Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Setelah 1 Tahun
Teddy menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Untuk kesekian kalinya, ia menekan tombol panggil pada kontak bernama 'Aira Gesrek', tetapi nada sambung yang ia harapkan tak kunjung terdengar. Panggilan itu langsung terputus dengan suara operator yang monoton.
Ia mencoba mengirimkan pesan singkat via WhatsApp.
[ Saya sudah di parkiran depan RSJ. Masih lama? Ayo kita bicara. ]
Pesan itu terkirim, tetapi hanya menyisakan satu tanda centang abu-abu yang tak kunjung berubah menjadi dua. Teddy mengembuskan napas kasar. Urat-urat di pelipisnya menegang.
Entah kenapa, dalam kisah perasaan, ia selalu merasa diabaikan. Apalagi dibuat menunggu di bawah terik matahari pelataran parkir seperti ini. Ada rasa bersalah yang menggerogoti dadanya sejak semalam memaksa sang manajer eksekutif untuk tetap bertahan di sana, berharap bisa meluruskan kesalahpahaman gila yang telah ia perbuat.
.
.
.
Di dalam gedung, Aira melangkah keluar dari ruang administrasi akademik bersama Ririn, sahabat karibnya di kampus hingga sengaja memilih RSJ ini untuk praktik terakhir. Langkah Aira kali ini terasa sedikit lebih ringan setelah memblokir kontak Teddy. Seolah beban berat yang menghimpit dadanya menguap bersama keputusannya.
"Akhirnya ya, Ra! Kelar juga urusan sama Dokter gila itu," celoteh Ririn riang sembari merangkul pundak Aira.
"Habis ini langsung ke kampus, kan? Kita harus ke bagian dekanat sebelum jam makan siang."
"Iya, Rin. Untung berkasnya langsung di-acc tadi. Yuk, buruan," sahut Aira, mencoba mengembalikan energinya yang sempat menghilang.
Namun, begitu langkah mereka berdua mulai mendekati area pelataran parkir luar RSJ, mata bulat Aira menangkap siluet yang sangat ia kenal.
Di antara deretan mobil yang terparkir, Teddy berdiri tegak di samping sedan mewahnya. Satu tangannya bertumpu di pinggang, sementara tangan yang lain bergerak gusar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Teddy Brian sedang berada di puncak rasa frustrasinya.
Aira mendadak menghentikan langkahnya. Detak Jantungnya sempat terhenti saat mendapati pria itu benar-benar datang untuk mencarinya. Namun, ucapannya tadi malam, 'Karena aku mencintaimu ... Lova' yang menggema semalam langsung menampar kesadarannya.
"Eh, Ra? Kenapa berhenti?" tanya Ririn bingung ikut menghentikan langkah.
Aira dengan cepat menarik lengan Ririn, memutar balik badannya 180 derajat menjauhi area parkir depan.
"Rin, kita lewat pintu belakang aja. Jalur parkiran depan lagi padat, sedang ada kemacetan di sana."
"Hah? Emangnya parkiran bisa macet? Kalau lewat jalur belakang kan muternya jauh, Ra? Lagian parkiran motor kita kan di depan ..." Ririn mengernyitkan dahi heran, menatap Aira yang mendadak bertingkah aneh dan terburu-buru.
"Udah, ikut aja! Anggap aja sekalian olahraga biar kita jadi kurus saat wisuda nanti!" sahut Aira asal, setengah menyeret Ririn untuk mengambil jalur memutar melewati koridor belakang rumah sakit yang sepi, menembus pagar pembatas yang langsung mengarah ke jalan raya.
Aira tidak sudi menemui pria itu lagi. Ia tidak mau matanya kembali menangkap sosok yang jelas sedang menatapnya tetapi justru melihat wanita lain.
Begitu mereka berhasil keluar ke jalan raya dan menghentikan sebuah angkutan umum menuju kampus, Aira duduk di bangku penumpang dengan napas sedikit memburu.
Ia merogoh ponselnya kembali. Dengan jemari yang mantap, ia membuka menu SMS biasa, satu-satunya jalur komunikasi yang tersisa karena nomor telepon dan WhatsApp pria itu sudah ia kunci dengan rapat.
Aira mengetikkan beberapa kata singkat, tanpa emotikon, tanpa nama sapaan manja yang biasa ia lontarkan.
[ Sandiwara kita sudah selesai tadi malam. Jangan cari saya lagi. Selamat tinggal, Om. ]
Sent.
Setelah memastikan pesan itu terkirim, Aira melempar ponselnya ke dalam tas. Ia menatap lurus ke luar jendela angkutan umum yang bergerak menjauhi area RSJ. Ini benar-benar kali terakhirnya menatap tempat itu, Membiarkan angin siang menghapus sisa-sisa air mata dan harapan konyol yang pernah ia gantungkan pada sang pangeran triplek.
.
.
.
Satu tahun berlalu bagai putaran angin yang begitu cepat, meski bekas yang tertinggam masih teramat dalam.
Setelah malam pertengkaran hebat di depan pagar rumah Om Jovan waktu itu, Aira memilih menutup buku ceritanya di ibu kota dengan cepat. Begitu stase praktik di beberapa rumah sakit selesai, tugas akhir rampung, dan ia dinyatakan lulus uji kompetensi keperawatan dengan nilai yang baik, Aira langsung mengepak koper.
Ia memilih untuk pulang. Kembali ke kampung halamannya di pedalaman Sumatra yang dikelilingi ribuan hektar pohon kelapa sawit milik orang tuanya.
Di kampungnya itu, semua orang tahu siapa keluarga Aira. Rumah mereka adalah bangunan termegah yang berdiri kokoh di atas bukit, lambang kesuksesan sang juragan sawit. Yang tak diketahui oleh keluarga yang terpaksa menampungnya di kota.
Namun, Aira tetaplah Aira. Dengan jepitan stroberi seperti biasa yang masih setia bertengger di rambut, ia memilih tetap rendah hati. Bahkan, ia memilih mengabdikan diri sebagai staf perawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kabupaten setempat. Dia ingin hidup tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota besar yang sempat menggoreskan luka di hatinya.
Hingga siang itu, ketenangan Aira pecah berkeping-keping.
"Suster Aira! Tolong, ada pasien kecelakaan parah di jalan lintas sawit! Korban rujukan dari puskesmas, kondisinya tidak sadar dan banyak kehilangan darah!" teriak seorang perawat dari arah pintu IGD yang terbuka lebar.
Aira dengan sigap langsung memakai sarung tangan karetnya dan berlari menghampiri brankar yang baru saja didorong masuk. Bau anyir darah langsung menyengat indra penciumannya.
Namun, begitu pandangan mata Aira jatuh pada wajah korban yang tertutup noda darah dan tanah, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Kenapa dia kecelakaan di sini?" cicit Aira lirih, nyaris tak terdengar di antara kepanikan ruang IGD.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