Nick, usia 24 tahun. Memiliki wajah tampan, otak encer dan karir cemerlang. Namun semua itu tak membuat hidupnya bahagia. Hidupnya mulai terasa indah ketika bertemu dengan seorang gadis bernama Azizah.
Bersama Azizah dia merasakan artinya cinta. Namun sayang, orang tua Azizah tak merestui hubungan mereka. Demi bisa bersama, keduanya nekad melakukan hal terlarang yang berbuah petaka.
Nick dan Azizah berpisah dengan cara tak terduga. Kecelakaan tragis yang menimpa dirinya juga Azizah telah mengubah hidup pria itu seratus delapan puluh derajat.
Mampukah Nick menata hidupnya kembali? Apakah dia akan bersatu kembali dengan Azizah atau menemukan tambatan hati yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Adrianz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iqro
Sebuah Avanza hitam berhenti di depan Nick, ketika pria itu hendak menuju mobilnya. Arnav membuka kaca mobilnya kemudian melepas kacamata hitamnya. Nick memandang malas ke arah sahabatnya itu yang datang di saat tak tepat.
“Nick.. anterin gue dong.”
“Ngga bisa gue ada perlu.”
“Kemana? Ngapain?”
“Kepo bener lo.”
Nick kembali berjalan menuju mobilnya. Tak puas dengan jawaban sang sahabat, Arnav turun dari mobilnya kemudian berlari mengejarnya. Nick membuka pintu mobil namun kembali tertutup saat Arnav menutupnya kembali.
“Beneran nih ngga bisa anterin gue?”
“Ngga.”
“Penting banget gitu?”
“Banget, menyangkut masa depan gue ini. Udah sana!”
“Mau kemana sih? Kalo ngga jawab juga gue bakal nempel mulu sama lo kaya ulet bulu.”
“Mau belajar ngaji gue, puas lo.”
Arnav mengedip-ngedipkan matanya kemudian mengorek telinganya beberapa kali. Memastikan kalau apa yang didengarnya barusan nyata adanya bukan ilusinya semata.
“Serius lo mau belajar ngaji? Kesambet jin muslim di mana lo?”
Nick membatalkan niatnya memasuki mobil. Dia berbalik menghadap Arnav dengan punggung bersandar di pintu mobil. Wajah Arnav nampak penasaran menunggu jawaban keluar dari mulut Nick.
“Gue harus berubah Ar. Buat diri gue sendiri juga Iza. Gue harus memantaskan diri buatnya dan gue juga ngga mau biarin dia berjuang sendiri meyakinkan bokapnya. Lo tahu sendiri kan bokapnya seperti apa. Perjuangan Iza akan sia-sia kalau gue ngga berubah.”
Arnav manggut-manggut sendiri. Apa yang dikatakan sang sahabat benar adanya. Kemudian dia mengingat Meta, gadis yang sukses membuat hatinya klepek-klepek. Gadis itu begitu jauh dari jangkauannya.
“Gue ikut dong Nick. Gue juga mau belajar agama lagi.”
“Serius lo? Bukan cuma buat narik simpati Meta doang?”
“Sekuat apapun gue usaha, kayanya Meta ngga akan mau ama cowok model gue.”
“Model kang celup gitu maksud lo, hahaha.”
“Dasar kadal panuan. Pokoknya gue ikut. Lo belajar di mana sih?”
“Udah ikut aja.”
“Yang ngajarin siapa?”
“Ada, masih muda. Dia juara MTQ se-DKI Jakarta. Ayo buruan, bentar lagi maghrib nih.”
“Ok.. ok..”
Arnav berlari menuju mobilnya. Nick juga segera masuk ke mobilnya kemudian menjalankan kendaraan roda empat itu meninggalkan area parkir hotel tempatnya bekerja. Tak lama mobil Arnav menyusul di belakangnya.
Arnav terus mengkuti mobil Nick dari belakang. Tapi semakin lama, dia semakin bingung karena mobil Nick mengarah ke daerah tempat tinggal Meta. Saat kendaraan Nick berbelok memasuki daerah situ Gintung, Arnav semakin yakin kalau Nick memang menuju ke arah rumah Meta. Dia terus mengikuti Nick yang kemudian berhenti di depan sebuah masjid.
Nick turun dari mobil. Mereka tiba lima menit menjelang adzan maghrib. Rivan sudah berada di depan masjid, karena Iza sudah menghubunginya. Nick segera mendekati Rivan diikuti Arnav dari belakang.
“Bro.. beneran nih mau belajar ngaji? Gue pikir kak Iza nge-prank doang.”
“Bener dong. Ajarin ya,” Nick menepuk pundak Rivan. Pemuda itu mengangguk, kemudian pandangannya tertuju pada Arnav.
