"Kamu pikir aku memperhatikanmu? Aku hanya khawatir dengan lingkunganmu. Akan ku habiskan yang berani mengganggumu,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon musbich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
DHIKA POINT OF VIEW:
Paris benar benar mengikutiku hingga halaman belakang. Kenapa pikiran nya sangat labil sekali? Terkadang marah tanpa alasan dan terkadang mendadak baik, apa dia mengidap penyakit bipolar?
Dia masih setia bergelayut manja di lenganku. Bahkan ikut duduk di sampingku saat ini.
“Dhika,” panggil nya yang masih saja ku balas dengan tatapan datar.
“Hem,”
“Berhentilah menjadi mayat hidup jika berbicara dengan istrimu,”
“Memang nya ada seorang istri yang menganggap suaminya mayat?” tanyaku dingin.
“Baiklah,” kata nya sesaat setelah menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk menetralkan hati nya.
“Kita bisa menjadi teman kan?” Tanya Paris tersenyum padaku.
“Apa yang kamu inginkan saat ini? Kenapa tiba tiba mengajakku berteman?”
“Aku hanya bosan saja, kita akan hidup berdampingan lama kan? Masak iya berantem terus? Kita tidur satu kamar, bahkan satu ranjang. Apa iya sampai tua akan seperti ini? Aku tidak punya teman bicara di rumah ini,” kata Paris hati hati.
“Jadi kamu ingin sampai tua bersamaku?”
“Eh, bukan gitu juga maksudku,” kata nya ragu.
“Lalu bagaimana?”
“Em… gimana ya? Setidaknya kita bisa lebih sedikit berdamai, apa kamu tidak lelah berdebat denganku?”
“Kamu yang memulai,”
“Dhika—“
“Lihatlah kamu akan memulai lagi perdebatan ini,” kataku memotong ucapan nya.
“Baiklah, kita berdamai dari sekarang,” kata Paris seraya mengangkat jari kelingking nya seraya menatapku penuh harap supaya aku menautkan jari kelingkingku juga di jari nya.
Memang nya kita masih berada di taman kanak kanak. Dengan santai nya aku masuk meninggalkan nya ke dalam rumah. Dia berusaha mengimbangi langkahku dan bergelayut manja di lenganku.
“Rasanya perutku tiba tiba lapar,” keluh nya seraya melampirkan senyum manis nya untukku.
“Bukan nya barusan kamu sudah makan?”
“Aku berhenti makan karena mengejarmu ke kamar tadi,” kata paris seraya mengusap perut nya.
“Lanjutkan makanmu,”
PARIS POINT OF VIEW:
Entah mengapa dengan mengajak dhika berdamai rasanya suatu awal yang benar dalam hidupku. Hatiku terasa lebih ringan karena setidaknya masih ada yang bisa ku ajak bercerita sebagai seorang teman nanti nya.
Aku berjalan menuju meja makan dan melihat nasi di piringku yang masih utuh, tapi rasanya sudah tidak menggiurkan seperti tadi. Jadi aku berinisiatif untuk menghangatkan sayur bayam agar nasi yang berada di atas piringku terasa hangat setelah disiram sayur bayam nanti nya.
Usai makan, aku hendak berjalan menuju kamar. Tapi ku lihat jaksa Erika berjalan menghampiri dhika yang sedang berada di ruang keluarga. Kenapa dia tidak menunggu dhika di ruang tamu? Seperti rumah nya sendiri saja.
“Lama tidak bertemu,” kata dhika yang sadar akan kehadiran jaksa Erika.
“Aku terlalu sibuk,” sahut jaksa Erika.
“Aku juga sibuk jadi wajar kalau kita jarang bertemu,”
“Sibuk di kamar maksudmu? Lihatlah leher istrimu,” kata jaksa Erika tersenyum padaku.
Aku hanya bisa membalas senyum nya seraya berusaha menutupi leherku dengan rambut panjangku.
“Mau ku buatkan minum?” tawarku pada jaksa Erika.
“Tidak perlu, aku hanya sebentar. Berita tentangmu seru sekali,” kata jaksa Erika dengan senyuman meledek.
“Ah itu—“
“Aku mengerti, jangan malu sampai pipimu merona seperti itu,” canda nya.
Aku hanya bisa melongo dan tidak bisa menyangkal nya.
“Aku menuntut seseorang dengan hukuman mati,” kata jaksa Erika frustasi duduk di samping dhika.
Apa mereka berdua sedekat itu hingga berbagi cerita tentang pekerjaan?
“Itu sudah sesuai, hasil penyelidikan tim forensic sudah sangat maksimal,” sahut dhika.
