Apa jadinya jika seorang gadis remaja sudah bisa mengeluarkan ASI? Ya hal itu yang dialami oleh Shireen. Entah keajaiban darimana, tiba-tiba gadis berparas cantik nan manis itu bisa mengeluarkan ASI. Ia sadar dengan keanehannya, setelah sesaat ia bangun dari koma. Ia memberikan ASInya itu kepada bayi kembar seorang duda. Siapa sangka justru pertemuan Shireen dengan Sugar Daddy itu menjadi sebuah ikatan cinta.
Lantas siapakah seorang duda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Diaduk-aduk
Merasa belum puas, telunjuk Shireen kini menepuk-nepuk bibir yang berwarna merah ceri milik Samuel. Ia tersenyum. Dengan mata yang terbuka, kemarin saat meminta maaf bibir seksi ini pernah mendarat di bibirnya. Bahkan untuk kedua kalinya, walaupun sebelumnya tanpa sadar.
Tiba-tiba mata Shireen terbelalak, tatkala Samuel membuka matanya. Matilah, dia merasa kepergok karena memandangi wajah pria ini.
"Sudah puas memandangi wajahku?" ucap Samuel dengan khas suara bangun tidurnya. Uhh, sungguh begitu seksi terdengar.
"Hmm, ng-nggak! Siapa yang pandangin Om, percaya diri banget!" Seketika Shireen menjadi kikuk.
Samuel membentuk senyumnya. Kemudian ia mengeratkan pelukannya, dan kembali memejamkan mata.
"Lepasin Om, Shireen mau mandi!" Shireen memberontak dalam dekapan Samuel. Walaupun, ia mengakui dirinya munafik karena ia tak jujur bahwa dalam dekapan hangat seperti ini membuatnya sangat nyaman. Namun, mana harga dirinya jika ia menerima-nerima saja, terlebih tak lain dan tak bukan Samuel adalah orang asing baginya.
"Beberapa menit lagi. Aku masih nyaman seperti ini," ucap Samuel tak memperdulikan Shireen yang masih memberontak. "Oh ya, apa kau masih demam?" tanyanya. Pria itu menempel pipinya di dahi Shireen, dan ternyata sudah tak ada lagi rasa panas di tubuhnya.
"Memangnya aku kenapa?" tanya Shireen.
"Syukurlah demammu sudah hilang, semalam aku cemas karena tubuhmu begitu panas. Jadi aku mengompresmu, dengan kain basah."
Shireen menatap sebuah wadah kecil di atas nakas, lalu ia menoleh ke belakang ternyata ada slampe kecil yang berserakan di sana. "Jadi semalam aku dikompres sama Om?" tanyanya.
Mereka masih di dalam selimut, belum ada satupun di antaranya untuk beranjak. Apalagi, saat Samuel yang seakan tak mau melepaskan dekapannya.
"Ya, setelah aku mengecek keadaan bayiku tiba-tiba aku melihatmu menggigil. Ternyata kau demam. Tapi syukurlah kau sudah mulai membaik." Samuel mengecup kening Shireen, lagi-lagi itu membuatnya tertegun dan melongo.
Apa maksud perlakuan Samuel seperti ini? Apa ini sebatas balas budi dengan apa yang diberikan kepada anaknya? Atau, ini sebuah perhatian hanya karena kasihan? Bisa jadi ini sebuah perasaan.
'Kenapa Om memperlakukan gue seakan-akan kita ada hubungan spesial. Nanti kalo gue salah mengartikan ini gimana? Gue gak mau terlalu jauh mengaguminya,' batinnya.
"Kenapa Om begitu perduli sama aku?" tanya Shireen.
"Aku hanya tak ingin seorang yang memberikan anakku asupan, tiba-tiba sakit. Terlebih, ini pasti karena kelelahan kau menyusui bayiku sampai tak mengatur dengan benar pola makanmu. Aku juga sudah menganggap kau seperti adikku sendiri," balas Samuel.
Tuh 'kan sudah diduga, ini hanya sebatas rasa kasihan dan sebatas balas budi. Shireen merutuki dirinya yang salah mengartikan sikap dan perlakuan lembut Samuel terhadapnya.
'Nggak kecewa, tapi gue benci aja sama diri sendiri karena udah berharap terlalu jauh. Yang di mana, ekspetasi gue sesuai dengan realita,' batinnya.
"Hmm, makasih Om tapi Shireen gak butuh kakak. Shireen udah punya kakak di rumah, gak boleh dikhianati," ujar Shireen memaksakan senyum.
"Kau tak mau ingin kunikahi dan kujadikan istri, jadi aku menjadikanku adik saja. 'Kan tidak mungkin aku menganggapmu seperti anakku sendiri," balasnya.
