Kehidupan rumah tangga Riana baik-baik saja, sampai suatu malam dia tak sengaja bertemu dengan Almeer. Seorang pemuda yang hadir ke dalam hidupnya dan membuat biduk rumah tangganya menjadi kacau.
Rumah tangga Riana tak dapat lagi diselamatkan, setelah suaminya mengetahui Riana sedang mengandung anak dari pria lain.
Bagaimana lika-liku percintaan Riana dan Almeer?
Akankah mereka menemukan kebahagiaan?
Salahkah apa yang Riana lakukan?
Ikuti kisah selengkapnya.
Follow IG : @poel_story27
Cover By : @wnc_design_didesc
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan dengan Aeyza
Keesokan hari.
Riana sedang berada di super market, dia di sini untuk membeli kebutuhan pokok di rumahnya yang mulai menipis.
"Biar aku bantu," ujar Riana saat melihat seorang wanita muda berperut buncit, yang tengah kesusahan mengambil susu yang terletak di rak paling atas.
Setelah mendapatkan kotak susu yang diinginkan wanita tersebut, Riana pun menyerahkannya kepada ibu muda yang tengah hamil tua itu. "Ini susunya."
"Terimakasih,'' sahut wanita itu sambil mengembangkan senyumnya.
Tapi saat melihat wajah Riana, tatapannya menjadi tak berkedip, wanita muda itu terus memandangi Riana penuh telisik.
"Ibu Riana?!" cetus wanita tersebut setelah memperhatikan wajah Riana dengan seksama.
"Iya, betul! Kamu siapa ya?" tanya Riana heran, karena merasa tidak mengenal wanita muda tersebut.
Wanita itu tersenyum. "Aku Aeyza, apa Ibu sudah lupa?''
Riana mengingat-ingat, tapi dia tetap tidak merasa mengenali wanita bernama Aeyza ini.
"Aku perserta didik Ibu, waktu di taman kanak-kanak dulu." Aeyza mencoba menjelaskan, sehingga Riana pun mengingatnya.
"Ah, iya. Maaf, aku tadi tidak meningatnya, itu sudah lama sekali," sahut Riana tersipu karena tidak enak hati.
Riana merasa malu, Aeyza yang saat itu masih kecil saja dapat mengingatnya sampai sekarang, sementara dia sendiri sudah tidak mengingatnya sama sekali.
Lagi pula Riana tidak lama mengajar di taman kanak-kanak tersebut. Waktu itu dia mengajar di sana sembari kuliah, kemudian langsung berhenti dari sana setelah menikah dengan Tashlim.
"Apa Ibu sedang buru-buru?'' tanya Aeyza lagi.
"Tidak juga, aku sudah selesai dengan belanjaanku," sahut Riana.
"Bagaimana kalau aku traktir ibu minum di caffe sana," tawar Aeyza sembari menunjuk sebuah caffe, yang tempatnya bersatu dengan super market tersebut.
Riana menganggukkan kepala sambil tersenyum menanggapi, sebagai tanda dia menerima ajakan Aeyza. Mereka pun melangkah ringan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran, kemudian melanjutkan niat pergi ke caffe yang tadi disebutkan.
''Oh, ya, Ibu mau minum apa?" tanya Aeyza selepas mereka duduk di caffe tersebut.
"Apa aja, samain aja sama kamu," jawab Riana santai.
Aeyza memanggil pelayan untuk memesan minuman, kemudian balik mengalihkan pandangan pada Riana, sosok guru yang ia rindukan.
"Ibu tau nggak, waktu itu semua anak-anak sangat sedih karena ibu tiba-tiba berhenti mengajar. Bahkan saat itu aku nggak mau sekolah sampai seminggu." Ayza memulai percakapan sambil menyeringai lebar.
Bagi Aeyza dan anak-anak lainnya pada saat itu, Riana adalah guru baik hati dan menjadi kesayangan anak-anak didiknya. Mereka mengenal Riana sebagai pribadi yang ramah, dan sangat pandai memenangkan hati anak-anak.
"Maaf, waktu itu aku tidak bisa mengajar lagi, karena harus menikah. Dan sebagai seorang istri, kita harus berbakti dan mengikuti keinginan suami, bukan?'' sahut Riana. Sementara itu Aeyza menanggapinya dengan senyuman, dia cukup paham alasan Riana.
"Apakah kamu sudah menikah? Bukankah saat ini umur kamu masih sekitar 20-tahun?"
"Benar sekali, Bu. Aku baru saja genap berusia 20-tahun, aku menikah satu tahun yang lalu, saat aku masih berusia sembilan belas tahun," jawab Aeyza sambil menyeringai lebar.