“Kenapa kamu melakukan autopsy pada mayatnya tanpa surat perintah terlebih dahulu?”
“Karena aku penasaran dengan penyebab kematian nya,” sahut dhika.
“Apa kamu tidak peduli dengan keluarga nya? Setidaknya tunggu sampai surat perintah dibuat,” sela jaksa Erika.
“Itu pekerjaanku,”
“Katamu kamu tidak mempercayai siapapun termasuk orang mati. Apa itu sifat aslimu? Kamu tidak bisa mempercayai siapapun? Kamu tidak peduli dengan siapapun? Kamu hanya terobsesi dengan pekerjaanmu,” kata jaksa Erika mulai tersulut emosi.
“Lalu?” Tanya dhika dingin.
“Itu penyakit! Kamu melakukan autopsy hanya untuk memenuhi kepuasan pengetahuan intelektualmu saja kan?”
“Apa itu salah?” kata dhika dengan nada mulai meninggi dan aku menahan tubuh dhika supaya tidak melakukan apapun pada jaksa Erika.
“Tentu saja, bukan nya kamu ini manusia! Cobalah berinteraksi dengan manusia!”
“Mayat juga manusia, autopsy juga bentuk interaksi,” sahut dhika.
“Mana bisa seperti itu?”
“Mereka tidak mengeluh saat aku bedah,”
“Karena mereka sudah mati! Berpikirlah untuk peduli pada manusia, kamu bahkan tidak peduli dengan sekitarmu,” kata jaksa Erika dengan nada meninggi.
“Kamu pikir aku menikahi istriku bukan salah satu bentuk rasa peduli? Jadi apa inginmu? Hasil autopsy ku sesuai dengan jalan ceritamu yang ada di pengadilan? Supaya kamu terlihat keren?” kata dhika menarik tanganku untuk meninggalkan jaksa Erika menuju kamar.
Dhika menutup pintu dengan keras hingga aku sedikit berjingkat karena terkejut.
“Kamu juga mencurigaiku? Apa kamu berpikiran sama dengannya jika aku melakukan autopsy hanya untuk memenuhi kepuasan intelektualku saja?” Tanya dhika padaku seraya mengusap rambut nya menatap keluar jendela .
“Apa ada sesuatu yang membuatmu trauma?” tanyaku hati hati.
“Kamu berpikiran sama dengan Erika?” Tanya nya dingin.
“Aku hanya berpikir kamu sedikit tidak normal,” kataku pelan.
Dhika menatapku tajam dan menghembuskan napasnya sejenak.
“Hanya kamu yang bekerja di luar batas normal untuk berurusan dengan orang mati, sedangkan dokter lain nya tidak sesibuk kamu. Apa kamu tidak merasa mual seharian berdampingan dengan mayat? Aku saja langsung muntah. Sedangkan kamu bisa berjam jam di ruangan autopsy,” kataku panjang lebar.
“Kamu menganggapku abnormal, bisa ku simpulkan,” kata dhika datar.
“Ada masalah dengan salah satu tanganmu, apa kamu pernah melakukan mal praktik? Bahkan seorang dokter bedah tidak boleh memiliki tangan gemetar,”
“Kamu melihat nya?” tanya dhika menatapku tajam.
“Aku tidak sengaja melihat nya saat mendampingimu autopsy, apa itu sebabnya kamu menjadi dokter forensic? Aku tahu dulu kamu seorang dokter bedah di rumah sakit tempat mamaku bekerja, mama yang bercerita sedikit padaku,” kataku memberanikan diri menatap nya.
“Berhentilah mengarang cerita,”
“Apa itu ada hubungan nya dengan embrio? Tanganmu bergetar saat kamu menemukan embrio ketika autopsy berlangsung,”
“Sudahlah, kamu tidak mempercayaiku juga,” kata dhika menuju pintu hendak keluar tapi ku tahan tangan nya.
“Setiap orang punya luka, tapi kamu juga manusia. Itulah sebab nya kamu masih menjagaku, karena kamu manusia,”
Dhika menghempaskan tanganku dan meninggalkanku di kamar.
Apa dhika benar benar memiliki sebuah trauma hingga dia menghabiskan sebagian besar waktu nya dengan mayat? Bukan nya sangat mencurigakan peralihan fungsi dari dokter bedah ke dokter forensic secara tiba tiba? Aku akan menanyakan nya pada mama jika ada waktu.
⭐⭐⭐⭐⭐🙏🙏
sehat sehat sll yaa 🤗
terimakasih cerita menghiburnya thor..👍👍