“Nih Sarung Khan ngapain ikut juga?”
“Gue juga mau belajar ngaji.”
“Serius? Emang bisa? Palingan Iqro 1.”
“Ngeremehin lo. Gini-gini gue udah tamat Juz ‘Amma.”
“Hahahaha... khatam Juz ‘Amma aja bangga. Di situ kan ada huruf latinnya. Siapa tahu lo bacanya yang huruf latin.”
“Sembarangan lo!”
Perdebatan Arnav dan Rivan terhenti begitu terdengar adzan maghrib. Nick mengajak keduanya untuk masuk ke dalam masjid. Arnav berjalan di belakang Nick menuju tempat wudhu. Dia masih belum percaya sahabatnya itu mau kembali menunaikan shalat. Setelah itu, keduanya masuk ke dalam barisan shaf. Tak lama imam pun memulai shalat berjamaah.
Usai shalat maghrib, anak-anak yang mengikuti maghrib mengaji tak langsung pulang ke rumah. Mereka duduk sesuai kelompoknya masing-masing. Beberapa remaja masjid memulai pelajarannya. Rivan yang biasanya mengajar anak-anak usia 5 – 6 tahun segera menuju ke tempatnya diikuti oleh Nick.
Arnav yang hendak mengikuti Nick menghentikan langkahnya begitu melihat Meta yang juga tengah bersiap mengajar. Terlihat Iza juga ada bersamanya. Arnav memberi kode pada Nick akan keberadaan Iza. Namun lelaki itu bergeming, dia tetap duduk bersama Rivan. Arnav pun menghampiri Meta seorang diri.
“Assalamu’alaikum ukhti.”
“Waalaikumsalam. Eh ikutan belajar ngaji juga nih?”
“Iya, mau ngelancarin lagi.”
“Mau gabung sama yang mana? Kalau Rivan ngajar anak umur 5 – 6 tahun, kira-kira Iqro 1 sampai 3. Kalau Iqro 4 sampai 6 diajar sama Salim. Nah kalau Al-Qur’an sama Akbar. Kamu mau sama siapa?”
“Sama kamu boleh?”
Meta menoleh ke arah Iza. Sahabatnya itu hanya mengangkat bahunya saja. Kemudian dia berjalan menghampiri Nick dan Rivan.
“Aku tes aja dulu ya.”
Arnav mengangguk menjawab ucapan Meta. Kemudian gadis itu berjalan ke arah rak buku, mengambil sebuah mushaf juga Iqro. Dia kembali ke kelompok anak-anak putri yang tengah menunggunya. Arnav bergegas menghampiri ketika Meta melambaikan tangan ke arahnya. Pria itu duduk di depan Meta.
“Adek-adek, sebentar ya. Kakak mau tes kakak ini dulu.”
“Iya kak,” jawab mereka serempak.
Meta meletakkan mushaf di atas meja kayu panjang kemudian membukanya. Dia memilih surat Al-Baqarah untuk dibaca oleh Arnav. Setelah mengucap ta’awudz dan basmallah, Arnav memulai tadarusnya.
“Alif laaaaammm miiiimmm....”
“Terusin.”
“Hmm... ini huruf apa ya?”
Meta menggeleng pelan. Dia menutup mushaf lalu membuka iqro, tangannya terus membuka lembaran kertas kemudian berhenti di lembaran bertuliskan iqro 5. Meta meminta Arnav membaca, namun pria itu masih merasa kesulitan. Gadis itu kembali membuka lembaran lalu berhenti di iqro 3. Lagi-lagi Meta harus membalikkan halaman karena Arnav masih tak bisa membaca. Sampai iqro 2 pun, Arnav masih belum bisa.
“Ar.. kamu belajar dari iqro 1 ya. Udah ke sana aja, belajarnya sama Rivan.”
Sambil menahan malu, Arnav berdiri kemudian menghampiri Rivan. Dia melirik saat murid Meta menertawainya. Tanpa banyak bicara Arnav duduk di dekat Rivan. Pemuda itu tak menghiraukannya, dia terus mengajarkan muridnya sebanyak enam orang tersebut. Selesai mengajar, Rivan mempersilahkan yang lain bubar sambil menunggu waktu isya. Dia kemudian beralih pada Nick.
“Ayo bro, mulai.”
Rivan membuka mushaf lalu meminta Nick mengaji mulai dari surat Al-Fatihah kemudian lanjut ke Al-Baqarah. Awalnya Nick masih terbata-bata, tapi setelah lewat beberapa ayat, dia mulai sedikit lancar. Iza tersenyum melihat kesungguhan Nick untuk berubah. Beberapa kali terdengar Rivan mengoreksi bacaan Nick.
