NovelToon NovelToon
Teror Mahar Mewah

Teror Mahar Mewah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Perjodohan / Balas Dendam / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:30.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

Penuh dengan Misteri. 👺👺

Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.

Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.

Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Mayat

Aku merebahkan tubuh di atas ranjang, kedua mata menatap langit-langit kamar, kedua tangan memegang pinggiran selimut yang menutup separuh wajah. “Rasanya aku tidak ingin tidur, bagaimana jika aku tidur hantu wanita itu meneror ku.” Gumamku, aku menggeleng. “Tidak. Pak Ustad bilang, manusia yang kuat itu manusia yang bertawakkal kepada Allah. Aku harus mempercayai hal itu. Aku harus tidur.” Aku memejamkan kedua mataku, menutup seluruh wajah dengan selimut.

Belum sampai ke alam mimpi, aku mendengar suara hembusan nafas sangat berat di sisi kananku.

“Harggh…harggghh.”

Aku membuka kedua mataku, seluruh tubuh terasa kaku, wajah gemetar terpaksa menoleh ke sisi kiri untuk memastikan asal nafas terasa berat yang terus berbunyi, dan bau menyengat. Aku kembali menutup kedua kelopak mataku, keringat jagung mengalir deras mulai dari ujung kepala hingga ke seluruh tubuh, tubuhku terasa kaku, perlahan aku memiringkan tubuhku membelakangi hantu wanita yang terus menatap diriku dengan bola mata sebelah kanan hampir lepas dari tempatnya, belatung satu-persatu berjatuhan di atas ranjangku.

Belatung bergerak perlahan naik ke atas bajuku, aku hanya bisa diam di dalam rasa takut, jijik dan cemas. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa pasrah kepada Allah.

‘Ya, Allah. Sungguh mengerikan mahluk ciptaan kamu yang satu ini. Rasanya aku ingin berteriak tapi kenapa bibirku keluh, kedua kaki hendak berlari meninggalkan ranjang tapi kenapa terasa kaku. Aku sangat takut.’ Keluhku di dalam.

“KEM…BA…LI…KAN.”

Ucap hantu wanita berbisik di daun telingaku.

Mendengar suara hantu wanita cukup jelas sehingga hembusan nafasnya menyetuh pipiku, tubuhku segera bangkit, aku melompat dari ranjang menuju pintu kamar, tanpa menolehkan pandangan ke belakang. Tangan kanan hendak membuka pintu kamar, tapi tidak bisa, kejadian yang sama terulang kembali seperti aku berada di toilet umum di sebuah restauran mewah.

Tok!Tok! Tok

Aku terus menggedor pintu kamar, tangan kiri terus menarik gagang pintu yang tidak bisa terbuka, kedua mata sesekali menatap ke belakang, wajah panik dan cemas menjadi satu di dalam ketakutan. Bibirku kemudian berteriak. “Ayah! Ayah. Tolong aku.” Teriakku cukup kuat dari dalam kamar.

Sosok hantu wanita perlahan berjalan tanpa menyentuh lantai mendekati aku, kepala, kedua bahu, dan tangan bergerak seperti tidak memiliki tulang. Aku semakin takut, tangan kananku terus menggedor daun pintu kamar.

“Ayah! Ayah. Tolong aku.”

Hantu wanita semakin mendekat, kedua tangan mengulur ke depan, jari-jemari kuku hitam pekat mendekat ke jenjang leher ku. Mengeratkan kedua tangannya di jenjang leherku, membuat aku kesulitan bernafas, membawa tubuhku menaik sedikit ke atas.

Aku menepuk kedua tangan hantu wanita, berusaha terlepas dari cengkeramannya seperti hendak membunuhku.

“Le-pas kan, a-aku.” Ucapku terputus-putus.

Tok! Tok! Tok.

“Vivana. Vivana.”

Teriak Ayah dari luar pintu, tubuhku menempel di daun pintu kamar merasakan ada dorongan dari luar kemudian dorongan itu terhenti.2 menit kemudian aku kembali merasakan ada dorongan yang sangat kuat dari luar, sampai tubuhku terhempas jatuh ke atas lantai bersama hantu wanita menghilang.

Bam!

Tubuh yang lemah terhempas kuat ke atas lantai, dahi kananku membentur lantai kamar, membuat diriku tak sadarkan diri.

.

.

.

🍃🍃Pukul 07:30 pagi. 🍃🍃

Aku membuka kedua mataku, menoleh ke sisi kanan, di mana bibi sedang membersihkan kamar ku. Aku duduk, tangan kanan memijat lembut bahu kanan, kepala memiring ke kanan dan ke kiri. “Pegal sekali.” Keluhku merasa pegal dan sakit di seluruh badanku.

“Nona muda sudah bangun.” Bibi menghentikan pekerjaannya, kedua kaki melangkah cepat mendekati ranjangku. Bibi berdiri di samping ranjang, wajah terlihat serius menatap diriku, kedua tangan memegang kemoceng tak lupa serbet menggantung di bahu kiri. “Nona muda tadi malam kenapa?”

Aku mengarahkan jari telunjuk tangan kanan ke wajahku. “Siapa! Aku, bi?” Aku sengaja berkata seperti itu karena aku sangat yakin jika aku bicara kepada bibi tentang kejadian yang aku alami, bibi pasti juga tidak akan percaya dengan ucapanku. Aku melambaikan tangan kananku, bibir mengulas senyum tipis. “Ah! Mungkin aku ngelindur kali Bi.”

