"Sampai kapan kamu akan berlindung di ketiak mama? Kalau sikap kamu manja seperti ini mana ada laki-laki yang mau menikahi kamu. Abang tahu kamu sering dimanfaatkan oleh pacar-pacar kamu itu 'kan?"
"Abang, jangan meremehkan aku. Aku ini bukan gadis manja seperti yang kau tuduhkan. Aku akan buktikan kalau aku bisa mandiri tanpa bantuan dari kalian."
Tak terima dianggap sebagai gadis manja, Kristal keluar dari rumahnya.
Bagaimana dia melalui kehidupannya tanpa fasilitas mewahnya selama ini?
Yang baca wajib komen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baikan
"Kumohon jangan lari! Aku takut aku lelah mengejarmu." Ucapan itu sukses membuat Kristal menghadap Ruli.
"Ayo kita bicara!" Kristal tidak bisa menolak lagi. Apalagi ketika menatap mata Ruli yang penuh harap jelas dia tidak tega. Perlahan Ruli mengajak Kristal ke dalam mobil.
"Kita mau ke mana? Aku belum izin sama Bang Alex. Mendengar ucapan Kristal itu Ruli mende*sah pelan. Akhirnya mereka hanya duduk di dalam mobil.
Ruli menggenggam kedua tangan gadis yang dia cintai itu. Kristal tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang. Gadis itu tampak gugup.
"Aku ingin menjelaskan padamu kalau apa yang kamu lihat kemaren itu tidak sesuai dengan pemikiran kamu. Dia adikku yang baru pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan sekolahnya di sana," terang Ruli.
Kristal bersorak dalam hati ketika mendengar penjelasan Ruli. Dia merasa lega karena ternyata Ruli tidak mengkhianati dirinya. Dia jadi malu karena sudah cemburu pada lelaki itu.
"Maafkan aku," ucap Kristal sambil menunduk. Ruli mengangkat dagu gadisnya.
"Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Maaf karena beberapa hari ini aku tidak sempat menghubungimu akibat terlalu sibuk mengurusi masalah restoranku yang kebakaran. Aku tidak bermaksud melupakanmu, sayang."
Hati Kristal berdesir ketika Ruli mengatakan kata sayang di hadapannya secara langsung. Wajahnya jadi merah merona karena malu. Kristal mengalihkan pandangannya agar Ruli tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.
"Apa kamu mencoba menghubungiku?" Kristal mengangguk. Setelah itu Ruli mengeluarkan ponselnya yang baru.
"Saat di bandara ponselku terjatuh hingga rusak. Aku baru membeli ponsel. Saat itu aku baru pulang dari toko handphone dan baru akan menghubungimu. Sayangnya kamu sudah salah paham duluan." Kristal nyengir karena merasa malu. Dia terlalu cemburu pada Ruli.
"Oh ya? Apa kamu melihat video yang sedang viral itu?" tanya Kristal pada Ruli. Ruli mengangguk.
Sejak tadi Ruli ingin membahasnya. Akan tetapi dia takut menyinggung perasaan Kristal. Dia tidak ingin dijauhi lagi. "Apa aku boleh tahu siapa laki-laki dalam video yang tersebar itu?"
Kristal tersenyum penuh arti. "Menurutmu apa aku akan mengkhianatimu?" Ruli menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Ruli mencolek hidung mancung Kristal. "Aku tidak berpikiran sampai sejauh itu. Jika itu benar untuk apa kamu cemburu ketika melihatku mencium wanita lain," jawabnya. Kristal tersenyum senang mendengar pendapat Ruli tentang dirinya.
Ruli menatap wajah Kristal dengan intens. Wajah yang begitu mulus tanpa noda sedikitpun, mata yang indah serta hidung yang mancung membuat setiap orang yang memandang gadis itu tak akan merasa bosan dengan kecantikannya.
Terakhir Ruli menatap bibir yang begitu menggoda baginya. Bibir yang sudah pernah dia cicipi dan kini menjadi candu untuknya. Ruli seketika menangkup kedua pipi Kristal dengan tangannya. Lalu dia menempelkan bibirnya ke bibir Kristal. Gadis itu terkejut mendapatkan serangan mendadak dari sang kekasih itu.
Ruli mencium bibir Kristal dengan lembut hingga membuat Kristal terbuai. Namun, ciuman itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba ponsel Kristal berbunyi. Gadis itu pun melepas pagutannya. "Bang Alex. Aku harus segera kembali kalau tidak Bang Alex bisa mengamuk." Ruli mengangguk.
Kristal turun dari mobil. Namun, sebelum dia pergi dia menjelaskan pada Ruli siapa laki-laki dewasa yang bersamanya di video itu. "Yang kamu lihat itu papaku, bukankah dia masih sangat tampan?" Ruli tersenyum mendengarnya.
