"Lo mau sampai kapan hura-hura seperti ini tanpa tujuan hidup yang jelas?"
"Nanti kalau ada yang serius sama gue. Lo sendiri kapan mau nentuin masa depan lo. Nyari suami kek!"
"Gue masih gini-gini aja, Za. Gue nunggu suami yaitu orang yang tepat bisa bertanggung jawab sama gue dan ada waktu buat keluarga."
"Kalau seandainya lo udah nikah terus suami lo punya masa lalu yang buruk gimana?"
"Gue terima. Karena bukan kuasa kita untuk menghakimi masa lalu orang lain. Setiap orang punya masa lalu yang buruk. Mereka punya potensi untuk jadi lebih baik lagi. Hidup itu bukan dari dilihat dari masa lalunya, akan tetapi dilihat dari masa yang sekarang ketika ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ."
Reza menatap perempuan yang berdiri dibelakangnya. Di usia yang sudah terbilang dewasa dia justru lebih sering senang-senang dengan beberapa perempuan. Kecuali perempuan yang sedang bersamanya kini. Bukan munafik, ia hanya ingin menjaga adik almarhum sahabatnya itu. Untuk jatuh cinta, rasanya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Sebab ia akan merasa bahwa Semesta tidak adil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENCI
"Fan. Jadi ke makam Rania?"
"Jadi, Mas,"
"Ya sudah. Sebelum ke rumah Mama berarti kita ke sana duluan,"
Fania mengangguk sambil memasukkan beberapa barangnya. Baru saja ia mengeluarkan barangnya yang hendak di bawa ke rumah mertuanya. Raka sudah menyingkirkan dirinya untuk tidak mengerjakan apa pun.
"Biar aku, cukup duduk di sana!"
"Kamu kenapa jadi gini banget sih, Mas?"
"Aku trauma sama keguguran kamu, ngerti,"
"Tapi nggak gini juga,"
"Udah Fania, kamu diam aja."
Fania duduk di pinggiran ranjang, sementara itu Raka memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper. Sesekali Raka menceritakan tentang keluh kesahnya mengenai Mamanya yang beberapa kali mengiriminya pesan untuk segera datang ke sana. Fania yang mendengar itu hanya menyeringai beberapa kali.
"Sudah siap?"
"Sudah, Mas."
"Jaga baik-baik anak kita," Fania memejamkan mata saat Raka mencium keningnya. Ia menuruti semua keinginan Raka. Keraguannya tentang pria itu sudah hilang semenjak perhatiannya pada janinnya jauh lebih baik. Semenjak suaminya tahu bahwa dirinya sedang hamil. Fania sudah tidak dibolehkan lagi mengerjakan pekerjaan rumah. Mereka tinggal jauh dari orang tua Raka.
"Aku bantu?" Fania menawarkan diri kepada Raka saat melihat suaminya mengangkat koper pakaian mereka.
"Nggak, nanti keguguran. Ini berat, biar aku,"
Fania menggeleng. Dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Mereka akan tinggal di rumah orang tua Raka untuk beberapa hari, sementara itu Raka akan bekerja di luar kota untuk beberapa hari kedepan. ia tahu bahwa maksud Raka membawanya ke sana adalah untuk dititipkan.
Selama beberapa menit menempuh perjalanan. Mereka berdua tiba di pemakaman Rania, Raka yang tadinya sudah membeli bunga terlebih dahulu dan tidak membiarkan Fania turun dari mobil.
"Ayo!"
Rasa bahagia serta kehilangan menjalar menjadi satu dalam tubuh Fania. Ia sungguh bahagia dengan kehamilannya sekarang karena ada Raka yang sangat perhatian. Tetapi anak pertamanya, ia akan bersedih lagi saat mengunjungi makam anaknya. Sudah dua tahun ia tidak mengunjungi untuk mengobati lukanya yang diakibatkan oleh Reza.
Mereka tiba di sana dan langsung berjongkok. "Mas, ini siapa yang naruh?"
"Nggak tahu, Reza mungkin,"
"Dia nggak tahu, kan,"
"Reza tahu Rania anaknya, dia sering berkunjung ke makam Fandi. Dan otomatis lihat ini,"
"Kamu nggak ngasih tahu dia?"
"Nggak."
