NovelToon NovelToon
Because I Love You

Because I Love You

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:4.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eka July

"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.

'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.

"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.

Hening sesaat.

'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 Jadi Kapan Kita Akan Bercerai?

“Mingir-minggir!” Max mengusir siswa lain yang sedang sibuk mengobrol di salah satu meja kantin, dengan cepat mereka pergi setelah tahu bahwa Max sudah berdiri sambil menatap tajam kearah mereka. Max selalu bersikap seenaknya, dan semua orang takut padanya. Karena ia adalah anak salah satu pemengang saham di kampus itu.

Dean melihat suasana di kantin sangat ramai bahkan semua meja penuh, tapi tetap dirinya tidak suka dengan sikap berkuasa yang di tunjukan Max padanya dan semua orang.

“Mau pesan apa?” Max bertanya dengan suara lembut sambil menatap Dean yang duduk di hadapanya.

“Aku pesan ayam bakar sambel hijau.” jawab Mimi cepat.

“Bukan kamu bodoh, aku bertanya pada Dean.” Max melotot pada Mimi membuat gadis berwajah oriental itu menunduk takut.

“Aku, samakan saja dengan Mimi.” jawab Dean acuh, ia masih mengamati beberapa orang di kantin itu, ada yang menatapnya tidak suka dan ada pula yang menatapnya kagum. Dean bisa membaca raut muka mereka karena ia telah belajar tentang Psikologi sebelumnya.

“Kalau minumnya apa?” Max tersenyum masih dengan menatap Dean.

“Aku, es jeruk.” Mimi menjawab cepat, Max mulai terlihat kesal sambil

melotot pada Mimi, Max terlihat ingin memakan gadis itu sekarang, tapi niatnya ia urungkan saat mendengar suara Dean.

“Sama.”

***

“Her,” sapa Aulia saat melihat laki-laki itu menuju parkiran.

“Ya, ada apa Aulia?” Hermawan tersenyum lembut.

“Mobilku mogok, bisakah kamu mengantarku pulang?” Aulia memohon, dari tadi ia mencoba menyalakan mesin mobilnya tapi gagal, Aulia tidak mengerti mesin, ia juga sudah menghubungi pihak bengkel agar datang untuk memperbaiki mobilnya, tapi sudah hampir tiga puluh menit menunggu mereka belum juga datang.

“Tapi aku harus menjemput De-”

”Menjemput siapa?”Aulia bertanya dambil menatap laki-laki di hadapanya. Aulia mulai bingung dengan Hermawan, laki-laki ini seperti menyimpan rahasia, tapi Aulia dengan cepat menepisnya ia masih yakin Hermawan masih sangat mencintanya sama seperti dulu.

“Bukan siapa-siapa, aku akan mengantarmu pulang.”

“Wow! Kamu membeli mobil baru?” Aulia terus mengangah, menatap mobil yang mereka tujuh, Hermawan segera membuka pintu mobilnya mempersilakan Aulia untuk masuk.

“Ini bukan mobilku, aku hanya meminjamnya.”

Hermawan menjelasakan, benar itu hanya mobil Dean, wanita yang berstatus sebagai istrinya itu meminjamkan mobilnya tepatnya menukar mobil mereka, tapi Hermawan tahu bawah Dean belum perna memakai mobil miliknya, karena tadi dia yang mengantar Dean langsung.

“Waw, ini sangat keren.” kagum Aulia.

***

Dean berdiri di parkiran sambil menunggu suaminya, beberapa kali Dean menatap jam tanganya, sambil sesekali melihat ke arah gerbang kampusnya berharap Hermawan segera datang menjemputnya. Dean mengalikan pandanganya pada ponsel pintar miliknya saat sebuah pesan singkat masuk memperlihatkan sebuah poto Hermawan dengan Aulia di sana. Hermawan membukaan pitu mobilnya dan mempersilakan Aulia memasuki mobil mewah miliknya sambil tersenyum lebar.

“Dasar berengsek, apa dia lupa janjinya!” Gumam Dean kesal, tentu saja Dia kesal, ia sudah menunggu Wawan dua jam. “Dasar wanita murahan, kamu telah menyentuh barangku tanpa izin.”

****

Sebuah mobil yang Dean kenal datang menghampirinya, sang pemilik segera turun menghampirinya dengan tergesah-gesah “Dean aku min-”

“Taksi!” Dean berlari secepat mungkin menuju taksi yang berhenti tepat di depan gerbang kampusnya, walau Dean tahu Hermawan ikut berlari mengejarnya tapi Dean tidak perduli, bahkan saat Hermawan mengetok jendela taksi itu sambil berteriak memanggil namanya,

”Jalan pak.”

Hermawan hanya bisa menarik napas dalam saat melihat taksi itu berlalu dengan cepat, ia sadar sudah salah membiarkan Dean menunggu sangat lama, tadi Hermawan berusaha menghubungi Dean tapi batre ponselnya habis, “Seharusnya aku tidak mengantar Aulia pulang.”

