Edrico Stevanus, pria single, belum pernah menikah, tiba-tiba harus menjadi hot daddy? Bagaimana bisa?
Ikuti yuk petualangan Rico—sang bodyguard dalam keribetannya mengurus seorang balita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 ~ Gagal Treatment
Denting waktu terus bergerak, hari terus berganti. Hingga tak terasa, tiga hari lagi, Rico dan Lala akan mengikrarkan janji suci di atas altar pernikahan. Keduanya, sudah dibebas tugaskan dari pekerjaan. Memiliki bos yang pengertian dan royal, tentu turut menyumbangkan kebahagiaan bagi mereka.
Sebuah klinik kecantikan menjadi tempat dua sejoli itu untuk memanjakan tubuh mereka. Calon pengantin itu menjalani serangkaian treatment khusus agar terlihat fresh dan cerah di hari bahagia mereka.
Selama sepuluh hari, Rico tinggal bersama Lala. Meski sesekali kembali ke apartemennya sendiri, ketika Rain terus menanyakannya. Bocah itu akan terus berceloteh mengenai kegiatannya sehari-hari bersama Airin. Bahkan Rain sudah mulai memanggil Airin dengan sebutan ibu.
...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...
Tepat siang hari saat Airin terlelap bersama putranya, terdengar suara berisik di unit tersebut. Airin segera membuka matanya. Ia mengira Rico yang pulang, akan tetapi saat keluar kamar, Airin terkejut dengan orang yang berpakaian serba hitam hingga menutup wajahnya telah membobol pintu apartemen. Sepasang mata pria itu terlihat menyalang.
“Siapa kamu?” tanya Airin melangkah mundur. Detak jantungnya bak lari maraton. Napasnya berembus tak beraturan.
Pria kekar itu tak menjawab. Menodongkan pisau ke hadapan Airin. Langkah kakinya semakin mendekat pada wanita itu.
“Pergi! Pergi dari sini. Aku tidak ada urusan apa pun sama kamu!” teriak Airin meraih apa pun yang bisa dijangkau dan melayangkannya pada lelaki asing itu, tentunya dengan mudah masih bisa menghindar.
“Ibu!” panggil Rain ketakutan di atas ranjang, ketika mendengar teriakan ibunya.
Airin menoleh sekilas untuk memastikan letak pintu, kemudian berlari ke kamar, menutup pintu dan hendak menahan dengan tubuhnya.
Sayang sekali, tenaganya tak seberapa. Pria asing itu dengan mudah menerobos masuk. Airin terjengkang ke lantai.
“Pergi! Aku tidak punya urusan sama kamu. Tolong jangan sakiti aku!” mohon Airin merangkak di lantai.
Wanita itu mendekat pada putranya yang ketakutan, memeluknya dengan erat. Satu tangannya menjulur meraih gagang telepon menekan tombol darurat yang langsung terhubung ke ponsel Rico.
“Berhenti!” ancam pria itu menodongkan pisaunya. "Jangan pernah menghubungi siapa pun!"
Airin memejamkan matanya dengan kuat. Memeluk putranya yang menangis menjerit ketakutan.
“Apa maumu?” tanya Airin tak berani menoleh.
“Kamu harus ikut denganku!”
“Apa kamu orang suruhan Mas Satya?” Airin bertanya lagi.
“Jangan banyak bacot!” pekik pria itu menarik lengan Airin dan menyeret wanita itu. Rain ikut terjatuh karena tidak mau melepas ibunya.
“Ibu! Ibu! Ibu!” jerit Rain dengan tangis menggelegar.
Airin menatap putranya, mencium kening Rain cukup lama lalu berbisik, “Baik-baik sama ayah ya. Maafin ibu.”
“Enggak, aku mau ikut ibu. Aku mau ayah dan ibu juga!” rengek Rain.
Tetapi, pria asing itu sama sekali tak peduli. Airin merebut pisau di tangan pria itu dan menggoreskan pada lengannya sendiri di belakang tubuh Rain, karena mereka masih saling berpelukan.
“Apa yang kau lakukan, hah?” pekik lelaki itu merebut pisau kembali. Hanya sedikit goresan, akan tetapi mampu membuat pembuluh darahnya pecah dan cairan merah itu terus mengalir tanpa henti.
...\=\=\=\=°°°\=\=\=\=...
“Kita harus pulang sekarang juga!” teriak Rico menghentikan body treatmentnya setelah mendengar kegaduhan dan jerit tangis Rain di sambungan telepon. Ia kembali mengenakan pakaiannya dengan cepat.
Kening Lala mengernyit, “Kenapa, Ric?” tanya Lala yang juga bangun.
“Mereka dalam bahaya, La!” seru Rico berlari keluar, meninggalkan Lala yang masih mengenakan kain yang melilit tubuhnya.
“Mereka? Apa jangan-jangan Rain?” gumam Lala yang juga menghentikan treatmentnya. “Udah dulu, Mbak. Sepertinya darurat,” sergah Lala turun dari ranjang dan berganti pakaian.
Setelah menyelesaikan pembayaran, Lala segera keluar dari klinik kecantikan itu. Namun, matanya tak menangkap calon suami beserta mobilnya. “Aku ditinggal?” decak Lala dengan dua bahu yang meluruh.
Ia pun memutuskan untuk mencari taksi dan segera pulang ke apartemen. Ia sendiri penasaran dengan apa yang terjadi. Perasaannya mengatakan tidak baik-baik saja. Dadanya tiba-tiba merasa sesak. Sampai-sampai ia harus menghela napas berat berulang kali.
Bersambung~
lanjutkan perjuanganku utknya...
bahagiakan Dia... kok jadi nyayi sih aku 😅