NovelToon NovelToon
Bingkai Surga Untuk Ellana

Bingkai Surga Untuk Ellana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:623.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rasti yulia

"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."

***



Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?

Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?


Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.


Slow Update

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat

Cahaya lembut sang dewi malam terpantul jelas melalui kaca jendela sebuah kamar milik seseorang perempuan berusia 28 tahun. Kain gordyn yang menutupi kaca jendela itu sengaja ia buka tentunya untuk bisa melihat dengan jelas suasana malam yang tersaji di luar sana.

Sejenak, ia lupakan tentang pemandangan malam seperti apa yang tersaji di luar sana. Kini, wanita itu tengah larut dalam untaian doa-doa yang ia panjatkan kepada sang Ilahi. Entah apa yang menjadi pintanya. Namun sepertinya, pinangan dadakan dari pemuda yang pagi tadi berkunjung ke rumahnya, membuat ia sedikit bimbang, dan membuatnya bersegera meminta petunjuk kepada Sang Maha penggenggam kehidupan.

Ia menyadari bahwa ia merupakan salah satu manusia yang telah jauh tersesat dalam labirin dosa di masa lalu. Dosa yang membuatnya jauh dari Ilahi dan dosa yang yang membuatnya kehilangan hakikat hidup yang sesungguhnya. Bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat mengumpulkan bekal untuk kehidupan yang kekal nanti.

Atas skenario takdir sang maha pencipta, ia bertemu dengan sosok pemuda yang menjadi perantaranya menjemput hidayah dan sosok pemuda yang menjadi satu-satunya alasan ia menunduk takdzim di sepertiga malam terakhir ini untuk meminta sebuah petunjuk akan apa yang harus ia putuskan.

Tetes kristal bening itu kembali jatuh satu persatu membasahi pipi Ellana. Tetes air mata yang membawa bulir-bulir rasa syukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Allah dengan sifat Rahman dan RahimNya membentangkan kasih dan sayangNya untuk semua hambaNya. Dan kini, Ellana menjadi salah satu hamba yang merasakan kasih sayang itu.

Ia yang sudah jauh tersesat, ternyata sama sekali tidak membuat Allah meninggalkannya. Tangannya kembali disambut oleh sang Ilahi hingga membuatnya kembali ke dalam dekapanNya. Bahkan kini, ia yang masih dibalut oleh selimut dosa, justru mendapatkan sebuah anugerah terindah dengan hadirnya seorang pemuda nan sholeh yang tiba-tiba datang untuknya. Sungguh nikmat Allah yang mana lagi yang bisa ia dustakan?

Ellana masih larut dalam doa dan pintanya. Melangitkan sebuah doa dan harap, agar ia bisa menjadi sosok manusia yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tak lupa, ia meminta diberikan keteguhan hati dalam proses hijrahnya. Hijrah dari jalan yang gelap, kembali merangkak untuk menuju jalan yang terang.

Di depan pintu kamarnya yang sedikit terbuka, berdiri sosok wanita paruh baya yang tengah menatap lekat apa yang dilakukan oleh sang anak di dini hari seperti ini. Ia yang sebelumnya bermaksud mengambil air minum di dapur, pada akhirnya ia urungkan niatnya tatkala melintasi depan kamar pribadi sang anak. Dan kini, ia pun hanya bisa menatap takjub akan apa yang tersaji di depan matanya ini. Putrinya kembali bertakbiratul ikhram, rukuk, sujud dan bersimpuh menghadap sang Ilahi.

Bulir bening dari pelupuk mata wanita paruh baya itu mengalir deras. Setelah sekian lama ia mencoba mengetuk hati sang anak untuk kembali ke jalan yang di ridhoi hanya dianggap sebagai angin lalu, kini putrinya tengah khusyuk dalam lantunan dzikirnya? Sungguh, sebuah anugerah yang saat ini patut ia syukuri.

"Mama!"

Arumi yang tengah terpaku dengan apa yang nampak di hadapannya ini seketika terperanjat. Ia sampai tidak sadar bahwa sang anak sudah selesai dengan ritual ibadahnya.

"Sayang..."

Ellana menyinggungkan senyum. "Mengapa hanya berdiri di situ Ma? Ayo masuk!"

Arumi menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya. Perlahan ia melangkahkan kaki memasuki kamar Ellana kemudian duduk di tepi ranjang milik sang anak. Ellana menghampiri sang mama dan ikut duduk di sampingnya.

"Jadi?"

Dahi Ellana sedikit mengerut. "Jadi? Maksud Mama apa?"