***

“Dean maafkan aku!” Hermawan berteriak sambil mengetuk pintu kamar Dean, tidak ada jawaban dari dalam, “Dean aku mohon buka pintunya, aku benar-benar minta maaf, mobil Aulia mogok jadi aku terpaksa mengantarnya pulang. Aku mohon maafkan aku!”

Laki-laki itu menjelaskan sambil berteriak, sudah hampir setengah jam ia berdiri sambil mengetuk pintu itu seperti orang gila.

Pandanganya seketika berubah saat mendengar pintu apartemen terbuka, Dean masuk dengan senyum lembut.

“Kamu mau apa berdiri di depan kamarku?” Dean menyelidik.

“Kamu, kamu baru baru pulang?” Hermawan menatap wanita di hadapanya, dan menyadari kebodohanya, Dean mengangguk sesaat.

“Aku lapar cepat masak.”

***

Hermawan tersenyum lebar sambil mamasak, sesekali ia mencuri pandang pada Dean yang terlihat tertarik dengan kegiatanya memasaknya, bahkan Dean membantunya mengaduk kari yang ia masak.

Sebuah kekehan lolos dari mulut Hermawan saat Dean berusaha membalik ayam goreng yang ada di wajan, Dean mundur satu langkah saat melihat minyak yang mendidih, lalu menyodorkan spatula pada Hermawan. Dean kembali menekuk wajahnya. Hermawan benar-benar merasa gemas melihat tingkah Dean yang mudah sekali merajuk hanya karena hal kecil.

“Dean, aku minta maaf tadi mobil Aulia mogok dan aku mengantarnya pulang, aku berusaha mengubungimu tapi batre ponselku habis.” Hermawan berkata jujur saat mereka berdua menikmati makan malam bersama, Hermawan memperhatikan Dean yang sangat lahab menikmati makan malamnya, laki-laki itu baru akan menyendok makananya saat mendengar jawab dari Dean.

“Oh, itu tidak apa-apa, aku senang kalian semakin akrab, jadi kapan kita akan bercerai?” Dean bertanya tanpa menoleh laki-laki di hadapanya, ia subuk mengunya makan malamnya.

Jantung Hermawan terasa seperti di remas. Sakit, itulah yang ia rasakan sekarang. Dean memintanya bercerai setelah apa yang mereka lalu bersama selama ini, dengan mudahnya Dean mengatakan itu.

“Apa bercerai? apa kamu gila, kamu istriku!” Hermawan membentaknya, emosi Hermawan sudah tidak bisa ia tahan lagi.

“Aku memang isrtrimu. Apa kamu lupa? aku menjebakmu agar mau menikahi ku, dan kamu tidak mencintaiku Hermawan.” jawab Dean dengan suara yang tenang sambil menatap Hermawan, Dean bahkan tidak terpancing akan sikap Hermawan padanya, bahkan saat ini Dean tersenyum lembut pada laki-laki di hadapanya.

Laki-laki itu tidak bisa menjawab apa yang Dean katakan semuanya benar, Dean memaksanya menikahinya dan Hermawan tidak mencintai Dean?

“Aku akan mengantarmu ke kampus besok.”

“Tidak usah, aku akan membawa mobil sendiri.” Dean beranjak dari meja makanya ia segera mencuci piring makanya, setelah itu kembali ke kamarnya.

Hermawan masih menatap kursi kosong di hadapanya yang tadi Dean gunakan. Hatinya menjadi bimbang memilih Aulia gadis yang ia cintai selama sepuluh tahun atau Dean istrinya yang belum genap empat bulan lebih ia nikahi.

***

“Salamat pagi cantik,” sapa Max tersemyum lembut, sambil memepersilakan Dean duduk pada kursi di sampingnya, tapi Dean tidak mengindahkan ia lebih memilih duduk pada kursi samping Mimi yang biasa ia tempati .

“Max berhenti mengodaku. Aku sudah menikah, dan kamu mengoda istri orang!” jawab Dean kesal, sudah hampir setiap hari Max selalu mengodanya dan Dean tidak menyukai itu.

Max tertawa keras setiap Dean mengatakan bahwa dia sudah menikah, Max tidak perna melihat Dean diantar oleh seorang laki-laki selama seminggu ini, ia bahkan mendapati Dean selalu datang menggunakan taksi begitu juga saat ia pulang dari kampus, berulang kali Max memaksa Dean untuk mengantarnya pulang tapi Dean selalu menolak dengan berbagai alasan.

“Aku tidak percaya kamu sudah menikah, kamu bahkan tidak memakai cincin kawin,” Max menjelaskan “Seandainyapun kamu menikah, aku akan mengunggu hingga kamu bercerai.” tambah laki-laki itu kemudian menyodorkan coklat batangan yang di balut pita berwaranah pink.

Dean diam sesaat, benar apa yang Max katakan ia dan Wawan tidak memakai cincin kawin. Mana mungkin memakai cincin kawin, mereka bahkan menikah dadakan, Paman dan Bibi juga lupa membelikan cincin itu.

Dean tersenyum kecut saat mengingat bahwa mereka sudah seminggu ini menjaga jarak satu sama lain, bahkan Dean masih mengingat suasana makan malam itu saat dirinya meminta cerai pada Hermawan, ‘Kami akan bercerai bagaimana mungkin aku memerlukan sebuah cincin?’

