#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+
Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.
Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.
Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paman Thomson
Hari masih pagi. Dengan pertanda, jalanan ibu kota yang begitu padat oleh kendaraan dan orang yang berlalu lalang. Satu diantara mobil yang sedang berjajar rapi karena kemacetan pagi inj, adalah mobil dari Elena Leonard. Mobil Lamborgini dengan warna violet, terlihat mencolok dengan mobil lainnya karena itu warna satu-satunya yang berbeda. Beberapa saat kemudian, rambu lalu lintas pun berubah.
Mobil berwarna violet itu kembali berjalan. Sampai akhirnya, mereka tiba di gedung pencakar langit yang tinggi menjulang. Di mana gedung itu lebih tinggi dari gedung-gedung yang lainnya yang ada di kawasan perkantoran di sekitarnya. Terlihat pintu dari mobil violet itu terbuka di keempat sisinya. Dua orang wanita dan dua orang pria keluar dari sana. Salah satu pria membuka bagasi mobil.
Elena berjalan menuju kedalam gedung itu. Ia menyunggingkan senyum dengan anggunnya seolah tak terjadi apa pun sebelumnya. Kedua orang yang menunggu di dalam gedung itu di mana ia adalah manajer dan CEO di perusahaan itu menyapa Elena dengan ramah. Mereka semua pun pergi menuju ke ruangan paling belakang di lantai dasar gedung tersebut. Sampailah mereka di pintu kayu besar, yang sperti sebelumnya Elena datang kesana.
Sang manajer pun membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Elena pun berjalan masuk dengan par sahabatnya tak lupa, sang sopir yang sedari tadi mendorong roda. Dimana roda itu, terdapat berkas-berkas kinerja dari beberapa orang calon presdir. Elena pun duduk dengan tertib di sebuah kursi yang telah disiapkan. Terlihat semua orang hadir disana seperti sebelumnya.
Sang perwakilan pembicara adalah direktur yang terakhir kali datang ke rumah Elena. Setelah pria itu berbicara panjang lebar mengenai jabaran yang di perebutkan, lantas pria itu mempersilahkan Elena untuk berbicara. “Terima kasih atas penjelasannya pak direktur!” ucap Elena yang tersenyum ramah.
“Selamat pagi! Apa kabar semuanya? Semoga anda sekalian selalu bersemangat untuk mengemban tugas dan mengabdi pada perusahaan ini!”
“Hari ini saya akan mengajukan, nama-nama yang cocok untuk menjadi otak yang menggerakkan, dari beberapa pemimpin yang menjabat di tiap bidangnya di perusahaan ini!” ungkapnya dengan Anggun.
Elena pun menayangkan beberapa rekaman dimana terlihat beberapa orang yang sibuk. Dan di antaranya orang yang hanya duduk, bahkan ia hanya bermain ponsel. Elena pun meminta untuk menggugurkan orang itu secara terbuka. Lantas, cuplikan yang lainnya dengan orang berbeda, ia sedang berbicara dengan seseorang dan terlihat memasukkan sebuah amplop coklat kedalam tas jinjingnya, cuplikan rekaman pun berakhir setelah orang tersebut berjabat tangan.
Elena pun kembali berbicara. Ia berkata bahwa calonnya hanya ada dua orang, dari empat orang yang melakukan kesalahan. “Dua orang itu adalah, paman Fredy dan manajer Thomson!” ungkap Elena menegaskan. Seketika ruangan itu mendadak riuh dengan segala ucapan yang semua orang lontarkan. Dari yang tak menerima dan yang saling menuduh dan menuding satu sama lain. Bergegas Elena bangkit berdiri dari tempat duduknya, dan menggebrak meja seraya untuk menghentikan kegaduhan saat ini.
“CUKUP!” teriak Elena yang kemudian, semua orang disana terdiam seolah seorang murid yang mendapatkan hukuman dari gurunya.
“Apa anda yabg ada di sini membaca semua berkas kinerja para calon Presdir, yang sebegitu banyaknya ini?” tanya Elena dengab wajah datarnya yanh menusuk, sambil menoleh kearah meja dorong yang terdapat tumpukkan berkas.