“Ini masuknya hukum idzhar jadi bacanya jelas aja. kalau ini ikhfa, jadi didengung kalau bertemu nun mati atau tanwin.”
Nick mengangguk kemudian mengulangi bacaannya. Rivan terus menyimak bacaan Nick. Tak banyak yang dikoreksi olehnya. Pria itu sudah hafal huruf dan tanda baca. Hanya hukum tajwidnya saja yang masih tertukar. Rivan meminta Nick berhenti ketika sudah membaca sepuluh ayat.
“Sampai sini dulu aja. Besok kita lanjut lagi. Eh besok mau lanjut kan?”
“Iya mau. Pokoknya setiap hari aku ke sini kecuali kalau lagi dapet tugas MOD.”
“Apaan tuh MOD?”
“Manager on Duty.”
“Ooh..”
Rivan hanya ber ‘oh’ ria saja. kemudian dia mengalihkan pandangan pada Arnav. Tawanya pecah saat melihat buku iqro di tangan pria itu. Arnav mendengus kesal, dia meletakkan iqro di meja depan Rivan.
“Gue bilang juga apa? Modelan Sarung Khan mah pasti iqro 1 hahaha..”
“Berisik. Buruan ajarin gue.”
Rivan membuka halaman pertama pelajaran iqro 1. Kemudian meminta Arnav menyebutkan satu per satu huruf yang ada di sana. Arnav mulai membaca satu persatu, dimulai dari huruf alif sampai ke huruf tsa.
“Sampai sini dulu bro. Besok dilanjut lagi. Inget nih titiknya jangan sampai lupa. Kebalik mulu dari tadi.”
“Ya maaf.”
“Susah deh kalau belajar udah bangkotan.”
Sebuah toyoran mendarat di kepala Rivan. Nick hanya terkekeh melihat Rivan dan Arnav yang sudah seperti kucing dan tikus saja jika bertemu. Rivan kemudian mengajak Arnav membereskan meja-meja yang dipakai belajarnya tadi karena sebentar lagi para jamaah akan datang untuk menunaikan shalat isya.
🍂🍂🍂
Iza nampak termenung, beberapa kali terlihat kepalanya menggeleng pelan. Pikirannya terus tertuju pada pertemuannya dengan mommy dari Nick. Entah kebetulan atau apa, Iza kerap bertemu dengan Diah dalam seminggu ini. Dan yang membuat gadis itu heran, setiap bertemu, Iza selalu mendapati wanita itu berjalan dengan pria yang berbeda. Satu pria asing dan dua orang Indonesia.
Gadis itu berusaha berpikir positif dan menganggap kalau pria-pria yang bersama dengan Diah hanyalah teman atau rekan bisnis saja. Namun dia juga tak bisa memungkiri kalau bahasa tubuh yang mereka perlihatkan, hubungan mereka bukan hanya berteman saja. selain adegan peluk memeluk, Diah juga terlihat manja dan berbicara mesra dengan mereka.
Tak ingin berkubang dalam prasangka, Iza memutuskan untuk bertanya pada Nick. Sebenarnya dia sudah ingin menanyakan perihal ini sejak kemarin tapi masih ditahannya. Dirinya takut kalau hal ini akan menyinggung perasaan Nick. Namun Iza juga tidak mau berada dalam zona abu-abu. Akhirnya tangannya meraih ponsel kemudian mengirimkan pesan pada Nick.
To My Beloved Nick :
Sore ini kamu ngaji?
Iza menunggu beberapa saat namun Nick tak kunjung membalasnya, bahkan pesannya masih centang abu. Iza meletakkan ponsel ke atas nakas, dia kemudian berbaring di atas kasur. Tak lama terdengar bunyi notifikasi pesan masuk, dengan cepat gadis itu menyambarnya.
From My Beloved Nick :
Kenapa? Kangen ya😉
To My Beloved Nick :
Ada yang mau kubicarakan.
From My Beloved Nick :
Iya, aku ngaji.
To My Beloved Nick :
Jangan lupa In Syaa Allah-nya, Nick.
From My Beloved Nick :
Iya, In Syaa Allah aku ngaji.
To My Beloved Nick :
Ok, habis ngaji aku mau bicara.
From My Beloved Nick :
Ok, honey...
Iza tersenyum, dia meletakkan kembali ponsel di nakas tanpa membalas pesan terakhir Nick. Baru saja gadis itu akan merebahkan diri, sebuah ketukan terdengar di pintu. Dengan malas Iza bangun lalu membukakan pintu. Ternyata bi Teti, asisten rumah tangga di kediamannya yang datang. Wanita paruh baya itu memanggil Iza untuk makan siang.
