DISARANKAN UNTUK MEMBACA MARRIED WITH STRANGER LEBIH DULU.
Jevian R Hugo.
Seorang konglomerat abad 21 berdarah campuran Italia datang ke negara ini untuk dua tujuan, yang pertama adalah menemukan ibu kandungnya dan yang kedua adalah menemukan wanita yang telah mencuri hatinya tujuh tahun yang lalu.
Seperti sebuah keajaiban, wanita itu datang tepat didepannya di salah satu pertemuan bisnis, sayang statusnya sebagai istri orang lain.
Namun bukan senyum cantiknya yang Jevian terima, karena gadis itu memandangnya layaknya orang yang baru pertama kali bertemu.
Sebagai seorang pria sejati haruskah ia melupakan cinta terlarang di hatinya? atau malah memperjuangkannya meski harus memisahkan sang wanita dengan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo, beri salam pada ayahmu.
"Mommy coba yang ini"
Kai mengambil sejumput permen kapas miliknya ke arah sang ibu dan Seira menerimanya dengan senang.
"Ini enak, tapi Kai tidak boleh makan manis terlalu banyak" katanya menguliahi sambil terus berjalan.
Mereka sudah sedikit lelah setelah berkeliling dan membeli beberapa camilan serta makanan untuk dimakan besok pagi, karena ini sudah malam Seira memutuskan untuk kembali ke penginapannya.
"Mommy ingat janji kita kan? Mommy mau membacakan dongeng sebelum Kai tidur"
"Hmm.. tentu saja, setelah kembali dan gosok gigi Mommy akan membacakan dongeng" Seira menyentuh kepada putranya.
Penginapan mereka sudah ada didepan, hanya perlu berjalan kaki beberapa menit lagi.
Ia dan Kai memasuki kawasan resort bintang tiga itu dengan derap langkah riang, sesekali menyanyikan lagu anak-anak bersama, sama sekali tidak menyadari kalau sebenarnya ada seseorang yang bermenit-menit menunggu mereka dengan amarah tertahan.
Jika tahu Jevian sedang menunggunya wanita itu lebih memilih berbalik arah saja.
Seira mengeluarkan kunci dari kantongnya tanpa curiga sedikitpun, ia memutar kenop pintu setelah meletakkan barang bawaannya di meja kecil di samping pintu.
"Kai harus langsung gosok gigi" ia memandangi putranya sambil mendorong pintu itu hingga terbuka.
Sikap riangnya yang tadi mendadak hilang setelah detik itu ia melihat siluet seorang pria yang tengah duduk gagah bagai kaisar di ruang duduk villa sewaannya, Jevian menatapnya tajam seperti raja hutan yang ingin memberi hukuman.
Dan ia sontak mundur, menarik Kai kebelakang punggungnya.
"Mommy" anak lelaki itu kebingungan karena cengkeraman ibunya tiba-tuba saja mengencang.
"Kau.. Kenapa kau ada disini?" gadis itu hanya bisa bertanya dengan gagap.
Matanya bisa menangkap kalau pria di depannya ini diselimuti amarah yang membuncah. Apakah dia sudah tahu tentang Kai? jantung Seira berdetak keras sekali.
"Mommy" lagi-lagi suara Kai terdengar dari balik punggungnya, anak itu mulai menarik baju Seira.
"Nona Seira, aku ingin bicara denganmu" ujar Jevian, meski ia sedang bicara dengan Seira, namun matanya fokus dan tertuju pada bocah lelaki yang sekarang tengah bersembunyi di belakangnya dengan ketakutan.
"Apa yang ingin kau bicarakan? dan bagaimana kau bisa masuk ke kamarku" Seira berdeham, satu tangannya menepuk bahu Kai untuk menenangkannya.
"Aku bisa menemukanmu bahkan jika kau kabur ke Antartika"
"Aku tidak ingin bicara, tolong keluar"
Jevian beranjak dari sofa kecil yang membuat kaki panjangnya tertekuk itu, menghampiri Seira perlahan.
"Siapa anak di belakangmu?" tanyanya.
"Mommy apakah dia orang jahat?" Kai mencicit, ia tahu ibunya tengah gemetaran.
"Dia memanggilmu Mommy. Sedangkan kau baru menikah tiga tahun yang lalu, apakah itu berarti dia anakku?" ia kembali bertanya dengan tidak sabar, Seira masih tetap menyembunyikannya dibalik punggung hingga Jevian sama sekali tidak bisa melihat wajah Kai.
Seira membasahi bibirnya, dia tahu tidak akan bisa mengelak lagi. Jika sudah terlanjur begini maka sudah lah, mungkin ia memang harus pasrah pada masa depannya dengan Kai sesuai jalan takdir.