“Mimi, kamu membawa pesananku!” Dean berteriak saat melihat gadis itu masuk keruangan kelas, Dean bahkan mengabaikan Max yang dari tadi menanti jawaban darinya atas pentanyaan dan pernyataan yang ia lontarkan.

“Tentu saja!” Mimi segera berjalan menuju Dean kemudian mengusir Max dari tempat duduknya membuat Max mengeram kesal. Ia menyodorkan sekotak kue coklat pada Dean yang sudah dia siapkan sebelum pergi ke toilet tadi.

“Aku akan membayarnya, berapa semuanya?”

“Tidak usa, aku senang membuatnya, kamu cukup menjadi sahabatku.” jawab Mimi tersenyum. Mimi senang melihat Dean mengangguk, selama ini dia tidak mempunyai banyak teman, orang-orang yang berteman dengannya hanya memanfaatkanya untuk mendapatkan makanan gratis, Dean adalah orang pertama yang mengatakan akan membayar kue pemberianya.

Mimi menolak bukan karena materi, tapi karena selama beberapa minggu ini hanya Dean yang bersedia makan bersamanya. Semua orang menghindarinya karena menganggap Mimi aneh, dengan kaca mata tebal dan muka yang berjerawat, kulitnya juga kecoklatan karena sering terkena paparan cahaya matahari. Bukan tanpa alasan karena Mimi memilih jalan kaki saat pulang kulia, jarak rumahnya memang tidak terlalu jauh hanya memakan waktu dua puluh berjalan kaki.

“Untuk ku mana?” Max bertanya sambil menatap kotak kue yang telah kosong. pandangan Max berali pada dua wanita yang tampak sibuk menikmati roti di tangan mereka.

“Kamu juga mau? besok aku akan membuatkanya untukmu,” jawab Mimi cepat.

“Tidak usa Mi, kamu jangan mau di manfaatkan laki-laki ini, dia tidak tulus denganmu.” Dean mengejek, sambil menatap wajah Max lekat-lekat, ia bisa melihat Max akan berbuat baik kalau mengingikan sesuatu, berbeda dengan Mimi gadis itu polos dan baik hati, ia juga selalu jujur. Dean bisa melihat Mimi bukan tipe orang yang pandai berbohong, itulah mengapa Dean sangat menyukai Mimi.

“Tidak apa-apa, aku senang Max mau mencobah kue buatan ku.” Jawab Mimi membuat Max tersenyum lebar.

“Ini untukmu.” Dean memberikan coklat yang Max berikan tadi, membuat laki-laki itu protes.

“Itu untukmu, bukan untuk dia!”Max menunjuk muka Mimi.

“Kamu telah memberikanya padaku, jadi terserah aku mau memberikanya pada siapa.” Dean segera membuka bungkus coklatnya, kemudian mengarahkanya kemulut Mimi, dengan cepat melahap coklat itu. Dean tersenyum lebar saat melihat wajah Max yang merah padam menahan amarahnya.

Dean tidak perduli, Max seharusnya belajar banyak dari Mimi, wanita itu sangat baik dalam mengendalikan emosinya, walau umurnya masih delapan belas tahun, tapi Dean melihat bahwa Mimi lebih dewasa di bandingkan Max.

Walau umur Dean sama dengan Max, Dean merasa bahwa ia juga memiliki sifat kekanak-kanakan tapi separah Max?

1
Katherina Ajawaila
waaaauuu, kejadian yg aneh aja 🙂
Wahyuni Yuni
Luar biasa
ICA
Menurut aku si hermawan nya ngg SEkejam itu sma si DEANNYA karna dean pun apa apa ngg bisa terkecuali si hermawan ada maki2 si deannya baru itu kejam flasback sma kejadian sebelum nya aja cara mereka ketemu smpai menikah kurasa masij normal aja nma jga orang yg ngg kita kenal tiba ajak nikah gimana perasaan klian ngg mingkin dong langsung akrab gitu aja
Hanifah Henny
paragrafnya buat sakit mata gk ada spasinya
Agle
Luar biasa
PANJUL MAN
suka skali ceritanya walaupun bacanya sambil kesal liat tulisannya tapi bikin penasaran
Nancy Bondan
Luar biasa
Fafaaa
👍🏻👍🏻👍🏻
Gita Risnawati
ko sakit yaa
Gita Risnawati
harus banget kya gitu ya dean??
Gita Risnawati
haduuhhh si wawan
Gita Risnawati
ko mau ya wawan masakin, nikahnya kan d jebak
Gita Risnawati
apa wawan gx penasaran sma dean sebenernya siapa yaa??
Gita Risnawati
gemes banget ama dean
Gita Risnawati
dean dean,...
Gita Risnawati
dean²,....
Gita Risnawati
haduh ada² aja dean
Gita Risnawati
baru baca 1 bab, kayaknya seru, jdi penasaran
FUZEIN
Dah tahu yg dtolong masa lalu...masih juga lupa dengan masa depan...wawannn ni..ishhh
Dewi Kurniawati
bagus walau akhirnya membosankan...🙇‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!