Fania menyelidiki ada kebohongan yang disembunyikan oleh Raka padanya. Ia tidak berkata apa-apa lagi. Tak ingin berdebat dengan kejadian yang sepele tersebut, Fania lebih memilih mengalah dan diam saja. Beberapa barang baru ada di makam anaknya.
'Adinda sayang, sudah ketemu sama Om Fandi? Gimana sayang? Kalau ketemu, Mama titip salam ya. Bilang Mama di sini baik-baik saja. Jangan lupa titip salam juga sama nenek dan kakeknya Adinda' ucapnya dalam hati.
"Kuat sayang, aku tahu ini masih sangat berat buat kamu."
Fania menoleh ke sebelah kirinya. Ada Raka yang memeluknya saat itu juga untuk menenangkan. Fania sendiri tahu bahwa saat seperti ini, Raka adalah orang yang akan menenangkannya. Perihal kehilangan anaknya, ia masih belum bisa memaafkan kesalahan yang sudah sangat keterlaluan dilakukan oleh Reza. Mantan suaminya.
"Ayo!" Raka membantunya berdiri dari tempat duduknya tadi. Tidak mungkin baginya terus bersedih karena kehilangan itu. Karena kini ia telah kehilangan empat orang sekaligus. Tetapi ia tidak boleh menyalahkan Tuhan atas kehilangannya. Karena semua ini adalah takdir Yang Maha Kuasa.
Fania terus terdiam selama perjalanan. Tetapi sesekali tangan Raka memegangnya begitu erat. Ikatan hatinya dengan Raka begitu kuat. Hingga kehamilannya yang sekarang, Fania justru sangat dimanja oleh Raka.
Tiba di rumah mertuanya. Fania bersalaman, namun raut wajahnya tak bisa membohongi siapa pun. bahwa semuanya tidak sedang baik-baik saja.
"Raka, ajak Fania istirahat ya!"
Raka langsung menggandeng tangannya saat itu juga. Setelah mendengar perintah mama mertuanya. Fania sadar, bahwa Fania mengetahui kesedihannya. Jika membahas tentang Adinda Rania, segala bahagianya akan hancur seketika itu juga.
"Fania, apa pun yang terjadi. Aku bakalan tetap ada untuk kamu. Aku bakalan usahakan untuk mencintai kamu. Sayang sama kamu, sayang sama anak kita. Aku tahu bahwa selama ini kamu marah banget atas kejadian perginya Rania, tapi ingat! Kamu sekarang sedang hamil, anak aku, anak kita. Bagaimana kalau keguguran lagi karena kamu banyak mikir?"
Fania menatap Raka yang ada di depannya. Ia langsung memeluk erat Raka. Berharap bahwa kekuatannya untuk menerima kenyataan itu semakin bertambah.
"Maafin, aku Mas!"
"Kamu nggak salah. Yang salah itu adalah Reza, dia penyebab dari kesalahan semua ini,"
Fania mengeratkan pelukannya. "Mas, jangan ke mana-mana ya!"
"Aku kerja cuman sebentar, Fania. Terus udah gitu aku bakalannemenin kamu,"
"Janji?"
"Aku janji sayang," Fania merasakan pelukannya melonggar. Dan saat itu juga Raka mengangkat tubuhnya begitu ringan menuju ranjang. Suaminya itu ikut berbaring di atas ranjang, Fania langsung memeluk Raka begitu erat.
"Aku takut kehilangan lagi,"
"Aku di sini, sayang. Aku di sini sama kamu." Seolah tangannya tak ingin melepas pelukan itu. Hingga akhirnya Raka membalas pelukannya dan membawanya begitu erat ke dalam dekapan Raka.
*****
Raka telah berhasil membujuk Fania untuk tidur. Melihat raut wajah Fania yang begitu tenang saat tertidur. Raka langsung bangun dari tempat tidurnya dan segera beranjak dari sana.
Ia keluar dari kamarnya dan melewati tangga dengan sedikit berlari. "Raka, mau ke mana?"
"Aku harus beri perhitungan sama sialan itu,"
"Siapa?"
"Reza. Dia sudah membuat Fania semakin sulit merelakan anaknya, dia datang ke makam anaknya diam-diam,"
"Raka, kamu nggak bisa gitu. Intinya kamu berhenti ajak dia ke makam itu sampai anak kalian lahir, jangan biarkan Fania banyak pikiran. Jangan biarkan dia semakin stress!"