Tangannya gemetaran saat ia menarik Kai dari balik punggungnya, membuat anak itu berdiri disampingnya namun tangannya masih memeluk anak itu dengan posesif.
"Kai, ayo beri salam pada ayahmu" tenggorokan Seira tercekat saat ia mengatakan itu, ia tidak percaya hari ini tiba terlalu cepat.
Kai memandangi ibunya kebingungan, kemudian tatapannya jatuh pada Jevian yang juga tengah menatapnya tanpa berkedip.
Pria tinggi ini, Mommy bilang dia ayahku?
Mereka semua bisa mendengar suara jantung masing-masing karena kegugupan yang mengisi seluruh atmoster.
"Kai.." Seira kembali mengingatkan.
"Mommy, aku kan tidak punya daddy" jawab Kai polos.
Jawaban yang tentu saja membuat kaki dua orang tua didepannya terasa lemas seketika.
Jevian mengamatinya dengan seksama, anak didepannya ini mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa kecil, semua yang ada pada diri Kai sungguh cetakan langsung tanpa penambahan atau pengurangan dari seorang Jevian Hugo.
Matanya mirip Jevian, hidungnya mirip Jevian, mulutnya mirip Jevian. Dia memang benar-benar putra seorang Jevian.
Pria itu masih tidak percaya punya putra sebesar ini secara tiba-tiba.
Tangannya dengan reflek terulur mengelus rambut anak lelakinya.
"Tentu saja kau punya" ia berjongkok demi bisa melihat warna mata dan proporsi wajahnya dengan jelas.
Mereka saling menatap seperti sedang berlomba.
"Siapa namamu?" Jevian merasa kepalanya mendadak kosong dan hanya bisa memikirkan pertanyaan sederhana itu.
"Kai" anak lelaki didepannya mencicit, ia mengeratkan pegangannya pada pinggang ibunya.
"Ayo kita bicara dulu, jangan menakutinya"
"Baik, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan"
Jevian berdiri kembali dan melirik Seira.
"Kai gosok gigi dan masuk ke kamar dulu, Mommy akan keluar sebentar" gumamnya lembut.
"Tapi.. Mommy" anak itu menatap ibunya, tidak ingin meninggalkannya dengan pria yang mengaku sebagai ayahnya beberapa menit yang lalu ini.
"Dengarkan kata Mommy, kita akan membaca dongeng bersama nanti" Seira masih membujuknya dengan sabar.
Bersyukur karena anak itu akhirnya mengangguk patuh dan berjalan ke arah kamar mandi meski berkali-kali ia berbalik menatap ibunya.
"Ayo keluar dan bicara" Seira berkata setelah Kai masuk kedalam kamar mandi.
Wanita itu keluar dari kamar penginapan diikuti Jevian yang mengekor di belakangnya. Mereka memutuskan untuk pergi ke kursi taman di sudut penginapan.
"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?" pria itu bertanya dengan tidak sabar.
Demi Tuhan, masalah sebesar ini dan dia masih bisa berdiri tegak sendirian. Jevian tidak bisa mengerti jalan fikiran Seira sama sekali.
"Jika aku memberitahukan keberadaan Kai padamu memangnya apa yang akan kau lakukan?"
Jevian terdiam, sejujurnya ia juga tidak tahu langkah apa yang akan ia ambil. Seira dan dia juga tetap tidak bisa bersama.
Tapi setidaknya ia tidak akan hidup nyaman sedangkan anaknya terlantar.
"Kenapa kau meninggalkannya di panti asuhan?" ia tidak bisa terima memikirkan darah dagingnya ada di tempat seperti itu.
Seira menjilat bibirnya, ia hanya menatap Jevian tajam sebelum berkata. "Memangnya apa yang bisa aku perbuat? aku punya anak di usia 19 tahun. Aku tidak tahu dimana kau berada, aku juga tidak bisa meminta tanggung jawab pada siapapun. Aku hanya bisa melindunginya sebisaku, dan kau hanya mengomel tanpa rasa bersalah"
Jevian menatap gadis yang berteriak didepannya, bahu Seira bergetar dan ia mulai terisak lirih.
"Bukan, aku tidak bermaksud seperti itu. Sebaliknya aku merasa sangat kesal karena tidak bisa menemukanmu lebih awal"
"Ini adalah liburanku dengannya, tolong jangan merusaknya" Seira beranjak dari kursi taman dan berniat kembali ke dalam penginapan.
"Nona Sei. Izinkan aku bertemu dengannya"
Jevian menarik tangan Seira, menahannya dengan tatapan penuh permohonan.
"Bicaralah dengannya, aku tidak akan melarangmu" gumamnya lirih sambil terus berjalan linglung.
boleh sesih jev tp jangan berlarut karena hidup terus berjalan dan yg pasti ada seira dan kei yg akan sllu ada untuk kamu