Arumi mengulas sedikit senyumnya. "Jadi apa yang membuat putri Mama ini berubah? Apakah pemuda tampan nan sholeh tadi pagi yang membuatmu berubah menjadi sosok manusia yang rajin beribadah seperti ini?"

Senyum lebar mengembang di bibir Ellana. Pandangannya menerawang, kembali mengingat awal pertemuannya dengan Rama. "Entahlah Ma. Namun, sejak El mengenal Rama, El merasa nyaman dibuatnya."

"Nyaman?"

Ellana mengangguk. "Iya Ma, nyaman."

"Boleh Mama tahu, definisi nyaman yang kamu maksud itu yang seperti apa?"

Ellana menghela nafas dalam kemudian ia hembuskan perlahan. "Rama tahu bahwa El ini bukanlah seseorang yang taat beribadah. Namun, ia punya caranya sendiri untuk menyentuh hati El agar El bisa sadar akan kesalahan El itu. Rama tidak pernah memaksa El untuk berubah, namun dari sana lah El justru sadar dengan sendirinya bahwa selama ini El telah berada di jalan yang salah."

"Maka dari itu saat ini kamu mulai sholat kembali, Sayang?"

Ellana mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. "Bisa dikatakan seperti itu, Ma. Rama selalu saja mengatakan sesuatu yang rasanya begitu menancap lekat di hati El. Dan dari ucapan-ucapannya itulah yang membuat El semakin tersadar bahwa selama ini El sudah berada di jalan yang salah."

"Mashaallah Sayang... Mama, papa, dan Al yang entah sudah keberapa kalinya mengingatkan kamu untuk sholat, kalah dengan Rama yang baru beberapa hari saja bertemu denganmu?"

"Mungkin memang benar seperti itu Ma."

"Sungguh, Allah memiliki caraNya sendiri untuk membuatmu tersadar, dan ternyata melalui kehadiran Rama lah yang bisa menjadi perantara kamu untuk menjemput hidayahmu , Sayang."

Ellana tersenyum simpul. "Ma..."

"Ya Sayang?"

"Tentang lamaran Rama, bagaimana?"

Arumi menarik tubuh Ellana yang masih berbalut mukena itu untuk membawa ke dalam pelukannya. "Mama serahkan semuanya kepadamu, Sayang. Namun jika Mama menjadi kamu, Mama akan langsung menerima pinangan Rama. Rama sosok pemuda yang baik, jadi apalagi yang membuatmu ragu?"

Ellana membuang nafas perlahan. "El yang ragu dengan diri El sendiri Ma. Ellana merasa tidak pantas menjadi pendamping hidup Rama. Rama terlalu sempurna untuk El, Ma."

Arumi mengangguk pelan masih sambil mengusap-usap punggung sang anak. Ia paham betul dengan apa yang dirasakan oleh putrinya itu. "Nak, jika kamu merasa tidak pantas untuk Rama, maka pantaskanlah terlebih dahulu dirimu sendiri."

"Namun sampai kapan Ma? Sampai kapan El harus memantaskan diri untuk bisa menjadi pendamping hidup Rama? El hanyalah seorang wanita penuh kekurangan dan pastinya dengan setumpuk dosa di masa lalu."

"Nak, Allah maha pengampun. Jika kamu bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya, inshaallah kamu akan kembali menjadi manusia yang bersih. Jadi sebesar dan sebanyak apapun kesalahanmu di masa lalu, akan terhapus oleh pengampunan Allah."

"Apakah El bisa menjalankan kewajiban El sebagai seorang istri dengan baik Ma? El tidak pandai memasak, El tidak pandai cuci-cuci, El tidak pandai bersih-bersih rumah, dan El.... Ah... begitu banyak kekurangan dalam diri El ini, Ma!"

Arumi terkekeh pelan. "Mengapa sekarang kamu banyak mempermasalahkan hal-hal seperti ini Sayang? Padahal dulu ketika Diko melamar, kamu tidak terlalu dipusingkan dengan hal-hal semacam itu?"

"Rama pemuda yang sempurna Ma. Sudah seharusnya dia mendapatkan seorang pendamping yang sempurna pula, bukan?"

Arumi semakin tergelak. "Sayang, jika pandanganmu seperti itu, lalu mengapa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan?"

"Maksud Mama?"

"Nak, kehidupan berumah tangga itu adalah kehidupan yang dijalani oleh dua sosok manusia dengan dua pemikiran, sifat, sikap, dan karakter yang berbeda. Di dalam diri masing-masing pasti ada yang namanya kekurangan. Maka dari itu, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk bisa saling melengkapi. Kamu tidak perlu sempurna untuk menjadi pendamping hidup Rama, karena sejatinya Rama lah yang akan menyempurnakan segala kekuranganmu."