“Tidak mungkin, tadi malam bibi dan tuan takur mendengar suara teriakan nona muda. Saat tuan takur mengecek kamar nona muda, pintu kamar tidak bisa di buka, padahal pintu kamar tidak terkunci. Waktu bibi dan tuan takur masuk ke dalam, kami melihat nona muda sudah terbaring di atas lantai.” Bibi mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke jenjang leherku. “Itu tanda merah yang melakat di jenjang leher nona muda seperti bekas tangan seseorang, dan dahi nona muda juga.”

Aku segera berdiri menghadap bibi, kedua tangan memegang kedua bahu bibi, aku menatap serius wajah bibi yang terlihat cemas, aku memutar tubuh bibi, membawa dirinya perlahan berjalan menuju pintu kamar. “Tidak ada hal buruk yang terjadi kepadaku, bi. Aku mau bersiap mandi dulu dan bibi harus memasak makanan enak buat ku.”

“Ta-tapi non.” Sahut bibi gugup, kepala menoleh sedikit kebelakang.

Aku membuka pintu kamar, membuat bibi berdiri di depan pintu kamar, tubuh aku tundukkan sedikit, tangan kanan ku letakkan di depan perut. “Bibi silahkan kembali bekerja, aku mau mandi dulu.” Ucapku sopan, tangan kanan melambai. “Daaa! Bibi.” Aku segera menutup pintu kamar, menyandarkan tubuh di daun pintu. Tangan kanan memegang jenjang leher terasa perih. “Akh! sangat sakit.” Keluhku.

Setelah aku selesai mandi, dan makan, aku pamit pergi kepada Ayah untuk menemui Fanny. Aku memakai mobil pemberian Barra sebagai mahar pernikahan. Mobil baru yang tak pernah di sentuh setelah pernikahan.

Aku terus melajukan mobilku, tak jauh dari kediaman rumahku, di depan sana aku melihat segerombolan warga memenuhi jalan sehingga aku kesulitan melewati jalan setapak yang penuh dengan lubang dan batu kerikil. Aku segera turun dari mobil, perlahan aku mendekati salah satu gerombolan warga desa. Tangan kanan memegang bahu salah satu warga.

“Permisi Pak, jika saya boleh tahu ini ada apa ya?”

“Ada mayat Neng.” Sahut bapak tersebut, tangan kanan mengarah ke depan jalan, sisi kanan/kiri di penuhi sawah, dan beberapa ladang warga. “Di ladang jagung terdapat mayat seorang pria paruh bayah, dengan luka lebam di tengkuknya. Sepertinya ini adalah kasus pembunuhan berencana.” Sambung Bapak tersebut terlihat serius.

“Pembunuhan?” Ucapku bingung. Aku merasa bingung, kenapa ada pembunuhan di desa Bunga. Sejak aku kecil tidak ada kasus pembunuhan atau mayat seseorang yang tergeletak begitu saja di sini. Aku berbalik badan, bibir mengulas senyum tipis menatap bapak tersebut. Tak ingin membuang waktu untuk menjumpai Fanny karena aku masih ada urusan penting dengannya, aku segera berpamitan sopan. “Terimakasih Pak. Saya kembali ke dalam mobil dulu karena masih ada urusan.” Ucapku sopan, jari telunjuk tangan kanan mengarah ke mobil yang tak jauh dari tempat aku berdiri.

“Vivana.” Panggil Fanny terengah-engah. Kedua tangan di letakkan di depan kedua lutut, tubuh membungkuk, keringat membasahi dari wajah hingga baju kaos putih yang di kenakan olehnya.

“Iya, ada apa Fan?” Tanyaku menatap wajah Fanny yang terlihat lelah, begitu juga dengan Baskara.

Baskara dan Fanny berdiri di hadapanku dengan terengah-engah, kedua tangan di letakkan di depan kedua lutut, tubuh sama-sama membungkuk.

Tangan kanan Fanny memegang bahu Baskara. “Tolong jelaskan kepada Vivana Bas.”

...Bersambung........

...Terimakasih atas dukungannya. 😍😘...

...Silahkan tinggalkan jejak agar aku bisa kembali mendukung kamu. 😍😍😘😘...

1
Nengnong Ipin
horor bgt si thor
Nengnong Ipin
spertinya bara dan Santo pelakunya...sadis bgt mereka
Nengnong Ipin
sepertinya emang bara yg merampas harta janda kaya raya itu...
makanya datang terus meneror
Nengnong Ipin
kyanya hntu itu yg menyerupai s bibi
sereeeemmm
Nengnong Ipin
ayah yg dbutakan harta
Nengnong Ipin
semua masih misterius....
Nengnong Ipin
itulah akibatnya klo mnyombongkn diri
Nengnong Ipin
seneng deh SMA Fanny...
Nengnong Ipin
orang misterius LG🤔
Nengnong Ipin
kasihan vivana...jdi dia yg terus d teror
Nengnong Ipin
Fanny yg sewot...🤣
Nengnong Ipin
ayah tirikah...🤔
Nengnong Ipin
makin seru...
Nengnong Ipin
kasian vivana jdi korban
Nengnong Ipin
lanjut Thor...
Nengnong Ipin
kyanya itu kalung punya janda kembang yg meninggal
Nengnong Ipin
gregetan SM fanny
sari. trg: terimakasih sudah mampir kak, ☺️😊
total 1 replies
Nengnong Ipin
kasian vivana n Valdi cintanya terhalang mahar😞
Nengnong Ipin
lanjut kak
Rini Antika
Aku rasanya ingin pingsan dengar emas 10 kg..😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!