Iza keluar dari kamarnya, mengikuti langkah bi Teti menuju ruang makan yang ada di lantai bawah. Dia menarik kursi di samping Mina, berhadapan dengan Rahardi. Abinya itu hari ini tidak ada jadwal mengajar. Mina menyorongkan piring berisi ayam rica-rica, salah satu menu kesukaan Iza.
Tak ada perbincangan selama makan berlangsung. Iza pun dapat menikmati makan siang dengan tenang tanpa diselingi interogasi sang ayah. Selesai makan, Iza menghabiskan segelas air putih yang telah tersedia. Saat dirinya akan beranjak pergi, terdengar suara Rahardi menahannya.
“Duduk sebentar, abi mau bicara.”
Iza menoleh ke arah Mina. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya. Iza pun mendudukkan dirinya kembali. Hatinya was-was menanti hal apa yang hendak dibicarakan abinya itu.
“Abi tadi dapat tawaran. Ada beasiswa untuk S2 di Malaysia, tersisa satu kandidat. Siapkan semua berkas yang dibutuhkan, abi mau daftarkan kamu.”
Iza spontan melihat ke arah Rahardi. Lagi dan lagi abinya itu membuat keputusan tanpa persetujuannya. Bukan hanya Iza, tapi Mina pun dibuat terkejut dengan keputusan suaminya. Dia melihat dengan pandangan tak suka.
“Zi.. apa kamu mau melanjutkan S2 di sana? Kalau kamu tidak mau, katakan saja. Ummi akan mendukung keputusanmu,” ucap Mina tegas.
“Aku ngga mau abi. Aku mau melanjutkan kuliah di sini aja. Di kampus yang lama.”
“Tapi ini peluang bagus. Kamu akan mendapatkan pengalaman baru, teman baru. Abi lakukan ini demi kebaikanmu.”
“Untuk kebaikanku apa kebaikan abi?”
“Apa maksud kamu Zi?”
“Abi, aku mohon berhenti mengatur hidupku. Biarkan aku menjalani pilihanku sendiri. Apa abi tidak percaya padaku? Aku tahu maksud abi melakukan ini, untuk menjauhkan aku dari Nick, iya kan?”
“Itu semua abi lakukan demi kebaikan kamu!”
“Sudah!! Iza akan tetap kuliah di sini. Lebih baik dia kuliah di sini, siapa yang akan menemaninya di sana? Abi tahu sendiri, tidak baik seorang wanita pergi jauh tanpa didampingi mahromnya. Apa abi bisa menjamin keselamatan Iza di sana?”
Rahardi hanya berdehem. Dia langsung meninggalkan meja makan tanpa berkata-kata lagi. Lebih baik mengalah dari pada harus berdebat dengan sang istri. Percuma saja, ujung-ujungnya dia juga yang akan kalah. Iza menghambur dalam pelukan Mina.
“Makasih ummi.”
“Ummi akan lakukan apapun demi kebahagiaanmu. Maaf kalau selama ini ummi selalu menutup mata akan keegoisan abi. Tapi sekarang tidak lagi, ummi akan berdiri di belakangmu.”
“Apa ummi akan mendukungku dengan Nick?”
“Nick anak yang baik. Setidaknya dia berusaha untuk menjadi baik. Ummi percaya dengan pilihanmu.”
“Terima kasih ummi.”
Iza kembali memeluk Mina. Perasaannya lega saat tahu sang ibu mendukungnya semua keputusannya. Mina mengusap punggung Iza. Dalam hatinya berjanji akan terus mendukung sang anak apapun yang terjadi.
🍂🍂🍂
Selesai belajar mengaji dan shalat isya berjamaah, Nick menghampiri Iza yang sudah menunggunya di teras masjid. Gadis itu mengajak Nick berbicara di rumah Rivan saja. bersama dengan Rivan, keduanya menuju kediaman Anton. Iza memilih berbicara di bangku yang ada di halaman rumah.
“Ada apa Zi? Penting banget kayanya.”
Iza terdiam sebentar. Pikirannya sibuk merangkai kata-kata yang tidak akan menyinggung perasaan Nick. Setelah menarik nafas sejenak, gadis itu mulai menanyakan hal yang mengganjalnya beberapa hari ini.
“Nick.. maaf nih sebelumnya. Aku tanya ini ngga ada maksud apapun. Aku cuma mau tahu aja. apa mommy-mu sekarang lagi menjalin hubungan dengan seseorang?”
DEG
🍂🍂🍂
Kira² gimana ya reaksi Nick?
padahal nabila cuman baca.padahal cuman crita.
sampek anakku nanya di sampingku.
emak nangisi apa.nangis kenapa??
ini baca crita online.
heheheheh
arnav kasik jodoh pasangan juga donk .
nbila nangis trus bacanya ini.
😭😭