Jika orang lain memilih pergi saat tahu suaminya mendua, aku memilih bertahan dan memberi kejutan manis untuk suamiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susan saliman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip lagi..... Berhembus bebas....
Semenjak peristiwa salah sebut itu, Menur menjadi sedikit curiga dengan Yoga, meski memaklumi mantan Yoga banyak, tapi siapa yang Yoga sebut Run... Run... saat itu Menur masih belum tahu.
Sementara ibu mertuanya bu Salim terus saja menuntut untuk segera memiliki momongan, membuat Menur harus lebih sabar lagi menghadapi segala ocehan, bahkan perlahan isu jika Menur mandul mulai terdengar, seperti ditiupkan oleh bu Salim lewat angin, sehingga setiap Menur bertemu tetangga, saudara jauh pertanyaan tentang anak, tentang dirinya yang belum mampu hamil hingga saat ini, membuat Menur hsnya bisa pasrah dan semakin menguatkan hati.
Sore itu saat Menur berada di toko tiba tiba saja ada pelanggan yang membeli cat anti kebocoran, menegurnya dan mengajak ngobrol Menur.
" Mbak Nur, gimana kabarnya mbak", Tanya pelanggan itu.
" Eh, pak Tyo, Alhamdulillah baik pak, bapak apa kabar?", Tanya Menur balik.
" Saya ya begini mbak, sehat juga... sekarang penampilannya beda mbak, di hijab", Pak Tyo yang baru melihat penampilan Menur setelah sekian lama pun mengagumi jeanggunan Menur.
" Iya pak, masih belajar", Jawab Menur merendah.
" Kok belum hamil juga mbak sampean? Apa benar kabar kalau sampean itu mandul, maaf lho mbak soalnya saya dengar dari ibunya anak anak ( raed, istri pak Tyo) ", Pak Tyo bertanya tanpa memikirkan perasaan Menur.
Deg
Hati Menur seperti di hempas ke dalam lubang sempir, terhimpit dan sesak, ia tahu siapa yang menyebarksn berita ini, tapi harus apa? Sabar, iya hanya kata itu, bahkan seorang bapak bapakpun tega menanyakan kebenaran hal seperti itu, sakit jelas, kecewa, sedih, marah, malu semua... semua menjadi satu dalam hati Menur, di sana suaminya yang mendengar pertanyaan tersebut apa dia peduli?
Nyatanya Yoga yang kini tengsh berada di sofa duduk hanya asyik dengan smart phone nya, tak ada pembelaan apapun.
" Saya tidak mandul, saya wanita normal pak! hanya saja Alloh belum mempercayakan anak pada kami, untuk itu saya minta doanya pak, supaya kami segera di kasih momongan", Ucap Menur sopan, tak ingin terpancing emosi, Menur tahu dilawan pun percuma, toh belum bisa membuktikan jika dirinya bukan wanita sempurna.
Pak Tyo kemudian mengangguk, tersenyum malu karena jawaban Menur, " Iya mbak, sabar ya, semoga segera mendapat kepercayaan itu". Ucap pak Tyo kemudian.
" Aamiin pak, Terima kasih", Menur mengangguk tersenyum, kemudian pak Tyo pamit.
🐝🐝🐝🐝
" Mbak Nur, mbok sampean berobat ke tumahnya eyang Makmur, siapa tahu bisa cepat punya anak", Ucap seorang ibu yang baru saja pergi dari teras rumah ibu mertuaku.
Biasa pagi itu ibu mertuaku pengabsen pegawai yang hendak kerja di ladang.
Rumah kami yang berada di pinggir jalan, ibu yang selalu stay di depan rumah setiap pagi membuat banyak ibu ibu yang pulang dari pasar dengan berjalan kaki ataupun bersepeda selalu menyapa ibu mertuaku.
Dan pagi ini bu Karni yang baru saja mengobrol dengan ibu mertuaku menyapaku di toko.
" Iya ibu terima kasih sarannya, tapi saya sudah berencana untuk ke dokter saja biar lebih yakin", Jawab Menur dengan senyuman penuh.
" Ee... ini cuma saran, siapa tahu ada sesuatu yang tidak bisa kita lihat membuat mbak Nur ini sulit hamil", Ungkap bu Karni.
" Iya bu, maaf bu saya lanjut dulu peketjaan saya, permisi", Menur beranjak meninggalkan bu Karni tak mau berdebat lebih lama.
Menur duduk dibelakang meja kerja, rasanya ingin menjerit sekuat tenaga.