Raka langsung menghampiri dan duduk di sofa. "Aku harus bagaimana?"
"Raka, di mana-mana perempuan yang pernah mengalami keguguran itu pasti sangat sedih, tapi ingat sekarang Fania hamil lagi, Mama tahu gimana rasa sedihnya dia. Percuma kamu itu mau datangi Reza. Karena dia juga berhak kunjungi Rania,"
"Nggak bisa begitu, Ma. Jelas-jelas bahwa dia yang membunuh anaknya sendiri, sekarang mau sok-sokan gitu datangi makam Rania,"
"Biarkan Reza itu menyesali perbuatannya. Percuma saja kamu itu ke sana. Kamu nggak bakalan bisa ngapa-ngapain. Rania udah pergi, itu perbuatan Reza. Dan Reza datang, barang kali ingin menyesali perbuatannya. Sekarang yang perlu kamu jaga adalah istri kamu, calon anak kamu. Jangan sampai Reza mengusiknya, itu saja."
Raka mengusap wajahnya gusar. Ia langsung berbaring di sofa itu dan menutup mata dengan lengan kanannya. "Fania sudah banyak mengalami penderitaan, Ma. Aku nggak bisa diam kalau seperti ini terus,"
"Percaya sama, Mama! Kamu itu hanya perlu menjaga dan membuat dia bahagia. Mama tahu kamu juga pernah kehilangan anak kamu, kan?"
"Mama tahu dari mana?" Raka menoleh saat itu juga, dia benar bahwa kekasihnya dulu bunuh diri karena kesalahan di masa lalu. Andai saja ia tahu kekasihnya hamil. Tentu saja ia akan bertanggung jawab. Mereka mengalami masa lalu yang sama.
"Bukan maksud Mama mengungkit, Raka. Tapi bagaimanapun juga, kamu harus ingat kamu juga kehilangan. Sekarang kamu sudah berjuang untuk Fania, bahkan kamu ngotot sama Mama waktu itu. Bukan karena Mama nggak setuju, tapi karena lebih condong pada, khawatir!"
"Mama, sudahlah. Aku nggak mau bahas."
Raka bangun dari sofa dan kembali lagi ke kamar. Saat membuka pintu kamarnya, ia melihat perempuan itu tidur di atas ranjang sambil menghadap ke samping. Dengan perlahan ia ikut naik ke atas ranjang dan memeluk Fania dari belakang. "Maaf atas sikap egois aku, Fania. Aku janji bakalan jagain kamu, bakalan jagain orang yang paling di sayang oleh Fandi. Aku bakalan sayang sama kamu, apa pun alasannya. Aku nggak peduli, bahkan saat Reza kembali. Aku tidak peduli, aku akan terus memperjuangkan kamu. Aku sayang sama kamu." Ucapnya sambil menciumi tengkuk Fania. Aroma khas perempuan itu begitu menenangkan bagi Raka.
Raka merasakan tangannya dipegang oleh Fania. "Kamu hanya perlu mencintaiku, itu saja. Maka aku tidak akan melihat pada masa lalu lagi," ia mengeratkan pelukannya.
"Pasti. Aku akan selalu mencintai kamu, tapi kenapa kamu bangun?"
"Iya, karena aku dengar kamu bilang sayang sama aku,"
"Kamu dengar semuanya?"
"Iya."
Raka melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Fania. "Sabar ya. Kita pindah gimana?"
"Terserah kamu. Selama itu baik buat kita,"
"Aku akan bawa kamu pergi jauh dari sini,"
"Aku akan pergi ke mana pun kamu ajak aku tinggal,"
"Fania, kamu nggak boleh sedih lagi. Aku tahu kamu sayang sama Rania, tapi ayo hidup baru dan jalani semuanya dengan baik. Aku nggak salahin kamu, Adinda Rania, dia sudah ketemu sama Fandi pastinya,"
"Aku capek juga di sini. Aku belum sepenuhnya bisa lupa sama, Reza,"
"Kenapa?"
"Aku benci sama dia."
aku cuman ingin Reza sadar Thor
FANIA LAGI HAMIL ANAKNYA RAKA 🙂,
FANIA & RAKA SEMOGA BAHAGIA TERUS 🙂
SEMOGA REZA CEPAT DAPAT KARMA 🤬🤬🤬🤬🤬