18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Budayakan like sebelum membaca 🙏
"Kita akhiri saja kesepakatan kerja sama di antara kita! lalu kita kembali ke kehidupan kita masing-masing!" ucap Somi mantap tanpa menoleh ke belakang ketika pria itu memintanya untuk masuk ke dalam rumah.
Tanpa pikir panjang, pria itu memeluk Somi seketika. Entah apa yang mendorong pria arogan itu melakukan hal seperti itu pada Somalia. Yang jelas ia tak ingin wanita itu membatalkan kesepakatan bersama yang telah mereka setujui.
"Diam ... arah pukul dua!" Gandhi membisiki Somi kalimat tersebut. Atas perlakuan Gandhi barusan, Somi terperangah tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh lelaki yang kini memeluknya. Niat untuk menghindari hubungan ini tak boleh surut begitu saja.
Somi mengintip ke arah yang Gandhi tunjukkan tadi. Dari celah lengan sang lelaki, ia mampu melihat seorang wanita paruh baya sedang mengamati kegiatan mereka berdua. Tak lupa sebuah telepon berada di tangannya. Mungkin pelayan Gandhi merupakan mata-mata dari Tante Linda.
"Aku tak bermaksud menyakiti hatimu, aku minta maaf! sungguh jangan lakukan hal itu padaku," kata-kata Gandhi sungguh mampu membuat Somi semakin membenci lelaki itu.
Bagaimanapun juga, Gandhi memang pandai dalam berakting. Bila tak ada orang yang mengawasi, dia mampu berubah menjadi orang yang paling menyebalkan untuk Somi.
"Tapi ..." Somi menyela ucapan pria itu. Ia tak mungkin meneruskan kerjasama tak sehat ini.
"Jangan membantah, aku sudah janji pada mamamu. Dan satu lagi aku tak ingin mendengar kamu mengucap hal gak penting seperti tadi!" Pria yang setengah mati takut ketahuan kini membawa Somi untuk masuk ke rumah. Gandhi ingin menyuruh Somi agar segera istirahat.
"Aku takut kau terbebani dengan hubungan ini, dan juga aku bukan wanita baik-baik!"
*
Keduanya tampak mesra karena Gandhi menggandeng tangan Somi menuju kamarnya. Ia memang sengaja melakukan ini agar tak membuat kecurigaan mata-mata mamanya semakin menjadi.
"Apa aku boleh ijin menggunakan kamar mandi mu?" dengan sopan, Somi meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Gandhi. Somi tak ingin memberikan kesan sebagai wanita yang gampangan.
"Anggap saja, ini rumahmu sendiri! Karena sebentar lagi kamu akan tinggal di sini sebagai ..."
"Sebagai apa?"
"Teman serumah aku!" sahut Gandhi sebelum ia keluar dari kamarnya agar Somi bisa lebih leluasa di dalam ruangan pribadi miliknya.
Mengapa wanita itu mudah tersinggung dengan kata-kataku? Aku bahkan hanya menggodanya!
Mengapa Gandhi tiba-tiba berubah pikiran? Gandhi begitu marah saat Somi mengatakan ingin memutuskan hubungan di antara keduanya. Meski bukan hubungan yang dilandasi dengan asmara, namun Gandhi begitu tak ingin Somi pergi darinya.
Karena tak ingin menambah kekhawatiran pada Somi, Gandhi memutuskan untuk bermalam di ruang kerjanya. Ia tak ingin membebani wanita yang baru saja bersedia tinggal di rumahnya. Persetan dengan apa kata mama Linda nantinya. Karena Gandhi tak ingin membuat Somalia ketakutan.
*
Pagi sekali Somi sudah menemani Ceu Dedeh, ART di rumah Gandhi di dapur. Mungin karena belum terbiasa, Somi terbangun lebih awal dari biasanya. Untuk mengisi waktu luang sebelum ia bersiap untuk berangkat kerja, ia memutuskan untuk membantu Ceu Dedeh memasak untuk sarapan pagi ini.
Memasak bukan hal yang menakutkan bagi Somi, meski ia seorang wanita karir namun ia tak berbesar kepala dengan tak mau menyentuh pekerjaan dapur. Dari kecil Somi sering membantu Mama Amy di dapur.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini Sayang?" tegur Gandhi yang baru saja keluar dari ruang kerja.
"Aku terbangun lebih awal, untuk mengisi waktu aku membantu Ceu Dedeh Honey!" Somi semakin pintar bersandiwara saat ini. Ia tahu bila Ceu Dedeh merupakan abdi Mama Linda.
"Jangan merasa asing di rumah ini, anggap aja seperti rumahmu sendiri!"
Somalia hanya mengukir senyum guna membalas perkataan Gandhi yang baru saja ia dengarkan. Senyum manisnya mampu mendamaikan hati lelaki yang saat ini masih terpaku di posisinya.
Lelaki itu menatap punggung Somalia dari ruang makan yang hanya berjarak beberapa meter saja dari dapur.
Ini merupakan kali pertama bagi Gandhi bisa melihat seorang wanita selain mamanya dan Ceu Dedeh yang mau memasak untuknya.
Hanya dengan melihat sebait senyum dari bibir indah Somi, Gandhi mampu mempertahankan posisi wanita itu di hatinya.
Tak berselang lama, waktu sarapan pun tiba. Somalia dibantu Ceu Dedeh segera menyajikan beberapa menu sarapan untuk mereka.
Melihat begitu banyak aneka makanan yang sudah Somi sajikan, membuat nafsu makan Gandhi semakin besar.
"Stop ... mandi dulu!" Somi melarang Gandhi ketika pria itu telah bersiap untuk makan di kursi yang ia sering pakai.
"Kejam ..." meski menggerutu, toh nyatanya lelaki itu menuruti kemauan Somi. Mungkin karena Gandhi tak ingin Somi pergi meninggalkannya atau memang ia telah bertekuk lutut pada wanita cantik tersebut.
Kini keduanya telah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerja masing-masing. Barulah setelah keduanya sudah berpakaian rapi, Somi mempersilakan Gandhi untuk makan bersama pagi.
Somi sengaja mengajak beberapa pegawai di rumah Gandhi untuk sarapan bersama. Meski mereka menolak dengan keras, namun Somi tak pantang mundur. Dengan sedikit ancaman akan melaporkannya pada Gandhi, akhirnya mereka semua menuruti permintaan Somi.
Di mata semua pegawai yang bekerja di rumah Gandhi, Somi merupakan calon yang tepat untuk Tuannya. Gandhi yang biasanya semena-mena kini mampu bertekuk lutut pada wanita menawan tersebut.
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi