NovelToon NovelToon
The Cure Was You

The Cure Was You

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta Terlarang
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Xereaa

Dua kali gagal menikah membuat Rellunae berhenti percaya pada cinta. Baginya, semua orang hanya datang untuk pergi, tidak ada pria yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Sampai ia bertemu Orion. Seorang pasien dengan masa lalu kelam yang dipindahkan dari satu rumah sakit jiwa ke rumah sakit jiwa lainnya karena tak seorang pun mampu menanganinya.
Awalnya Rellunae hanya ingin menyembuhkan. Namun ia tidak menyadari bahwa setiap senyuman, perhatian, dan kebaikan yang diberikannya perlahan membuat dirinya menjadi pusat dunia pasiennya. Bagi Orion, Rellunae bukan hanya sekedar psikiater, melainkan seseorang yang harus tetap berada di sisinya apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jika satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus adalah seseorang yang mencintainya terlalu dalam hingga berubah menjadi obsesi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xereaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01 | Tujuh Belas Ribu Dolar

"Luna, coba deh kesini," pinta seorang wanita dengan garis tegas di rahangnya. Kedua tangannya memegang satu gaun megah berwarna putih dengan detail emas.

"Ada apa, Bun?"

"Coba deh kamu pake gaun ini, bunda mau lihat di kamu cocok atau ngga."

Mata gadis itu memperhatikan gaun pengantin yang berada di tangan bundanya. Gaun pengantin itu didominasi warna putih mutiara dengan sentuhan emas lembut yang menjalar seperti sulur-sulur bunga di seluruh permukaannya. Potongan off-shoulder memperlihatkan bahu dengan anggun, sementara detail bordir keemasan di bagian dada membentuk pola menyerupai bunga dan dedaunan yang mekar di bawah cahaya bulan.

Tawa sumbang dari mulutnya keluar begitu saja. Bundanya mengambil gaun termahal di butik itu untuk pernikahannya yang akan diadakan tiga minggu lagi. Gadis itu tidak yakin ia sanggup memakai gaun se anggun itu. "B-bunda yakin mau ambil yang ini buat Luna? K-kenapa ngga lihat-lihat yang lain dulu?"

"Udah kamu coba pake dulu." Tangan bunda yang sudah sedikit keriput menarik sosok gadis yang ia panggil Luna itu menuju ke ruang ganti. Yang ditarik hanya menurut karena ia sudah tau bundanya adalah wanita paling batu yang pernah ia temui.

Di dalam ruang ganti, sang gadis tidak langsung mencoba gaunnya. Ia lebih memilih memandangi gaun dihadapannya dan berbicara pada dirinya sendiri

"Kasian ya nasibmu harus berakhir sama aku. Padahal... kalo kamu dipake sama cewek lain, aku yakin kalian berdua bakal sama-sama anggun. Jangan berharap lebih kalo aku yang pake ya?"

Dengan gerakan hati-hati, ia memakainya. Gadis itu berusaha selembut mungkin saat mengenakan gaun ditangannya agar tidak ada yang rusak bahkan satu helai benangpun. Setelah gaun itu melekat pas ditubuhnya, ia melihat cermin dihadapannya. Cantik. Sangat cantik. Luna dibuat takjub oleh gaun itu.

'Tok tok tok'

"Luna sayang, kamu ada kendala kah? Dari tadi kok ngga keluar?" Gadis itu langsung tersadar bahwa dirinya sudah memakan waktu lama di ruang ganti. Ia buru-buru membuka pintu dan mendapati bundanya yang terdiam melihat dirinya.

"Eumm... Bun..?"

Untuk beberapa detik, wanita itu hanya menatapnya tanpa berkedip sebelum kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Ya ampun..." Suaranya bergetar pelan. "Cantik sekali anak Bunda. Gaunnya cocok banget sama kamu, Sayang."

Luna hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk tangan kirinya yang memang gatal. Pikiran gadis itu berisik. Firasatnya berkata bahwa beberapa saat lagi bundanya pasti akan bertanya harga gaun yang sedang ia kenakan. Ia harus mencari cara agar bundanya berubah pikiran.

"Harga gaun ini kira-kira sampai berapa, ya, Mbak?" Dan benar. Firasat Luna tidak meleset.

"Harganya sampai $17.000 ya bu."

"Uhuk! Uhuk! Ekhem!" Bagai tersambar petir di siang bolong, tenggorokan Luna seperti kemasukan paku saat mendengar harga gaun yang sedang ia pakai. Bundanya yang sedang mencari dompet di tas limited edition langsung menatapnya dengan wajah khawatir. "Kamu sakit, Lun?"

Tangan Luna reflek berhenti menepuk dada diikuti dengan tenggorokan yang menelan ludah. Kepalanya menggeleng cepat. "Engga Bun, Luna sehat kok."

Jawaban Luna hanya dibalas dengan senyuman. "Ini ya Mbak kartunya. Gaunnya fiks saya ambil buat calon menantu saya." Mata Luna mengikuti kartu berwarna hitam itu yang sudah pindah ke tangan pegawai butik.

"Bunda yakin? Harga gaun yang Luna pake bisa buat beli mobil loh Bunn," ucap Luna berusaha merubah pikiran calon mertuanya.

"Tapi kamu suka kan sama gaunnya?"

"Y-ya suka sih... Tapi kan harganya yang ngga suka Bun. Uang segitu bisa Bunda simpan buat beli sesuatu yang Bunda mau, kenapa harus dihabisin buat beli satu gaun untuk Luna?"

Kalimat itu membuat wanita paruh baya di hadapannya tertawa pelan. Suaranya lembut dan elegan, tapi entah kenapa Luna merasa setiap "ha" yang keluar dari mulut wanita itu bernilai ribuan dolar. Luna menatap bundanya dengan ngeri. Orang kaya memang beda. Tujuh belas ribu dolar baru saja melayang dan wanita disampingnya masih bisa tertawa seolah baru kehilangan recehan di saku.

"Nyonya, ini kartunya." Suara pegawai butik sukses membuyarkan lamunan Luna. Bundanya menerima kartu hitam miliknya dengan senang hati.

"Oh iya, Nyonya. Harga itu sudah termasuk seluruh aksesoris pernikahannya," jelas pegawai butik dengan ramah. "Mulai dari tiara, veil, kalung, hingga anting. Mau saya bungkuskan langsung, atau mungkin Nyonya dan Nona ingin melihat-lihat dulu aksesorisnya?"

Luna dan bundanya saling bertukar pandang. "Saya mau lihat dulu, Mbak."

Si pegawai mengangguk lalu berjalan menuju bagian belakang butik untuk mengambil aksesoris yang dimaksud. Sembari menunggu, Luna bingung harus membicarakan apa dengan wanita paruh baya di sampingnya yang kini tampak lebih tertarik melihat-lihat koleksi gaun lainnya.

Jemarinya bergerak pelan menyusuri lipatan rok gaun yang mengembang indah di sekeliling pinggangnya. Bahkan sekarang ia masih sulit mempercayai bahwa gaun itu benar-benar akan menjadi miliknya. "Masih syok?" tanya Bundanya sambil tersenyum.

Luna langsung menoleh. "Banget, Bun." Jawaban jujurnya membuat wanita itu tertawa kecil.

"Luna, kamu jangan merasa utang budi atau apa pun ke Bunda ya. Bunda cuma mau kamu dan anak Bunda bahagia di hari pernikahan kalian," tuturnya lembut seraya menggenggam kedua tangan calon menantunya.

"Dan soal gaun ini..." wanita itu tersenyum. "Sebenarnya Julian yang meminta Bunda menemanimu fitting."

Luna berkedip. "Dia?"

"Iya. Dia bilang dia ngga bisa menemanimu karena pekerjaan, jadi dia memohon pada Bunda untuk datang menggantikannya."

Wanita itu mengangkat kartu hitam yang sedari tadi berada di tangannya. "Bahkan kartu ini juga miliknya. Dia sudah mengirimkannya jauh-jauh hari dan berpesan agar kamu memilih gaun yang paling kamu suka."

Luna terdiam selama beberapa detik. Entah kenapa, beban yang sedari tadi menekan dadanya mendadak berkurang. Setidaknya sekarang ia tahu bahwa uang yang digunakan untuk membeli gaun itu bukanlah milik calon mertuanya. Tapi tetap saja mahal. Sangat mahal.

Dan entah kenapa rasanya jauh lebih melegakan.

"Oh..." gumamnya pelan. Dirinya kemudian terkekeh kecil.

"Kenapa?"

Luna menggeleng cepat. "Ngga kenapa-kenapa, Bun."

Bohong. Luna mengakui bahwa ia tadi hampir mati karena merasa tidak enak pada calon mertuanya. Sekarang setidaknya ia hanya perlu merasa tidak enak pada calon suaminya sendiri dan menurutnya, itu sedikit lebih baik.

"Tapi Julian ngga bilang apa-apa soal ini ke Luna, Bun," ujarnya pelan. Jemarinya tanpa sadar meremas kain gaun yang ia kenakan.

Bundanya tersenyum kecil. "Karena dia memang seperti itu."

Ucapan wanita itu sukses membuat Luna menatapnya dengan minat. "Kalau sudah soal kamu, dia lebih suka menunjukkannya lewat tindakan daripada kata-kata."

Luna terdiam sejenak. "T-tapi..."

"Dia sudah menghubungi Bunda jauh-jauh hari sebelum keberangkatannya. Dia bilang dia ngga mau kamu sendirian mengurus persiapan pernikahan." Wanita itu menghela napas sebelum melanjutkan. "Makanya dia minta Bunda untuk menemanimu. Dia bahkan berulang kali mengingatkan Bunda agar memastikan kamu memilih gaun yang benar-benar kamu suka," papar sang calon mertua diiringi senyum yang semakin lebar di wajahnya.

Entah kenapa pipi si gadis yang sebentar lagi akan menikah itu terasa sedikit hangat saat mendengarnya. Ia menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum yang perlahan muncul di wajahnya.

☆☆☆

Luna merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Acara fitting gaun membuat jiwa dan raganya lelah, apalagi setelah mendengar tujuh belas ribu dolar itu. Rasa-rasanya jantung Luna ingin berteriak minta keluar. Baru saja ia hendak memejamkan matanya ketika ponselnya bergetar.

Julian calling...

Sudut bibir Luna tanpa sadar terangkat. Ini yang ia harapkan sejak tadi. Jempolnya langsung menggeser ke kanan icon berbentuk telepon warna hijau sebelum dering kedua sempat berbunyi. Napas Luna tertahan saat suara lelaki khas terdengar dari speaker.

"Hai, calon pengantinku. How's ur day, huh?"

1
Rian Moontero
mampiiirr👍😄
Sia Rivera: thankss sudah mampirr🙌🏻
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut thor
yaya
when ya dapet mertua yang royal...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!