"Baiklah, apa nanti sepulang kerja mau aku jemput?" Kristal mengangguk.
Meskipun dia membawa mobil sendiri tapi rasanya tak enak menolak ajakan kekasihnya. Kristal melambaikan tangan ke arah Ruli sambil tersenyum. Ruli membalasnya. Setelah itu Ruli meninggalkan area parkir hotel.
Kristal berjalan setengah berlari memakai heels agar cepat sampai di ruangannya. Kebetulan Alex baru keluar dari ruangan. Saat melihat Kristal dia menghampiri adiknya itu.
"Kristal, siapa yang kamu temui tadi?" tanya Alex ketika Kristal sudah sampai di ruangannya. Dia hanya menggedikkan bahu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Alex hanya mencibir.
Di tempat lain, Ruli yang sedang dalam perjalanan menuju ke restorannya. Sepanjang jalan dia selalu mengulas senyum bahagia karena kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Kristal sudah teratasi. Dia juga sudah mendapatkan jawaban mengenai laki-laki yang bersama kekasihnya waktu itu.
"Pantas saja anaknya cantik ternyata dia lahir dari keturunan yang berkualitas. Bahkan aku mengira ayahnya itu teman kerjanya," gumam Ruli seorang diri sambil tersenyum.
Ketika hampir sampai di restorannya, Ruli tak sengaja berpapasan dengan Berlian. Lalu dia pun menepikan mobilnya. Ruli segera turun dari mobil dan menghampiri Berlian.
"Tante, mobilnya kenapa?" tanya Ruli.
"Eh, nak Ruli. Tante lupa mengisi bahan bakar," jawab Berlian sambil menahan malu karena kelupaan.
Ruli tersenyum pada Berlian. "Tante tunggu di sini sebentar, saya akan membelikan bahan bakar untuk mobil Tante." Berlian sebenarnya tidak enak tapi dia tidak mungkin meninggalkan mobilnya di jalan.
"Iya, Tante minta tolong ya nak!" Ruli mengangguk.
Setelah itu dia masuk ke dalam mobil untuk membeli bahan bakar. Tempat pengisian bahan bakar lumayan jauh dari tempat itu. Bahkan dia harus memutar balik mobilnya. Namun, Ruli kasian pada ibunya Kristal sehingga dia rela membeli bahan bakar meski jauh.
Sesampainya di tempat pengisian bahan bakar, dia meminta petugas mengisi penuh mobilnya. Karena pembelian bahan bakar tidak boleh dengan dirigen, maka dia mengisi bahan bakar ke dalam mobilnya baru nanti dipindahkan ke mobil Berlian.
Setelah terisi penuh, dia pun mencari toko yang menjual selang yang akan digunakan untuk mengalirkan bahan bakar tersebut.
Langit hari ini tak bersahabat. Hujan turun dengan derasnya. Saat dia kembali ke tempat Berlian hujan masih saja mengguyur. Bahkan petir juga terdengar bersahutan. Ruli turun tanpa menggunakan payung. Kebetulan dia lupa membawa payung.
Tok tok tok
Ruli mengetuk pintu mobil Berlian. Wanita itu masih setia menunggu. Dia bisa saja kembali menggunakan taksi, tapi Ruli sudah bersusah payah membelikan dia bahan bakar mobil sehingga Berlian tidak berpikir untuk meninggalkannya.
Berlian membuka jendela kaca mobilnya setengah. "Nak, apa kamu tidak membawa payung. Badan kamu basah kuyup sekarang."
Ruli menggelengkan kepalanya sambil meraup air hujan yang membasahi wajah tampannya itu. "Tidak apa-apa Tante. Saya akan mengisi bahan bakarnya. Tante jangan keluar dulu."
Berlian merasa kasihan pada kekasih putrinya itu. Dia benar-benar terharu. Belum pernah dia menemui laki-laki yang sebaik itu. Berlian melihat Ruli mulai mengisikan bahan bakar mobilnya. Setelah selesai Ruli kembali mengetuk kaca mobil Berlian. Hujan tak sederas tadi.
"Tante, bisa nyalakan mobilnya. Saya langsung pulang Tante," pamitnya.
Berlian mengangguk. "Berapa uang yang harus kuganti?"
"Tidak usah, Tante. Saya ikhlas." Setelah itu Ruli memasuki mobil dengan baju yang sudah terlanjur basah. Dia tidak jadi kembali restoran. Dia ingin langsung pulang dan mandi dengan air hangat.
*
*
*
Dugh kasian juga ya Mas Ruli dears. sambil nunggu othor up kalian bisa mampir ke novel teman othor ya 🙏