Tulisan saya ini pernah dimuat di KBM dengan pembaca lebih dari empat belas ribu orang. Kisah tentang perempuan yang melahirkan di rumah mertua dengan segala suka dukanya.
Konfliknya menarik, dikemas dengan bahasa yang baik dan visualisasi mendalam sehingga pembaca seolah-olah masuk dalam cerita dan merasakan emosi tokoh dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Listriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khitan Marisa
#Melahirkan_di_Rumah_Mertua
#Part_22
Bu Bidan Isti sedang duduk sambil menuliskan sesuatu di buku besarnya saat aku tiba ambang pintu klinik yang terbuka.
Senyum ramah Bu Isti menyungging di bibirnya seraya menjawab salam yang aku ucapkan. "Ayuning ya? Ayo sini masuk!" ajaknya.
Aku duduk tepat di depan Bu Isti, ternyata nama lengkapnya Istiqomah dengan gelar S.Keb di belakang namanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Ning?" tanyanya, menatapku penuh perhatian dengan posisi kepala condong ke depan. Aku merasa sangat diperhatikan. Sepertinya, pasien yang sakit akan 80% sembuh hanya dengan melihat senyum di wajah Bu Isti.
"Panggil saja Ning saja, Bu."
"Ya, sekarang kan sudah jadi ibu," ujarnya dengan senyum menggoda. "Kenapa dengan bayinya, sakit?" imbuhnya.
Aku mengutarakan maksudku untuk mengkhitan Marisa. Bu Bidan Isti menyambut baik keinginanku. Dia menjelaskan tentang manfaat khitan bagi anak perempuan dan keutamaannya dalam pandangan islam.
"Kalau di barat, khitan perempuan itu dianggap melanggar HAM, ya, Bu?"
"Ya, karena mereka menyikapi praktik khitan pada suku-suku tertentu yang sangat merugikan kaum perempuan. Contohnya, di Afrika. Banyak suku di sana yang mengkhitan perempuan dengan cara memotong salah satu bagian yang menyebabkan perempuan menjadi tidak memiliki hasrat dan kenikmatan seksualnya. Hal itu dianggap salah satu bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Tapi, Dalam aturan islam, tidak seperti itu," papar Bu Isti.
"Nanti Marisa hanya digores sedikit saja tanpa, memotong bagian apa pun. Sekarang setiap bidan dan dokter dibekali ilmu untuk melakukan khitan pada anak perempuan yang syar'i dan ilmiah," tandasnya.
Aku semakin mantap untuk melaksanakan salah satu kewajibanku pada Marisa. Walaupun sebagian ulama menyatakan tidak wajib, tapi tetap menegaskan bahwa ada keutamaan dalam mengkhitan anak perempuan.
Marisa di bawa ke dalam ruangan, Bu Bidan Isti melaksanakan tugasnya dengan teliti dan penuh perhatian. Gadis kecilku menangis, tapi segera reda setelah aku memeluk dan memberinya ASI.
"Alhamdulillah ...," lirihku.
Di kampungku, jika ada perempuan yang genit, terkesan menantang dan menggoda, selalu disindir dengan kalimat, "dasar nggak dikhitan!" Ternyata Bu Isti tadi menjelaskan hal serupa. Tujuan khitan perempuan salah satunya adalah untuk melindungi marwah perempuan dari perilaku tercela yang disebabkan oleh hasrat seksual yang terlalu tinggi.
Aku pamit pada Bu Isti setelah melakukan pembayaran dan mengucapkan terima kasih.
Tangan kananku memegang payung, sedang yang lain menahan leher Marisa agar tetap nyaman dalam gendongan. Sepertinya Ibu sudah ada di rumah karena pintu rumah tak lagi terkunci.
"Kamu darimana?" sergah Ibu, saat aku merapikan payung yang baru saja kututup.
"Dari tempat Bu Bidan Isti, Bu. Mengkhitan Marisa," tuturku.
"Ya, Marisa itu memang anak kamu! Suka-suka kamu mau diapain juga, Ibu ini memang nggak penting!"
Loh, apa ada yang salah dengan ucapan aku? Aku meringis, menyadari ketersinggungan Ibu karena aku tidak melibatkan Ibu untuk peristiwa penting Marisa.
"Maaf, Bu. Tadi Ning baru kepikiran dan spontan aja pergi ke rumah Bu Bidan. Tadinya mau ke rumah Wak Piyah, tapi kata Bu Suparti lebih baik di bidan, lebih terpercaya."
"Ngobrol apa aja kamu sama tukang kue itu? Ngomongin Ibu ya?" terka Ibu. Nada bicaranya masih saja sinis.
"Ngobrolin resep kue, Bu. Nanti Ning mau belajar bikin kue sama Bu Suparti."
"Jangan, nggak usah kamu deket-deket sama dia. Dia itu sok cantik, so artis! Apa enaknya kue buatan dia, enakan juga bikin sendiri," pungkas Ibu sambol berjalan ke arah kamar.
Aku mengusap dada. Rumit banget hidup Ibu, kenapa semua orang selalu salah di matanya?
Ternyata tidak minta izinnya aku saat akan mengkhitan Marisa berbuntut panjang. Seharian Ibu tidak menyapa Marisa. Aku kerepotan saat harus memasak sementara Marisa sedang rewel, mungkin karena rasa sakit bekas khitannya.
Akhirnya aku memilih menemani Maris dan melupakan pekerjaan yang biasa kulakukan. Aku masih mendengar suara Ibu saat dia melewati pintu kamarku.
"Punya menantu, ko pemalas."
anakku sekarang lahiran aku bebasin makan segala macam yg bergizi.😁
sarapan jam 10, makan sore jam 3, setelah jam 5 sore udah gaboleh makan.
makan cuma boleh nasi + sayur rebus (hambar gak ada rasa sama sekali).
gak boleh tidur siang, pdhl mlm harus melek nemenin adik.
bb lgsg anjlok 13kg selama 40hari ikut mertua, mau pulang kerumah setelah 7 hari lahirnya dedek tidak boleh. harus nunggu 40hari.
40 hari yg menyiksa, setelah skrg dirumah aku paling anti kalau diajak kerumah mertua, gak mau lagi. kecuali kesana pagi terus sore pulang