Mendengar perkataan dari sang Mama, membuat hati Ellana jauh lebih tenang. "Jadi menurut Mama, apakah Ellana pantas menerima pinangan Rama?"

Arumi mengangguk. "Pantas Sayang, sangat-sangat pantas."

***

"Nana......!!!!"

Teriakan Ellana di depan teras sebuah rumah bernuansa biru laut ini terdengar memekik telinga. Nampak seorang wanita muda seusianya sudah menyambut kedatangan Ellana di depan pintu dengan senyum manis yang tiada henti tersungging di bibirnya.

"Ellana....!!!"

Kedua wanita muda itu saling berpelukan. Seolah mencurahkan segala kerinduan yang terasa menghujam jiwa. Rasa rindu karena sudah lama mereka tidak saling bertemu dan rasa rindu karena sudah lama mereka tidak saling berinteraksi secara langsung seperti ini. Ya, setelah tiga tahun dua sahabat itu dipisahkan oleh jarak, kini keduanya bisa kembali bertemu dengan perasaan bahagia yang membuncah dalam dada.

Nana melerai sedikit pelukannya. "Ayo masuk El! Kita berbincang di kamar saja, ya?"

Ellana mengangguk. "Oke Na."

Kedua wanita muda itu memasuki area dalam rumah. Saat melintasi ruang tengah, terlihat dua orang paruh baya sedang duduk di sofa sambil menikmati sajian acara TV di Minggu pagi seperti ini.

"Tante Lintang, om Hanan!"

Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya, dua orang paruh baya itu sama-sama mendongakkan wajahnya. "Ellana!"

Ellana tersenyum dan lebih dulu menghampiri orang tua dari sahabatnya ini. Ellana menjabat tangan Lintang dan Hanan sembari mencium punggung tangan mereka.

"Om Hanan dan tante Lintang apa kabar? Sehat?"

"Alhamdulillah kami semua sehat Nak. Kamu sendiri bagaimana? Rasa-rasanya sudah lama sekali kamu tidak main ke sini?"

"Iya Tante, tiga tahun belakangan ini Ellana ada di Bandung. El bekerja di sana."

"Lalu sekarang?"

Ellana mengulas sedikit senyumnya. "Sekarang El kembali ke Jogja Om, dan bermaksud ingin bekerja di kantor milik papa saja."

"Memang lebih baik seperti itu Nak. Bisa berkumpul bersama keluarga adalah salah satu nikmat Allah yang yang patut kita syukuri. Lagipula, di Jogja maupun di Bandung sama-sama bisa menjadi ladang rezeki bukan?"

"Iya Om. Itu benar sekali. Oh iya, perjaka-perjaka om Hanan kemana? Kok tidak terlihat?"

Hanan tersenyum simpul. "Ketiga perjaka Om sedang sepedaan pagi, El. Kenapa? Apa kamu ingin melakukan ta'aruf dengan salah satu perjaka om Hanan?"

Ellana tergelak. "Om Hanan ini ada-ada saja. Mereka masih terlalu muda Om, jadi belum layak untuk melakukan ta'aruf."

Lintang ikut terkekeh mendengar percakapan sang suami dengan sahabat putrinya ini. "Ya sudah, sana ke kamar Nana, El! Kalian pasti sudah sangat rindu bukan? Rindu untuk ngobrol bareng dan saling bertukar cerita?"

Ellana mengangguk. "Iya Tante, kalau begitu El permisi ke kamar Nana dulu ya."

Lintang ikut mengangguk. "Iya El." Lintang menautkan pandangannya ke arah sang anak. "Oh iya Nak, jangan lupa brownies kukus yang ada di meja makan, kamu bawa ke kamar, bisa kalian nikmati sekaligus menjadi teman berbincang kalian."

Nana mengangguk. "Iya Bun." Ia menoleh ke arah Ellana. "El, masuklah kamarku terlebih dahulu. Biar aku ambil kudapan untuk kita."

"Oke Na. Letak kamar kamu masih sama seperti yang dulu kan?"

"Iya El."

***

"Kok tumben pagi-pagi seperti ini Bunda meminta Rama mengantar Bunda untuk pergi? Memang Bunda mau kemana?"

Masih sambil fokus dengan kemudinya, Rama mencoba mencari tahu kemana tujuan sang bunda di pagi hari seperti ini. Tidak biasanya sang bunda pergi di hari Minggu pagi seperti ini.

"Bunda mau ke tempat tante Lintang, Sayang."

"Tante Lintang? Teman Bunda di kajian dulu itu kah?"