“Jika tak ada yang menjawab? Jadi saya yakin bahwa, tak ada satu orang pun yang sanggup mengurusi berkas yang sebegitu banyaknya! Terlepas dari jabatan dan pekerjaan mereka di perusahaan ini... oleh karena itu, silakan anda sekalian memilih untuk mendapatkan kesepakatan bersama!” ungkap Elena.
Kemudian sang kedua sabatnya itu, dengan di bantu sang sopir pribadinya, memberikan sebuah kertas kecil kosong pada semua orang disana untuk menuliskan nama dari calon presdir yang di pilih. Terlihat semua orang mulai menuliskan sesuatu di kertas kecil itu. Hingga beberapa menit kemudian, kertas kecil berisikan nama dari calon presdir itu pun terkempul.
Akhirnya, agar rapat kali ini tidak berlangsung lama, karena semua orang mempunyai kesibukan dalam pekerjaannya masing-masing, maka bergegaslah kedua sahabat dari Elena membuka dan menuliskan satu persatu suara. Hingga, di sebuah papan tulis white bord, terlihat kedua nama dari sang calon presdir memiliki jumlah yang seimbang dan sama banyaknya. Semua orang terlihat kebingungan.
“Baiklah! Karena sama seimbang...,” ujar Elena dengan ucapannya terputus karena seseorang menyela perkataanya.
“Mohon, untuk tidak menundanya lagi! Hari ini kita harus segera menempatkan presdir yang baru, karena banyak sekali waktu terbuang!” ucap seorang pria berkacamata dari tempat duduknya yang ada di sudut paling ujung meja.
“Ya, Nona! Kami tak bisa mengulur waktu lagi! Apa lagi harus kembali memungut suara terbanyak!” tutur pria yang lainnya . Dan kemudian, ruangan itu riuh kembali.
“Baiklah! Mohon tenang!” ucap Darren yang mengangkat tangannya dengan melebarkan telapak tangan dan ujung jari menghadap keatas, seolah seperti pak polisi sedang mengamankan lalu lintas yang berkata, stop.
Setelah suasana kembali terkondisikan. Elena bangkit berdiri dari kursinya. Ia keluar dari meja rapat itu dan berbalik serta melangkah menuju white bord, yang ada di hadapannya itu. Jemarinya meraih sebuah alat tulis spidol dan menuliskan garis angka satu pada nama manajer Thomson. Elena kemudian berbalik dan mulai berbicara. “Aku belum mengikut sertakan suara ku kan? Jadi, sudah jelas siapa yang akan menjabat!” ujar Elena dengan wajah datarnya.
Terlihat beberapa orang yang tak terima dengan keputusan kesepakatan itu. Dan salah satu dari mereka berkata bahwa, Elena tidak termasuk di dalamnya. “Mohon tenang! Jika anda sekalian ingin di samakan dengan anak taman kanak-kanak, silakan saja teruslah berbicara!” ancam Elena dengan suara yang agak tinggi.
Seketika semua orang terdiam. Elena berdalih bahwa, ia memang bukan karyawan atau salah satu dari mereka. Tetapi, sang ayah merupakan pendiri perusahaan LND dan memang hak aset sebagian milik mendiang sang ayah, merupakan milik dirinya. Yang artinya, ia pun mempunyai peran penting dalam pemungutan suara itu. Terlebih orang yang harusnya memberikan kedudukan itu adalah sang mantan presdir atau ayah dari Elena, tuan Leonard tersebut.
“Jadi tak ada alasan lagi untuk membatalkan keputusan ini! Bagimana? Apa masih ada yang keberatan? Jika masih ada yang keberatan, maka saya akan membawa tim pengacara dari perusahaan ini, besok!” tutur Elena dengan berjalan kembali duduk di kursinya.
Akhirnya semua orang yang di sana tak bisa berkutik. Mereka pun hanya bisa menyanggupi atas semua yang di ucapkan oleh Elena. Walau pun dalam hati mereka merajuk dan tetap tak terima keputusan yang dibuat ini. Terutama wajah dari sang paman Fredy, yang terlihat tak ramah seperti biasanya. Setelah rapat selesai dan keputusan telah dibuat.
Akhirnya, manajer Thomson pun menduduki jabatan sebagai presdir menggantikan sang ayah dari Elena. Karena sebetulnya sang ayah Elena atau tuan Leonard, telah menunjuk dan memberikan jabatannya pada Xander. Sayangnya, hal yang tak terduga terjadi.
To be continue...