Arghh sialan. Di saat perasaan kecewa yang tumbang hanya karena pernyataan, kini dibangkitkan kembali hanya dengan ucapan. Samuel adalah pria brengsek yang mampu mengaduk-aduk emosi dan perasaan Shireen. Gadis itu terus merutuki Samuel dan dirinya sendiri.
"Kalo aku mau nikah sama Om gimana?" Percayalah itu hanya sebuah pancingan, pada kenyataannya itu hanya sebuah candaan yang entah apa artinya.
"Tapi aku tidak ingin menikahi gadis labil sepertimu."
'Samuel sialan!' sungut Shireen dalam hati.
***
Setelah sarapan, Shireen langsung berangkat ke sekolah dengan dihantar oleh Samuel.
Samuel menatap Shireen dari kejauhan, saat sudah dilihatnya masuk gerbang. Ia pun melajukan kembali mobilnya. Ia segan untuk turun, jika dirinya turun pasti sang satpam akan terkejut dan bingung mau menyambut dengan cara apa. Pasalnya, setiap ia datang ke sekolah itu hanya untuk melihat perkembangannya saja, terlebih sekolah KBGA ini mempunyai cabang juga. Jadi, sang pemilik yang begitu terhormat pasti akan mengabari dulu sebelum datang agar kedatangannya tak membuat keterkejutan.
Sementara saat ini Shireen sudah memulai pelajarannya.
"Sust sust susst!"
Shireen menatap jengah sahabat. Fania mengganggu konsentrasinya saat pelajaran sedang berlangsung.
"Apa sih?!"
"Reen, gua mau ngomong," bisik Fania.
"Apaan?"
"Hmm, anu apasiii gue lupa 'kan."
Shireen yang merasa kesal, sampai membalasnya dengan sedikit membentak Fania. "Gak jelas, ganggu banget tau gak!"
Semua murid yang berada di dalam kelas pun menoleh ke arah Shireen. Termasuk guru tampan yang terkenal killer di depannya.
"Saya perhatikan, kamu tidak fokus Shireen. Keluar, jika tidak niat belajar!"
Nah 'kan kata-kata yang mematikan guru tersebut sudah keluar. Shireen pun kalang kabut dan langsung menyalahkan Fania. "Fania Pak yang ganggu saya sampai gak fokus!"
"Saya gak bicara apa-apa pak," elak Fania tanpa merasa bersalah. Temannya itu tak mau kena semprot, apalagi harus mengerjakan tugas sebagai hukuman. Fania sudah merasakan itu sebelumnya, ia tak mau merasakannya lagi.
"Dih, kok lo gak ngaku!" sungut Shireen.
"Keluar dari jam pelajaran saya. Nilai kamu hari ini saya merahkan!"
"Tapi Pak ...."
"Keluar!"
Walaupun kata yang diucapkan oleh guru itu terdengar pelan dan sangat dingin. Namun, itu mampu menciutkan semua murid.
"Keluar Reen! Nanti kita semua juga yang kena," ucap salah satu teman Shireen.
"Lagian buat masalah aja sih!" sahut yang lainnya.
Shireen pun berdiri, ia memberikan tatapan tajam kepada sahabatnya sebelum ia keluar dari kelas. 'Fania sialan!' umpatnya dalam hati.
Shireen pun menghentak-hentakkan kakinya. Ia bingung harus melakukan apa di luar kelas seperti ini.
"Huh, sia-sia tugas yang gue kerjain!" gerutunya.
Ya, pekerjaan rumah yang sudah ia kerjakan, bahkan ia sudah kumpulkan tadi kepada guru killer itu. Kini, hanya menjadi ampas saja. Padahal jam pelajaran biologi ini adalah pelajaran yang menjadi cabang cita-cita Shireen, untuk menjadi dokter.
"Pasti benar semua, 'kan dibantuin sama om Sam gak mungkin ada yang salah! Fania, gue bales nanti lo!"
Gadis itu pun memilih untuk berdiam dan duduk di bangku taman. Menghilangkan rasa bosan, sembari menunggu waktu istirahat datang. Shireen pun menyempatkan diri untuk melakukan video call kepada Inah untuk melihat bayi kembar di rumah.
"Mending gue liat si gemoy," gumamnya.
Namun sebelum ia memencet tombol untuk memanggil, tiba-tiba ada seseorang yang berbisik di semak-semak segumpulan pohon lebat di sana.
"Shireen, susst!"
Gadis itu mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia pun menemukannya. Sepasang mata, bibir merah, dan hidung mancung yang sedang mengintainya.
"Jasson?"
bersambung ....
typo dikit tapi ngaruh banget ke makna nya 😁