Mendapatkan kasih sayang yang cukup dari kedua orang tua angkatnya tidak lantas membuat Marissa tidak lepas dari beban pikiran. Wanita itu terlihat bahagia hidup bersama dengan kedua orang tua angkatnya.
Baru saja dirinya. Duduk di bangku Kelas XII di sebuah sekolah swasta ternama di kotanya. Marissa menemukan dirinya sedang hamil satu bulan. Dia tidak mengetahui siapa yang menjadi Ayah dari janin yang dikandung bahkan dirinya merasa tidak pernah melakukan perbuatan dosa hina itu.
Jadi siapakah yang tega menghamili Marissa yang terkenal baik dan murah hati di sekolahnya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paviliun Untuk Marissa
"Aku tidak ingin melihatnya di rumah ini lagi," kata mama Nisa kepada kakek Heri dan mama Rosa. Pernikahan sederhana itu akhirnya sudah terlaksana hanya dihadiri beberapa orang saja. Pernikahan itu harus dirahasiakan karena tidak boleh bocor keluar. Bahkan orang yang menjadi wali nikah Marissa adalah supir pribadi Arjuna.
Mereka menunjuk pria itu karena Marissa tidak mengetahui siapa ayah kandungnya sendiri.
Hari ini, status mereka sudah berubah. Arjuna bukan lagi papa angkat bagi Marissa melainkan menjadi suaminya. Mama Nisa bukan lagi mama angkatnya melainkan menjadi kakak madunya. Begitu pun sebaliknya. Marissa bukan lagi sebagai putri di rumah itu melainkan wanita yang menjadi istri kedua Arjuna sekaligus adik madu bagi mama Nisa.
Nenek Rosa menarik nafas panjang. Sebagai wanita yang sudah berumur dan banyak pengalaman. Dia mengerti jika ini sulit bagi mama Nisa. Wanita itu tidak memandang hal ini sulit bagi Marissa karena Nenek Rosa. Semua ini terjadi karena keinginan Arjuna dan Marissa.
"Marissa tetap di rumah ini. Dia juga istri Arjuna saat ini," kata Kakek Heri tegas. Bukan tidak ingin dirinya membawa Marissa ke rumahnya tapi kakek Heri tidak melakukan itu karena dia ingin Arjuna bersikap adil untuk ke dua istrinya. Jika Marissa tinggal bersama mereka. Kakek Heri khawatir mama Nisa mendominasi Arjuna. Marissa sedang hamil muda di usia muda. Kakek Heri berpikir. Orang yang tepat untuk memberikan semangat dan perhatian kepada Marissa adalah Arjuna. Tinggal bersama sama akan memudahkan Arjuna untuk memberikan perhatian bahkan memantau kehamilan Marissa setiap hari.
"Itu sudah kesepakatan kami papa. Untuk kebaikan bersama. Aku rasa Marissa memang harus tinggal terpisah dari rumah ini."
Marissa tidak menunjukkan reaksi apapun mendengarkan pembicaraan orang itu. Marissa hanya akan menuruti apa pun kemauan mereka. Ancaman mama Nisa sebelum pernikahan terjadi membuat mental Marisa down. Seperti keinginan mama Nisa. Dia akan melahirkan bayi itu dan menyerahkan kepada Arjuna dan mama Nisa sebagai balas budi atas semua kebaikan yang dia terima dari mama Nisa.
"Kalau Marissa tinggal terpisah dari kalian. Bagaimana pembagian waktu antara istri pertama dan istri kedua Arjuna?" tanya Nenek Rosa.
Mama Nisa dan Arjuna saling berpandangan. Mereka tidak membahas itu sama sekali karena salah satu persyaratan yang diajukan oleh mama Nisa adalah malam malam yang dia lalui tidak boleh tanpa Arjuna. Itu artinya, tidak ada jatah waktu bagi Marissa.
Arjuna dan mama Nisa tidak menjawab pertanyaan itu. Ternyata dugaan Kakek Heri benar.
"Kalau kalian tidak menginginkan Marissa tinggal di rumah ini. Maka Marissa akan tinggal di paviliun," kata Kakek Heri. Di belakangnya rumah itu ada paviliun yang biasanya dipakai kakek Heri untuk menyalurkan hobby melukis. Rumah ini adalah rumah utama kakek Heri yang langsung diwariskan kepada Arjuna di Hari pernikahan mereka. Kakek dan Nenek memilih pindah dan menempati rumah yang lebih kecil karena mereka pernah berpikir jika Arjuna dan Nisa akan mempunyai anak yang banyak. Rumah ini sangat besar. Di antara rumah utama dan paviliun ada kolam renang dan di sebelah paviliun itu adalah taman yang ditumbuhi aneka bunga bunga cantik dan Mahal.