Widya mengangguk. "Iya Sayang. Ternyata kamu masih ingat."

Rama terkekeh. "Ya jelas ingat Bun. Dulu Rama beberapa kali juga sempat bertemu dengan tante Lintang, bukan?"

"Iya Sayang. Daya ingat mu ternyata berfungsi dengan baik. Padahal sudah hampir lima tahun loh Bunda dan tante Lintang tidak pernah bertemu."

Rama tersenyum. "Memang mau ada acara apa sih Bun?"

"Sekedar silaturahmi saja Sayang. Beberapa waktu yang lalu, tante Lintang dan anaknya berkunjung ke rumah, jadi kini saatnya Bunda mengunjungi rumah tante Lintang."

"Oh seperti itu? Rama kira ada apa Bun."

"Selain itu, tante Lintang juga baru saja mencoba resep brownies kukus, dan katanya meminta Bunda untuk icip-icip."

Rama tergelak. "Kalau semua teman-teman Bunda pandai membuat kue, Rama rasa Bunda akan sering dimintai tolong untuk icip-icip Bun."

Widya ikut terkekeh. "Itu namanya rezeki, Sayang. Jadi patut kita syukuri."

"Iya Bun, Alhamdulillah. Karena memiliki banyak teman, banyak saudara juga merupakan salah satu rezeki untuk kita."

Widya mengangguk. "Itu benar sekali Sayang."

Rama masih memacu laju mobilnya dengan kecepatan sedang. Meskipun suasana jalanan Jogja di Minggu pagi seperti ini masih terlihat lenggang, namun tidak membuat pemuda itu ugal-ugalan dalam mengendarai mobilnya. Sedikit saja ia menambah kecepatannya, sang Bunda pasti sudah akan memberi peringatan.

Sebuah hal yang wajar, karena sampai saat ini sang bunda masih sedikit trauma dengan mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Karena kejadian beberapa tahun yang lalu akibat mobil yang dikemudikan ugal-ugalan, yang membuat sang Bunda kehilangan kedua orangtuanya dan kedua mertuanya. Ya, ibu Wening, pak Dharma, mama Hana dan papa Wijaya mengalami kecelakaan di jalan raya, akibat ditabrak oleh sebuah mobil yang dikendarai ugal-ugalan oleh pengemudinya.

.

.

. bersambung...

Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗

Happy reading kakak..

Salam love, love, love❤️❤️❤️

🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹

1
Heryta Herman
mantap nian ucapan Rama..langsung mengena di hati El,bahkan kita para pembaca kisahmu thor..
lanjut thor...
Heryta Herman
aku mampir lagi mba,ini novel ke 2 mu yg aku baca mba author...
Heryta Herman
Rama itu jodohmu yg sebenarnya El...bersabarlah...dan semangatlah meniti hari dpn mu...yg akan indah pada waktunya...
ika
cantik bgd...
Renesme
Bagus. Mengandung hikmah 👍👍👍
Muhammad Alfan
Alhamdulillah bahagianya yg mau punya baby ..bagus mba othor ceritanya amazing banget suka sekali..semangatt tp maaf ya mba othor itu yang sujud syukur bagusnya kan dirumah punya wudhu dulu terus ada niatnya jg ya mba othor bukan disembarang tempat ..bukan begitu kan mba othor sujud syukur itu kan tandanya kita bersyukur atas anugrah yg diberikan oleh Allah ..maaf ya mba othor ini mah cuma kasih masukan aja semoga ada msnfaatnya ya ...sehat selalu buat mba othor ..dari pertama baca part 1 jg aku sudah suka banget ..
Muhammad Alfan: ya mbak thor ga apa kita saling koreksi aja..maaf ya mbak othor
total 2 replies
Riska Wulandari
ketemu jodoh nih..
Lina Suwanti
🤣🤣🤣
Lina Suwanti
bikin ngiler doank🤤🤤🤤😁
Ka'Unna
semangat kak😍jangan lupa mampir y kak
Sriza Juniarti
lanjutkan rama💕
Diana Budhiarti
ha ha lucu m gemes deh
Diana Budhiarti
duhhh jangan lama lama El..
Diana Budhiarti
Allah pasti mengampuni semua dosa dan kekhilafan hambanya
Diana Budhiarti
mhmm...idaman banget ganteng n Sholeh ya si Rama
Sriza Juniarti
semngat kk,selalu berkarya...bagusss..aku suka💕🥰
Ainuria Maulida Pw
ceritanya bagus bgt 💖
Agus Niati
keren
Anonim
S😢
Renjana
Kerenlah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!