungannya dengan sang istri, namun justru masa lalu.
Saat usia pernikahan menginjak satu tahun dan Annora tengah mengandung anaknya, karirnya sebagai seorang model dan aktor melambung tinggi. Ketika ia mulai terkenal itulah titik di mana seorang wanita dari masa lalu Quirinus muncul dan mengaku bahwa memiliki anak bersamanya.
Ujian cinta Quirinus dan Annora begitu luar biasa. Sanggupkah mereka bertahan dalam ikatan pernikahan yang masih seumur jagung itu atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Daddy Danesh berdiri tegak dengan kacamata hitam bertengger menutupi dua mata tajamnya yang kini sedang mengamati satu persatu bocah. Dia sedang menanti anak usia dua belas tahun yang sudah ia ketahui namanya, Austin. Bahkan nama panjang juga tahu.
Setelah mengetukkan ujung sepatu ke jalan, akhirnya bocah yang dinanti pun terlihat juga batang hidungnya. Daddy Danesh segera menghampiri. Merendahkan tubuh supaya sejajar.
“Minggir, kakek-kakek! Kau menghalangi jalanku! Aku mau pulang!” usir Austin seraya mendorong dada Danesh tanpa takut.
Di balik kacamata hitam, mata Danesh membola. Luar biasa tidak sopan kelakuan bocah itu. Untung saja ia tak tersungkur ke belakang saat didorong. Rasanya ingin dijewer, tapi sebisa mungkin ditahan karena sudah pasti akan membuat Austin justru takut dan tak mau ikut dengannya.
“Ck! Kakek-kakek sudah tuli?” gerutu Austin karena jalannya masih dihalangi. Bahkan saat ia hendak lewat kanan, Danesh juga ke kanan, begitu pun arah sebaliknya. Membuat si bocah nakal dan susah aturan itu kesal. Kepalanya sengaja mendekat, berhenti tepat di telinga pria paruh baya di depannya. “Pak tua ... minggir! Kau menghalangi jalanku!”
Tangan Danesh otomatis mengusap telinga yang berdengung. Luar bisa nyali bocah itu, berani sekali. “Aku dengar, tidak tuli!”
“Kalau dengar, kenapa masih di depanku?”
“Karena aku mau mengajakmu ke suatu tempat.”
“Kata orang tua dan guruku, tidak boleh ikut siapa pun yang tidak dikenal,” tolak Austin.
“Kalau begitu kita kenalan.” Danesh mengulurkan tangan. “Danesh Doris Dominique, aku datang ke sini naik mobil itu.” Dia menunjuk Rolls Royce yang masih ada di depan sekolah.
Austin mengikuti arah yang ditunjuk. Ia takjub dan baru pertama kali melihat mobil mewah sekinclong itu. “Kau orang kaya?” Langsung nampak antusias. Tidak pernah mendapatkan kemewahan, membuatnya jadi sedikit norak.
“Oh, jelas. Keluargaku punya banyak perusahaan.” Danesh menjawab dengan pongah.
Austin melirik ka area sekitar sekolah, mencari orang tuanya yang biasa menjemput. Tapi, belum juga nampak batang hidungnya. “Oke, aku mau ikut denganmu, tapi naik mobil itu, dan belikan banyak makanan juga mainan.”
“Gampang, tapi kau harus mau mengikuti permintaanku juga.” Masih kecil sudah diajak membuat kesepakatan saja oleh Danesh.
“Apa?”
“Kau harus mau ke rumah sakit bersamaku, diambil sedikit sampel darahnya.”
“Oke, setuju.” Bagi Austin itu gampang, dia tidak takut jarum suntik.
Danesh pun berhasil membawa Austin ke dalam mobilnya, duduk di belakang. Bocah itu langsung mengenali Quirinus.
“Kau yang katanya daddyku tapi pelit karena tidak mau memberiku uang, kan?” ucap Austin seraya menunjuk wajah Quirinus.
Quirinus hanya menanggapi berupa kedikan bahu acuh. Tidak peduli dengan bocah itu.
“Sekarang kau bisu? Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?” Austin mengulurkan tangan hendak mengecek mulut Quirinus.
Mata Quirinus melotot memberikan peringatan supaya jangan berani menyentuhnya.
Annora yang melihat pun mengusap lengan sang suami supaya jangan memperlakukan anak kecil seperti itu.
...........
Urusan di rumah sakit selesai, Danesh memastikan tidak mungkin ada yang bisa memanipulasi hasilnya karena dia menggunakan laboratorium milik kenalan. Sudah memberikan peringatan juga supaya jangan sampai ada kesalahan sedikit pun.
Sesuai janji, Austin dibelikan mainan dan makanan juga. Hari mulai gelap, barulah bocah itu dipulangkan ke rumah.
Terlihat Audy melayangkan sebuah pelototan pada Austin yang baru saja keluar dari mobil. “Dari mana saja kau?! Aku sudah mencarimu di sekolah, tidak ada.”
“Aku pergi bersama kakek-kakek, tante cantik yang sedang hamil, dan daddyku.” Austin menunjuk mobil Rolls Royce mengkilap yang baru saja meluncur pergi.
“Diajak ke mana?”
“Rumah sakit, diambil darahnya. Katanya mau cek apakah aku benar anak daddyku yang tadi pergi bersamaku atau tidak,” jelasnya polos tanpa kebohongan.
Mimik wajah Audy seketika langsung berubah pias. Sebenarnya dia sendiri tidak terlalu yakin Austin anak Quirinus atau bukan. Banyak pria yang tidur bersamanya tiga belas tahun silam. Berhubung wajah anaknya dengan Quirinus mirip, dia anggap saja itu memang anak si artis yang baru naik daun.
Suami absurd
Suami rupa madu mulut racun
Perjodohan Arini