Riana juga mengembangkan senyumnya. "Nikah muda, ya. Kamu nggak kuliah?"
"Kuliah, Bu. Baru semester tiga, habis itu langsung ambil cuti karena hamil. Dan rencananya mau lanjut setelah lahiran," jawab Aeyza.
Riana hanya menganggukkan kepala. "Sudah berapa bulan kandungan kamu?"
"Ini sudah bulan ke ...." Aeyza tidak bisa melanjutkan perkataan. Matanya tiba-tiba terpejam sambil memegangi perutnya. "Duh ... sakit," ringisnya dengan suara tertahan.
Melihat Aeyza tiba-tiba kesakitan. Riana pun menjadi panik, dia segera berpindah posisi duduk ke samping Aeyza.
"Kamu kenapa?" tanya Riana bingung.
"Nggak tau, Bu. Sepertinya aku mau melahirkan," jawab Aeyza dengan napas tersengal, setelah kontraksinya sedikit mereda.
"Ayo aku bantu, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Riana lalu memapah Aeyza keluar dari caffe tersebut.
Begitu keluar dari caffe, seorang pria paruh baya langsung menghampiri mereka.
"Bawa aku ke rumah sakit, Pak. Sepertinya aku mau melahirkan," perintah Aeyza.
Tanpa banyak tanya pria yang tak lain adalah supir Aeyza itu langsung membuka pintu mobilnya, lalu Riana ikut masuk ke dalam, ia duduk di samping Aeyza yang terus merintih sakit.
Riana yang tidak memiliki pengalaman, tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa mengusap tangan Aeyza, berharap dapat mengurangi rasa sakit yang kini diderita Aeyza.
"Sabar ya, Za. Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit," bujuk Riana, sambil mengusap peluh yang membanjiri dahi Aeyza.
Di tengah kontraksi yang menyiksanya, Aeyza berusaha mencari ponsel yang ada di dalam tasnya.
"Bang, sepertinya aku mau melahirkan. Sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit," adu Aeyza dengan suara terbata, lalu menutup panggilannya karena tidak kuat menahan kontraksinya.
Riana tidak tahu siapa pria yang ditelpon Aeyza tadi, dia terperangah karena sejurus kemudian datang iring-iringan mobil polisi lalu lintas yang mengawal mereka. Tidak sampai di situ, setiap Trafficlight yang mereka lewati tiba-tiba menjadi hijau, sehingga mobil yang mereka tumpangi seolah sedang melaju di jalan bebas hambatan.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mereka pun tiba di salah satu rumah sakit swasta terbaik di Jakarta.
Beberapa orang perawat juga sudah menunggu mereka di loby rumah sakit, lengkap dengan brankar dorongnya. Aeyza segera dipindahkan ke atas brankar, lalu segera dilarikan menuju ruang bersalin.
Riana dapat melihat, semua pegawai di rumah sakit memperlakukan Aeyza dengan sangat hati-hati. Hal ini membuat Riana yakin, mantan anak didiknya itu pasti berasal dari keluarga yang sangat berkuasa.
***
Sementara itu Almeer yang tahu adiknya akan segera melahirkan, segera menyusul ke rumah sakit. Dia sangat menyesal adiknya itu harus melahirkan tanpa kehadiran suaminya. Semua ini karena daddy dan mommynya yang terlalu memaksa adik iparnya itu mengurus perusahaan di luar negri, sehingga di saat genting seperti ini pun suaminya harus terlambat pulang.
"Di mana adikku?" tanya Almeer kepada pegawai rumah sakit yang berjaga di loby.
"Ruang bersalin VVIP di lantai empat, Tuan Muda," jawab pegawai yang ditanyai Almeer.
Begitu tiba di ruang bersalin, Almeer melihat seorang bayi mungil yang baru saja selesai menyusu di dalam dekapan sang adik. Almeer pun perlahan menghampiri adiknya dengan tatapan penuh haru.
"Maaf, semua ini karena keeogisan daddy yang selalu memaksakan kehendaknya. Hingga kamu juga harus menderita karenanya." Almeer menggenggam lembut tangan Aeyza.
"Nggak apa-apa, Bang. Zian akan segera pulang kok, semua ini jauh lebih baik daripada mommy dan daddy tidak menerima Zian sebagai menantunya," lirih Aeyza pelan.
Almeer nyaris menitikkan airmata mengingat bagaimana perjuangan adiknya demi bisa menikah dengan sang kekasih. Bahkan setelah diterima sebagai menantu pun, adik iparnya itu masih berperang batin melawan keserakahan mertua yang tak ada habisnya.
"Almeer!?''
Suara itu langsung membuat Almeer menoleh, suara dari wanita yang sangat dikenalnya.
Bersambung.
semangaaaat semua perempuan