Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Imajinasi & Teror
Nuha terjingkat begitu langkahnya terhenti di depan pohon besar belakang sekolah. Dadanya berdesir tajam, sepasang matanya melebar. Terpaku pada seekor ular berbisa yang melingkar tidur memeluk sepotong wortel emas.
"Apa itu milikmu?"
Kelinci kecil itu mengangguk.
Ada sensasi dingin yang merayap di tengkuk Nuha. Menahan napas agar dadanya tidak bergerak naik-turun terlalu kentara, ia mulai mengendap-endap maju. "Baiklah," bisiknya sembari menelan ludah, mencoba mengusir rasa takut yang mencekik tenggorokan.
"Jangan nangis lagi ya kelinci kecil. Tenang aja, aku bakal bantu ambilin kok." Setiap tapak kakinya mendarat tanpa suara, sementara tangan kanannya terjulur lambat-lambat, gemetar di udara kosong di bawah pohon.
Di sisi bangunan, Naru mematung memperhatikan tingkah aneh gadis itu. Sorot matanya dipenuhi kerutan bingung. "Apa yang sebenarnya sedang dia lihat? Di mana kelinci yang dia sebut-sebut?" batinnya.
Di matanya, Nuha hanya sedang mengendap-endap penuh ketakutan mendekati tumpukan daun kering yang tak berisi apa-apa. Hal itu benar-benar membuatnya bertanya-tanya sekaligus ingin tahu lebih lanjut.
Tepat saat jemari Nuha bergerak menyambar wortel emas dalam ilusinya, ular itu terbangun. Gerakannya secepat kilat, rahang reptil itu mematuk punggung tangannya.
"Aw!"
Nuha memekik, tubuhnya kehilangan keseimbangan hingga jatuh terjerembab ke tanah yang keras. Rasa sakit yang teramat nyata menyengat sarafnya bak sengatan listrik.
"Astaga, apa yang terjadi?"
Jantung Naru ikut mencelos. Sudut tubuhnya menegang, hampir melangkah maju untuk menolong, namun rasa penasaran yang besar menahannya tetap di tempat.
Anehnya,
bukannya berterima kasih, si kelinci putih justru menyambar wortelnya lalu lari terbirit-birit makin jauh ke dalam semak-semak kebun sekolah.
Nuha meringis, "Aw, sakit ..." ia mengusap punggung tangan kanannya yang sebenarnya bersih tanpa luka. "Aku udah ngorbanin keberanianku buat ambil wortel itu, tapi kenapa kelinci itu malah kabur dan enggak berterima kasih? Hawa ... apa maksud dari semua ini?"
"Itu artinya, ketika kamu memilih berkorban demi orang lain, belum tentu orang tersebut bakal menghargai usahamu, Nuha," jawab Hawa dengan suara tarikan nafas yang berat.
"Apa ... ini tentang Sifa?"
"Pikir saja sendiri."
"Tapi Sifa nggak bakal kek gitu."
Ya, begitulah cara kerja otak Nuha yang unik. Khayalannya bukan sekadar pelarian kosong. Alam bawah sadarnya sengaja memproyeksikan benang kusut masalah di dunia nyata menjadi sebuah fabel ajaib di dalam kepalanya, di mana ego dan logikanya berdebat lewat sosok "Hawa".
Hawa mencoba menyadarkan, "Nuha, sebaiklah kita nggak usah bermain-main seperti ini lagi deh. Aku khawatir bahaya bisa mengintaimu. Kamu ingat kan kata Kak Muha?"
"Nggak papa. Aku bisa jaga diri kok--"
Perdebatan itu seketika hancur berkeping-keping saat sebuah suara nyata memecah keheningan di belakangnya. "Kamu ... lagi bicara sama siapa?"
Seketika seluruh saraf di tubuh Nuha menjerit tegang. Ia menoleh patah-patah ke belakang. Jantungnya nyaris copot begitu mendapati seseorang berdiri nyata hanya beberapa langkah di belakangnya, memergoki tingkahnya.
Nuha mundur teratur, wajahnya pucat. "Ka-- kamu? Kamu lagi? Kamu siapa? Makhluk palsu? Aku tidak pernah menciptakanmu!!"
Naru mengernyitkan dahi dalam-dalam, benar-benar asing dengan istilah itu. "Lagi-lagi ... Apa sih maksudmu? Apa itu makhluk palsu?"
"Dia asli, Nuha," jawab Hawa.
"He?"
Nuha langsung panik setengah mati. Tak ingin hilang kendali dan melakukan adu jotos dengan pria asing itu lagi, ia langsung melarikan diri, nekat menerobos rimbunnya pepohonan di area belakang sekolah yang terlarang.
"Oi, tunggu! Jangan ke sana!"
Nuha terus berlari kencang tanpa arah, kepalanya berulang kali menoleh ke belakang dengan panik. Padahal, Naru sama sekali tidak berniat menakut-nakutinya, namun gadis itu sudah kepalang terbirit-birit seperti dikejar setan.
Hingga tiba-tiba ... BRUK!
Ujung sepatu Nuha tersandung akar pohon besar yang mencuat dari dalam tanah. Tubuhnya limbung, terlempar keras ke depan hingga terperosok ke area tanah berbatu.
Kedua telapak tangannya bergesekan kasar dengan kerikil tajam saat mencoba menahan badan, menyisakan goresan panjang hingga ke lipatan siku. Tidak sampai di situ, dagunya ikut terhantuk batu permukaan hingga kulitnya robek dan mengeluarkan darah segar.