Hatinya gusar, bukan hanya satu dua tiga banyak, sudah banyak tetangga bahkan orang yang rumahnya lumayan jauh juga tahu, dan bertanya, memberi sarah atau apalah agar cepat hamil.
Saking keselnya Menur sampai pernah mengumpat dalam hati jika ganti pasangan kali iya bisa hamil, kalau masih hidup dengan Yoga mungkin ya seperti ini.
Pikiran Menur saat itu, bukan karena apa apa, jelas Yoga atau Menur mereka belum melakukan pemeriksaan kesuburan ke dokter.
Tetapi jika ibu mertuanya menekan sedemikian rupa bisa jafi Menur susah hamil karena tekanan, gosip dirinya mandul yang semakin lama semakin berhembur seperti bau bunga raflesia, memenuhi selurih pendiduk desa.
Helaan nafas panjang dari Menur hingga membuat kertas yang di hadapannya hampir terjatuh kelantai.
Menur meraih ponselnya, mengirimkan pesan pada sang suami.
" Mas besok kita ke dokter yuk, untuk memastikan bahwa kita baik baik saja", Tulis Menur dalam pesan yang ia kirim untuk suaminya Yoga.
" Coba saja kamu dulu Nur, mas besok sibuk banget, mungkin sampai 2 minggu kedepan mas susah bagi waktunya", Jawab pesan dari Yoga.
Selesai membaca Menur menarik nafas dalam, dihempuskan perlahan, kecewa.
Kemudian Menur mengetik kembali pesan melalui chat, untuk temannya waktu SMA dulu, tepatnya kakak kelas 2 tingkat diatasnya, namun Menur sangat akrab karena orang tua mereka dulu teman sekolah.
Gita, iya... Temannya itu kini sudah menjadi seorang dokter.
" Assalamualaikum mbak Git, apa kabar?", pesan yang di kirim Menur untuk Gita.
Tak lama Gita pun membalas pesan Menur.
" Baik Nur, waalaikum salam, kamu apa kabar?".
" Baik mbak, kalau konsul tentang kesuburan bisa ga mbak?", tanya Menur melalui pesan.
" Oh, bisa, kapan?", Tanya Gita kembali.
" Besok bisa?", Tanya Menur.
Agak lama baru dijawab sama Gita.
" Bisa, jam 1 siang, kalau mau kita buat janji di rumah sakit Permata ya, disana ada dokter yang sudah cukup berpengalaman, yakni dokter Wijaya", Jawab Gita.
" Kok dokter cowok mbak, Menur maunya yang perempuan", Jawab Menur.
" Beliau hanya memberi aku pengarahan pada ku Nur, zenang yang periksa tetap aku kok", penjelasan Gita.
" Oke".
" Tapi jika mau periksa berdua dengan suami, dokter Wijaya pakarnya lho... insyaaAlloh akurat dan banyak yang sudah berhasil melalui pertolongan beliau", terang Gita kembali.
" Nah itu dia, suamiku masih wegah wegahan", Jawab Menur.
" Biar saya saja dulu mbak, suami masih sibuk", Jawab Menur.
" Oke, divtunggu besok ya di klinik".
" Ya mbak, Terima kasih".
🐝🐝🐝🐝
" Nur hari ini jadi mau periksa?", Tanya Yoga saat sarapan pagi, seperti biasa mereka hanya berdua karena bu Salim sudah duduk di depan mengabsen pegawai.
" Jadi, insyaaAlloh", Jawab Menur.
" Jangan grogi ya, pasti hasilnya bagus kok", Yoga mencoba memberi semangat pada Menur.
" Menur yakin kok mas, jika menur sehat, Menur subur, Menur ga mandul karena haid Menur normal, lancar, rutin dan juga ga ada keluhan yang berarti", Jawab Menur tanpa beban.
" Ya baguslah, Mas sangat berharap begitu, hasilnya bagus dan secepatnya hamil", Jawab Yoga sinis.
" Iya mas, tetapi hamil itu buksn karena Menur subur, ga mandul tetapi juga karena ada bibit yang di tanam dan bagus sehingga bisa membuahi sel telur aku, jika bibitnya kurang bagus ya susah", jawab Menur ga kslah sinis, membuat Xoga menghentikan makannya.
Sama tokoh yoga,gak ada insyafnya
Semakin tua,bukannya keimanan diperkuat,dipeluk diam aja,kaya kucing
Garong,udah thor pisahin aja mereka
Biar aja menur jadi janda daripada dibohongi terus,tobat sambel
bagus ceritanya
sukses
semangat