Mama Nisa hendak protes tapi tatapan tajam sang papa mertua membungkam mulutnya hingga tidak bisa mengeluarkan satu katapun dari mulutnya. Tanpa mendengar persetujuan dari Arjuna. Kakek Heri menyuruh para pekerja untuk membersihkan paviliun dan memindahkan semua peralatan melukis miliknya dari paviliun itu.
"Sekarang Papa ingin mendengar pembagian waktu antara Nisa dan Marissa," kata Kakek Heri mendesak Arjuna.
"Biarkan Nisa yang menentukan pa," jawab Arjuna. Dia tidak ingin menyakiti hati Nisa semakin dalam lagi dengan membagi waktunya dengan Marissa.
Nisa menatap kakek Heri dan Marissa. Dia membenci kakek Heri yang berbalik arah seakan mendukung Marissa dan terlalu jauh ikut campur dengan masalah ini. Selama ini, kakek Heri tidak menyukai bahkan mengatakan Marissa sebagai anak pembawa sial di rumah tangga mereka. Tapi kini, Kakek Heri terlihat menyayangi gadis belia itu.
"Baiklah, aku setuju dengan pembagian waktu antara aku dan Marissa. Tapi ada syaratnya. Wilayah Marissa hanya sebatas paviliun dan tidak boleh masuk lagi ke rumah ini tanpa seijin ku. Tentang pembagian waktu. Senin, Selasa dan Rabu adalah Jatah untuk Marissa dan Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu untuk aku sendiri."
Mama Nisa membuat banyak waktu dan memilih Sabtu dan Minggu untuk dirinya karena Sabtu dan Minggu adalah hari libur dan sepanjang hari Arjuna bagi dirinya. Sedangkan jatah waktu untuk Marissa bisa dipastikan jika Marissa hanya mendapatkan waktu malam hari saja. Arjuna adalah pria pekerja keras pergi pagi dan pulang malam hari. Selain itu Mama Nisa merasa dirinya akan bisa mempengaruhi Arjuna untuk tinggal bersama dirinya di jatah waktu yang seharusnya dengan Marissa.
"Bagus. Dan kami berdua juga akan tinggal di rumah ini. Kami ingin menjaga Marissa. Terlepas siapa Marissa. Bayinya adalah sesuatu yang paling berharga bagi kami melebihi apapun," kata kakek Heri. Kakek Heri dan yang lainnya tidak mengetahui jika mama Nisa mengepalkan tangannya.
Mama Nisa merasa kesal.Jika kedua mertuanya berada di rumah itu maka dirinya tidak bisa merasa bebas dan pasti tidak akan bisa menahan Arjuna di pembagian waktu yang sudah ditentukan. Sedangkan Arjuna, dia tidak keberatan dengan apa yang diinginkan oleh papanya itu.
Marissa diam membisu. Gadis belia itu tidak mengeluarkan satu katapun dari mulutnya. Bahkan ketika para pekerja memindahkan barang barangnya ke paviliun.
"Tidak ada yang bisa melarang Marissa keluar masuk ke rumah ini. Dia memang akan tinggal di paviliun karena Nisa tidak ingin tinggal satu atap dengan Marissa. Tapi bukan berarti Nisa bisa melarang Marissa masuk ke dalam rumah. Pintu penghubung antara paviliun dan rumah akan tetap terbuka. Jangan ada yang berani mengunci pintu itu kapan pun," kata nenek Rosa. Nenek tidak menyukai perkataan Nisa yang seakan akan dirinya adalah pemilik rumah yang sesungguhnya. Rumah itu masih hasil keringat kakek Heri. Nenek Rosa merasa jika Nisa masih berstatus menantu bukan Pemilik rumah.
Mama Nisa semakin kesal. Dia merasa jika keberpihakan kedua mertuanya kepada Marissa. Dalam hati, dirinya semakin ketakutan karena di awal ini saja dirinya sudah tersisihkan oleh Marissa.
"Arjuna, antarkan Marissa ke paviliun sekarang juga," kata Kakek Heri.
"Iya papa," jawab Arjuna. Nisa ikut bangkit ketika Arjuna mengajak Marissa untuk secepatnya ke paviliun. Nisa juga ikut mengantarkan Marissa ke paviliun itu. Nisa tidak ingin Arjuna dan Marissa memiliki waktu untuk berduaan. Hari ini adalah hari Sabtu. Meskipun seharusnya malam ini adalah malam pertama untuk Arjuna dan Marissa. Nisa tidak akan membiarkan suami dan mantan putri angkatnya itu menghabiskan malam ini dengan tidur bersama.
Arjun dah berasa seperti ABG lg krn menikah dengan yg msh ABG
Beruntung km Arjun dpt Marissa yg msh ori😆