"Aww! Sa ... sakit, hiks. A-awww," rintih Nuha lirih. Sekujur tubuhnya seketika terasa kaku dan ngilu luar biasa, membuatnya sama sekali tidak punya kekuatan untuk bangkit dari posisi telungkupnya. Bahaya nyata di kebun belakang itu akhirnya benar-benar mengenainya.
"Ya Tuhan! Nuha!!"
Naru yang menyaksikan kejadian itu langsung melompat panik. Ia berlutut di tanah, dengan gerakan sehati-hati mungkin membalikkan tubuh Nuha agar bisa bernapas. Jantung Naru serasa berhenti berdetak saat melihat kondisi gadis itu.
Pakaian sekolah Nuha kotor penuh tanah kering. Sementara luka-luka goresan menyebar di tangan dan dagunya, tampak memprihatinkan karena kemasukan kerikil kecil, pasir, dan darah yang mulai mengalir.
"Sakit ... huhu ... sakiiit banget ..."
Nuha menangis sesenggukan, seluruh pertahanan dirinya runtuh total. Rasa sakit fisik itu seketika membuyarkan sisa-sisa halusinasi tentang kelinci dan ular di kepalanya, memaksanya menghadapi realitas yang begitu perih.
"Kamu ... kamu enggak apa-apa?" Suara Naru bergetar hebat. Jari-jarinya ikut gemetar di udara, tidak kuasa menyentuh luka-luka segar yang menganga. "Kita ke rumah sakit sekarang, ya?"
"Sakit ... sakit ... aku mau pulang ... hiks ini sakit ..." Nuha merintih pilu, air matanya terus bercucuran.
"Ke rumah sakit dulu, kita obatin luka kamu," bujuk Naru setengah mati. Perasaannya berdenyut nyeri melihat bibir Nuha yang mendadak membiru dan gemetar menahan perih.
"Cup, tenanglah. Aku akan menolongmu," dengan tangan yang masih gemetar, Naru mengusap air mata yang terus mengalir di pipi Nuha, mencoba membersihkan sisa-sisa tanah yang menempel di sana.
Egonya yang biasanya selalu tenang dan terhitung lambat dalam merespons emosi, kini justru membuat Naru merutuki dirinya sendiri setengah mati. Kenapa aku enggak langsung nahan dia tadi?! Kenapa aku lambat banget?!
"Ck! Sial! Berpikir, Naru! Berpikir! Lemot banget sih nih otak!" umpatnya pada diri sendiri, membuang jauh-jauh topeng ketenangannya.
"Huhuuu ... Sakit ..."
Tanpa memedulikan baju mahalnya yang akan kotor oleh noda darah dan tanah, Naru segera menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Nuha. Ia membopong tubuh mungil itu dalam sekali hentakan.
"Sabar ya, bertahanlah!"
Namun, tepat saat ia baru melangkah dua kali, ponsel di saku jasnya mendadak bergetar hebat diiringi nada dering khusus yang sangat ia takuti.
Naru melirik layar ponselnya sekilas dengan susah payah. Nama yang tertera di sana seketika membuat darahnya berdesir dingin.
"Kuso! Kakek menelepon!"
Panggilan internasional dari Jepang di jam seperti ini jelas bukan sekadar obrolan iseng. Mengabaikannya sama saja dengan memicu badai besar di keluarganya.
Terpaksa, Naru mengurungkan niatnya untuk kembali berlari. Ia perlahan memposisikan Nuha untuk bersandar nyaman dalam dekapannya yang erat. Ia membiarkan gadis itu terus menangis sesenggukan menahan perih. Sementara tangan kanannya merogoh ponsel, menekan tombol hijau dengan ibu jari yang gemetar.
Naru menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan seluruh kepanikannya agar suaranya terdengar seformal dan setenang mungkin.
"Moshi-moshi, Oji-sama?" ucap Naru, menyapa sang kakek dengan bahasa Jepang yang sangat santun.
"Pulang, Naru! Sekarang!" Suara bariton di seberang telepon terdengar sangat dingin, berwibawa, dan tidak menerima bantahan apa pun.
"Nani?!" Naru kaget bukan main.
"Kalau dalam waktu dua belas jam perjalanan pulangmu belum sampai ke Tokyo ... Kakek tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman berat dan mencabut semua fasilitasmu di Indonesia!"
"Ma-- Matte! Oji-sama ..."
TUT!
Panggilan itu diputus sepihak dari sana.
"Oji-sama?! Oji-sama!!" Naru menatap layar ponselnya yang sudah menggelap dengan napas memburu.
"Argh! Keterlaluan!" umpat Naru frustrasi. Angka 12 jam itu adalah waktu yang sangat mepet jika dihitung dengan kemacetan jalan dan persiapan take-off.
Membawa Nuha ke rumah sakit luar sekarang jelas tidak akan sempat karena dia harus berkejaran dengan waktu ke bandara. Berpikir cepat, Naru langsung mengubah targetnya. Ia kembali membopong tubuh Nuha dengan erat, lalu setengah berlari memotong jalur menuju ke arah gedung sekolah.
"Maaf ... maafkan aku. Aku cuma bisa bawa kamu ke UKS sekolah dulu," ucap Naru dengan napas terengah-engah di sepanjang koridor sepi. Rasa bersalahnya kini berlipat ganda karena harus meninggalkan Nuha dalam kondisi seperti ini.
"Perih ... ini sakiiit banget, huuuu ..."
.
.
. Next》Bab 12? Stay tune 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.